
Waktu bergulir, pernikahan Abidzar dan Kaniya telah berlangsung selama 3 bulan.
Kaniya sedang membersihkan ruang kerja suaminya. Karena saat masuk ke dalam, dia melihat banyak kertas berserakan di meja. Dia memeriksa dengan seksama dan membuang kertas yang tidak perlu.
Dia lalu duduk di kursi suaminya yang kebetulan sedang ke kantor. Karena iseng, dia beralih ke lemari buku. dibukanya satu persatu buku yang dianggapnya menarik.
Lalu, dilihatnya sebuah buku tua yang warnanya sudah agak pudar. tapi entah kenapa dia penasaran melihatnya.
Kaniya membuka buku itu dan merasakan ada sesuatu menyentuh kakinya. Sebuah kertas agak tebal, seperti sebuah foto.
Penasaran, Kaniya mengambil foto itu dan melihatnya. Kaget, tentu saja sangat kaget. Di foto itu ada suaminya bersama seorang perempuan yang nampak familiar bagi Kaniya.
Kaniya tahu bahwa suaminya adalah seorang duda. Tapi yang tak pernah dia tahu adalah wajah dari almh istri Abidzar. Kaniya hanya tahu bahwa istri Abidzar sakit, tapi tetap mempertahankan kehamilannya. Dan dia akhirnya meninggal, bukan karena penyakitnya tapi karena kecelakaan.
"Asyiah??" Gumam Kaniya. Dia tak pernah menyangka bahwa almh istri Abidzar adalah sahabatnya yang telah lama berpisah. Dia adalah teman kuliah Kaniya, sahabat yang selalu membersamainya. Mereka selalu berbagi suka duka. Asyiah juga menjadi saksi hubungan cintanya dengan Dani.
Tapi, Asyiah tidak melanjutkan kuliahnya di kota ini. Dia harus ikut orang tuanya ke luar negeri dan melanjutkan kuliah disana. Setelahnya, Kaniya tidak pernah bertemu dengan Asyiah ataupun berhubungan lewat telpon. Asyiah menghilang begitu saja dari kehidupannya.
Kaniya terisak, dia tak menyangka bahwa sahabatnya telah meninggal dunia.
"Kan..Kaniya.. hey.. Kamu nggak fokus? lagi menghayal apa sih??" Asyiah melihat arah mata Kaniya pada sebuah majalah. Disana terlihat seorang perempuan dengan gaun pengantin berwarna putih, sedang berlari di tepi pantai dan mempelai pria mengejar dibelakangnya. Si perempuan menoleh sedikit ke belakang sambil tersenyum dan si lelaki mengulurkan tangannya hendak meraih.
"kamu mau konsep pernikahan kayak gini?" kepo Asyiah. Tapi Kaniya hanya diam tak menjawab, seperti biasa dia larut dalam dunianya..Hingga
"Auch..." Kaniya merasakan sakit pada kepalanya yang di timpuk buku tipis.
"Nah..sadar juga akhirnya" kekeh Asyiah lalu berlari karena dia sudah tahu, Kaniya akan membalasnya.
"Asyiah... awas kamu yah.." mereka berkejaran di taman kampus tanpa memperhatikan sekitarnya. Ini adalah semester awal mereka kuliah.
"Asyiah, khiz..khiz... "
Kaniya terus terisak mengingat kebersamaan dengan sang sahabat. Dia bukanlah sosok yang mudah bergaul akrab dengan orang lain. Tapi Asyiah mampu memahaminya dan mereka akhirnya menjadi sahabat.
ceklek..
"Loh.. love. kamu kenapa? kenapa menangis?" Tanya Abidzar panik. Dia buru-buru kembali ke rumah karena ada berkas ketinggalan.
Kaniya tak menjawab, dia hanya menangis. Bahkan saat Abidzar merengkuhnya dalam pelukan. Dia terus terduduk dilantai memeluk foto Asyiah bersama Abidzar.
Abidzar yang merasa heran dengan posisi Kaniya yang mendekap sesuatu akhirnya mengurai pelukannya. Dia membuka tangan Kaniya yang tak menolak. Akhirnya Abidzar menemukan foto dirinya saat menikah dengan almh. istrinya.
Tapi, dia tidak paham apa yang membuat Kaniya bersedih. Bukankan Kaniya memang sudah tahu kalau dia duda. Dia memang tak lagi memajang foto bersama almh istrinya, semua dilakukan untuk menghormati Kaniya. Dia menyimpan foto itu di rumah lama mereka, agar Syifa tetap bisa mengenang ibunya saat rindu. Kaniya pun mengetahui hal itu, tapi dia tidak pernah ingin ke rumah itu karena dia sadar bahwa biar bagaimanapun almh. istri Abidzar memiliki tempat khusus di hati nya dan Syifa pun dengan mertuanya. Dia tak pernah ingin menyentuh ranah itu. Dia tak pernah ingin membandingkan dirinya dengan orang yang sudah meninggal, apalagi mencemburuinya.
