
Di sebuah klub malam, terlihat seorang laki-laki duduk sendiri dengan gelas whiskey di tangannya. Lelaki itu terus meneguk minuman beralkohol tersebut meski kesadarannya sudah hilang setengah. Ia mengedarkan pandangan ke arah lantai dansa, lalu tersenyum mengingat betapa indahnya dulu ia dan Zoya selalu menari di sana. Bersama Zoya, hidupnya begitu berwarna meski banyak cibiran yang datang padanya.
Jordan tertawa dengan air mata yang terjatuh. Ia tak rela berpisah dengan Zoya. Ia tak menyangka bahwa benar-benar jatuh dalam pesona wanita itu. Ia beranjak dan berjalan sempoyongan keluar klub tersebut dan menghentikan taksi. Setelah duduk di dalam mobil, ia mengatakan alamat yang ingin ia datangi.
"Zoya ... aku merindukanmu." Ia tersenyum dengan mata setengah tertutup hingga akhirnya benar-benar tumbang.
**
"Tumben mau ke apartemen. Ada apa?" tanya Nio saat istrinya berkata ingin pergi setelah sarapan.
"Aku mau cari nomer telepon Bastian di ponselku yang lama. Aku lupa menyimpannya di ponsel ini," sahut Zoya yang tengah bersiap.
"Mau aku antar?" tanya Nio yang memeluk istrinya dari belakang.
Zoya tersenyum menatap pantulan dirinya dan sang suami di cermin. Ia usap rahang Nio yang dipenuhi janggut. "Tidak perlu. Aku akan bawa mobil," jawabnya. "Lagian setelah dari apartemen, aku ingin ke mall membeli pakaian Rasya. Tubuhnya cepat sekali besar. Sebagian pakaiannya sudah kekecilan. Kasihan kalau pakai baju sempit," katanya lagi.
"Kamu akan membawa Rasya juga?" tanya Nio menghirup aroma melati di tubuh sang istri.
"Tidak. Aku takut Rasya rewel. Biar aku pergi sendiri, takutnya lama," jawab Zoya menyadarkan tubuhnya pada dada sang suami yang terasa begitu nyaman.
"Nanti siang ke kantor, ya. Aku ingin makan siang bersamamu," sahut Nio semakin mengeratkan pelukannya. Ia sungguh tak ingin melepaskan istri tercintanya itu barang sedetik pun.
"Lihat nanti, ya. Kalau sempat aku datang. Aku tidak tahu seberapa lama di mall. Ada cukup banyak barang yang ingin aku beli selain pakaian untuk Rasya." Zoya mulai meraih tasnya dan mengecek keperluan yang akan dibawa.
Nio membalikkan tubuh sang istri hingga mereka saling berhadapan. "Aku akan menunggumu. Pokoknya setelah urusanmu selesai harus datang," katanya tak ingin dibantah.
Zoya tersenyum mengusap rahang suaminya. "Oke, aku akan datang pada suamiku ini. So, can I go now?" tanyanya dengan tersenyum.
"Kiss me first," jawab lelaki tampan itu dengan senyuman yang sangat manis.
Zoya mendekatkan wajahnya, lalu menyatukan bibir keduanya. Nio tersenyum mendapat ciuman manis itu.
"Aku jalan sekarang, ya. See you soon." Zoya pun berlalu meninggalkan suaminya yang lemas ditinggal sang istri. Ia sengaja pergi agak siang ke kantor untuk menikmati waktu bersama istrinya. Namun, justru wanita itu pergi.
"Nasibmu, Nio." Lelaki itu menggeleng dengan tersenyum menatap pintu kamar yang sudah tertutup.
***
Zoya menghentikan mobil sportnya di basement apartemen. Wanita itu mengecek ponsel yang sejak tadi terus berdering. Ia tersenyum melihat rentetan pesan dari suaminya.
Cheriè, hati-hati di jalan. Jangan ngebut.
Astaga, baru sepuluh menit ditinggal, aku sudah merindukanmu.
Apa kamu sudah sampai?
Cheriè, aku merindukanmu.
Oh, Tuhan. Cheriè, lebih baik tak usah ke mall. Setelah dari sana langsung ke kantorku, ya. Aku sangat merindukanmu.
"Dasar Mas Nio. Belum setengah jam sudah menerorku seperti ini," ujar Zoya yang terkekeh geli melihat suaminya yang semakin posesif.
