
"Maaf yah, tadi saya ajak Syifa ke cafe"
"Gak pa pa kok, Syifa pasti senang ketemu kamu lagi. Kalau gitu, kita sama-sama aja ke cafe" Abidzar lalu menoleh ke Atika "Tik, kamu mau kembali ke toko atau ikut kami?"
"Iya pak, kebetulan saya akan makan siang" lalu mereka menuju cafe di samping toko Asyifa.
Suasana hening mengiringi langkah mereka. Kaniya yang merasa bosan dengan suasana, berusaha mencairkannya dengan bertanya ke Abidzar.
'Gak apalah sok akrab, daripada sunyi kayak gini, lagian tumben nih Syifa gak banyak bicara, biasanya dia sangat ceria'
Abidzar yang merasa Kaniya memperhatikannya, hendak berbicara sesuatu.
"Kenapa?" tanya Abidzar bingung.
"eh.. nggak pak. Cuma heran saja, Pak Abi kok ada disini? bukannya tadi pagi katanya mau ke rumah adiknya yang melahirkan?"
"oo.. Alhamdulillah, tadi sudah dibawa ke rumah sakit dan sudah melahirkan dengan selamat. terimakasih yah atas doanya tadi pagi" jawab Abidzar dengan senyum manis. Ini adalah obrolan mereka yang terlama selama berjumpa. Biasanya Asyifa yang mendominasi percakapan.
Sampai di cafe, mereka masuk dan memesan makanan. Kaniya merasa heran dengan sikap pegawai cafe yang sangat hormat pada Abidzar. Mereka diperlakukan layaknya tamu istimewa. Bahkan Abidzar seperti orang yang telah biasa datang ke cafe ini.
'Mungkin dia langganan tetap di cafe ini'
"Tante Kaniya kesini untuk apa" Syifa yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara juga. Entah kenapa wajahnya dari tadi ditekuk.
"Tante Beli barang di toko sebelah, tapi karena sudah waktu shalat, Tante shalat dan sekalian makan dulu deh. Kan pesanannya sudah Tante tulis di kertas, jadi tinggal tunggu pegawainya yang Carikan".
"Memang, toko Asyifa berusaha selalu memberikan kenyamanan pada pelanggan. salah satunya itu tadi, kalau pelanggan tidak ingin repot mencari sendiri barang yang dibutuhkan, kami selalu siap untuk membantu melayani. Jadi mereka bisa duduk di kursi yang disediakan dan ke kasir membayar setelah pesanannya sudah dibawa kesana"
Atika menjelaskan dengan semangat tentang toko tempatnya bekerja.
"iya mbak. Saya sangat senang Belanja di toko ini. Eh.. mbak kerja di toko Syifa yah??"
"Iya, kebetulan saya bekerja disana, dan pak..."
"khem... Tik, kalau kamu sudah selesai, kamu bisa kembali ke toko" Atika yang mendengar perintah bosnya langsung berdiri dan pamit untuk kembali ke toko.
"Kamu sering belanja di toko Asyifa?"
"Lumayan sih pak, kan di desa saya punya toko ATK, meskipun kecil sih. Jadi ambil barang disini"
"Kenapa nggak telpon aja lalu pesan, supaya langsung diantarkan, kan bisa bayar di tempat?"
"saya sih maunya begitu, tapi biasanya saya sengaja ke kota buat jalan-jalan, sekalian lihat barang baru yang mungkin bisa dipasarkan di desa"
"oo.. bagus juga sih" ucap Abidzar "untung juga kamu memilih datang langsung. kalau tidak kan, kita gak ketemu disini" gumam Abidzar dengan lirih"
"Ya??" Kaniya menatap Abidzar tak begitu jelas dengan ucapannya.
"Yah, Syifa sudah selesai" Syifa akhirnya menyelesaikan makannya beberapa menit setelah Atika, Abidzar dan Kaniya. "Tante, apa sekarang Tante sudah bisa bermain dengan Syifa?
"Maaf lagi yah Syifa, setelah beli barang, Tante harus pulang ke desa. Kapan-kapan aja yah kita jalan-jalan"
"yah, Tante nggak asyik" Rajuk Syifa.
"Bukan begitu sayang, tapi kan Tante harus pulang, kalau nggak keluarga Tante bisa khawatir"
"oo..begitu yah Tante. kalau gitu, Syifa boleh yah jalan-jalan ke rumah Tante"
"boleh dong sayang, yang penting Ayah Syifa mengizinkan" jawab Kaniya dengan senyum manisnya.
Abidzar yang memperhatikan interaksi mereka sangat senang karena Syifa dapat berbincang akrab dengan orang lain yang bukan keluarga.
"Yah, kita boleh yah kerumah Tante Kaniya?"
"Tentu boleh, cantikku, tapi nggak sekarang yah. ayah masih ada kerjaan yang harus diselesaikan"
Kaniya merasa lega dengan penjelasan Abidzar. Tidak dapat dia bayangkan, hebohnya orang di kampungnya jika dia membawa Syifa dan ayahnya pulang.
"Syifa, tante pergi dulu yah. Tante harus bayar pesanan di sebelah, trus langsung pulang deh. Semoga kita ketemu lagi" pamit Kaniya, Syifa memeluk Kaniya, lalu mencium pipinya.
"Tante, harus selalu hubungi Syifa yah. nanti, Syifa ke rumah Tante" Kaniya hanya mengangguk lalu balas mencium pipi Syifa sebelum berdiri dan pamit pada Abidzar.
"Saya pamit yah pak" pamit Kaniya pada Abidzar.
"Hati-hati dijalan Kaniya, jika butuh sesuatu kamu bisa telpon saya"
"Terimakasih pak, saya belum akan pulang kok pak, masih harus memeriksa pesanan dan membayar di toko sebelah, heheh.."
"Yah intinya hati-hati. Sampai jumpa lagi Kaniya. Tunggu aku di rumahmu yah" Kaniya yang mendengar itu sontak saja menatap ke arah Abidzar yang juga menatapnya dengan senyum penuh arti. Entah kenapa ada perasaan aneh saat dia mendengar kalimat Abidzar.
Senyum Abidzar tak pernah surut. Kaniya salah tingkah dibuatnya dan secepatnya mengalihkan pandangannya.
"Saya pamit. Assalamu Alaikum"
"Waalaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh" Jawab Abidzar dan Syifa bersamaan. "dadah Tante Kaniya. ingat telpon aku yah tante". Ucap Syifa dengan antusias tanpa mempedulikan keadaan sekitar.
Kaniya hanya tersenyum sambil mengangguk lalu melanjutkan langkahnya menuju kasir. Saat ingin membayar, kasir mengatakan bahwa semua pesanan di meja itu telah dibayar. Kaniya menatap ke arah meja tempatnya tadi dan masih mendapati anak dan ayah itu memperhatikannya. Kaniya mengucapkan terimakasih lewat gerakan bibirnya tanpa suara.
Kaniya benar-benar telah keluar dari cafe dan menuju toko Asyifa untuk mengurus pesanannya. Memeriksa dan membayarnya lalu memastikan pengiriman sesuai alamat dan tepat waktu.
Setelah semua beres, Kaniya melajukan motornya kembali ke kampung. Semua kejadian hari ini terputar menghadirkan senyum di bibirnya. Dia bersenandung lirih, mengusir rasa bosan yang kerap hadir saat dia berkendara sendirian.
***