
Hari ini Kaniya mulai keluar dari rumah. Dia tahu tidak bisa berdiam terus di dalam rumah. Dia abaikan tatapan penuh tanya dari tetangganya.
"Nin, aku izin lagi yah gak ke toko. Mau ketemu kak Dani dulu"
"Siap bos"
Kaniya pun melangkah ke luar rumah menuju rumah sakit tempat Dani di rawat. Yah.. setelah aksi pemukulan Dani kemarin, dia minta di jemput oleh supirnya untuk di bawa ke rumah sakit.
"Pasien atas nama Daniel Atmajaya, di ruang mana yah??" Tanya Kaniya
"Bapak Daniel Atmajaya sudah keluar tadi Bu"
"oohh.. terimakasih yah" Kaniya lalu meninggalkan rumah sakit.
Kaniya melajukan motornya ke rumah mama Hani. Dia harus bertemu dengan Dani untuk menyelesaikan masalah mereka. Kaniya tidak ingin lagi berhubungan dengan Dani.
Sesampai di rumah mama Hani, Kaniya memarkirkan motor dan menuju teras rumah lalu mengetuk pintu.
tok tok
"Assalamu Alaikum" Suara Kaniya cukup keras, agar orang di dalam rumah bisa mendengar.
"Waalaikum Salam" Terdengar jawaban salam dari dalam rumah. Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka.
Seorang perempuan yang masih cantik diusianya yang sudah lebih 60 tahun tampak berdiri mematung menatap Kaniya. Antara percaya dan tidak percaya, menantu yang selama ini dicarinya sekarang berdiri di depannya.
"Kaniya...??"
Kaniya hanya tersenyum mengangguk
"Ya Allah, Kaniya? kamu benar-benar Kaniya?"
"iya ma, saya Kaniya" balas Kaniya sopan
Mendengar jawaban Kaniya, Hani membawa Kaniya dalam pelukannya dengan senyum yang diiringi derai tangis.
"Kaniya .., ya Allah... Pa... papa... ada Kaniya pa" Mama Hani mengurai pelukannya, menatap wajah Kaniya yang tampak lebih dewasa dari sebelum berpisah dengan Dani.
"Mama kangen banget sama kamu. Kemana saja kamu nak. Dani sudah seperti orang gila mencarimu. Bahkan dia harus dirawat di rumah sakit karena mencarimu bertahun-tahun lalu"
"Ma... kok teriak sih, papa kan lagi asik nonton .... Ini siapa ma, kok kayak gak asing yah mukanya" papa yang akan mengoceh tiba-tiba teralihkan saat melihat Kaniya.
"Assalamu alaikum, Pa" sapa Kaniya sambil meraih tangan papa Dani lalu di ciumnya khidmat.
"Kaniya?? kamu Kaniya kan istri Dani?" Kaniya hanya mengangguk kurang nyaman mendengar kata istri.
"Ayo masuk dulu, nak. Ma.. ma.. ini menantu kita dari tadi datang kok gak disuruh masuk sih" papa tampak masih segar diusia lanjutnya. Rambut putih, seakan hanya simbol usia. Tapi beliau masih dapat bergerak lincah tanpa bantuan tongkat.
"Mama hanya merasa bahagia melihat Kaniya datang, pa. Jadi mama lupa membawanya masuk. Ayo sayang, kita masuk" dengan masih merangkul Kaniya, Mama Hani mengajaknya berjalan ke dalam ruang tamu.
"Ma, Kaniya kesini mau bertemu dengan kak Dani"
"Dani gak tinggal disini, nak. Dia tinggal bersama istri dan anaknya" Jawab mama Hani merasa tak enak.
"Mama gak perlu merasa sungkan membahas keluarga kak Dani. Saya sudah tahu kok, ma. dan saya sudah ikhlaskan semuanya. Saya hanya ingin menyelesaikan urusan dengan kak Dani yang belum selesai" Kaniya berusaha menjelaskan maksud kedatangannya.
"Maafkan kami Kaniya, kami merasa gagal mendidik Dani sehingga bisa berbuat seperti itu padamu. Maafkan kami" Mama Hani berucap dengan air mata yang terus mengalir. Suaminya menggenggam tangan mama Hani, berusaha menguatkan.
Melihat hal itu, Kaniya pun tak kuasa menahan laju air matanya.
"ini bukan salah mama dan papa, mungkin takdir kami memang harus seperti ini."
"Ma, aku kesini mau membahas masalah perceraian kami. Dulu, aku pergi karena emosi, sehingga tidak banyak berpikir tentang status pernikahan kami. Dan pekan lalu, kak Dani datang menemuiku, memperlihatkan buku nikah. Dia mengatakan, bahwa kami telah menikah secara resmi. Aku bingung, karena sebelumnya, kamu hanya menikah secara sirih"
"Entahlah, mama juga tidak tahu tentang itu. Tapi mama ingat, Dani dulu pernah kesini untuk meminta foto-foto waktu kalian menikah. Dia juga mencari orang-orang yang jadi saksi pernikahan kalian. Bahkan, Dani juga pernah membawa ayahmu ke kota ini. Tapi, katanya kamu gak boleh tahu karena ini akan jadi kejutan untukmu".
"OOO... begitu yah, ma. Lalu, bisakah aku ketemu Dani ma, sekarang?"
"Ok.. mama telpon dulu yah" mama lalu beranjak ke kamar untuk mengambil HP nya dan menelpon Dani.
Sekitar lima menit, mama kembali dan mengatakan Dani dalam perjalanan ke rumah ini.
