
Akbar mewakili teman-temannya naik ke atas panggung untuk menerima hadiah bersama perwakilan kelompok lain.
Lalu Abidzar dan Kaniya memberikan mereka hadiah satu persatu. Para pemenang tampak sangat gembira menerima hadiah yang menurut ukuran mereka sangat banyak.
Tak lupa pula, bagian dokumentasi mengabadikan setiap momen lomba termasuk penerimaan hadiah.
"Baiklah, karena semua pemenang sudah diumumkan, dan hadiahpun telah diberikan. Maka kini saatnya, acara lomba akan ditutup. Namun sebelumnya, kita dengarkan dulu celotehan Anak muda di sampingku ini yang dari tadi ngode. Katanya diminta mengucapkan selamat kepada kedua mempelai kita di atas panggung oleh teman-temannya" Lalu ridho memberikan mic pada Akbar.
"Assalamu Alaikum semua, dan selamat siang" Ucap Akbar mengawali.
"Pertama-tama, terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan ucapan selamat mewakili teman-teman saya di sebelah sana" Akbar menunjuk kearah teman-temannya yang duduk melingkar di mejanya.
"Saya dan teman-teman saya adalah siswa yang terkenal Badung di sekolah. Tidak banyak guru yang suka masuk mengajar di kelas kami. Katanya, kami susah diatur. Kami sebenarnya cukup sadar sih, kami memang agak beda dari yang lain, sering cari perhatian guru dengan cara yang tak biasa. Mungkin itu sebabnya, kami dianggap Badung. Lalu Bu Kaniya datang, beliau begitu mudah mendekati kami, tak pernah menganggap kami nakal, beliau merangkul kami dan mengajak kami melakukan banyak hal positif. Kami menjadi sangat bersemangat setiap kali Bu Kaniya datang ke sekolah. Karena kami yakin, akan ada hal baru yang beliau ajarkan" Akbar menjeda.
"Bu Kaniya, Terimakasih atas segala ilmu yang ibu berikan. Terimakasih telah merangkul kami, siswa siswi yang kata orang lain nakal.
Bu Kaniya, Selamat menempuh hidup baru. semoga menjadi keluarga sakina Mawadda wa Rohmah.
Bu Kaniya, kami selalu berharap kebahagiaan ibu, tapi bisakah kami meminta waktu ibu untuk kami. Karena kami tahu, setelah menikah, ibu akan ikut dengan suami ibu.
Ah..salah sepertinya. Kami akan meminta ke om Abidzar saja. Om.. kami mohon, berikan waktu kepada kami untuk bisa bertemu dengan Bu Kaniya di sekolah, meskipun itu hanya sesekali saja" Akbar memejamkan matanya menunduk. Menahan tangis.
Dia sangat paham bahwa Abidzar orang kaya. Tak mungkin membiarkan istrinya mengajar di sekolahnya, sementara ia bekerja di kota dengan kekayaan melimpah.
"Baiklah.. Saya akan mengakhiri celotehan saya ini. Mohon maaf jika ada salah kata. Wassalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Akbar turun dari panggung.
Abidzar menyambutnya dengan pelukan. Kaniya menatap mereka dengan haru.
Abidzar lalu naik ke atas panggung, membawa Kaniya bersamanya. Dia menatap istrinya penuh cinta sebelum berbicara.
"Hari ini saya sangat terharu melihat dan mendengar kata-kata dan permohonan untuk istri saya. Terus terang saya sangat bangga pada istri saya setelah mendengar permohonan siswanya. Itu membuktikan bahwa istri saya adalah salah satu guru yang baik, yang membuat siswa nya enggan untuk berpisah. Tenang saja nak, saya tidak akan mengeksploitasi kebebasan istri saya. Hanya saja, saya tidak bisa lagi membiarkannya jadi guru di sekolah karena harus mengikuti saya. Kami akan datang setiap Sabtu ke kota wisata ini, dan membuka rumah kami untuk semua siswa nya. Dan saya juga akan membuat perpustakaan di sini agar kalian yang berkunjung bisa sekalian belajar ekonomi dibimbing sama Bu Kaniya di ruangan itu. atau Jika ada yang berminat, saya akan minta tenaga profesional untuk mengajar bahasa Inggris dan komputer di tempat ini secara gratis. Papar Abidzar panjang lebar.
Abidzar menatap istrinya yang terlihat begitu senang dengan keputusannya. Abidzar mengenal Akbar dan teman-temannya memang belum lama. Tapi dia tahu bahwa mereka memiliki potensi untuk berkembang. Abidzar ingin mengajak Akbar untuk kuliah di kota dan akan menariknya masuk ke perusahaan nya. Untuk itu, ia ingin Akbar mendapatkan pendidikan terbaik disini. Dan salah satu cara yang ditempuhnya adalah kegiatan ini. Meskipun dia berpikir spontan, tapi untuk pelaksanannya dia akan rencanakan dengan matang.
"Terimakasih suamiku" Ucap Kaniya tulus. Mereka turun dari panggung dengan iringan tepuk tangan hadirin.
"eh tunggu dulu, om dan Tante..." Kaniya dan Abidzar menoleh ke arah ridho yang memanggilnya.
"Anda berdua mau meninggalkan panggung hanya dengan kata-kata seperti tadi? setidaknya hibur kami dulu. Nyanyikan dulu sebuah lagu" Ridho menaik turunkan Alisnya menatap Abidzar dan kaniya yang kebingungan.
