
"Maaf love, aku nggak bisa menjaga air matamu agar tak jatuh karena orang lain. Maaf karena membuat air matamu jatuh di hari bahagia kita" Kaniya menggeleng mendengarkan Abidzar.
Dia tahu, suaminya sama sekali tak salah. Saudara ayah dan ibunya telah tahu semua kisah mereka. Bahkan mereka bisa menerima Kaniya dengan tangan terbuka, terlepas dia seorang janda dan sudah berusia 38 lebih.
Tapi, siapa sangka sepupu ibunya yang mempermasalahkannya.
"Nggak apa apa, Bi. Kita tidak bisa menutup mulut semua orang. Jadi Allah ngasih kita 2 tangan untuk tutup telinga. Sayangnya, tadi aku tak bisa menutup telinga, nanti dikira nggak sopan, heheh" Ucap Kaniya tertawa meski terdengar aneh di telinga Abidzar.
Diraihnya sang istri ke dalam pelukannya. Dia sangat menyesal karena tak bisa menghentikan tantenya berbicara.
"Ayo kita keluar, Bi. Aku nggak mau yang lain nyariin"
"nggak usah, love. Kita di kamar aja. Aku dah bilang sama ayah kalau kita berdua capek, ingin istirahat" jawab Abidzar
"Janganlah, Bi. Aku nggak mau tamu kita berpikir macam-macam. Lagian aku nggak apa apa kok. Nggak mungkin juga selamanya kamu dapat menyembunyikan aku setiap kali ada yang menyinggung masa laluku. Sekarang, kita keluar yah"
"Nggak usah. Kamu jangan selalu berkata baik-baik saja saat hatimu terluka. Coba lihat, wajahmu sembab karena menangis" Abidzar membawa sang istri ke depan cermin.
Kaniya menatap wajahnya di cermin. Suaminya benar, dia harus membenahi dulu riasannya sebelum keluar.
"Sekarang, kita sudah jadi suami istri. Katakan padaku saat hatimu sedang sedih, jangan menyimpannya sendiri. Buatlah aku merasa berguna untukmu, love" Ucap Abidzar lagi pada istrinya.
Kaniya hanya mengangguk. Lalu dia duduk di meja rias dan membenahi riasannya. Abidzar menunggunya dengan sabar.
Setelah merasa cukup, Kaniya mengajak Abidzar kembali ke tempat acara. Tamu-tamu tinggal sedikit.
Abidzar memilih membawa Kaniya ke meja keluarga Kaniya. Disana, kakak-kakak Kaniya dan sepupunya sedang berbincang santai.
"Wah..raja dan ratu kita nih. Dari mana saja kalian, tadi banyak yang nyariin loh. Tapi katanya kalian kecapean jadi istirahat" Ucap Citra, begitu Kaniya dan Abidzar duduk.
"Hehe.. Kami kecapean tadi kak, tapi setelah istirahat sebentar, kami putuskan buat keluar. Kan belum menyapa kalian juga. Maaf yah kak, aku sudah memonopoli Kaniya hari ini. Kaniya saja sampai pegal gara-gara kuajak terus berkeliling menyapa tamu". Abidzar menjelaskan.
"Kalian akan tinggal dimana setelah resepsi nanti?" Tanya Sulaiman..
"Iya yah. Kaniya kan ada rumah di desa kami, trus disini juga punya rumah. Abidzar pun pasti punya rumah. Jadi kalian mau nempatin yang mana? " Ranti ikut menimpali.
"Kalau aku sih ikut suami aja kak. Kalau memang harus kembali tinggal di kota yah, aku ngikut aja. Masalah rumah yang di kampung, bisa jadi tempat ngumpul keluarga. Selama rumah itu tidak di jual, siapapun dari anak atau cucu ayah dan ibu yang ingin tinggal disana, silahkan saja. Aku rasa Nindya cukup bijak dalam mengatur semuanya. Selama ini kan dia yang menemaniku. Mungkin nanti aku mau nambah lantai aja, supaya lebih banyak kamar saat kita kumpul" Jawab Kaniya pada kakak-kakaknya lalu menatap suaminya.
Abidzar sangat senang, karena Kaniya begitu penurut menjadi istrinya. Padahal, wanita yang terbiasa mandiri, apalagi memiliki harta yang banyak, biasanya akan cenderung egois, selalu ingin diikuti maunya, tapi Kaniya berbeda.
"Kami akan tinggal di kota, karena Syifa sekolah di sana. Untuk semua usaha disini, termasuk perkebunan dan villa Kaniya, itu sudah ada yang urus. Tapi, karena aku dah janji pada Akbar dan kawan-kawan, aku akan buat perpustakaan mini di villa Kaniya yang berfungsi pula sebagai tempat bimbel. Kami akan ke sini sebulan tiga kali setiap hari Sabtu. Dan untuk bertemu keluarga, kami akan jadwalkan sekali sebulan. Sekaligus, kami bisa mengunjungi makam ayah dan ibu waktu berkunjung ke sana" papar Abidzar.
Kaniya menatap suaminya terharu. Ternyata, dia begitu memahami keinginan Kaniya. Suaminya sangat pengertian, tanpa perlu Kaniya banyak bicara atau memintam Kaniya lalu memegang tangan suaminya, menunjukkan rasa terimakasih.
"Toko gimana, Tan?" tanya Nindya.
