38 +

38 +
Memaafkan Itu Indah



Menjelang HPL, Abidzar meminta orang tuanya untuk tinggal dirumahnya. Hal itu dilakukan agar Syifa dan Kaniya tetap ada yang mengawasi saat dia pergi ke kantor.


Meskipun di rumah ada asisten rumah tangga, tapi kehadiran orang tua tentu akan lebih baik.


sedangkan Nur sekarang tinggal di rumah suaminya. Afdhal memutuskan untuk membeli rumah di kota ini dan tetap bekerja di perusahaan omnya. Dia menolak untuk masuk ke perusahaan keluarga Nur dengan alasan sudah nyaman di tempat kerja yang lama. Nur sendiri tidak merasa keberatan dengan hal itu.


"Bu, Syifa ada PR tapi nggak paham cara kerjanya. Ajarin yah" Syifa memperlihatkan bukunya pada Kaniya.


"Tentu sayang, mana yang Syifa nggak paham?" Tanya Kaniya penuh perhatian.


"Soal nomor 3 Bu" Syifa memperlihatkan buku PR pada ibunya.


Setelah melihat, Kaniya memberikan penjelasan dan memberikan contoh yang mudah dipahami oleh Syifa.


"Sudah paham?" Tanya Kaniya yang dibalas anggukan oleh Syifa.


Syifa langsung mengerjakan PR sesuai yang sudah dicontohkan oleh Kaniya.


Setelah mengerjakan PRnya, Syifa kembali ke kamar untuk tidur. Sedangkan Kaniya menunggu suaminya di ruang tamu. Sekarang sudah jam delapan malam, Abidzar sedang lembur jadi agak lama pulangnya.


Selang beberapa menit, Abidzar datang yang disambut Kaniya dengan senyum. Diraihnya tangan Suaminya lalu dikecup dengan takzim, hal ini dibalas Abidzar dengan ciuman kening.


"Sudah makan?" Tanya Abidzar yang dibalas gelengan sang istri. Lalu mereka melanjutkan ke kamar, Abidzar membersihkan dirinya dan menuju ruang makan.


Abidzar tahu kebiasaan istrinya yang akan menunggu nya makan malam. Sehingga diapun tidak makan di kantor, memilih makan malam dengan sang istri.


"Ayah dan Ibu kemana?" Tanya Abidzar saat mereka telah menyelesaikan sesi makan malam.


"Mereka menghadiri acara makan malam bersama klien" Abidzar mengangguk dan membawa istrinya ke ruang nonton untuk bersantai sebentar.


"Love..."


"Ya?"


"Tadi.. di kantor ada pak Daniel" Ucap Abidzar sedikit takut membuat Kaniya marah.


"Lalu?" Tanya Kaniya bingung.


"Dia datang bersama istrinya" lanjut abidzar.


"Aku belum paham. Apa perusahaan kalian melakukan kerja sama?"


"Nggak love. Mereka datang menemuiku karena ingin diijinkan berbicara denganmu" Jawab Abidzar.


"Menurut kamu sendiri, gimana?. Kalau aku sih, nggak penting juga mau ketemu atau tidak dengan mereka. Bagiku, mereka adalah masa lalu. Meskipun dulu terasa menyakitkan, tapi lama kelamaan aku malah bersyukur, karena berpisah dengannya aku bisa bertemu denganmu. Bahkan, saat aku hampir menikah dengan orang lain, dia pun menggagalkan dan membuat jalan untuk kita bersatu terbuka lebar. Kemarin itu, aku hanya takut kalau kehadirannya akan menggangu rumah tangga kita. Aku sangat mencintaimu, apalagi setelah kita menikah. Aku tidak akan pernah siap berpisah denganmu." Kaniya bertutur dengan senyum yang mengembang. Hatinya betul-betul sudah move on dari Dani.


Abidzar mau tidak mau ikut tersenyum dan terbuai dengan ucapan sang istri. Dia sengat senang saat Kaniya mengucapkan kata cinta padanya.


"Aku lebih mencintaimu" Ucap Abidzar sambil merengkuh sang istri dalam pelukannya.


"Aku memberikan izin kalian bertemu. Bagimu memang masalah kalian telah berakhir. Tapi sepertinya, pak Daniel memiliki ganjalan yang harus disampaikan padamu, begitupun istrinya" Ucap Abidzar serius.


"Dia menceritakan sesuatu padamu?" Abidzar mengangguk.


"tapi, aku mau kamu tahu langsung dari mereka"


"Baiklah, aku akan menemui mereka. Tapi, temani aku yah" Bujuk Kaniya dengan Poppy eyes nya.


