38 +

38 +
Lamaran Romantis??



Kaniya tengah bersiap ketika Akbar dan teman-temannya datang. Akbar datang dengan mobil yang disewanya. Uang dari Abidzar sangat cukup untuk membiayai segala kebutuhan mereka termasuk menyewa 3 buah mobil yang bisa menampung mereka semua.


"Assalamu Alaikum" Ucap Akbar mengetuk pintu rumah Kaniya yang masih tertutup.


"Waalaikum Salam. Eh.. Nak Akbar, masuk nak. Bu Kaniya lagi siap-siap di kamarnya"


"Iya, Tante. Makasih, Akbar tunggu di teras saja". Jawab Akbar pada istri penjaga Villa.


Beberapa menit kemudian Kaniya keluar dari kamar dengan gamis maroon dan ransel kecil. Kaniya berpamitan pada istri penjaga villa dan berangkat bersama Akbar.


Suasana di dalam mobil lumayan heboh. Mobil ini berisi 8 orang dengan supir. Begitupula dua mobil lainnya. Jadi, jumlah siswa yang ikut adalah 20 orang. Lima lainnya tidak sempat ikut karena memiliki acara bersama keluarga.


Kaniya menikmati perjalanan dengan siswanya. Meskipun sebagian besar siswanya adalah putra putri daerah ini, namun tidak serta Merta mereka mampu mendatangi semua destinasi wisata yang ada. Olehnya itu, perjalanan kali ini benar-benar bagai hadiah dikala mereka mulai berubah jadi lebih baik.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di perkebunan teh. Mereka mulai masuk dan menuju tempat membeli karcis. Setelah membayar karcis, mereka melanjutkan ke dalam perkebunan dan berjalan kaki menuju puncak yang terdapat resto atau lebih tepat disebut cafe sih sebenarnya.


Seperti yang diceritakan oleh Akbar, cafe ini pelayannya berpakaian ala Jepang. Minuman yang disediakan berupa macam-macam teh yang dipetik langsung dari perkebunan. Selain minuman teh, disediakan pula beberapa jenis makanan.


Akbar dan kawan kawannya berhamburan mencari spot menarik untuk foto. Kaniya sendiri memilih menikmati teh bersama beberapa siswanya.


"Bismillahirrahmanirrahim..Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Kaniya terlonjak kaget mendengar suara yang familiar di telinganya. Dia menatap ke sekeliling cafe tapi tak menemukan pemilik suara. Yang dilihat malah keluarganya dan ibu Abidzar serta Asyifa yang telah duduk manis di meja lain..


Anehnya, meskipun hari ini Minggu, tapi tempat ini tidak memiliki tamu lain selain Kaniya dan siswanya. Tadi memang dia agak heran, tapi mengganggap mungkin masih pagi jadi belum ada pengunjung


"Perkenalkan nama saya Abidzar lengkapnya Muhammad Abidzar. Hari ini saya ingin melamar Adinda Kaniya Putri di hadapan siswa dan keluarganya. Di hadapan anak dan ibu saya tercinta"


"Usia saya 23 tahun" Jeda sebentar.


terdengar kasak kusuk dari siswa Kaniya, sementara ibu Abidzar hanya tersenyum mendengar ucapan anaknya.


"Tapi, itu 17 tahun lalu, heheh... Sekarang ini saya berstatus duda beranak satu. Istri saya meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Saya anak tergagah ibu dan ayah, karena adik saya perempuan" Terdengar suara tawa dari hadirin.


"Pekerjaan dan gaji, termasuk semua pendapatan saya perbulan telah tertulis dalam CV. Biarkan itu nanti dibaca oleh Kaniya." Kembali jeda sebentar. Kaniya menyimak pemaparan Abidzar. Meskipun sedikit malu karena merasa seperti remaja labil yang sedang di tembak pacar. Bedanya, mereka mungkin tidak akan memaparkan tentang data dirinya selengkap Abidzar


"Saya mungkin tidak terlalu mahir dalam masalah agama. Saya hanya hafal beberapa juz dari Al-Qur'an tapi saya janji akan terus belajar untuk jadi imam yang baik dalam keluarga. Saya berharap akan ada yang mendampingi saya dalam membenahi diri menjadi lebih baik, dan itu adalah Kaniya"


"Saya mungkin bukan sosok yang sempurna, tapi saya sedang dalam upaya menyempurnakan agama dengan melaksanakan Sunnah Rasul, yaitu pernikahan. Saya berharap, pernikahan adalah jalan yang akan membuat kami saling melengkapi"


"Untuk Kaniya, Aku tidak bisa berjanji bahwa kamu tidak akan menangis, karena aku yakin sebagai manusia normal, tangis itu pasti akan hadir dalam kehidupan. Tapi, aku akan berusaha agar tidak menjadi penyebab dalam tangis sedihmu. Aku akan berusaha menjaga agar tidak ada orang lain yang akan membuatmu menangis sedih."


"Kaniya, kamu adalah paket lengkap yang dikirimkan Tuhan untukku. Kamu bisa menjadi teman yang sangat baik untukku dan putriku, kamu pun bisa menjadi pasangan yang sangat pengertian dan ibu yang menyayangi Syifa. Kamu mungkin tidak sadar Kaniya, bahwa sejak pertemuan kita di kota, aku pun telah menandaimu, ingin segera datang melamarmu. Namun permainan takdir begitu lama membawa kita berbelok kesana kemari hingga dipertemukan lagi" Kaniya tersipu mendengar ucapan Abidzar.