"Kan sudah diurus oleh kamu sama ridho. Kalian kelola yang baik yah, supaya makin berkembang. Toko itu kalau dikelola secara profesional oleh kalian, insya Allah jadi usaha maju yang akan merekrut banyak tenaga kerja. Kalian akan membantu negara kita ini mengurangi pengangguran" Jawab Kaniya optimis.
"Ok Tan. Tapi jangan lepas tangan yah, Tan. Tante harus terus mensuport kami, berikan arahan, dan yang lebih penting, tegur kami saat salah" Ucap Nindya.
"Tan, ada teman yang butuh pekerjaan Tan. Ayahnya sedang sakit, jadi nggak bisa bekerja. Sementara mereka butuh uang untuk biaya hidup sehari hari dan biaya berobat" Ridho mulai curhat tentang keadaan temannya di kampus.
"Trus?" Tanya Kaniya
"Kira-kira, kamu bisa kasih gaji berapa ke dia?"
"eh.." Ridho gelagapan. Pasalnya toko mereka masihlah tergolong sangat kecil. Untuk pembuatan buket, pegawainya sudah cukup. pegawai Foto copy pun telah ada, tidak mungkin tambah pegawai lagi. Untuk print dan cetak foto masih bisa ditangani olehnya dan Nindya.
"Aku sih senang saat kalian bisa tambah pekerja, artinya akan berkurang lagi pengangguran di negara ini. Masalahnya adalah apakah kamu bisa memberikan gaji yang sesuai? Apalagi temanmu itu sangat membutuhkan uang, untuk bayar kebutuhan sehari-hari, berobat dan biaya kuliah" Kaniya mencoba memberikan pengertian.
"Lalu gimana dong, Tan?" Tanya Ridho lesu.
"Kalau untuk yang itu, tanya tuh sama om kamu" Kaniya melirik ke suaminya.
Abidzar hanya tersenyum, mengerti dengan maksud Kaniya.
"Om tanya dulu sama orang di toko, mudah-mudahan ada lowongan. Kalau ke perusahaan ayah, agak susah karena temanmu masih kuliah, waktu kerja bisa tabrakan dengan waktu kuliahnya. Kalau di toko lebih fleksibel, dia bisa minta waktu malam aja kerjanya"
"Serius om?? makasih yah" Ridho berdiri dari duduknya, meraih tangan omnya lalu dikecupnya dan mengucapkan terimakasih.
"Kayaknya sudah sore nih, sebentar lagi Ashar, kami kembali ke villa dulu yah" Sulaiman pamit pada Abidzar, yang diangguki yang lain.
"Kok buru-buru kak. Nggak sekalian nginap disini aja? Keluargaku dah banyak yang pulang, jadi banyak kamar villa yang kosong" Tawar Abidzar.
"Tidak usah, Abi. Kami pulang ke villa Kaniya saja. Pakaian kami dan semua perlengkapan kami ada disana, malas angkat-angkat lagi. Lagian, dekat ini kok". Jawab suami Ranti. Sahabuddin, suami Ranti memang tidak banyak bicara. Dia lebih banyak mengamati, Abidzar bahkan baru pertama kali mendengar kakak ipar Kaniya itu bicara, panjang pula.
"Baiklah kak, tapi saat makan malam, kita ngumpul di sini yah. Jangan ada yang masak loh disana. Pokoknya, selama di sini, kita harus makan pagi, siang dan malam bersama-sama" Pinta Kaniya yang dibalas anggukan oleh yang lain.
Sulaiman lalu menuju meja keluarga Abidzar untuk pamit. Ayah Abidzar pun menawarkan hal sama dengan Abidzar, namun Sulaiman menolak dengan halus.
Ayah dan Ibu Abidzar akhirnya mengantarkan keluarga kaniya ke depan. Tamu-tamu undangan rata-rata telah pulang. Kecuali yang memilih menginap karena baru datang hari ini. Sementara yang datang kemarin, sudah pulang.
Meskipun, ada yang kembali mengisi beberapa kamar yang kosong, namun tetap saja, kamar di villa ini telah banyak yang kosong. Apalagi, rata-rata tamu memilih villa baru Kaniya yang juga turut di buka untuk menampung tamu yang datang. Jaraknya memang tidak begitu jauh, dan sangat dekat dengan kebun stroberi milik Kaniya, yang turut dibuka khusus untuk para tamu.
"Love, ke kamar yuk, capek" Ajak Abidzar pada Kaniya.
"Yuk" Jawab Kaniya meraih tangan suaminya yang terulur padanya. Mereka berjalan ke dalam rumah, menuju ruang dalam tempat khusus untuk keluarga Abidzar.
"Bi, lihat deh" Kaniya tiba-tiba berhenti saat dilihatnya Nur sedang bersitegang dengan Afdhal.
Lebih parahnya lagi, Syifa ada diantara mereka. Anak itu seperti kebingungan melihat mamanya yang bertengkar dengan Afdhal.
"Kurang ajar, dia masih berani mendekati Nur" Abidzar berjalan dengan emosi menuju tempat Afdhal dan Nur berada.
Tapi belum sampai di tempat kejadian, Abidzar dan Kaniya melihat Afdhal meraih Nur ke dalam dekapannya.
Kaniya sampai shock melihatnya. Dia mengenal Afdhal sebagai orang yang tidak sembarang menyentuh perempuan yang bukan mahramnya. Apalagi di dekat mereka ada sosok anak kecil yang belum mengerti apa-apa.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Ayah..." Syifa berlari mendekati Abidzar.
"Ayah.., Om Afdhal bilang, dia papaku, apa benar dia papa ku ayah?"
***