"Love, Kamu terganggu dengan foto ini??" Tanya Abidzar. Tapi Kaniya tetap dia dan menangis.
"Kaniya.., hei... lihat aku" Abidzar meraih wajah Kaniya dan dihadapkan padanya.
"Bi... " Seketika Kaniya tersadar melihat suaminya.
"Ya??" Kaniya mencari foto yang tadi dipegangnya.
Melihat gelagat Kaniya, Abidzar segera tahu kalau dia cari foto pernikahannya. Dia menyerahkan foto itu pada Kaniya karena penasaran kenapa Kaniya bisa menangis seperti ini.
"Bi... Asyiah.. Bawa aku ke makamnya yah. A..ku.. Asyiah... Kami adalah sahabat, Bi. Aku dan dia terpisah saat dia pindah ke luar negeri. setelah itu, kami hilang kontak, khiz..khiz...Asyiah, sahabat aku Bi, dia selalu ada saat sulitku, dia yang bantu aku beradaptasi di kota ini" Abidzar cukup kaget dengan penuturan Abidzar.
Almh. istrinya dulu selalu bercerita tentang sahabatnya. Tapi terus terang, meskipun sering mendengarkan cerita istrinya yang berulang, dia tidak pernah begitu tertarik untuk bertanya lebih jauh. Dia sadar, bahwa menanyakan lebih jauh tentang seorang perempuan meskipun itu adalah sahabat sang istri, bisa saja menimbulkan kecemburuan. Jadi, dia hanya mampu memendam segala rasa penasaran di hatinya.
"Love, kita pindah ke kamar dulu yah. Kamu bisa sakit kalau duduk seperti ini terlalu lama. Makamnya berada di Surabaya. Kita butuh waktu untuk kesana. Sekarang, kita ke kamar dulu yah" Abidzar langsung mengangkat Kaniya ke kamar mereka.
"Bi, aku mau mendengar cerita tentang Asyiah" Lirih Kaniya.
Abidzar yang menatap istrinya yang bersedih, akhirnya menceritakan tentang Asyiah, almh istrinya. Kaniya menyimak dengan khidmat. Dia tak ingin melewatkan sedikitpun kisah tentang Asyiah. Kadang dia tersenyum saat Ada cerita lucu.
"Dia selalu menceritakan tentang sahabatnya yang seringkali hilang fokus. Katanya, dia adalah teman pertamanya di kota ini. Mereka sangat akrab, dia memiliki senyum manis dan hati yang tulus. Asyiah memiliki kemampuan mengetahui sifat orang dari mimik wajahnya. Jadi, dia sangat tahu bahwa sahabatnya itu adalah gadis yang baik" Jeda. Kaniya masih berharap suaminya meneruskan.
"Bahkan, di dalam mimpi setelah dia meninggal, Asyiah pernah mendatangiku dan bercerita tentangnya. Akhirnya aku menemukan wanita seperti yang dibicarakannya di sebuah lift hotel. Syifa pun menemukan perempuan yang selalu diceritakan ibunya lewat mimpi-mimpinya" Abidzar mengambil nafas. Berusaha merangkai kata dari setiap yang diingat tentang almh istrinya.
"Suatu ketika, dalam mimpiku, kami bermain di sebuah taman. Lalu dia menuntunku ke arahmu yang sedang menangis, aku melihat Syifa menghiburmu. Saat aku mendekat ke arah Syifa, dia memanggil Syifa sehingga kita tinggal berdua. Aku tak bisa menampik bahwa, dialah yang menuntunku untuk meraihmu, lewat mimpi-mimpiku"
"Oh yah?. Aku pun pernah bermimpi Syifa datang menghiburku saat sedih karena permasalahan dengan mantan suamiku dan kegagalan pernikahanku dengan Afdhal. Lalu kamu hadir dan Syifa pergi bersama ibunya. Tapi, aku tak melihat wajahnya" Tutur Kaniya.
"Wahh..artinya, aku, kamu dan Syifa berada dalam mimpi yang sama??" Tanya Abidzar. Kaniya hanya mengangguk mengiyakan.