***
Dani tersenyum kecut, luka diwajahnya masih terlihat. Mama tampak tak terkejut, artinya mereka tahu alasan Dani babak belur seperti itu.
"Waalaikum salam, Kamu ini, Dani. Baru lihat Kaniya, kamu sudah mau main peluk-peluk aja" gerutu ibunya
"Namanya juga kangen istri, ma" jawab Dani sambil tersenyum. Di tatapnya wajah Kaniya lekat-lekat, seakan takut jika berhenti menatapnya, Kaniya akan menghilang
Padahal, tatapannya itu yang membuat Kaniya ingin menghilang.
"Kak, aku bukan lagi istrimu. Aku tidak akan bertanya lagi, bagaimana cara kakak bisa mendapatkan buku nikah itu tanpa kuketahui. Aku hanya ingin kita bercerai"
"Tidak Kaniya, sekali tidak tetap tidak"
Kaniya menghela nafas panjang mendengar jawaban Dani.
"Kak, pernikahan kita itu sudah berkahir sejak dulu. Sejak aku tahu, kamu menikah lagi dengan wanita lain"
"Aku sudah jelaskan alasannya, Kaniya. Aku terpaksa melakukannya"
"Terpaksa?. apakah keterpaksaan bisa terus berlanjut. Jika kakak dipaksa, maka Kakak tidak akan bisa bertahan selama ini dengan pernikahan kakak. Bahkan kakak sudah punya anak apakah itu belum cukup??"
"Tapi, aku hanya mencintaimu sayang. Aku bersama dengan Raina hanya karena keterpaksaan dan rasa kasihan. Aku selalu mencarimu selama ini"
"Hehe... Kakak ini lucu, katanya terpaksa, kasihan. masa rasa kasihan bisa melahirkan anak secantik itu.." tunjuk Kaniya pada foto keluarga Dani bersama Raina dan kedua anaknya. Seorang anak lelaki dan bayi perempuan dalam gendongan Raina.
Di foto itu, Kaniya bisa melihat pancaran kebahagiaan dari Dani sekeluarga. Tapi, dia tidak peduli. Yang dia inginkan, Dani menceraikannya dan dia bisa bebas menjalani masa depannya.
Dani tertegun dengan ucapan Kaniya. Semenjak dia sakit karena mencari Kaniya lalu dirawat Raina sepenuh hati. Hubungan mereka memang semakin akrab. Lama kelamaan, Dani terbiasa dengan ketiadaan Kaniya di sisi nya.
Apalagi, Raina adalah wanita yang sangat cantik. Bahkan melebihi Kaniya, Raina juga sangat lembut dan penyayang. Sangat sulit bagi seorang Dani untuk menolak pesonanya.
Tidur bersama di atas ranjang yang sama, membuat Dani selalu sulit mengendalikan dirinya. Hingga, Raina mengetahui kebenaran tentang Raka yang sudah meninggal dan Dani yang sekarang jadi suaminya.
Meskipun sulit menerima, akhirnya Raina dapat berdamai dengan takdirnya. Dia juga telah nyaman bersama Dani. Raina meminta pernikahan ulang dengan Dani secara resmi.
"Kak.. tidak kah kamu memikirkan bagaimana perasaan Raina apabila dia tahu kakak berkata seperti tadi??"
"Raina sudah tahu tentang kamu Kaniya, dia bisa menerimamu sebagai istri pertamaku"
"Tapi aku yang tidak mau, aku tidak ingin lagi bersamamu.. Jangankan harus berbagi dengan yang lain, kalaupun kamu berpisah dengannya aku tidak akan pernah mau" tegas Kaniya.
"terserah padamu, Kaniya. Tapi, aku tidak ingin menceraikanmu"
"Egois... Tapi, baiklah. Kita akan bertemu di pengadilan. Aku rasa pernikahan keduamu sudah bisa aku jadikan dasar untuk melakukan tuntutan"
"Kak, pikirkanlah keluarga kecilmu yang bahagia" Kaniya menunjuk foto yang terpajang di dinding.
"Apakah Kakak rela menghancurkan kebahagiaan keluarga kakak, hanya karena cinta masa lalu? aku saja sekarang ragu, itu cinta atau hanya rasa bersalah kakak padaku" lanjutnya lagi.
Kaniya lalu berdiri dari tempat duduknya. Dia menemui orang tua Dani lalu pamit. Mama Hani melepas Kaniya dengan sedih. Bagaimanapun juga, Kaniya adalah menantu pertamanya.
Dani hanya menatap Kaniya yang perlahan menjauh. Dia sadar, bahwa dia telah melakukan banyak kesalahan, bahkan terus berlanjut. Beberapa tahun terakhir, dia bahkan sangat bahagia dengan Raina dan anak-anaknya.
Tapi saat bertemu Kaniya, dia merasa berhak atas Kaniya karena Kaniya adalah istrinya. Dia bahkan tidak memikirkan perasaan Raina dan anak-anaknya yang selama ini menemaninya dengan penuh cinta.
Dia mengagungkan cintanya pada Kaniya, tapi dia malah mempersulitnya.
Dia mengira, Kaniya akan terus mencintainya dan akan menerimanya lagi begitu mereka bertemu.
Tapi, dia malah melihat Kaniya yang begitu menderita saat melihatnya. Kehadirannya bahkan mengacaukan pernikahan Kaniya.
Mengingat itu, Dani hanya mampu merutuki kebodohannya yang tak berpikir panjang. Dia bahkan sempat berteriak di depan rumah Kaniya tanpa peduli banyak orang.
"Maafkan aku Kaniya" gumam Dani pada kesunyian.
***