38 +

38 +
Romansa Di Pagi hari



Pagi yang dingin menyambut Kaniya. Subuh tadi, selesai menjalankan kewajiban, Kaniya kembali bergelung dalam selimut. Namun pagi ini, ia harus bangun karena karena Nindya memaksanya keluar jalan pagi.


Kaniya dengan langkah berat mengikuti Ridho dan Nindya yang telah berlari di depan. Dia masih sangat mengantuk. Belum lagi, udara dingin yang membuatnya merapatkan jaket.


"Cepat Tan, Aku mo lari sampai air terjun" Nindya berbalik namun tetap berlari mundur.


Kaniya hanya mengangguk dan berusaha berjalan dengan cepat.


"Tan, itu beneran nama air terjunnya "Ketemu jodoh?" Tanya Ridho penasaran


"Iya. Kenapa memangnya?" Kaniya balik bertanya.


"Kalau aku kesana, trus ketemu cewek cantik, bakalan jodoh nggak yah??


"Nggak tahu juga, sih" Kaniya menjawab santai. Dia tidak begitu percaya sama mitos. Jadi, dia bisa jawab apa. Jodoh kan sudah diatur, mau ketemu di air terjun atau di pasar, kalau jodoh yah tetap saja jodoh.


"Kalau gadis cantiknya jodoh kamu yah, pasti jodohlah. Tapi kalau bukan, mau kamu ketemu di air terjun jodoh, atau air terjun lain, tetap saja gak bakalan jodoh. Mitos kok dipercaya sih, Dho" Nindya ikut menimpali.


"Ya kan cuma bertanya" Ridho kembali berlari.


Air terjun ketemu jodoh yang akan didatangi mereka berkarang kurang lebih 500 meter dari rumah Kaniya. Jalanan terkadang menanjak, kadang menurun, membuat Nindya yang baru berjalan di area seperti ini cepat lelah. Sesekali mereka berhenti untuk istirahat.


"Kamu yah, Nin. Perasaan tadi semangat sekali ingin lari kesini. Sekarang malah lebih sering istirahat dari jalannya. Waktu baru keluar ramah saja semangat berlari. Baru beberapa meter sudah KO" omel Ridho yang melihat Nindya kembali duduk di pinggir jalan karena kecapean.


"Kan aku nggak tahu jalannya seperti ini" ucap Nindya ngos-ngosan.


Kaniya yang melihat itu, hanya bisa menggelengkan kepala. Lalu dia merasakan getaran dari dalam saku gamis yang dipakainya.


"Assalamu Alaikum,.Kaniya" Sapaan manis langsung menyambut Kaniya begitu mengangkat telpon.


"waalaikum salam" Jawab Kaniya.


"Kamu ada di rumah kan, Kaniya? Rencananya aku mau kesana pagi ini. Ternyata, setelah bertanya pada penjaga villaku, tempat kita itu berdekatan, loh. Aku bahkan bisa melihat Villa mu dari sini" Abidzar berkata dengan semangat.


"Mau apa bapak pagi-pagi ke rumahku?" Tanya Kaniya heran.


"Mau ketemu kamu dong, kan hari Minggu, aku nggak ada kerjaan. Jadi mending kesana, kenalan sama keluargamu".


"Tapi, nggak sepagi ini juga dong pak"


"Loh, memang kenapa. Aku kan lagi usaha mendekati kamu. jadi harus pagi, agar rejekiku mendapatkanmu tidak dipatok ayam" kata Abidzar tanpa basa basi.


Kaniya yang mendengar ucapan abidzar, kembali memerah.


"Tapi, kan aku dah bilang belum mau menjalin hubungan dulu dengan seorang pria"


"Kan, kita bisa mulai dengan berteman. Aku juga menghargai statusmu yang baru bercerai, Kaniya. Tapi, aku harus berusaha dan tidak memberikan celah untuk orang lain bisa mendekatimu. Caranya, yah aku harus Pepet kamu terus"


Kaniya yang mendengar Abidzar berbicara terang-terangan entah kenapa merasa malu. Mereka bukan anak kecil lagi yang harus terlibat drama cinta seperti ini.


"Maaf pak Abi, tapi aku lagi di luar. Mau ke air terjun ketemu jodoh"


"Apa? tuh kan, baru juga aku bilang harus Pepet kamu. Sekarang, kamu malah mau ketemu jodoh di air terjun??" Abidzar mulai kelabakan ditempatnya menelpon. Dia tidak menyangka akan kembali keduluan sama orang lain. Tak bisa dibiarkan.


"Pak.., maksud aku..."


"Tidak perlu kamu jelaskan. Sekarang, kirimkan lokasimu, aku akan kesana sekarang. Pokoknya, kamu itu jodohku. Jangan ketemu jodoh lain di air terjun" Tanpa mendengarkan Kaniya, Abidzar langsung meminta Kaniya mengirimkan lokasinya.


Kaniya yang kebingungan dengan perkataan Abidzar hanya bisa menghela nafas dengan keras. Nindya dan Ridho memperhatikan Kaniya dengan wajah penasaran.


"Tan, siapa??" Ridho bertanya dengan tatapan penuh selidik.


"teman" Jawab Kaniya singkat


"kirim lokasinya, sekarang" Kaniya menggembungkan pipi, membaca chat Abidzar.


'Kenapa dia jadi sok memerintah begitu' tanya Kaniya dalam hati, jengkel. Tapi tak urung, iya kirimkan juga lokasinya sekarang kepada Abidzar.


Abidzar yang melihat lokasi Kaniya, serasa mau melompat kegirangan. Pasalnya, lokasi itu berada tak jauh dari villa nya. Segera dia keluar dari rumah setelah memeriksa anaknya yang masih terlelap di bawah selimut.


