
Hening, suasana itu yang sekarang melingkupi ketiga orang di ruang privat sebuah restoran. Tampak Dani berhadapan dengan pak Handoko dan ayah Raina.
"Sekarang katakan pada kami, apa keputusanmu?" Ayah Raina, memecah kesunyian yang terjadi diantara mereka.
"Maafkan saya, tapi saya betul-betul tidak bisa menikahi Raina" Dani menundukkan pandangannya.
"hhh.. Handoko, kalau begini aku tidak bisa menjamin tetap berbuat baik pada keponakanmu ini. Anakku sangat mencintai Raka. Jika keponakanmu ini tidak bisa, maka saya terpaksa...."
"Dia akan bersedia Wijaya, saya akan pastikan itu" Dengan cepat, Handoko memotong ucapan Wijaya.
"Dani, kamu harus menikah dengan Raina, atau kamu akan kehilangan istrimu"
"Apa maksud anda?" Dani menatap tajam pak Handoko.
"Saya bisa melakukan apa saja agar keturunan di keluarga kita terjaga, Dani. Jadi menikahlah dengan Raina" Handoko menatap Dani dengan penuh ancaman.
"Tapi.. anda tahu saya sudah punya istri. Bagaimana bisa saya menikah dengan orang lain"
"Kenapa tidak, kalian hanya menikah siri. Ceraikan saja istrimu, atau menikah saja dengan Raina tanpa sepengetahuan istrimu" Wijaya berucap dengan santainya.
"Tidak bisa, saya sangat mencintai istri saya. Saya tidak ingin bercerai dengannya"
Handoko dan Wijaya saling menatap. Mereka juga tidak bisa memaksa Dani berpisah dengan istrinya. Ancaman yang diberikan kepada Dani juga tidaklah benar-benar ancaman. Mereka hanya menggertak Dani agar mau menikahi Raina dan menyelamatkan nama baik mereka. Pikiran mereka cukup waras untuk tidak sembarangan mencelakai orang lain dan melanggar hukum.
"Kalau begitu, menikahlah dengan Raina, secara hukum Raina akan menjadi istrimu, tapi kamu tetap bebas bersama istrimu, Kaniya. Lagian kalian hanya menikah siri, jadi tidak memerlukan izinnya untuk kamu menikah lagi dengan orang lain. Dengan begini, kakek juga akan senang karena kamu menikah dengan wanita yang sepadan dengan kita, tidak seperti ibumu. Jadi, dia akan diterima kembali di keluarga kita".
Dani menatap malas ke arah pak Handoko. dari pertemuan pertama, yang dibahas hanya tentang nama baik dan kesepadanan. pantas saja ibunya melarikan diri.
"Sepertinya, anak buah kalian kurang lengkap memberikan informasi. Saya sudah mendaftarkan pernikahan kami, Minggu lalu. Jadi, jika ingin menikahi Raina secara hukum harus ada izin dari istri saya. Dan istri saya pasti menolak dimadu, lalu meninggalkan saya. Saya tidak akan mengambil resiko seperti itu" Dani menatap mereka berdua dengan percaya diri. Dia memang sudah mendaftarkan pernikahannya dengan Kaniya, meskipun masa kerjanya belum cukup lima tahun. Jika harus membayar denda karena ketahuan menikah selama masa kontrak, uangnya telah cukup untuk membayarnya. Akhir-akhir ini, dia sering bermimpi kehilangan Kaniya, dia harus mengikat Kaniya secara sah di mata hukum agar tidak kehilangannya.
Dia juga sudah merasa tidak nyaman bekerja di perusahaan Wijaya dan akan mengundurkan diri tepat 5 tahun masa kerjanya. Apalagi setelah bertemu dengan Raina, memainkan peran sebagai Raka atas permintaan atasannya. Karena dipaksa dan juga merasa kasihan pada Raina membuatnya menerima permintaan itu. Tapi, saat dia harus menikahi Raina, Dani sama sekali tidak mau. Kaniya adalah istri satu-satunya, tidak bisa ditambah apalagi digantikan.
Wijaya dan Handoko kembali bertukar pandang. Mereka tidak menyangka bahwa pernikahan Dani terlah terdaftar. Tapi, usia kandungan Raina sekarang sudah enam bulan dan harus segera menikah untuk menyelamatkan nama baik mereka. Raina juga terlanjur mengenali Dani sebagai Raka, jika tiba-tiba kehilangan lagi, mungkin kondisi Raina akan semakin buruk.
"Baiklah, kalau begitu kamu dan Raina hanya menikah secara agama, agar kamu bebas membantunya pemulihan. Resepsi akan tetap diadakan dengan menggunakan nama Raka, agar Raina tidak curiga.
