
Sejak kejadian itu, Dani mulai bisa mengatur waktunya, hingga Kaniya tidak merasa kesepian. Mereka kembali bisa makan malam bersama, meskipun saat siang dan akhir pekan Dani lebih sering menemani Raina.
Karena itu, Kania mencoba mencari kesibukan dengan bertandang ke rumah mama Dani di akhir pekan untuk belajar memasak. Saat orang tua Dani bertanya, Kania akan mengatakan bahwa Dani ada pekerjaan penting di kantor atau di luar kota.
Pertama belajar memasak, Kaniya harus merelakan jarinya kembali teriris pisau,.padahal hanya memotong bawang. Sehingga, mama Dani meminta Kaniya hanya melihat caranya memasak.
Hari selanjutnya, Kaniya memaksa ingin membantu, maka bertambahlah luka Kaniya. telapak tangannya melepuh karena tidak sengaja memegang panci panas yang seharusnya menggunakan alas. Alhasil, luka itu dilihat Dani dan dia kembali tidak diijinkan ke dapur.
Kaniya yang mulai merasa bosan dengan akhir pekan yang berulang seperti itu, akhirnya mulai ikut bergabung dengan teman teman di kantornya. Walaupun hanya sekedar jalan bersama di mall atau makan. Dengan seperti itu, Kaniya mulai bisa melupakan rasa sepinya diakhir pekan.
"Kan... kamu kelihatan pucat deh, kamu sakit yah?" Tanya Azizah teman satu divisi Kaniya di kantor.
"gak kok, kayaknya masuk angin deh. Aku tuh kayak mual dan sakit kepala gitu Zi tadi pagi. Tapi sekarang dah agak baikan kok, makanya aku masuk kantor" balas Kaniya.
"hmm... keseringan begadang sih. Memang pacar kamu si Dani sering ngajak jalan malam-malam yah. jangan keseringan Kan, gak bagus buat kesehatan kalau sering jalan malam. Trus, syait*n juga sering menggoda, jika ada yang berduaan di malam hari" nasehat Sinta dalam mode religiusnya.
"Iya Bu ustadzah, aku ngerti. Makasih yah nasehatnya" Ucap Kaniya dengan tatapan jenaka. Azizah atau lengkapnya Nur Azizah adalah teman baiknya di kantor. Dia selalu ada dan membantu Kaniya saat membutuhkan. Kaniya bukanlah seorang yang mudah bergaul, sehingga sulit cari teman di tempat baru. Azizah yang lebih dulu bekerja ditempat ini, tanpa sungkan mendekati Kaniya sehingga bisa berteman akrab dengannya.
"eh... dibilangin malah ngeledek lagi. Bukannya mau menceramahimu say, tapi sesama muslim kita harus saling mengingatkan agar kita bisa ketemu nanti di surga Nya" balas Azizah dengan serius.
"Siap...Sis... " Kaniya menaikkan tangan tanda hormat. Azizah hanya dapat tertawa melihat kelakuan temannya.
"Kaniya, Azizah dipanggil pak bos di ruangannya" Kaniya dan Azizah menoleh ke arah Arsyad yang baru saja datang.
"Ada apa yah?" Kaniya menatap Azizah.
"masuk aja, nanti juga tahu" Kaniya dan Azizah hanya mengangguk dan segera memasuki ruangan atasannya.
"tok..tok.. Assalamu Alaikum pak" Ucap Kaniya setelah mengetuk pintu dua kali.
"waalaikum salam, masuk" mendengar jawaban atasannya, Kaniya dan Azizah membuka pintu dan melangkah masuk.
"Bapak memanggil kami?" Tanya Azizah
"iya. Ini ada undangan pernikahan dari salah satu pemagang saham dari perusahaan ini. setiap kepala divisi diberikan undangan untuk dua orang. Tapi, saya tidak bisa hadir bersama istri, jadi saya minta kalian berdua yang ikut mewakili divisi kita"
"kenapa harus kami pak, kan masih ada pak Arsyad? tanya Kaniya.
"Arsyad harus keluar kota sore ini, pulangnya hari Senin, jadi gak sempat ke pesta"
"OOO.. baiklah" Ucap Kaniya pasrah.
Kebetulan, hari Jum'at ini sampai Ahad, Dani ada urusan di luar kota. Sehingga dia bisa memenuhi undangan itu bersama Azizah.
Kaniya menatap malas undangan yang diberikan, sekilas nampa nama diundangkan tersebut "Ratu Raina Wijaya & Raka Rahadi" sekilas nama itu tampak tak asing baginya. Namun, Kaniya pikir, mungkin ada nama temannya yang sama.
