38 +

38 +
Klarifikasi



Kaniya menahan diri agar tidak terbawa emosi. Isu tentang pelakor akan sangat mudah memancing amarah ibu-ibu. Dan antrian didepannya sekarang didominasi oleh ibu-ibu, yang sedang menunggu copy an KK dan KTP nya untuk memperoleh bantuan sosial. Terlihat jelas mulai menatap menghakimiku. Apalagi, dengan pertanyaan dari salah seorang ibu tadi.


"Ibu coba lihat baik-baik, jarak saya duduk dengan suami ibu itu jauh. Kami pun berbincang dengan normal, di dalam toko ini ada keponakan saya dua orang, dan setiap orang yang berjalan di depan atau akan masuk ke toko, tentu akan melihat kami. Lalu darimana terlihat bahwa kami ini selingkuhan??" Tanya Kaniya tidak habis pikir.


"Halllah....Mana ada pelakor mau ngaku di depan banyak orang begini. Teman saya bilang, suami saya seringkali nongkrong disini dalam waktu cukup lama" sengit si perempuan.


"Maaf yah Bu..., siapa nama ibu??"


"Tini" Jawabnya jutek


"Ok.. Bu Tini, kalau teman ibu sering lihat suami ibu kesini, ngapain dia tidak nyamperin, malah ambil foto secara sembunyi- sembunyi ?"


"Jelas aja ambil fotonya sembunyi-sembunyi. kalau didatangi terang-terangan pasti banyak alasan, gak akan jujur. Lalu cari cara agar istrinya nggak curiga. Saya tahu banget nih kalau model perselingkuhan kayak gini. Nggak bisa dibiarkan nih. Apalagi Bu Kaniya ini sudah tua tapi belum laku juga, tidak menutup kemungkinan main terima aja biarpun itu suami orang. Benar kan ibu-ibu?" kali ini bukan Tina yang menjawab, tapi ibu-ibu yang tadi bertanya.


Terlihat beberapa orang mengangguk, namu beberapa orang yang memang penduduk di sekitar sini tidak menanggapi malah cenderung tidak percaya.


Karena, mereka kenal Kaniya. Mereka tahu bahwa Kaniya hendak dilamar oleh beberapa orang tapi selalu berakhir dengan penolakan dengan berbagai alasan. Jadi mereka tidak akan percaya saat ada yang mengatakan bahwa Kaniya jadi perawan tua karena tidak laku. Mereka lebih percaya bahwa Kaniya sangat sombong dan pemilih, akhirnya belum menikah hingga sekarang.


'Entah ada masalah apa ibu ini denganku. Padahal, dia juga bukan warga sini deh kayaknya' Kaniya memutar bola matanya, merasa jengah dengan tuduhan orang-orang ini'


"Eh.. ibu ada masalah apa yah dengan Tante saya. Trus, Tante ada pengalaman jadi pelakor atau lakinya dicuri orang? Kayaknya paham amat dengan permasalahan kayak begini?" Ridho yang tadi sudah akan memilih diam, akhirnya buka suara.


Ridho memang bermulut pedas meskipun laki-laki. Cerewetnya melebih Nindya. Dia juga sangat menyayangi tantenya, karena tahu betul perangainya. Seorang wanita baik hati dan penyayang yang selalu menolak menikah selama pulang ke kampung dan tinggal dengan mereka. Kaniya rela membiayai mereka kuliah, kadang kebutuhan sendiri dinomor sekian kan demi memenuhi kebutuhan pendidikan keponakannya.


"Kamu ini anak kecil tahu apa sih, gak tahu adab juga bicara sama orang tua. Nggak ada hormat-hormatnya. Awas loh, nggak ada yang mau kayak kakakmu jika terlalu ember kayak cewek" jawab si Ibu dengan menatap galak pada Ridho.


"Tahu adab itu, kalau yang ditemani bicara juga beradab, kalau kayak tante ini ... cwih... rugi saya hormati. Sudah ikut campur urusan orang lain, menuduh tanpa bukti jelas, mengompori yang bisa menyebabkan orang lain ikut menuduh. Tidak apa-apa saya ember, tapi utuh, Tante tuh... sudah jadi ember, bocor pula"


Suara kasak-kusuk kian terdengar ramai. Kaniya sampai pusing mendengarkannya. Tuduhan-tuduhan jelas terdengar dari beberapa bisikan orang-orang yang mengantri.


"Tenang semuanya. Mohon maaf atas ketidaknyamanan anda sekalian. Bagi yang percaya sama saya dan urusannya sudah selesai, boleh meninggalkan tempat ini. Percayalah saya tidak akan apa-apa. Bagi yang menuduh saya, mohon ditunggu sebentar agar saya bisa membuktikan diri tidak bersalah, agar kalian tidak pulang dengan tuduhan yang akhirnya akan menyebar ke yang lain.." Kaniya terdiam sesaat, lalu melanjutkan.