"Kaniya.." mendengar namanya di panggil, Kaniya mencari asal suara. Betapa kagetnya Kaniya ketika melihat Abidzar sudah berdiri didepannya. Dengan baju olah raga warna abu abu.


"Teman Tante?" Nindya bertanya dengan penasaran.


"Hai, kalian ponakannya Kaniya yah? kenalkan, aku abidzar, calon, aww...." Abidzar mendadak mengadu kesakitan karena kakinya diinjak Kaniya.


"Makanya, jangan asal ngomong" ucap Kaniya setengah berbisik.


Dia merasa heran. Pertemuan pertama, kedua dan ketiga, kayaknya lelaki ini tidak petakilan begini deh. Bahkan terkesan dingin. Kok sekarang jadi begini yah??


"Om, nggak apa-apa? kok kayak kesakitan githu?" Nindya menatap Abidzar dengan curiga.


"Nggak kok. Om cuma ngerasa ada semut yang gigit" Abidzar mencoba beralasan.


"oww... Aku Nindya Om dan yang berdiri disana Ridho. Kalau gitu, kita ke air terjun yah sekarang" Setelah berkata begitu, Nindya dan ridho kembali berlari kecil ke air terjun.


Kaniya yang merasa tidak enak ditinggal berdua dengan Abidzar segera menyusul mereka berdua. Abidzar yang tidak mau kehilangan kesempatan, menjejeri langkah Kaniya yang lambat.


"Kaniya, Kamu betulan mau ketemu jodoh di air terjun?"


Kaniya memutar bola mata mendengar pertanyaan Abidzar.


"Yang bilang mau ketemu jodoh di air terjun siapa?"


"Kamu yang bilang. Pendengaran ku masih sangat bagus, loh. Aku nggak mungkin salah dengar kamu bilang 'mau ke air terjun ketemu jodoh'" Abidzar mengulang lagi kalimat Kaniya tadi.


"aku memang bilang mau ke air terjun ketemu jodoh, tapi bukan begitu maksudnya. Maksudku itu, aku mau ke air terjun nama air terjunnya 'ketemu jodoh' ". Gemes sekali rasanya Kaniya dengan Abidzar yang salah paham.


"ohh... " Abidzar yang mulai sadar kesalahannya hanya bisa meneguk ludah dengan kasar. Dia bahkan sudah marah-marah padahal belum punya hak. Jadi malu kan. Tapi kata ibu, aku harus tebal muka agar bisa memepet Kaniya.


"Kalau gitu, kita kesana sekarang. Siapa tahu, dengan bersama ke tempat itu, kita bisa berjodoh"Abidzar membesarkan hatinya.


"Jangan percaya mitos pak" ucap Kaniya,.menasehati. Abidzar hanya cengengesan.


Mereka pun mulai menyusul Ridho dan Nindya yang sudah jauh kedepan. Turunan dengan jalanan agak licin di depan, menandakan area air terjun sudah semakin dekat. Bahkan suaranya pun terdengar lebih jelas.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di air terjun. Nindya sudah bermain air bersama Ridho.


Kaniya hendak berlari menyusul, hingga hampir tergelincir. Abidzar yang melihat itu langsung memegang tangan Kaniya agar tidak terjatuh.


Kaniya yang merasakan tangannya dipegang langsung merasa tegang. Jarak mereka sangat dekat, hingga Kaniya merasa Abidzar akan mendengar detak jantungnya.


Merasa gugup, Kaniya segera melepas pegangan tangan dari Abidzar, tapi hal itu malah membuatnya terjatuh kebelakang. Untungnya, abidzar segera meraih pinggangnya dan membuat jarak mereka semakin dekat.


Kali ini bukan hanya Kaniya yang deg-degan, Abidzar bahkan sulit menguasai detak jantungnya. Mereka bertatapan agak lama, menyelami hari masing-masing dari tatapan mata.


"Bapak dan ibu, kalau mau mesra mesraan sama istrinya, jangan di tempat terbuka dong"


Kaniya dan Abidzar baru tersadar mendengar suara orang asing didekatnya.


"Maaf" Ucap Abidzar, entah diucapkan untuk pejalan kaki tadi yang mungkin penduduk asli sini ataukan untuk Kaniya karena sudah memegang pinggangnya.


Dia lalu melepaskan rengkuhannya dengan perlahan. Tidak lagi secara spontan seperti yang dilakukan Kaniya tadi.


Setelah melihat Kaniya bisa berjalan dengan normal. Abidzar melepaskan pegangan tangannya.


'Maaf ya Allah, ini darurat. Hamba tidak bermaksud menyentuh yang bukan mahram hamba' Batin Abidzar.


'Ya Allah.. Ampuni hamba yang membiarkan diri ini bersentuhan dengan lawan jenis dan bukan mahram pula" Ringis Kaniya dalam hati.


"Terimakasih yah pak" ucap Kaniya tulus.


"Kaniya, bisakah kamu memanggilku tanpa embel-embel,.pak?"


"Tapi,.pak"


"Kita kan teman sekarang, kamu panggil nama saja boleh, panggil sayang lebih boleh lagi" kata, Abidzar jahil sambil mengedipkan mata.


"Baiklah, aku panggil Abi saja yah, lebih singkat"


"ok deh. Mudah-mudahan nanti jadi Abinya anak-anak kita yah" Gombal Abi.


Kaniya yang mendengarnya hanya bisa tersipu. Rasanya sangat sulit menolak' pesona abidzar. Tapi, dia selalu ingat statusnya yang baru saja bercerai.


***