38 +

38 +
Di rumah Abidzar (1)



Kaniya dan kedua keponakannya memilih pulang saat jam telah menunjukkan pukul sembilan.


Orang-orang mulai berdatangan, membuat suasana di sekitar air terjun menjadi ramai. Abidzar pun ikut pulang bersama mereka.


Sama saat kesana, pulang pun mereka jalan kaki. Abidzar sebenarnya merasa kasihan, melihat Kaniya yang seperti kelelahan berjalan. Tapi dengan begini, mereka bisa memiliki lebih banyak waktu bersama.


"Kamu betulan pindah tinggal disini?" Abidzar memulai percakapan.


"Iya" jawab Kaniya singkat.


"Kenapa?"


Kaniya berhenti, menatap abidzar beberapa saat. Lalu berjalan lagi dan menjawab.


"Aku ambil pekerjaan disini. Kasihan sama ijazahku yang bertahun-tahun menganggur, hehe"


"Oh ya? kamu kerja dimana?" kepo abidzar


"Di SMA Swasta Berjuang" Kaniya menjawab jujur.


"Guru?"


"Bukan"


"Lalu, sebagai apa?"


"Liat besok aja sih. Aku juga belum tahu jabatan apa yang akan diberikan" Jawab Kaniya mengangkat bahu.


"Loh, kok gitu. Gimana kalau kerjaan yang diberikan nggak sesuai? Harusnya kamu tahu dong sebelum asal terima kerjaan"


Kaniya tersenyum mendengar Omelan Abidzar.


"hehe.. Aku sih percaya, temanku tidak akan memberikan kerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuanku"


"oww.. diajak teman?


"iya" Lalu hening.


"Ayah.. Tante Kaniya. Kalian dari mana, kok bisa sama-sama, ayah curang nih, ketemu Tante Kaniya nggak ngajak Syifa"


Abidzar terkejut mendengar suara Syifa memanggilnya. Belum lagi, saat dia menatap sang anak, dilihatnya bibir manyun yang sangat menggemaskan.


Ridho yang berjalan di depan bersama Nindya ikut berhenti menatap ke arah suara. Anak kecil itu, tampak berdiri di gerbang sebuah rumah peristirahatan yang sangat megah menurut mereka. Ridho bahkan melongo melihat gadis kecil imut yang tampak sangat cantik itu. Andai tidak takur dituduh seorang pedofil, mungkin ridho akan jatuh cinta pada anak ini.


Kaniya berjalan ke arah Syifa, lalu menunduk mensejajarkan tubuh mereka.


"Assalamu Alaikum Syifa"


"Waalaikum salam Tante" jawab Syifa ikut membalas senyum Kaniya yang manis


"Tante dan ayah kebetulan ketemu tadi waktu akan ke air terjun di depan sana. Syifa mungkin belum bangun tadi, sehingga ayah tidak memanggil"


"Iya, Tan. Tadi pagi Syifa tidurnya nyenyak. Abisnya di..ngin" Jawab Syifa mencontohkan saat dirinya menggigil kedinginan tadi pagi.


"Tapi shalat subuh kan??"


"iya dong Tante..Tapi setelah itu tidur lagi" jawab Syifa dengan polosnya


"Kaniya, kamu mampir dulu yah. Ini villa keluargaku. Kami sedang berlibur disini dan rencana pulang sebentar sore" Abidzar menjelaskan.


"oo.. Tapi, aku basah" Ucap Kaniya sambil memperhatikan penampilannya yang tadi kebablasan main air.


"Tidak masalah. Kebetulan ada banyak pakaian adikku di dalam" Keluarga abidzar memang menyimpan pakaian di rumah ini. Jadi sewaktu-waktu saat mereka ingin berlibur di tempat ini, mereka tidak perlu membawa pakaian ganti.


"Tan, kami pulang duluan yah, takut ibu dan ayah kami mencari" Ridho beralasan


"Yaelah.. kamu kan bukan anak kecil lagi yang musti dicari" jawab Kaniya.


Melalui tatapan mata, mereka sepakat memberikan kesempatan pria ini mendekati tantenya. Dari percakapan nya tadi sewaktu di air terjun. Ridho bisa melihat, kalau om Abidzar memiliki perasaan khusus pada tantenya. Dan dari sikapnya, Ridho menilai pria ini memiliki sikap yang sopan dan baik. Jadi tantenya akan aman bersama mereka (abidzar dan keluarganya).


