
Kaniya dan Abidzar melangkah keluar dari rumah sakit dengan hati yang lega. Bagaimana tidak, setelah melewati serangkaian pemeriksaan, kaki abidzar dinyatakan tidak apa-apa. Begitupula pinggang dan bagian tubuh yang lainnya.
"Mau makan siang dulu?" Tanya Abidzar.
"Nanti aja deh, di rumah sama ibu dan Syifa" Jawab Kaniya.
"Cieeee.. yang sudah panggil ibu.." Goda Abidzar.
"Ih.. apaan sih, itu kan ibu yang minta. Hadap depan sana.. ntar pinggangnya terkilir karena terlalu sering nengok ke belakang, malah aku yang disalahkan"
"Heheh.. Kan ingin lihat calon istriku, jarang-jarang kan kita pergi berdua begini"
"Berdua? trus pak sopirnya nggak kelihatan, githu?" Kaniya menatap tak enak pada pak sopir, yang ternyata hanya senyum-senyum.
"Nggak tuh, kita kan cuma berdua di mobil. Yang ketiga itu say...."
ckkitttttttt
"Wadooh, maaf pak. Saya tidak sengaja. Tadi, saya lihat ada kucing yang lewat" Ucap pak supir dengan raut ketakutan.
Abidzar dan Kaniya masih merasa shock dengan mobil yg di rem mendadak. Untungnya, mereka tidak apa-apa.
Kaniya yang melihat kegugupan pak sopir, berusaha menenangkan diri. Dilihatnya, Abidzar masih menunjukkan muka tegang.
"Tidak apa-apa, pak. namanya juga kecelakaan. Lagian, kita semua tidak apa-apa. Iya kan, Bi??" lama tidak terdengar suara. Akhirnya Kaniya menepuk bahu Abidzar dari kursi belakang.
"Eh... kenapa Kaniya?"
"Kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Kaniya lembut. Kaniya tahu, Abidzar pasti sangat kaget apalagi dia baru saja dari rumah sakit setelah mengalami kecelakaan.
"Nggak kok, Aku nggak apa-apa. Justru aku khawatir sama kamu, kamu baik-baik aja kan? Lagian, kamu kenapa sih Wan? kenapa sih berhenti mendadak begitu?. Kalau aku sama calon istriku kenapa-napa gimana? Kamu juga ada istri kan di rumah? Gimana kalau tadi kita kecelakaan?." Celoteh abidzar panjang lebar.
"Maaf pak. Tadi, tiba-tiba ada kucing lewat pak, jadi saya langsung berhenti" Pak sopir kembali menjelaskan, karena sepertinya tuannya tidak mendengarkan penjelasannya tadi.
"Sabar, Bi. Pak sopirnya nggak sengaja. Namanya juga kecelakaan. Makanya, kalau di mobil itu jangan bahas macam-macam. Aku tahu loh, Bi. Kamu tadi pasti mau bilang kalau 'yang ketiga itu sayton'. Dosa tau, Bi. Gimana kalau pak sopir merasa dikatai lalu tersinggung. Memangnya, kamu mau....."
"Bercanda kok tadi" Abidzar segera memotong ucapan Kaniya yang akan membahas panjang lebar kesalahnnya tadi yang menggodanya di mobil sampai tidak mau menganggap keberadaan Wawan sopir pribadinya di kota ini.
"Iya kan, Wan??" Abidzar mencari sekutu.
"Iya pak, saya paham kok. Memang kalau lagi jatuh cinta, dunia rasa milik berdua. Orang lain mah, ngontrak"
"Tuh, dengar kan?" Kaniya hanya mendengus. Dia tahu, pak sopir sedang menyindir Abidzar yang akan mengatainya tadi sebelum mobil berhenti.
"Iya" Jawab Kaniya ringkas.
"Jadi bagaimana, pak. Kita bisa lanjut?"
"Iya, Wan, lanjut aja. Kita langsung pulang yah" Perintah Abidzar.
Kaniya hanya diam di belakang. Dia mencoba menatap ke sekeliling. Dulu, dia setiap hari berkendara di kota ini. Kuliah, kerja, atau sekedar jalan-jalan. Ingatan pada sang mantan tiba-tiba hadir. Tapi, tak ada lagi getaran seperti dulu, saat dia mengingat Dani. Sekarang, dia benar-benar menganggap Dani hanya masa lalu yang harus ditinggalkannya. Mengingat hanya untuk jadi pengalaman agar tak terulang kesalahan sama dengan masa lalunya. Bukan dijadikan moment indah yang harus diabadikan dan dikenang dengan penuh kerinduan.
"Kaniya, ayahku sedikit rumit. Beliau pernah ingin menjodohkan ku dengan seseorang yang tidak kukenal. Waktu itu aku menolak, ayah marah. Apalagi saat ingin dipertemukan di kantor, aku telat datang dan nggak sempat bertemu dengannya. Ayah bahkan baru bertemu wanita itu dua kali, bagaimana bisa aku terima coba?".
"Kok bisa? Baru dua kali bertemu sudah mau menjodohkan kalian?"
"Ceritanya, ayah waktu itu kecelakaan..Kebetulan wanita itu yang bawa ke rumah sakit, trus mendonorkan darah ke ayah karena stok darah untuk golongan darah yang sesuai dengan ayah tidak tersedia" Abidzar mengisahkan.
"OOO.. apa sekarang, beliau masih ingin wanita itu yang jadi istrimu?" Tanya Kaniya dengan raut ragu.
