38 +

38 +
Bertemu Masa Lalu



Hari ini Kaniya akan ke kota membeli ATK yang semakin menipis. Akhir-akhir ini banyak permintaan dari sekolah-sekolah di sekitar kampung. Selain itu, jasa pengetikan, foto copy dan cetak foto juga menghabiskan lumayan banyak kertas dan tinta serta kertas foto.


Kaniya harus langsung ke kota untuk mengecek harga dari beberapa toko, karena akhir-akhir ini harga barang terus naik. Dia harus pintar memilih toko yang memberikan harga paling rendah dan tentunya bisa mengirimkan ke kampung dengan ongkos kirim yang lebih rendah. Bagaimanapun juga, toko ATK nya di desa masih sangat kecil, sehingga harus berusaha sebaik mungkin untuk bisa membuatnya terus berkembang.


Akhir-akhir ini Kaniya melihat pangsa pasar yang lumayan bagus untuk dimasuki, yaitu penjualan bouket untuk acara wisuda atau ulang tahun. Bahkan untuk wisuda TKA/TPA pun sekarang banyak yang memberikan bouket uang, bunga, permen, cemilan bahkan jilbab pun dibuat bouket. Jadi, dia juga berniat untuk melihat-lihat bahan dan alat untuk membuat bouket, lalu membelinya.


"Tan, jadi ke kota?" Nindya muncul dari dapur saat Kaniya memasang sepatunya.


"Iya nih, kamu buka toko yah, kalau ada yang nyari aku, bilang aja lagi ke kota beli barang" ucapnya tanpa menoleh. "Ibu kamu mana, aku mau pamit" Kaniya melanjutkan sambil membenahi jilbabnya yang terasa miring.


Nindya langsung masuk memanggil ibunya sementara Kaniya keluar menuju teras rumah. Disana, kakaknya yang pertama terlihat duduk menikmati secangkir teh manis ditemani biskuit kelapa.


"Kak, Kaniya ke kota dulu yah, mau beli barang" Pamit Kaniya sambil meraih tangan kakaknya, lalu menciumnya. Tak lama berselang, ibu Nindya juga datang sang Kaniya melakukan hal yang sama.


"Kamu hati-hati yah, kalau kerepotan, mau dijemput langsung telpon aja, biar Ridho kakak suruh jemput kamu" Salwa, kakak pertama Kaniya selalu khawatir saat adiknya pergi sendirian. Bagaimanapun, dia pernah melihat Kaniya yang pulang dari kota dengan keadaan yang cukup memprihatinkan. Namun sampai sekarang, dia tidak pernah tahu apa yang menimpa adiknya itu. Kaniya seolah enggan untuk bercerita dan sebagai kakak dia tidak ingin memaksa, tapi tetap berupaya menghibur. Sejak saat itu, Kaniya pun tidak pernah lagi membawa teman pria pulang ke kampungnya.


"Iya kak. Kaniya berangkat yah" jawab Kaniya singkat, lalu menuju motornya yang telah terparkir rapi di depan rumah.


***


Berangkat pukul 08.00 dan sekarang Kaniya telah sampai di salah satu toko tujuannya pukul 10.25. Dia melangkah masuk ke toko, sambil membuka HP nya untuk menyampaikan ke Nindya bahwa dia telah sampai. Hal ini rutin dia lakukan saat bepergian, karena kakak-kakak nya akan khawatir saat dia belum memberi kabar.


Saat dia asyik mengetik pesan sambil berjalan, Kaniya tidak memperhatikan arah depan, sehingga tanpa sadar dia menabrak troli yang didorong pelanggan lain keluar.


"Au..." Kaniya meringis, saat dia terasa menabrak sesuatu yang keras. Dia terjatuh dan HP nya terjatuh. Kaniya memegangi perutnya yang terasa sakit, begitupun pant**tnya yang mencium lantai.


"Maaf, Anda tidak apa-apa?" suara yang sangat familiar terdengar oleh telinga Kaniya. Kaniya hanya berdoa supaya hanya suaranya saja yang sama. Dia mendongak menatap pemilik troli yang ditabraknya.


Mata Kaniya serasa ingin keluar saat melihat laki-laki di depannya. Tak jauh berbeda dari laki-laki di depannya. Dia mengenali wanita didepannya, meskipun hanya dari tatapan mata, karena wajahnya tertutup masker.


"Sa..yang...?" Laki-laki itu memanggil wanita di depannya dengan ragu. Entah kenapa dia yakin, wanita ini adalah Adindanya, wanita yang telah lama dicarinya.


"Maaf... Saya tidak apa-apa, nama saya bukan Sayang. Saya permisi" Kaniya putar balik menuju motornya, tidak jadi masuk ke toko. sementara si lelaki, masih mematung ditempatnya. Saat tersadar, Kaniya telah pergi dari hadapannya