
Nio tersenyum sumringah berjalan di lorong rumah sakit. Berbeda dengan Zoya yang tampak cemberut dberjalan di tuntun suaminya. Setelah Jessica berkata bahwa Zoya hamil, tanpa berkata apa-apa Nio langsung menggendong istrinya yang langsung memekik terkejut. Ia kebingungan karena subuh-subuh sudah dibawa pergi sang suami bahkan tanpa mengganti piyamanya.
Wanita itu sungguh kesal sebab Nio membawa ke rumah sakit dengan penampilannya yang berantakan, apalagi ia sungguh malu karena sang suami terus menggendongnya sepanjang lorong rumah sakit hingga di ruang IGD.
Dokter yang bertugas akhirnya bertanya keluhan yang diderita Zoya. Wanita itu pun mau tak mau mengatakan apa yang ia rasakan.
"Istri saya hamil 'kan, Dok?" tanya Nio antusias.
"Kita tunggu hasil tesnya dulu ya, Pak," sahut dokter umum yang bertugas di ruang IGD.
Setelah menunggu, akhirnya tes keluar. Dan benar saja bahwa Zoya tengah hamil. Ketika tahu istrinya mengandung, Nio sungguh bahagia bahkan ia meneteskan air mata dan terus berucap terima kasih pada istrinya. Sedangkan Zoya hanya terdiam dan cukup terkejut. Kenapa secepat ini ia hamil?
"Untuk lebih pastinya, Bapak dan Ibu bisa memeriksa ke dokter kandungan. Ini saya berikan surat rujukan. Dokter kandungan praktek sekitar pukul sembilan pagi," kata dokter wanita yang kini tengah menuliskan surat rujukan.
Setelah itu, mereka keluar dari IGD, berjalan menuju meja administrasi mendaftarkan untuk ke dokter kandung. Kini, keduanya berada di kantin rumah sakit. Nio terus membujuk sang istri untuk sarapan terlebih dahulu. Lelaki tampan itu membelikan sandwich cokelat dengan susu hangat, tetapi istrinya masih saja terdiam.
"Kamu kenapa, heemm?" tanya Nio menggenggam tangan istrinya. "Apa kamu tidak bahagia dengan berita baik ini?"
Zoya menggeleng. "Bukan gitu, Mas. Aku takut," lirih Zoya. "Bayangan saat hamil Rasya begitu teringat di kepalaku. Aku takut mengalaminya lagi." Setetes air mata terjatuh di pipi sang wanita.
Zoya sangat takut ia menjalani kehamilan sendiri lagi. Ia trauma dengan gunjingan orang bahkan diabaikan suaminya. Ia takut itu semua terulang kembali. Betapa beratnya menjalani masa hamil sendirian.
"Sayang, lihat aku," ujar Nio menatap istrinya yang juga menatapnya. "Apa kamu tidak percaya padaku? Apa kamu meragukanku untuk bersama denganmu menghadapi kehamilan ini?" tanyanya serius.
Zoya menggeleng. Ia tahu bahwa Nio kali ini tidak akan mengabaikannya.
"Lalu, apa yang kamu takutkan? I'm with you, Cheriè. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri menghadapi segalanya. Aku akan menemanimu, Sayang. I'm promise," ujar Nio dengan serius meyakinkan istrinya.
"Janji?" tanya Zoya.
"Bahkan aku bisa tak ke kantor selama kamu hamil agar aku selalu bersamamu," jawab Nio serius.
Zoya menghela napas perlahan. Untuk apa dia melakukan hubungan suami-istri jika takut hamil? Ia harus tanggung jawab dengan apa yang ia lakukan.
Zoya tersenyum memeluk lengan suaminya. "Aku bahagia," sahutnya pada sang suami yang juga tersenyum.
Nio bersyukur karena rasa takut Zoya perlahan hilang. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan membuat Zoya nyaman selama menjalani kehamilan. Ucapannya tak bohong untuk tak pergi ke kantor demi menemani istrinya. Ia ingin menebus kesalahan di saat Zoya hamil Rasya.
...****************...
"Selamat, Ibu dan Bapak. Anda akan memiliki buah hati lagi. Kita bisa lihat di sana ada janin yang masih sekecil kacang polong," sahut dokter kandungan menunjukkan pada Zoya dan Nio tempat di mana calon anak mereka tumbuh melalui layar USG. "Jika dihitung dari terakhir Ibu Zoya datang bulan, usia janin sekitar delapan minggu. Sekali lagi, selamat."
Nio tersenyum meneteskan air matanya. Tak henti lelaki itu berucap terima kasih pada sang istri.
Setelah selesai dengan pemeriksaan ultrasound, Zoya turun dan dibantu Nio untuk duduk di kursi berhadapan dengan dokter.