Setelah membalas pesan suaminya, Zoya pun keluar mobil, tak lupa menguncinya dan masuk ke area apartemen. Security di sana menyapa ramah mantan artis itu. Zoya pun mengangguk sopan hingga sampai di pintu lift. Setalah terbuka, ia masuk dan menekan lantai 27 di mana unitnya berada. Tiap lantai berlalu hingga sampailah dia. Setelah pintu kembali terbuka, ibu satu anak itu keluar dan melangkahkan kakinya.
Zoya menekan password pintunya. Setelah itu pintu terbuka. Ia menatap hunian yang sejak dulu ditempati. Banyak sekali momen di sana apalagi momen bersama Jordan. "Apa aku harus menjual apartemen ini?" tanya Zoya pada dirinya sendiri.
Ia sungguh tak ingin mengingat masalalu. Ia sudah berjanji pada dirinya akan memulai hidup baru bersama suami dan anaknya.
Melupakan itu semua, Zoya melangkahkan kakinya menuju kamar. Alasannya ke sana untuk mengambil ponsel lamanya dan harus segera ke mall. Ia tak mau membuat Nio menunggu lama nantinya.
Ketika membuka pintu kamarnya. Ia terkejut melihat Jordan di sana yang tengah duduk di lantai dengan menunduk. Mendengar ada yang membuka pintu, lelaki itu menoleh dan tersenyum melihat kekasihnya datang. Zoya merutuki dirinya sendiri. Ia lupa mengganti password pintunya hingga lelaki itu bisa masuk.
"Sayang!" Jordan berdiri tersenyum menatap wanita yang dicintainya itu.
Zoya mengabaikan mantan kekasih gelapnya dan berjalan menuju nakas lalu mengambil ponselnya. Setelah itu ia hendak keluar tetapi tiba-tiba tubuh Zoya dipeluk dari belakang.
"Lepaskan aku!" Zoya mencoba melepaskan tetapi lelaki itu memeluknya dengan erat.
"Aku merindukanmu, Sayang. Aku sangat merindukanmu." Jordan memeluk Zoya begitu erat, membuat sang wanita susah untuk bergerak.
"Lepas, Jordan!" sentak Zoya begitu geram.
"Tidak, Sayang. Aku tidak akan melepaskanmu. Aku sangat merindukanmu. Kembalilah padaku. Hidupku hampa tanpamu," ujar Jordan mencium bahu Zoya, kebiasaan yang sangat ia sukai.
"Brengsek! Jangan pernah menciumku lagi!" Dengan emosi Zoya menendang tulang kering lelaki itu hingga Jordan melepas pelukannya dan mengaduh.
"Kamu jahat sekali menendangku," ujar Jardan mengusap tulang keringnya yang terasa nyeri.
Tanpa mendengar omongan lelaki itu, Zoya berlalu keluar dari kamar. Ia sungguh tak suka melihat Jordan di sana. Lelaki itu pun mengejar wanita yang dicintainya. Dengan cepat ia menarik tangan Zoya.
"Sayang, jangan pergi. Tetaplah di sini bersamaku," mohon Jordan dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah aku katakan, kita berakhir, Jordan. Aku mohon, lepaskan aku. Biarkan aku hidup tenang bersama suami dan anakku," ujar Zoya berusaha melepas cekalan lelaki itu.
Jordan menggeleng cepat dengan air mata terjatuh. "Aku tidak mau! Kamu milikku, Zoya! Aku tidak akan membiarkanmu dimiliki siapapun." Dengan gerakan cepat, Jordan memukul leher Zoya hingga wanita itu pingsan. "Kamu hanya milikku, Zoya. Kita akan pergi dari sini dan hidup bersama di tempat baru yang tak mengenal kita." Jordan tersenyum mengecup hidung bangir wanita itu.
Dengan cepat Jordan menggendong tubuh sang wanita lalu melangkahkan kakinya keluar unit dan turun menuju basement. Sampai di tempat parkir, Jordan jongkok dan mencari kunci mobil milik kekasihnya itu. Setelah menemukan, Ia buka pintu transportasi roda empat itu dan mendudukkan tubuh Zoya setelah ia setel joknya. Setelah itu, ia berjalan cepat masuk pintu kemudi dan duduk. Tak lama mobil sport warna merah itu melaju meninggalkan area apartemen.
Jordan tersenyum melirik Zoya yang tak sadarkan diri. Ia raih tangan halus kekasih hatinya lalu dikecup dengan begitu lembut. "Kita akan selalu bersama, Sayang. Kita akan pergi dari orang-orang yang ingin memisahkan kita." Kembali lelaki itu menciumi tangan Zoya dengan perasaan bahagia.
Bonus visual Jordan