"Entahlah. Ayah memang beberapa kali memintaku menemui wanita itu. Tapi, ternyata wanita itu sudah menikah. Jadi, ayah tidak pernah memaksaku lagi. Lalu aku menikah dengan almh. istriku." Mendengar penjelasan Abidzar, Kaniya menghembuskan nafas lega.
"Tapi...."
"Tapi, kenapa lagi?" Tanya Kaniya bingung.
Kaniya mendadak lesu. Dia pikir jalannya menuju kebahagiaan bersama Abidzar akan lebih mudah. Ternyata, mereka akan menghadapi sebuah rintangan baru di depan.
"Kamu harusnya pastikan dulu ke ayahmu, sebelum melamarku kemarin. Aku nggak mau kalau sampai ditolak lagi calon mertua. Mending aku mundur aja deh" ucap Kaniya pasrah.
"Eh... jangan githu dong. Aku janji, akan memperjuangkan mu, agar bisa jadi istriku. Ayah pasti lebih memilih kebahagiaanku daripada menuruti kemauannya tapi anaknya yang gagah ini tidak bahagia. Lagian, ayah itu lucu, beliau sudah puluhan tahun nggak bertemu wanita itu tapi masih saja ingat" Kaniya semakin kaget dengan penjelasan Abidzar. Dia seperti teringat sesuatu, tapi entahlah, mana mungkin ada kebetulan begitu banyak antara dirinya dan Abidzar.
"Artinya, beliau adalah orang yang tidak mudah melupakan Budi orang lain. Aku yakin, beliau adalah orang yang sangat baik. Aku mau kok bertemu dengannya. Masa kamu aja yang akan berjuang untuk hubungan kita. Aku juga akan berusaha meluluhkan hati calon ayah mertua" Ucap Kaniya mantap. Padahal di awal tadi, dia sempat ragu dan akan memilih mundur. Tapi mendengar penjelasan Abidzar, dia merasa yakin bahwa ayah Abidzar adalah orang tua yang sangat baik.
"Eh.. serius?"
"Kamu nanya... ??"
"Stop.. jangan dilanjut, geli aku dengarnya, haha..ha.." Abidzar tak mampu menahan tawa saat Kaniya mengikuti kata-kata yang lagi viral di sosial media.
"hahaha.... Aku sangat serius. Aku akan menemui ayahmu, asalkan masih di kota ini" lanjut Kaniya setelah tawanya berhenti.
"Ok..kebetulan, ayah akan datang minggu depan. Karena, hari Seninnya ada rapat di kantor. Tapi, kalau kamu nggak siap bertemu sebelum ayah memberi restu, kamu jangan paksakan. Biar aku yang menghadapi ayah dulu".
"Nggak kok, aku yakin. Dari ceritamu, aku jadi sangat yakin. Beliau tidak akan mengatakan hal buruk padaku. Percaya deh sama aku" Kaniya meyakinkan.
"Ayah memang sangat baik. Kita akan hadapi beliau sama-sama". Abidzar menatap dalam Kaniya. Tatapan mereka bertemu, saling tersenyum, lalu Kaniya mengalihkan tatapannya.
"Cie....salah tingkah" goda Abidzar.
"Apa sih... siapa juga yang salah tingkah. Aku cuma ingat, bahwa kita belum mahram, nggak boleh bertatap tatapan"
"Iya Bu Ustadzah. Maaf, khilaf tadi" Jawab Abidzar, minta maaf tapi dengan gaya jahil.
Kaniya mengulum senyum. Dia tak menyangka, abidzar akan seperti ini. Dia kira, Abidzar akan bertindak kaku jika dengannya ternyata abidzar begitu hangat, cenderung jahil. Kesan pertama saat bertemu, hilang seketika saat pertemuan mereka berulang lagi di kota wisata.
Jelang setengah jam, mereka sampai di rumah Abidzar. Ibu dan Syifa menyambut mereka, menanyakan hasil pemeriksaan.
Abidzar menjelaskan pada ibunya, bahwa kaki dan pinggangnya baik-baik saja. Ucap syukur tak henti ibu Abidzar panjatkan.
Kaniya dan Abidzar lalu beranjak ke kamar masing-masing untuk menunaikan ibadah shalat Dzuhur. Kaniya berganti baju dengan pakaian rumahan, terusan warna biru dengan atasan jilbab warna senada.
tok tok
"tunggu sebentar" sahut Kaniya sambil membenarkan jilbabnya.
"eh.. si cantik. Kenapa sayang??"
"Tante cantik banget... " Syifa menatap Kaniya takjub. Kaniya tersenyum dengan pujian Syifa..
'Duh.. npa mulut nih anak manis banget yah. Kan jadi seneng, eh.., ' Kaniya hendak tertawa dengan kata hatinya.
"Syifa jauhhh lebih cantik. makasih yah sayang. Eh.. Syifa kenapa cari Tante?"
"oh.. makanan dah siap Tan, nenek memanggil Tante segera bergabung ke meja makan" jawab Syifa.
"Ok deh, ayo kita menuju ruang makan?"
Sesampai di ruang makan, Kaniya dikejutkan dengan seorang lelaki seusia alm. bapaknya telah duduk di kursi paling ujung. Sementara Abidzar dan ibu duduk berhadapan di sisi kiri dan kanan.
Abidzar tampak tegang, begitupun ibunya. Wajah lelaki yang diperkirakan Kaniya adalah ayah abidzar juga terlihat menahan marah namun belum melihat ke arahnya.
Suara langkah kaki Syifa dan Kaniya, membuat semua yang ada di meja makan menoleh melihatnya. Kaniya yang ditatap seperti itu, merasa salah tingkah tapi tetap berusaha tersenyum manis.
Wajah tegang ayah Abidzar berubah kaget saat melihat wajah Kaniya.
***