"Asyiah.. di masa hidupnya, di tengah keresahan akan penyakitnya, Dia berkata akan mempertemukan aku denganmu. Dan saat meninggal, dia selalu hadir di mimpi Syifa, seolah mengenalkannya padamu,.tapi di mimpiku hanya sesekali. Itu juga yang menyebabkan Syifa langsung mengenalimu sebagai orang yang selalu dikisahkan ibunya dalam mimpi. Percaya atau tidak, aku merasa bahwa Asyiah memang ingin menyatukan kita. Keinginannya begitu kuat, dan entah bagaimana dia bisa hadir dalam mimpi-mimpi kita. Itu adalah rahasia Allah dan aku tak ingin mencari tahu lebih jauh. Yang penting sekarang, aku berjodoh denganmu, aku, kamu, dan Syifa bahagia. aku yakin Asyiah pun akan bahagia di sana"
Abidzar semakin merengkuh Kaniya dalam pelukannya. Mereka sedang berbaring di ranjang sambil bercerita.
"Rahasia jodoh betul-betul yah, love. Aku bahkan nggak berpikir bahwa seseorang yang dijodohkan oleh ayah, adalah sahabat almh istriku, dan kini dia menjadi istriku" Abidzar tersenyum dan mengecup kening Kaniya.
"Terimakasih, love. Terimakasih karena hadir mengisi kekosongan hatiku. Bersedia menjadi ibu untuk Syifa, menjadi menantu yang diimpikan oleh ayahku, menantu kesayangan ibuku"
"Terimakasih juga, Yang. karena sudah bersedia menerimaku apa adanya. Bahkan dengan resiko kamu nggak akan punya anak karena usiaku yang sudah lebih 38 tahun. Bahkan bulan depan sudah 39. Aku dah tua yah, heheh..." Jawab Kaniya, tulus.
"eh... anak yah. Kamu masih muda kok love. Aku lebih tua darimu. Siapa bilang, kita nggak bakalan punya anak. Yang penting kita usaha yang rajin, love. Sekarang, kita usaha lagi yuk" Ajak Abidzar dengan seringai nakalnya.
"Eh.. mana bisa. ini masih siang, kamu kan harus kerja, yang?" Kaniya berusaha melepaskan diri dari rengkuhan sang suami.
"Siang juga bagus kok, lebih terang. Jadi anak kita nanti bisa lebih putih bercahaya. Kalau masalah kerjaan, nggak ada yang urgent jadi nggak masalah ditinggal sehari" Jawab Abidzar asal. Entah teori dari mana itu.
Tangannya menjelajah sesuai keinginannya, diiringi suara merdu sang istri ditelinganya.
"Yang... ah.. ka..mu.." Kaniya tak lagi dapat melanjutkan katany-katanya karena bibirnya telah dibungkam oleh bibir sang suami.
Siang itu, mereka kembali mengarungi indahnya cinta. Kaniya yang akhir-akhir ini begitu mudah terpancing, bahkan sering mengajak duluan, akhirnya mendominasi permainan. Abidzar tentu senang dengan keaktifan sang istri.
Kaniya dan Abidzar terus berpacu, hingga Kaniya merasakan keram di perutnya saat permainan kedua berakhir.
"Akh... yang sakit" Ringis Kaniya memegang perutnya. Abidzar yang kaget dengan istrinya yang tiba-tiba menangis mengadu kesakitan, segera bangun dari tempat tidur, memeriksa keadaan istrinya.
Matanya tiba-tiba mengarah pada bercak darah di seprei.
"Love, kamu haid?" Kaniya tersentak
"Haid??" Kaniya bahkan lupa kapan terakhir haid.
"Iya, ada darah di seprei" Kaniya melihat seprei yang ditunjukkan Abidzar. Diapun merasakan seperti ada yang mengalir di bagian intimnya.
"A..ku nggak tahu, yang. Tapi, sepertinya aku sudah lama tidak haid. Aku sih memang sering terlambat dulu jadi tidak pernah terllau memperhatikan siklus haid. Tapi ini sakit sekali, Khizz..."
Kaniya terus menangis, membuat Abidzar kelabakan.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang" putus Abidzar
Dia segera membasuh tubuh istrinya dengan handuk basah menyamarkan bekas percintaan mereka, dan memakaikan baju kemeja lengan panjang dan bawahan rok, lalu jilbab pasang. Hal ini dilakukan abidzar, agar lebih mudah jika Kaniya harus diperiksa di bagian perut.
Kaniya hanya pasrah saat Abidzar melakukan semua itu lalu menggendongnya keluar kamar, hingga ke mobil. Abidzar berusaha sebisa mungkin tenang berkendara, meskipun sulit karena istrinya terlihat pucat dan masih menangis menahan sakit.