Foto di sampul undangan, tidak memperlihatkan wajah dari pasangan yang akan menikah tersebut. Hanya terlihat mereka berpegangan melangkah kedepan sambil berangkulan dengan si perempuan menyandar ke bahu pria.
***
Kaniya dan Azizah melangkah memasuki hotel tempat resepsi pernikahan tersebut. Kaniya menyebutnya resepsi, karena diundangkan tertulis, akad nikah telah dilakukan 9 bulan lalu.
Kaniya mengedarkan pandangan Dan terkagum melihat dekorasi ruangan yang begitu indah. Yang membuatnya bingung adalah, pesta semewah ini kenapa tidak ada foto pengantinnya yang terpajang. Tapi kan setiap orang punya caranya sendiri mengatur mau bagaimana pesta pernikahannya (pikir Kaniya lagi).
Tidak mau berlama-lama karena tidak terbiasa dengan pesta seperti ini. Kaniya dan Azizah memilih mendekati pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada pengantin.
"Zi.. kita langsung kasih ucapan selamat aja yah. kok perutku kayak gak enak yah, kayak melilit gitu" ucap Kaniya meringis memegang perutnya.
"Iya, Kaniya. kamu terlihat pucat. Kita segera ke sana saja yah" balas Azizah cemas.
Mereka pun melangkah menuju ke arah pengantin. Tapi karena antrian panjang, mereka harus menunggu beberapa menit. Kaniya terus berusaha menahan sakit di perutnya. Sampai tiba giliran mereka untuk mengucapkan selamat.
"Dani...?? " Azizah yang lebih dulu melihat wajah pengantin pria terkejut bukan main. Pasalnya, pria yang berdiri di depannya dia kenal sebagai kekasih temannya.
"Kak Dani...?" Kaniya menatap tak percaya, perutnya semakin terasa melilit. Dani hanya terpaku melihatnya, tak mampu berkata apa-apa. Dia tak menyangka Kaniya akan hadir di pesta ini.
Raina yang melihat kedua wanita yang memanggil suaminya dengan nama lain, merasa heran. Tapi tetap diam tak berkata apa-apa.
"Kak... Hari ini juga aku minta berpisah darimu. Aku tak ingin lagi memiliki hubungan denganmu" Kaniya berkata lirih hingga hanya mampu didengar oleh Azizah dan Dani.
Dani yang melihat itu, merasa serba salah. Jika dia mengejar Kaniya, maka akan membuat skandal di pesta pernikahannya. Tapi, jika dia membiarkan Kaniya, maka pernikahan mereka yang akan hancur.
Dani terus menatap Kaniya yang berjalan dipapah oleh Azizah. Hingga, Kaniya terjatuh tak sadarkan diri menahan sakit diperut dan hatinya. Nur Azizah meminta bantuan orang di sekitarnya untuk membantunya mengangkat Kaniya ke mobil.
Dani yang melihat itu hendak mengejar Kaniya. Namun tatapan tajam dari ayah Raina, membuatnya berhenti. Tapi saat mengingat wajah terpukul Kaniya, dia hendak kembali meninggalkan tempatnya berdiri.
Tiba-tiba Raina meringis memegang perutnya. Kandungannya kini baru berumur 8 bulan, sehingga keluarganya tidak berpikir bahwa Raina akan melahirkan.
Makin lama cengkraman tangan Raina pada Dani makin mengencang. Sehingga, Dani menggendongnya dan atas perintah ayah Raina dia segera di bawa ke rumah sakit.
Semua tamu undangan tampak heran dengan pengantin pria yang mengangkat mempelainya meninggalkan hotel. Hingga akhirnya keluarga Raina memberikan penjelasan bahwa dia harus dibawa ke rumah sakit karena kelelahan berdiri dalam kondisi hamil.
***
Di rumah sakit, Kaniya menangis histeris karena dia mengalami keguguran. Kaniya ingat bahwa 2 bulan lalu dia berhenti melakukan suntik KB, karena berpikir, pernikahannya bersama Dani akan bisa dilegalkan dua bulan lagi. jadi kalaupun hamil tidak akan ada masalah.
Namun apa daya, Kaniya tidak menyadari kehamilannya dan akhirnya kehilangan anaknya dihari dia mengetahuinya.
"Anakku... aku mau anakku... kenapa tuhan begitu kejam padaku... Aku kehilangan suamiku, lalu anakku pun diambil oleh Nya. Ambil juga nyawaku... aku tak ingin hidup lagi... " Kaniya terus berteriak meronta, sehingga infus ditangannya terlepas.