Dan kita akan membuat seolah-olah Raka dan Raina telah menikah sebelum Raina hamil. Saya akan perintahkan anak buah saya mengurus akta pernikahan mereka. Kali ini kamu tidak bisa menolak, atau aku tidak bisa menjamin istri dan keluargamu akan baik-baik saja" Wijaya menatap Dani dengan tajam.
Dani terlihat pasrah menerima keputusan kedua orang didepannya. Saat ini, dia tidak bisa mengambil resiko. Dia harus mengutamakan istri dan keluarganya.
***
Dani semakin sibuk, kegiatannya menggantikan Raka membuatnya kehilangan banyak waktu istrinya. Puncaknya, saat istrinya memergoki dia dan Raina sedang foto prewedding di taman. untung saja Raina bisa menerima alasannya. Meskipun setengah berbohong, Dani tidak bisa mengambil resiko untuk jujur pada istrinya. Dia tidak siap jika harus kehilangan Kaniya.
Kebersamaan dengan Raina cukup menyenangkan untuk Dani. Raina adalah wanita yang sangat dewasa dan menyenangkan, ditambah kecantikan yang paripurna. Kemanapun mereka melangkah, tatapan kagum selalu tertuju pada Raina yang bahkan dalam keadaan hamil. Seringkali, Dani lupa mengabari istrinya, saat Raina mulai mendominasi waktunya. Raina selalu bisa membuat Dani hanya fokus padanya
"Ka.. " Raina menatap sayu Dani saat mereka berada di kamar Raina. Saat ini, Dani baru saja mengantarkan Raina untuk cek kehamilan di dokter kandungan.
"Ya??" Dani balas menatap Raina. Dani bukannya tidak paham dengan tatapan Raina. Sebagai lelaki normal dan telah memiliki istri, dia sangat paham dengan tatapan Raina. Dan hatinya pun agak tergerak untuk hanyut dalam keinginan Raina. Tapi dia sadar, tatapan itu untuk Raka, dan wanita didepannya bukanlah istrinya.
"Ka... masa nggak paham sih" Raina memanyunkan bibirnya manja. Dani yang melihat itu, seakan terpanggil untuk melahapnya. Namun, Dani kembali dengan kesadarannya.
"Sayang, kamu tidur yah agar baby nya sehat. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Kita harus menahan diri, karena belum resmi menikah, dan takutnya baby juga kenapa-napa" jelas Raka.
"Lah.. sejak kapan sih, ciuman bisa menganggu kehamilan.. Raka, ada-ada aja" Dani yang mendengar itu, malu dengan pikirannya sendiri yang sudah kemana-mana. Ternyata, itu maksud Raina.
'huft.. ini pasti karena udah lama gak dapat jatah dari kaniya'
"hehhe... iyakah? aku takut aja sih yang. takut kebablasan kalau sudah nyium kamu" Raina tersipu mendengar perkataan Dani.
Akhirnya Dani pamit untuk pulang, daripada lebih lama menahan godaan nyata di depannya. Wanita cantik yang sedang hamil didepannya terlalu mempesona untuk ditolak. Tapi, dia memiliki istri yang tak kalah cantik di rumah. Bedanya, dia tidak hamil dan Dani halal menyentuhnya. Bukankah yang di rumah lebih menyenangkan.
***
Persiapan pesta pernikahan Dani dan Raina dilaksanakan dengan cepat. Undangan telah disebarkan, termasuk ke kantor tempat Kaniya bekerja. Dengan kekuasaannya, Wijaya membuat Kaniya hadir di pesta pernikahan anaknya tanpa sepengetahuan Dani.
Keinginannya untuk menemui Kaniya segera mungkin harus terhalang karena Raina melahirkan. Kondisi kesehatan, Raina membuatnya dirawat selama seminggu setelah melahirkan. Dan Dani tidak bisa meninggalkannya.
Tanpa diketahuinya bahwa Raina dirawat dirumah sakit yang sama dan kehilangan anak mereka. Ponsel nya entah kemana, ingin meninggalkan Raina, Wijaya masih setia dengan ancamannya.
Beberapa hari setelah Raina pulang dari rumah sakit, Dani memiliki alasan untuk kembali bekerja. Tapi bukannya ke kantor, Dani melajukan mobil kembali ke rumahnya.
Keadaan rumah yang gelap dan sepi menyambutnya. Dia masih berpikir, Kaniya pergi ke kantor. Hingga, ia memutuskan ke kantor Kaniya. Alangkah terkejutnya Dani saat tahu bahwa Kaniya telah mengundurkan diri bahkan telah berhenti bekerja tanpa menunggu penggantinya masuk bekerja.
Dani kembali ke rumah dan memeriksa lemari pakaian Kaniya. Dia mendapati ruang pakaian Kaniya telah kosong. Dani menatap tak percaya, dia telah kehilangan Kaniya.
Dani tak ingin berdiam diri. Dia memutuskan menemui orang tuanya, untuk mencari tahu dimana Kaniya sekarang.