"heheh..tentu saja, love. Jangan menatapku seperti itu, seolah-olah kamu meminta anak kita dijenguk" ucap Abidzar dengan seringai jahilnya.


"Memang nggak capek?" Tanya Kaniya sambil mengelus dada suaminya.


"eh... apa artinya boleh?" Tanya Abidzar dengan mata berbinar. Kaniya hanya mengangguk dan Abidzar langsung merangkul sang istri masuk ke kamar.


Kegiatan enak di kamar kembali mereka nikmati bersama.


***


Syifa ikut mertua Kaniya ke rumah orang tua Afdhal di desa. Syifa sangat senang saat di ajak kesana dan Abidzar tidak keberatan dengan hal itu. Baginya, semakin banyak yang menyayangi Syifa maka akan semakin baik bagi pertumbuhannya.


Suara mobil yang berhenti di depan rumah mengalihkan perhatian mereka. Abidzar berdiri untuk ke depan menyambut tamu. Sedangkan Kaniya tetap duduk di taman. Karena mereka akan bertemu di taman ini.


Selang beberapa waktu, Abidzar datang dengan Afdhal dan istrinya. Kaniya berdiri menyambut tamu mereka. Dia telah mengikhlaskan semua masa lalunya. Hingga tak ada setitik rasa sakitpun yang muncul saat bersinggungan dengan orang-orang yang pernah melukainya.


"Mari kak Dani, Raina, silahkan duduk" Sapa Kaniya. Abidzar dengan sigap merangkul istrinya yang nampak payah untuk berdiri ataupun duduk. Dia membantu istrinya duduk di kursi panjang empuk yang memang sengaja disediakan untuknya di taman ini selama kehamilannya. Hal ini untuk membuat Kaniya nyaman saat duduk ataupun berbaring.


Dani dan Abidzar membicarakan beberapa hal yang berhubungan dengan bisnis mereka, hingga asisten rumah tangga membawakan minuman dan kudapan.


Raina menatap suaminya, seolah meminta izin untuk berbicara yang dibalas anggukan oleh Dani. Segera setelah asisten rumah tangga itu berlalu, Raina pun membuka pembicaraan.


"Aku bersama mas Dani mengajak bertemu untuk meminta maaf secara langsung pada anda" Ucap Raina memulai pembicaraan.


"Selama ini, aku selalu dihantui rasa bersalah. Apalagi setelah tahu cerita yang sebenarnya. Aku meminta mas Dani untuk mencarimu dan rela jika ia menceraikanku saat kalian bertemu. Akupun telah tahu apa yang dilakukan oleh papaku dan ayahnya Raka, agar kamu dan mas Dani berpisah" Jeda, sementara Kaniya hanya diam mendengarkan.


"Hari itu, saat mas Dani menemukanmu. Dia mengatakan akan kembali padamu. Aku mengiyakan dan memintanya segera melamarnya. Tapi sayang karena kamu saat itu akan menikah. Mas Dani bilang, kamu terlihat trauma saat dia mendekatimu. Tapi, aku melihat mas Dani sangat berharap bahwa kalian bisa kembali bersatu. Tentu, aku mendukung keinginannya"


"Lalu, Mas Dani bilang, kamu menuntut cerai padanya. Aku berpikir agar kalian bisa bersatu, aku meminta cerai padanya. Hal itu didengar papaku, yang ternyata sejak tadi telah mendengarkan pembicaraan kami. Dia marah pada kami, lalu pergi membawa Dafa anakku, ke rumahnya. Tapi, diperjalanan mereka mengalami kecelakaan" Raina kembali berhenti, dia terisak yang segera ditenangkan oleh suaminya


"Papa..khiz.. Dafa meninggal di tempat dan papa meninggal di rumah sakit setelah dua hari di rawat. Beliau seolah tak mau melanjutkan hidup setelah tahu Dafa meninggal karena kecelakaan yang mereka alami. Beliau memintaku mencarimu, dan memohon maaf atas kesalahannya dulu yang memisahkan mu dengan mas Dani. Beliau juga yang sengaja membuatmu hadir dalam pernikahan kami sehingga kamu marah dan meninggalkannya. Tolong maafkan papa..." mohon Raina dengan uraian air matanya.


"Jika itu dulu, mungkin akan masih sulit bagiku untuk memaafkan. Tapi, saat ini aku sangat bahagia dengan suamiku. Jadi, tak ada alasan lagi bagiku untuk menyimpan luka masa lalu. Aku tak lagi menyimpan benci dihatiku, bahkan aku berpikir, mungkin memang seperti ini jalan yang Allah berikan agar aku bisa bertemu dengan suamiku" Jawab Kaniya tenang.