" sabar Kaniya... Dokter.." Zi yang kebingungan melihat Kaniya, berlari keluar mencari dokter. bahkan dia lupa untuk menekan tombol yang disediakan saat pasien membutuhkan bantuan.
Kaniya hendak turun dari tempat tidur, saat Azizah masuk ke ruangannya bersama seorang dokter. Setelah beberapa saat ditangani dokter, Kaniya langsung tertidur. Infusnya pun kembali dipasang.
Sementara di kamar inap lain di rumah sakit itu, Raina baru saja melahirkan setelah dioperasi. Dia melahirkan seorang putra yang membuat keluarganya bersuka cita.
Dani yang dari tadi mengkhawatirkan istrinya, tak bisa bergerak dari tempat itu. Setiap mau keluar, Raina akan merengek manja seakan takut ditinggalkan. Ayah Raina, menatap Dani seolah memberikan ancaman agar tidak meninggalkan putrinya.
Dani pasrah, memikirkan nasib istrinya, nasib pernikahannya dengan Kaniya. Dia merasa takut Kaniya kenapa Napa, dan lebih takut lagi jika Kaniya meninggalkannya. Dania bahkan tidak tahu, bahwa bersama dengan kehilangan istrinya, dia juga telah kehilangan anaknya.
***
Kaniya terus menjalani perawatan di rumah sakit. Sejauh ini hanya keluarga Dani yang menemaninya. Mereka sudah mencoba menghubungi Dani tapi hp nya tak pernah aktif.
Mereka sangat sedih mengetahui bahwa Kaniya keguguran. Terlebih lagi Kaniya enggan bicara. Dia hanya akan menjawab seadanya, sedangkan Zi yang mulai mengerti bahwa Kaniya telah menikah dengan Dani, tak mau ikut campur dengan menceritakan permasalahan mereka.
Kaniya, akhirnya bisa keluar dari rumah sakit setelah seminggu dirawat. Dia akan pulang ke rumah Zi untuk sementara ini. Tapi, saat dia menunggu Zi yang menebus obat, matanya tanpa sengaja melihat Dani yang sedang menggandeng mesra istri barunya keluar dari pelataran rumah sakit bersama keluarga dan anaknya.
Saat itu juga Kaniya memutuskan untuk meninggalkan Dani selama-lamanya. Kaniya akan meninggalkan kota ini. Dia langsung teringat akan orang tuanya. Kembali ke mereka adalah jalan terbaik baginya. meskipun malu, karena dia telah memilih lelaki yang salah sebagai suaminya. Mengabaikan permintaan ayahnya demi rasa cintanya kepada Dani.
Setelah menghubungi ayahnya, menceritakan semua kejadian yang menimpanya, memohon maaf, akhirnya ayah mengizinkan Kaniya pulang ke rumah. Kaniya dibantu oleh Zi, Akhirnya bisa pulang ke kampung setelah terlebih dulu mengambil pakaian dan berkas-berkas pentingnya di rumahnya. Dia sengaja meninggalkan emas dan barang bermerk yang dibelikan suaminya. Dia tak ingin mengingat kenangan bersama Dani lagi.
Tiba dikampung, Kaniya di sambut suka cita oleh keluarganya. Mereka sangat senang melihat Kaniya kembali setelah bertahun tahun, apalagi ibu Kaniya, telah lama ia merindukan putrinya. tapi demi bakti kepada suami, dia menahan kerinduan pada sang putri.
Tanpa mereka sadari, ayah Kaniya yang dapat melihat kehancuran hati anaknya ikut merasa bersalah. Andai dulu dia tidak menikahkan mereka dan bersikeras mengajak Kaniya pulang, maka hal ini tak akan menimpa putrinya.
Rasa bersalah yang mendalam, membuat ayah Kaniya sakit-sakitan. Bahkan saat Kaniya meninggalkan desa dan kembali melanjutkan pendidikan S2 nya di kota lain,.ayah Kaniya tetap dalam rasa bersalahnya. Hingga, akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir karena sakit, tepat sehari setelah Kaniya wisuda S2 nya.
Kaniya yang merasa begitu sedih dengan kepergian ayahnya makin terpuruk dalam kesedihan dan menutup diri. Dia memutuskan untuk tinggal di kampung bersama ibu dan kakak-kakaknya. Tinggal bersama keluarga membuat Kaniya mulai bisa menata hidupnya kembali.
Flashback off
***