"Bukannya Kaniya sudah pulang dari rumah sakit? kaniya bilang, kamu ada kerjaan di luar kota sehingga tidak bisa menjaganya di rumah sakit. Mama sudah coba menelpon tapi nomormu tidak aktif" Mama Hani memaparkan.
"Rumah sakit??" Dani tergugu. Dia mengingat saat Kaniya dibawa keluar dari hotel karena pingsan.
'apa saat itu, Kaniya dibawa ke rumah sakit? Maafkan aku yang' batin Dani penuh sesal.
"Iya, rumah sakit. Kaniya keguguran, dokter tidak bisa menyelamatkan kandungannya saat itu"
"Keguguran...? Kaniya keguguran??" Dani tidak bisa lagi menopang bobot tubuhnya. Dani terduduk di lantai, tak mampu menahan Isak tangis. Kaniya selama ini melakukan suntik KB, dia tidak tahu kalau Kaniya menghentikan suntik KB ya.
"Ma.. Kaniya.. Kaniya.. Dani tidak tahu Kaniya hamil, ma. Dani sudah menyakiti Kaniya sampai keguguran? Dani... Dani menyesal, ma. Dani ingin melindungi Kaniya, Dani tidak ingin kehilangan Kaniya, tapi Dani malah menyakiti Kaniya, tidak bisa melindungi anak kami, bahkan kini Dani kehilangan Kaniya" Dani terus berlutut sambil menangis.
"Apa maksud kamu, Dani??" Mama Hani menatap penasaran pada anaknya. Kesedihan anaknya membuatnya terenyuh, tapi dia tidak bisa menutup mata bahwa Kaniya selama ini adalah menantu yang sangat baik dan mencintai suaminya. Tidak mungkin Kaniya meninggalkannya jika hanya karena alasan sepele.
"Kan.. Kaniya, mendapati Dani menikah dengan orang lain"
"apa??" bukan suara mama Hani, tapi papanya yang tiba-tiba muncul dari dalam kamar.
"Apa maksudmu, nak. Kamu menikah?" Mama Hani tidak bisa menahan keterkejutannya. Dia dan suaminya adalah pemuja cinta sejati, yang akan tetap setia pada pasangan apapun yang terjadi. Dan hal itu selalu diajarkan kepada anak-anaknya.
"Dani menikah dengan wanita lain, ma, pa. tapi..."
plak...
Belum sempat Dani melanjutkan perkataannya, ayah Dani telah melayangkan tamparan padanya.
"Papa tidak menyangka, kamu tega berbuat seperti ini, Dani" Papa Dani terlihat sangat kecewa.
"Maafkan Dani Pa, Dani terpaksa. Dani hanya ingin melindungi Kaniya" melihat papa dan mamanya yang penasaran dengan ucapannya, akhirnya Dani menceritakan semuanya.
"Hhhh.. ternyata Keluarga mama belum berubah juga. Selalu memandang sesuatu dengan harta. Dan sekarang, anak kita yang jadi korbannya". Papa berujar dengan lirih.
"Berurusan dengan mereka pasti tidak akan mudah, nak. Kamu harus hati-hati menghadapi mereka" Ucap mama yang prihatin dengan keadaan anaknya. Mungkin sudah saatnya dia menemui ibunya, agar ayah dan saudaranya tidak berbuat seenak hati.
Dani hanya mampu terdiam mendengar penuturan mamanya. Dia memang tidak bisa gegabah, kalau tidak keluarganya akan jadi korban, sesuai dengan ancaman mereka.
Dani lalu memutuskan mencari Kaniya ke rumah orang tuanya, esok hari. Tapi, dia harus kembali agar Raina tidak histeris mencarinya. Meskipun sudah membaik, tapi jika Dani pergi dalam waktu lama, Raina akan sulit mengontrol dirinya. Dan itu akan membuat ayahnya marah dan Dani kembali akan mendapatkan tekanan.
Keinginan Dani mencari Kaniya tidak bisa terlaksana. Wijaya membuat Dani sibuk di kantor sehingga tidak punya waktu untuk mencari Kaniya.
Hingga waktu Dani memiliki waktu untuk mencari ke rumah orang tua Kaniya. Yang didapati Dani hanya kemarahan ayah Kaniya. Kaniya pun tidak lagi tinggal di desa itu. Orang tuanya tutup mulut, tidak mau memberi tahu alamat kaniya.
Dani pulang dengan tangan hampa, wajahnya membiru karena pukulan ayah Kaniya. Dia merelakan dirinya dipukuli karena sadar akan kesalahannya.
Dani menatap foto istrinya di buku nikah yang telah didapatkannya. Tapi, semua seakan sia-sia, saat keinginan mereka melegalkan pernikahan telah tercapai, Kaniya tidak ada lagi di sisinya bahkan sebelum melihat buku itu.
Flashback off
***