"Dinda, Aku juga meminta maaf atas nama om Handoko. Beliau sekarang dirawat di rumah sakit jiwa karena tak mampu menerima bahwa penerus satu-satunya, anak dari Alm. Raka, Dafa telah meninggal dunia. Beliau menjadi gila dan sulit di kontrol sehingga dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Aku mohon, maafkan beliau, karena bersama mertuaku, mereka merancang perpisahan kita waktu itu" Dani menjeda, lalu tertunduk.


"Aku pun mohon maaf padamu. Karena, aku terus berkata mencintaimu, tapi aku pun tak sanggup menahan hasrat ku pada Raina. Maaf karena sempat berpikir dapat memiliki kalian berdua. Bahkan, aku sempat mengacaukan rencana pernikahanmu, membuatmu mendapatkan hinaan dari orang-orang di desamu. Maafkan untuk semua kesalahanku, Din. Lanjut Dani tulus.


"Sama seperti yang aku ucapkan pada istrimu. Aku tak lagi menyimpan rasa benci di hatiku. Aku pun tak bisa menampikkan segala kebaikanmu di masa lalu, terlepas dari pengkhianatanmu. Sekarang ini, aku hanya ingin hidup tenang bersama keluargaku, tanpa bayang-bayang masa lalu. Kalian juga, lupakanlah masa lalu, maafkan segala hal, semua orang yang membuat kita terluka di masa lalu. Hidup akan lebih indah, jika hati tak menyimpan rasa benci" Tutur Kaniya dengan senyuman.


"Terimakasih Kaniya" Ucap Raina.


Sejak tadi, Abidzar hanya diam mendengarkan. Dia hanya harus memastikan, istrinya selalu aman dan nyaman.


Setelah berbincang agak lam, akhirnya Dani dan Istrinya pamit pulang.


"Terimakasih pak Abidzar karena memberikan izin untuk kami bertemu istri anda. Kami sekarang merasa sangat lega" Dani menjabat tangan Abidzar saat berpamitan.


"Sama-sama pak Daniel, semoga kedepannya tak ada lagi masalah yang mengganjal dengan istri saya. Saya tidak terlalu suka, istri saya dekat dengan orang lain, terlebih itu adalah pria di masa lalunya" Ucap Abidzar dengan penekanan dan tatapan yang tajam, seolah berkata jauh-jauh lah dari istriku.


Dani hanya mengangguk dan merangkul istrinya ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Abidzar.


"Bagaimana perasaanmu, love?" Tanya Abidzar lembut.


"Alhamdulillah, terasa sangat baik, sayang. Ternyata memaafkan itu seindah ini rasanya. Tak ada yang kurang hanya karena kita memaafkan orang lain, malah perasaan bertambah bahagia" Jawab Kaniya dengan senyumnya.


"Kalau begitu, kamar yuk love. Mumpung Syifa lagi pergi sama kakek neneknya" Ajak Abidzar mengedipkan mata. Kaniya hanya tersenyum dan mengangguk.


Merekapun segera beranjak ke kamar. Abidzar langsung menyerang istrinya begitu pintu telah terkunci. Kaniya yang pasrah menerima segala perlakuan manis sang suami.


Abidzar memberikan sentuhan yang membuatnya terbuai, melayang. Pakaian yang melekat ditubuhnya telah hilang satu persatu, sementara Abidzar masih dengan pakaian lengkap berdiri menyaksikan keindahan istrinya.


"Aku sangat senang melihatmu memerah seperti ini, love. Terlihat cantik sekali" Ucap Abidzar lalu kembali menyerang inti istrinya dengan bibirnya.


"Akh..." Ringis Kaniya, yang dianggap lenguhan oleh Abidzar.


"kamu suka, love?" Tanya Abidzar lalu berganti menyerang dua gunung indah milik sang istri.


"Sa..yang... akh.. sa..kit" Ucap Kaniya terbata, antara nikmat dan rasa sakit di perutnya.


Abidzar berhenti dan menatap Kaniya. Dia melihat istrinya sedang menahan sakit. Di tatapnya ke bawah dan melihat kondisi istrinya seperti akan melahirkan.


"Tahan, love. Kita akan ke rumah sakit sekarang" Abidzar segera mengambilkan pakaian untuk istrinya. Lalu membopongnya keluar ke mobil.


Dia meminta asisten rumah tangganya untuk membawa perlengkapan persalinan istrinya. Meskipun jadwal operasi masih sepekan lagi, tapi Abidzar berjaga-jaga karena melihat kondisi istrinya