
Samantha—ibu Nio meraih tubuh sang cucu yang tengah bermain bersama ibunya, seketika menangis dan mencoba memberontak dengan tangannya terus tertuju pada Zoya.
"Mom! Apa-apaan, sih! Kembalikan Rasya. Kasihan itu menangis," ujar Nio mencoba meraih sang anak tetapi ditahan oleh ibunya.
"No! Are you crazy? Why you give your babies to this annoying women!" seru Samantha menatap tak suka menantunya.
Mata Zoya membulat mendengarnya. Apa? Annoying? Sabar, Zoya, batinnya menenangkan diri.
"Mmaamaaa." Rasya terus menangis ingin digendong ibunya.
"My boy, jangan menangis. Ini kan Boy dengan Oma. Biasanya juga selalu bahagia." Samantha terus mencoba menenangkan sang cucu yang tengah menangis.
"Mom, Rasya mau sama mamanya. Kembalikan, Mom!" seru Nio yang kesal dengan tingkah ibunya.
"Mmaamaaa." Bayi itu terus menangis merota dari gendongan sang nenek.
Karena tak tega melihat anaknya yang terus menangis, akhirnya Nio merebut Rasya dari sang ibu, lalu memberikan pada istrinya.
"Sayang Mama, sudah jangan menangis." Zoya menenangkan Rasya yang memeluk lehernya.
"Apa kamu sadar memberikan anakmu pada siapa?" tanya Samantha sinis. Wanita Belgia itu tak suka pada menantunya. Ibu mana yang rela anaknya disakiti apalagi saat tahu bagaimana cucunya diperlakukan kasar. Berulang kali Samantha meminta Nio untuk menceraikan Zoya, tetapi anaknya itu tak pernah mau menuruti.
Samantha dengar perubahan Zoya dari Jessica yang selalu memberi kabar, tetapi ia merasa tak percaya dengan perubahan wanita muda itu. Bisa saja ia tengah akting untuk mengambil semua harta milik anaknya. Secara Zoya adalah wanita licik yang hanya menghamburkan uang anaknya.
"Dia ibu kandungnya, Mom. Dia berhak dekat dengan anaknya. Sama seperti Mommy dan aku, 'kan?" tanya Nio menatap lembut sang mama.
"Mommy sayang sama kamu, tapi wanita itu? Bahkan anakmu sering dicelakai olehnya," sindir Samantha yang membuat Zoya menunduk. Wanita muda itu sadar diri bahwa memang perlakuannya dulu pada sang anak sangatlah keterlaluan.
"Zoya mau berubah, Mom. Dia berhak memiliki kesempatan itu," sahut Nio kembali mencoba menjelaskan pada ibunya.
"Mommy masih tidak percaya padanya," ucap Samantha. "Karena itu, Mommy akan tinggal di sini selama kamu memberikan My Boy padanya. Mommy khawatir pada cucu Mommy."
"Apa? Mommy mau tinggal di sini?" tanya Nio tak percaya. "No, Mommy tahu kan aku tidak suka jika rumah tanggaku ada yang ikut campur."
"I don't care. Jessica! Masukkan koperku ke kamar." Tanpa mendengar ocehan sang anak, Samantha masuk ke kamar miliknya di sana. Meninggalkan Zoya juga Nio yang terlihat tak enak pada istrinya.
"Maaf," lirih Nio menatap sang istri.
Mertua-menantu itu memanglah tak akur. Keduanya sama-sama keras kepala sehingga setiap bertemu selalu cekcok yang membuat kepala Nio sangat pusing. Namun kini, Zoya berusaha untuk lebih diam mendengar ocehan sang mama mertua karena ia tahu, sikap ibu suaminya begitu buruk semata-mata karena sikap Zoya sendiri. Ibu mana yang tak sakit hati saat anak kebanggaannya disia-siakan bahkan cucunya disakiti. Karena itulah Zoya diam saat sang mertua berbicara tentang dirinya.
Nio tersenyum mengusap lengan sang istri lalu menggenggam tangannya. "Terima kasih karena sudah mau mengalah," ujar lelaki itu.
"Aku akan berubah, Mas. Aku akan berusaha menunjukkan bahwa aku memang layak menjadi ibu Rasya."
Nio semakin mendekat. Ia peluk pinggang Zoya hingga wanita itu tersentak. "Hanya jadi ibunya Rasya?" tanya Nio berbisik, membuat wanita cantik itu salah tingkah.
"Ma-maksud Mas a-apa?" tanya Zoya menatap malu Nio.
"Apa tidak berniat menjadi istriku? Ya memang secara negara dan agama kita suami-istri. Tapi, kamu tahu betul hubungan kita tidak selayaknya suami-istri. Apa perubahanmu ini hanya untuk Rasya? Tidak untukku juga?" tanya Nio lirih dengan tatapan penuh harapan.
Mendengar itu Zoya hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Dengan gerakan perlahan, ia melepaskan pelukan sang suami. "Aku mau ke kamar. Ini jamnya Rasya untuk tidur siang." Ia pun berlalu meninggalkan Nio yang menatapnya penuh kekecewaan. Ia pikir Zoya berubah bukan hanya untuk Rasya saja, tetapi untuk dirinya juga. Namun, kini ia sadar bahwa cinta Zoya tidak pernah untuknya.
Nio menyandarkan tubuhnya di dinding. Menutup mata merasakan sakit yang kembali ia rasakan di dadanya.
Sedangkan di kamarnya Zoya tengah menangis. Perkataan Nio seperti belati untuknya. Apakah ia pantas menjadi istri untuk laki-laki baik seperti dia? Bahkan tubuhnya sudah disentuh oleh laki-laki yang bukan suaminya. "Bagaimana aku bisa dengan tak tahu dirinya menjadi istrimu yang sesungguhnya, Mas? Aku tidak pantas untukmu."
Zoya menatap anaknya yang kini juga menatapnya. Ia usap pipi gembul itu dengan sayang. Keduanya kini tengah berbaring. "Apa Mama pantas untuk papamu, Nak? Mama sungguh merasa hina berdampingan dengannya," ujarnya pada sang anak laki-laki.
"Mamaaa, Papaaa," oceh Rasya yang membuat Zoya menghangat.
"Bagaimana bisa Mama dulu membencimu, Sayang? Kamu sangat menakjubkan. Terima kasih karena mau memberikan Mama kesempatan untuk bersamamu, Sya. Mama sayang Rasya." Dengan air mata berlinang Zoya memeluk erat sang anak.
Wanita muda itu kini hanya fokus untuk mengurus dan memberi cinta untuk anak lelakinya. Sedangkan hubungannya dengan Nio, ia sungguh merasa tak pantas. Biarlah lelaki itu mencari wanita yang lebih layak ketimbang dirinya. Biarlah hubungan mereka berjarak seperti sebelumnya.
_______
Assalamualaikum Readers. welcome to my new novel. Semoga novel ini menjadi bacaan layak baca. terima kasih juga para pembaca setiaku yang selalu ada di setiap karya yang aku buat.
Btw, bisa dong kasih like, Komen, vote dan rate agar Author tahu apakah novel ini memang layak dibaca atau tidak.
salam manis dari Mrs.A