
Abidzar yang sedari tadi mengikuti taksi yang dinaiki Kaniya, bingung saat taksi itu memasuki pelataran sebuah rumah sakit.
Dia mulai panik saat pak supir keluar dan membukakan pintu untuk istrinya. Dia mengamati supir itu yang nampak khawatir.
Abidzar segera mencari tempat parkir dan menemui istrinya.
"Pak.. istri saya kenapa?" tanya Abidzar panik.
Pak supir yang mendengar pertanyaan itu, berbalik melihat pria di sampingnya.
"mmm.. tidak tahu pak. Dari tadi nyonya ini hanya menangis kesakitan. Bapak betulan suaminya??" Tanya pria itu seperti tak percaya.
"Iya, saya suaminya" pak supir taksi lalu minggir dan memberikan jalan untuk Abidzar mendekat ke wanita dalam mobil.
Wanita dalam taksi, jadi heran. Apa betul suaminya ada di luar. Secara tiba-tiba dia berhenti menangis dan keluar dari mobil.
"Kamu siapa? berani-beraninya ngaku jadi suami saya. Kamu penipu yah? ohhh.. Kamu pasti sedang mencari korban, untuk kamu culik dan minta tebusan. Kamu salah sasaran, saya ini istri tentara, awas kamu macam-macam" Ucap wanita itu berapi-api. Bahkan sang sopir pun melongo.
Pasalnya, wanita ini tadi menangis sangat kencang karena sakit. Tapi, sekarang bisa marah-marah seperti ini.
"Maaf pak, Bu, silahkan selesaikan urusan kalian. Mohon bayar saya dulu yah, karena saya mau cari penumpang lain" Ucap sang supir.
Si wanita menatap galak. Merasa takut, sang supir menatap memohon pada Abidzar.
Abidzar yang paham arti tatapan si supir, hanya bisa menggeleng lemah. Ternyata dia salah mengikuti orang.
"Dia bukan istri saya" Jawab Abidzar lemah. Dilihatnya wanita paruh baya di depannya
"Siapa juga yang mau jadi istrimu, tapi karena kamu sudah ngaku-ngaku, berniat menipu, sekarang bayar ongkos taksi saya" Si wanita lalu melangkah masuk ke rumah sakit. Perutnya yang dari tadi sakit, entah lenyap kemana.
Abidzar hanya bisa pasrah membayar ongkos taksi wanita itu. Bukannya bertemu Kaniya, dia malah harus bayar ongkos taksi istri orang. Nasib... nasib.
***
Sementara Kaniya yang berada di taksi lain, sudah berhenti menangis begitu supir taksi ingin membawanya ke rumah sakit.
Dia jadi ingat kejadian tadi saat telah duduk di dalam sebuah taksi, dia melihat perempuan paruh baya sedang menahan sakit dipinggir jalan dan menyetop taksinya. Sang supir tidak ingin berhenti tapi Kaniya meminta untuk berhenti dan mengantar perempuan itu. Sementara dia menepi mencari tempat duduk untuk memesan taksi lain. Beberapa menit menunggu, akhirnya taksi yang ditunggunya pun datang.
Disini lah Kaniya sekarang, setelah selesai menangis, dia meminta pak supir berhenti di sebuah warung makan di pinggir jalan. Tiba-tiba dia merasa lapar, dan ingin memakan ayah bakar.
Setelah beberapa saat menunggu, pesanannya pun datang. Ayam tolak pinggang telah bertengger manis di atas piring lengkap dengan sambal yang menggugah selera.
Air liur Kaniya serasa ingin menetes keluar. Dengan segera, Kaniya menyantap hidangan di depannya tanpa sisa.
Setelah merasa kenyang, Kaniya membayar dan memesan untuk dibawa pulang. Rasanya, dia masih ingin memakan ayam bakar ini, tapi sudah kenyang. Jadi, yang terbaik adalah membungkusnya, lalu di makan di rumah ketika lapar.
Dia kembali masuk ke taksi yang menunggunya dari tadi. Selanjutnya, Kaniya menuju pusat perbelanjaan. Dia akan menguras uang suaminya sekarang.
Rasa marahnya pada Abidzar belum reda. Kaniya sangat jengkel karena Abidzar seolah membiarkannya pergi. Jadi Kaniya memutuskan untuk menghilang seharian ini.
Tidak tahu saja dia kalau Abidzar sekarang kelabakan mencarinya.
Abidzar yang salah mengikuti orang lain yang dikira istrinya, sekarang mulai kebingungan. Tadi, saat Kaniya menghubunginya untuk izin, dia bisa santai karena merasa bahwa dia bisa mengawasi sang istri karena sedang mengikutinya. Namun, sekarang saat dia tahu kenyataannya, hp istrinya sudah tidak aktif.
Sampai di mall, Abidzar bergegas memarkirkan mobilnya. Tapi, saat hendak melangkah masuk ke dalam, Abidzar melihat Kaniya yang sedang menenteng belanjaannya bersiap masuk ke dalam taksi.
Abidzar berusaha mengejar istrinya tapi taksi yang ditumpangi Kaniya telah melesat pergi. Bahkan dia tak sempat melihat nomor plat taksi yang membawa istrinya.
Dengan segera, Abidzar kembali ke tempat parkir, memasuki mobilnya dan berusaha mengejar Kaniya.