"Saya akan meresepkan vitamin juga kalsium. Jangan lupa juga makan makanan sehat kaya akan serat juga susu. Untuk tumbuh kembangnya semua baik-baik saja," ujar dokter yang di name tagnya tertulis Syila Anggraini tersebut. "Ibu harus selalu bahagia dan tidak boleh stres, ya."
Zoya pun tersenyum menatap suaminya yang sejak tadi terus menggenggam tangannya.
"Dok, saya mau tanya. Saat hamil muda begini, apa kkhhhmmm kegiatan suami-istri harus distop?" tanya Nio yang membuat wajah Zoya memerah. Kenapa sih setiap laki-laki harus bertanya pertanyaan kikuk itu?
Dokter Syila mengulum senyum. "Tidak apa-apa, Pak, asal bermainnya tidak boleh kasar dan jangan sampai Ibu mengalami kram. Carilah gaya yang aman," jawab dokter yang membuat Nio tersenyum.
"Terima kasih, Dok," ujar lelaki itu.
"Apa masih ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya dokter wanita itu.
"Baiklah, ini resep vitaminnya, juga buku catatan selama masa kehamilan. Jangan lupa bulan depan datang lagi untuk periksa." Sang dokter menyerahkan secarik kertas juga buku pada Nio.
"Sekali lagi, terima kasih, Dok." Sepasang suami-istri itu pun berlalu dari ruangan dokter tersebut.
Sepanjang jalan pulang, Nio tak henti memeluk dan mengusap perut istrinya. Ia tak menyangka bahwa begitu cepat Tuhan memberikan buah hati kembali untuk mereka.
"Aku bahagia sekali," ujar Nio tersenyum menatap istrinya.
Zoya pun ikut tersenyum mengusap rahang berbulu sang suami juga ia kecup sekilas. "Aku bahagia jika kehamilan ini membuat Mas bahagia."
"Tentu saja, ini adalah hasil kerja kerasku beberapa bulan ini," ujar Nio yang membuat Zoya merona memukul dada suaminya.
"Apa kita harus mengabarkan Mama dan Papa?" tanya Zoya.
"Tentu saja, Sayang. Mereka pasti bahagia mendengarnya," jawab Nio.
Tak berselang lama, mobil berhenti di pintu utaman hunian mereka. Nio keluar terlebih dahulu, lalu membantu sang istri keluar mobil. Ia lindungi kepala Zoya agar tak terbentur bagian atas mobil.
"Hati-hati, Sayang." Nio tampak khawatir saat Zoya melangkahkan kakinya menapaki anak tangga.
"Ish, aku kan hamil, Mas, bukan nenek jompo," beo Zoya yang tak suka sang suami terlalu berlebihan.
"Kakak!" pekik Saira menghampiri dua kakaknya. "Beneran Kak Zoya hamil lagi?" tanyanya antusias.
"Tuan ... Nyonya," sapa Jessica yang membawa Rasya.
"Anak Mama. Sini, Sayang." Zoya hendak menggendong Rasya, tetapi ditahan oleh suaminya.
"No! Mulai sekarang, kamu gak boleh menggendong Rasya. Anak tampan ini sudah sangat berat. Ingat dokter bilang apa? Tidak boleh angkat yang berat-berat," tolak Nio tegas.
"Beneran ini Kak Zoya hamil lagi?" tanya Saira kembali.
"Iyes. Kamu akan punya keponakan lagi," jawab Nio tersenyum sumringah.
"Aaaaahhh! Selamat, Kakak." Saira dengan antusias memeluk kakak iparnya. Ia sangat bahagia karena sebentar lagi akan memiliki keponakan lucu lagi.
"Tuan, Nyonya, selamat atas kabar baik ini. Kami sangat bahagia mendengarnya," ujar Jessica sama-sama ikut antusias.
"Terima kasih, Jessy. Sebagai rasa syukurku, naikkan gaji para pekerjaan rumah menjadi dua kali lipat. Lalu, hubungi Langit untuk memberikan sedekah pada panti asuhan, panti jompo dan untuk orang-orang yang kesusahan. Mereka juga harus merasakan bahagia seperti kita," ujar Nio tersenyum mencium pipi anak lelakinya.
"Semoga Tuhan selalu melindungi Nyonya dengan calon bayinya." Doa Jessica tulus.
"Aku gak kebagian, nih?" tanya Saira yang menaik-turunkan alisnya.
"Loh, kamu tinggal minta Papa," sahut Nio.
"Beda dong kalau yang kasih Kakak," jawab Saira.
"Baiklah, kamu boleh minta apa pun yang masuk akal pada kakakmu," ujar Zoya yang membuat Saira memekik bahagia.
"Kakak memang paling best." Gadis itu mencium pipi kakak iparnya.
Zoya tersenyum mengusap perutnya. Lihatlah, Sayang. Kehadiranmu membuat orang sekeliling bahagia. Tumbuhlah menjadi seseorang yang menebar cinta dan kebahagiaan untuk sekelilingmu.