"Kaniya, kamu adalah wanita pertama setelah istri saya meninggal dunia, yang mampu membuatku kembali berani berpikir untuk merajut sebuah pernikahan. Keyakinan bahwa kamu jodohku, semakin kuat saat Istikharah. Dan aku pun meneguhkan niat untuk melamarmu"


"Jadi, Adinda Kaniya Putri, Mauka kamu menikah denganku. Merajut kisah bersama, menciptakan kebahagiaan dengan ridho Allah, bersama dalam jalinan kasih yang halal, membangun keluarga Sakinah, Mawadda Warahmah??" Kaniya yang terpaku. Tanpa disadarinya, siswa-siswanya telah membentuk jalan dengan masing-masing membawa setangkai mawar, menuju Tempat Akbar dan kawan-kawannya tadi berfoto. Barulah Kaniya sadar bahwa Abidzar berada di bawah, diantara kebun teh dan Speaker di meja kasir yang membuat suaranya menjadi terdengar oleh semua orang.


terima.. terima..


Kaniya menatap keluarganya dan keluarga Abidzar yang terus mendukung nya untuk menerima abidzar. Sementara Abidzar berdiri dengan gugup menunggu jawaban Kaniya.


Bagaimanapun juga, dia hanya seorang pria kaku yang tidak begitu paham cara berbuat romantis. Dia dan almh. istrinya bahkan menikah karena perjodohan. Tapi seiring waktu, mereka begitu saling mencintai.


"Sebelum menjawab, apa aku boleh bertanya?" Ucap Kaniya dengan suara agak lantang.


"Tentu"


"Jika aku adalah paket lengkap untukmu, apakah kamu juga bisa menjadi paket lengkap untukku?" Tanya Kaniya serius.


"Tentu saja Kaniya, aku ini paket sangat lengkap, Tampan iya, kaya tidak usah ditanyakan lagi, bahkan jika kamu menerimaku, maka kamu kayak beli 1 gratis 1. Kamu menikahiku, langsung dapat anak cantik, pintar dan lucu kayak Syifa. Apa yang kurang coba?" Ucap Abidzar berusaha menghilangkan kekakuan pada acara lamarannya. Takutnya, Kaniya bukan meleleh malah membeku.


Keluarga mereka berdua dan semua yang hadir tertawa mendengarkan jawaban Abidzar. Namun Kaniya malah cemberut dengan jawaban itu.


"Nggak gitu juga, Bi. Aku hanya takut karena kita yang tidak begitu kenal. Aku tidaklah sebaik yang terlihat. Aku memiliki banyak kekurangan, masa lalu ku pun tidak bisa dikatakan mengesankan. Apakah kamu bisa menerima segala kekuranganku? menerima masa laluku? Terus percaya dan menyayangiku, meskipun yang lain terus menggoyahkan?"


"Ya, tentu. Aku bersedia." Jawab Abidzar lantang.


Saahhhh...


Teriak Akbar dengan hebohnya membuat yang lain tak bisa menahan tawanya.


"Ayo Tante Kaniya, jadilah mamaku" Syifa yang sedari tadi ingin bicara tapi ditahan oleh neneknya, akhirnya tidak bisa menahan diri lagi untuk bicara. Kaniya menatap Syifa dengan tatapan sayang. Bahagia karena Syifa begitu menyayanginya dan mempercayainya menjadi seorang ibu baginya


Kaniya lalu berjalan mengikuti arah jalan yang dipagari oleh siswanya, pelayan cafe yang berpakaian jepang dan beberapa orang yang Kaniya tidak tahu dari mana datangnya. Masing-masing dari mereka memegang setangkai mawar. Setiap melangkah, mereka akan memberikan mawar itu pada Kaniya. Hingga 38 mawar cantik yang mekar sempurna, dipegang oleh Kaniya ditambah satu mawar kecil yang sedang kuncup.


Abidzar yang melihat Kaniya sudah sampai di pembatas. Segera menapaki jalan naik untuk menemuinya.


"Jadi apa jawabanmu?" Tanya Abidzar


"Aku... bersedia"


"Yeahhh..." Abidzar melompat dengan riang.


"Akhhhh... " Abidzar berteriak saat kakinya tergelincir karena tanah yang licin dan tidak rata, yang ditempatinya melompat. Dia mendarat tidak pada pijakan yang tepat. Sedangkan Kaniya tidak sempat meraih tangannya.


"Abi..." "Ayah" "Om" teriakan bersamaan dari orang-orang yang hadir mengiringi jatuhnya abidzar ke hamparan tanaman teh yang berjejer rapi.


Pegawai kebun yang tadi ikut memegang bunga, akhirnya berlari turun membantu Abidzar. Kaniya berlari turun hendak membantu abidzar, hingga ia pun nyaris jatuh tapi cepat di pegang oleh Akbar yang tepat berada di belakangnya.


"Abi..." Kaniya memanggil Abidzar yang berada dalam posisi berbaring karena jatuh berguling.


***