'Nyanyi....nyanyi....'
Kaniya menatap keponakannya seolah mengancam. Dilihatnya suaminya yang tampak tenang. Sementara hatinya sudah ketar ketir, pasalnya dia hanya tahu lagu Indonesia raya dan Nina Bobo. Kaniya tidak pernah mencoba menyanyi lagu lain, itu yang diingatnya. Entahlah, ataukah dia lupa pernah menyanyi?
'Awas kamu ridho..' Ridho yang merasa ditatap Kaniya jadi bergidik sendiri. Rasa sesal mulai menyelimuti hatinya.
"Ayo mas Abi, nyanyi. Kangen dengar suara mas Abi, apalagi sambil diiringi gitar" Suara itu datang dari Renata.
Kaniya yang mendengarnya, mau tidak mau merasa terganggu. Artinya, dulu Abidzar sering bernyanyi didengarkan wanita itu.
"Kamu sering nyanyi, Bi?"
"Dulu love, sekarang sudah tidak pernah lagi" Jawab Abidzar kalem. Dia melihat perubahan raut wajah istrinya.
'apakah dia merasa terganggu dengan teriakan Renata. apa dia cemburu? Wah, cemburu berarti cinta. Apakah Kaniya sudah mulai mencintaiku?' Abidzar bermonolog dalam hatinya.
Mendengar itu, Abidzar langsung berbinar. Dia mengingat lagu yang selalu terngiang ditelinganya saat menatap istrinya.
'Sempurna'
Abidzar mengangguk lalu membawa istrinya kembali berdiri di panggung.
"Baiklah, saya akan menyanyikan sebuah lagu untuk istri saya yang tercinta. Bagi saya, dia adalah wanita SEMPURNA"
Musik mengalun.
Kau begitu sempurna...
Abidzar bernyanyi dengan penuh penghayatan. Tangan dan tatapannya nya tak pernah lepas dari sang istri. Membuat Kaniya tersanjung namun malu akhirnya menundukkan wajahnya yang memerah.
Hingga lagu berakhir, Abidzar mengecup tangan istrinya lalu membawa Kaniya dalam dekapannya. Hadirin menyoraki pengantin baru itu yang terlihat sangat romantis di mata mereka.
Afdhal yang ikut melihat, merasa bahagia karena Kaniya mendapatkan lelaki yang tepat. Dia tak lagi memendam perasaan sakit karena kehilangan Kaniya. Dia sadar bahwa obsesinya terhadap Kaniya tidak mungkin tercapai.
Yah.. Afdhal yakin, bahwa rasa yang dianggapnya cinta selama ini telah berubah jadi obsesi sehingga dia begitu kuat berusaha mendapatkan Kaniya. Namun takdir menyadarkan, bahwa tidak setiap keinginan dapat dipenuhi.
Berbeda dengan Afdhal, Renata yang menatap ke arah panggung terlihat sangat marah. Rasa cemburu membakar hatinya.
Dia telah mencari tahu tentang Kaniya. Dari laporan orang suruhannya, Kaniya ternyata adalah seorang janda tanpa anak. Usianya sudah lebih dari 38 tahun. Celah ini dimanfaatkan Renata untuk menghasut sebagian keluarga ibu Abidzar yang cukup kolot.
"Istri Abidzar cantik yah, Ren. Kayaknya, kalian sepantaran deh. Usia kalian pastilah nggak jauh beda. Atau, dia Junior kamu dan Nur yah di kampus? Kalian yang mengenalkan ke Abidzar?" Tante Maya, Sepupu Ibu Abidzar merasa sangat antusias membicarakan Abidzar dan istrinya.
"Sepantaran gimana sih Tan, aku kan baru 30 tahun. Aku dah punya anak diusia 25 tahun. Sedangkan dia, usianya sudah 38 tahun lebih Tan. Dia janda tanpa anak padahal menikah lebih dulu. Kayaknya dia mandul deh, sehingga diceraikan suaminya" Renata mulai mengeluarkan racunnya.
"38 lebih?" Tante Maya yang sangat dekat dengan ibu Abidzar merasa kasihan pada saudaranya itu. Pasalnya, dia sudah sangat ingin menimang cucu dari Abidzar. Tapi, Abidzar malah enggan menikah selama ditinggal istrinya.
'Apa Abidzar punya kutukan yah menikah dengan wanita mandul'.tanyanya dalam hati.
"Tan... Ayo ke meja Abidzar.
Maya lalu beranjak mengikuti Renata. Hari ini dia datang bersama suami dan anaknya. Sayangnya, mereka sedang sibuk berbicara dengan rekan bisnis sehingga dia ditinggal bersama Renata.
"Hai, Yu, Mas" Sapa Maya pada ibu dan Ayah Abidzar.
"Hai juga, Yu. Mana suami dan anakmu?" Tanya ayah Abidzar.
"Lagi bicara dengan teman bisnisnya" Jawab Bu Maya.
"Apa kabar, Tan, Sehat?" Sapa Abidzar Sambil mencium tangan Bu Maya yang diikuti oleh Syifa dan Nur.
"Alhamdulillah, sehat nak" Jawab Maya tersenyum.
"Tan, kenalin istri ku, Kaniya"
Kaniya mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Tante Abidzar.
Saat Maya mengulurkan tangannya, Kaniya langsung mengecup dengan khidmat. Maya cukup kagum dengan pembawaan istri Abidzar yang sopan. Namun jika mengingat usia Kaniya, Maya jadi berwajah masam.