Tak terkejar tentu saja. Abidzar menggeram frustasi. Tapi setidaknya dia lega, istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Abidzar menyusuri jalanan tanpa tujuan pasti. Dia hanya mengikuti arah. Akhirnya dia tiba di sebuah pinggir pantai.
Abidzar menghentikan mobilnya dan tertunduk lesu. Entah kemana Kaniya sekarang. Abidzar terus memikirkan tempat-tempat yang mungkin saja didatangi istrinya.
Apalagi, Abidzar melihat belanjaan Kaniya sangat banyak tadi. Bisa saja itu adalah persiapan Kaniya untuk pergi jauh darinya. Abidzar berpikir bahwa mungkin Kaniya tak ingin repot kembali ke rumah mengambil pakaiannya.
Abidzar telah menghubungi ibunya, Nur, kakak Kaniya dan bahkan penjaga villa di kota wisata, tapi mereka bilang Kaniya tidak kesana. Abidzar pun berusaha merangkai kata sebaik mungkin agar mereka tidak mengetahui kalau Kaniya kabur darinya.
Selama mencari, abidzar terus merutuki kebodohannya yang marah-marah pada Kaniya karena bertemu Afdhal. Setelah memikirkannya, dia pun cukup paham dengan yang dilakukan oleh Kaniya. Tapi rasa cemburunya pada Afdhal tetap tak bisa dihilangkan, sebenarnya bukan pada Afdhal saja, siapapun yang punya potensi menarik perhatian Kaniya akan membuatnya cemburu. Tapi, mendengar nama Afdhal saja, amarah Abidzar sudah naik ke ubun-ubun. Pasalnya, Afdhal berhubungan erat dengan semua wanita.kesayangannya. Kaniya adalah mantan calon istrinya, Nur adalah calon istrinya dan Syifa adalah anaknya secara biologis. Bagaimana mungkin Abidzar tidak emosi mendengar namanya. Apalagi proses kelahiran Syifa bukan melalui pernikahan.
"Love.. kamu dimana, maafkan aku yah" Abidzar hanya mampu mengirim pesan suara kepada Kaniya. Tapi hanya centang satu. Hp Kaniya tidak aktif.
Abidzar kembali ke rumahnya, dia harus membersihkan diri dan shalat magrib, lalu kembali mencari istrinya.
Rumahnya nampak sepi. Ayah, ibu, nur dan Syifa sedang menghadiri pesta di rumah keluarga jauh mereka. Tadi siang, Abidzar sudah menghubungi mereka dan tidak ada yang bertemu kaniaya.
Pelayan yang membukakan pintu pun mengatakan belum melihat Kaniya. Tadi sore, dia pergi berbelanja di pasar karena tadi pagi Kaniya memesan agar dibuatkan bubur kacang ijo. Sedangkan, dirumah tidak tersedia kacang ijo dan bahan lain untuk membuatnya. Jadilah dia berbelanja demi permintaan istri tuannya yang baru pertama kali minta dibuatkan sesuatu.
Tak mendapatkan jawaban memuaskan, abidzar berjalan lesu ke kamar. Bahkan dia tidak memperdulikan saat di minta untuk makan malam.
Abidzar membuka pintu kamar yang tampak gelap. Abidzar menyalakan lampu, mengunci pintu lalu bergegas membuka baju untuk mandi.
Abidzar tak lagi memperhatikan sekelilingnya. Yang dia ingat hanya harus cepat mandi, shalat dan kembali mencari istrinya.
"Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah, ya Rahman Ya Rahim. Ampuni dosaku ya Allah dan Dosa kedua orang tuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi di waktu kecilku.
Ya Allah, ampuni aku apabila telah berbuat zolim pada istriku sehingga dia marah dan meninggalkanku. Ampuni dosanya, Berkahilah setiap langkahnya, jauhkan dari segala bahaya, lembutkanlah hatinya agar mau memafkanku.
Ya Allah, mudahkanlah aku dalam menemukannya. Aamiin" Abidzar lalu berdiri dan keluar dari kamar.
Dia akan kembali mencari kaniya. Dia mungkin akan meminta kepada pihak mall CCTV di depan pintu masuk agar bisa melihat plat nomor taksi yang membawa istrinya. Mungkin memang agak ribet, tapi Abidzar akan mengusahakannya.
Saat akan keluar, sekilas Abidzar melihat ke arah dapur dan lampunya menyala. Abidzar berpikir, apa mungkin keluarganya sudah pulang? tapi kan acaranya belum selesai, tidak mungkin mereka pulang.
Dengan gerakan pelan, Abidzar masuk ke dapur. Dia bisa melihat, seorang laki-laki menggunakan baju abu-abu dengan topi senada.
'Eh... bukannya, itu baju dan topi yang baru pekan lalu dibelikan Kaniya? kok bisa dipakai orang lain? siapa dia?' Tanya Abidzar dalam hati.
Abidzar mengendap-endap, semakin dekat dia bisa melihat bahwa si lelaki asing yang duduk dengan pakaiannya, sedang makan bubur kacang ijo.
'Sepertinya dia maling yang kelaparan' Abidzar bersiap-siap menangkap basah si pencuri
"Siapa kau?" Tanya Abidzar dengan nada mengancam, membuat Orang yang sedang menikmati kacang ijo itu berbalik karena kaget. Abidzar pun tak kalah kaget melihatnya.