"Baiklah" Ridho dan Nindya pun berjalan pulang. Kaniya lalu menatap Ridho dan Syifa. "Ok. aku akan ikut bersama kalian"


"Hore.... Tante Kaniya, syifa akan memperlihatkan kebun stoberi yang dibuatkan ayah" Syifa langsung menarik Kaniya masuk ke rumah.


"Oh ya? kamu punya kebun stroberi? wah ... hebat sekali yah" Kaniya menimpali dengan antusias perkataan Syifa.


Syifa merasa sangat senang karena bisa membuat Kaniya memujinya.


"Syifa, Tante Kaniya jangan langsung di bawa ke belakang yah sayang. Biarkan Tante Kaniya mandi dan ganti baju dulu. Lihat tuh, dia sudah menggigil kedinginan.


Syifa menatap Kaniya dengan seksama. Diperhatikannya, Kaniya sudah menggigil kedinginan tapi coba ditahannya.


"Kalau gitu, aku antar Tante ke kamar mama yah buat ganti baju"


"Mama?" Kaniya bingung..


'apakah abidzar sudah menikah lagi? tapi tadi dia mengatakan bahwa dirinya duda.


"Oh.. itu adikku. Dia memanggilnya mama" jelas abidzar.


"oo" kaniya hanya bisa menanggapi seperti itu.


Kaniya dan Syifa melanjutkan jalan ke kamar Nur adik Abidzar. Abidzar mengikuti mereka dari belakang.


"ini kamarnya, Tan. Silahkan masuk" Syifa lalu membuka pintu dan masuk lebih dulu ke dalam kamar.


Kaniya yang melihat isi kamar bernuansa pink begitu terpukau. Biasanya, dia tidak begitu suka saat melihat kamar bernuansa pink. Terlalu lebay menurutnya.


Tapi kamar ini begitu indah. Memperlihatkan kesan lembut dan anggun.


"Kamar ini di desain sendiri oleh adikku waktu masih kuliah. Dia mendekornya dengan segala hal berbau pink, mulai dari cat hingga pernak-pernik di kamar ini. Dia memang pencinta warna pink garis keras" Abidzar terlihat semangat bercerita tentang adiknya. Tapi entah kenapa, Kaniya melihat kesedihan di mata pria itu secara bersamaan.


"Dia kemana? apakah ada di rumah ini juga?" Kaniya tak bisa menyembunyikan rasa keponya.


"Tidak, dia sedang di luar negeri sekarang. Ayo kamu segera ganti baju. Kalau kita bertemu ibu di taman belakang" Tanpa menunggu jawaban Kaniya, abidzar langsung ke luar kamar.


Kaniya melihat abidzar hendak menghindarinya bertanya lebih jauh tentang sang adik. Tapi, dia juga tahu tidak punya hak bertanya lebih jauh lagi.


Akhirnya, Kaniya ditemani Syifa dalam kamar itu untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah itu, mereka keluar kamar menuju pintu belakang.


Kaniya begitu kagum dengan halaman belakang yang dipenuhi dengan tanaman, Ada stroberi yang berjejer rapi dalam pot yang digantung. sementara di dekat pagar, berjejer buah alpokat. Buah ini di tanam di sepanjang pagar bagian belakang.


Dan jangan lupakan jejeran buah tomat dan cabe merah yang bentuknya sangat unik. Kaniya baru melihat, cabe yang buahnya bulat seperti ini.


"Kamu bisa memetiknya, kalau mau" Abidzar menawarkan.


"Tidak ah, terlalu cantik untuk dipetik" Abidzar hanya tersenyum mendengar alasan Kaniya


"Eh.. Kaniya, sudah lama?"


"Baru saja, Tan" jawab Kaniya sopan pada ibu abidzar.


"Nah, kebetulan kamu ada disini. Kita mau sarapan. emang sih agak telat karena Abidzar tiba-tiba hilang tadi pagi" ucap ibu sambil melirik judes ke abidzar. Abidzar hanya mengatupkan tangan sebagai permohonan maaf.


"Ayo Tante, Syifa sudah lapar. Tante Kaniya pasti akan senang dengan masakan nenek. Nenek jago loh masaknya" Ajak Syifa sambil mengajak Kaniya ke ruang makan.


Ibu dan Abi mengekor dari belakang. Kaniya pun berjalan tanpa banyak protes. Meskipun sebenarnya malu harus makan dengan keluarga Abidzar. tapi tidak mungkin juga menolak permintaan Syifa dan ibu.


Abidzar yang melihat itu tersenyum dengan lebar. Dia yakin, restu untuk menikahi Kaniya akan segera didapatkannya. Dan begitu Kaniya siap, dia akan segera melamarnya.


***