"Saya bukannya ingin kalian percaya pada saya agar saya dianggap baik oleh kalian, tapi saya merasa kasihan saat anda sekalian menyebarkan tuduhan kedua ibu ini pada orang lain, maka jatuhnya adalah fitnah. Anda akan menanggung dosa karena hal itu, dan akibat dari perbuatan kalian mungkin akan berbuntut panjang sehingga lebih banyak yang akan menganggap saya sebagai orang yang salah. Lalu bagaimana dengan dosa anda sebagai penyebar, yang akhirnya disebarkan pula oleh orang lain?? Jadi saya mohon, tinggallah untuk membuktikan bahwa tuduhan mereka ini tidak benar".


"Tin.. apa-apaan kamu ini,.." belum sempat Tini melanjutkan bicaranya, seorang laki-laki yang masih menggunakan pakaian dinasnya menghentikannya.


"Saya kesini itu untuk urusan tugas akhir saya. Bu Kaniya ini yang membantu saya. Saya tidak pernah menceritakan pada kamu, karena selama ini yang kamu bahas hanya masalah belanja ini dan itu, tidak pernah memikirkan tentang kuliah saya yang membutuhkan banyak biaya. Padahal itu juga demi masa depan keluarga kita" jelas sang suami berapi-api.


"Tapi.., kamu akhir-akhir ini banyak berubah, lebih jarang di rumah. Pulang kantor hanya sekedar makan lalu pergi lagi"


"Saya kuliah, saya urus tugas akhir, harus bimbingan, revisi cari bahan, saya tidak punya laptop, saya tidak punya print karena selama ini sibuk membiayai kebutuhan rumah dan kebutuhanmu yang banyak. Jadi tolong mengerti saat saya mengerjakannya disini"


"Saya tidak percaya dengan kata-katamu.." kepalang tanggung, Tini tidak mau malu karena dianggap menuduh orang yang salah. Dia sangat membenarkan kata-kata suaminya. Memang selama ini dia sangat senang berbelanja, padahal gaji suaminya tidak seberapa karena golongannya yang masih rendah. Dia juga menganggap suaminya hanya buang-buang uang untuk kuliah, sehingga tidak pernah mempedulikan kebutuhan kuliah suaminya.


"Pak Sandi, sebaiknya masalah rumah tangga ibu dan bapak dibicarakan di rumah agar tidak jadi konsumsi umum. Coba lihat sekitar.." Sandi menatap kearah pandangan Kaniya. Tampak orang-orang yang antri menatap mereka dengan berbagai penilaian. Bahkan ibu-ibu tadi yang sempat ikut campur menatap Kaniya dengan rasa bersalah.


"Pak Sandi, saya hanya minta. Tolong bapak jelaskan ke mereka bahwa apa yang dituduhkan istri anda tidaklah benar. Saya tidak ingin, banyak prasangka buruk terhadap saya. Terlebih, saya tidak ingin banyak dosa dari orang-orang ini Karena memfitnah saya dan belum tentu mereka bisa bertemu saya sebelum saya atau mereka meninggal, sebelum saya memaafkan perbuatannya" Pinta Kaniya dengan tegas sambil menatap ke sekitarnya.


"Baiklah Bu.. tapi sebelumnya, saya mohon maaf pada Bu Kaniya, atas tuduhan istri saya dan ketidak nyamanan yang diakibatkannya" jeda sebentar, lalu pak Sandi menarik nafas dan mulai berbicara kepada semua orang yang ada di toko ini.


"Mohon maaf semuanya. Maaf atas ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh istri saya. Saya dan Bu Kaniya tidak memiliki hubungan khusus selain urusan profesional dalam pekerjaan. Bu Kaniya ini membantu saya dalam mengetikkan dan mencetak karya tulis saya. Saya membayarnya sesuai kesepakatan, dan pembayaran ini sampai selesai, jadi wajar jika banyak. Jadi sangat wajar saat kami bertemu, tapi tentunya di tempat yang terbuka dan tidak hanya berdua. Foto ini kebetulan tidak memperlihatkan penjaga toko yang didalam. Jadi saya harap, anda sekalian tidak berprasangka buruk kepada Bu Kaniya" Pak Sandi menundukkan kepalanya memohon maaf, lalu hendak meninggalkan toko bersama istrinya, karena merasa sangat malu atas perbuatannya.


"Tunggu pak Sandi, saya sudah mengirimkan kembali uang anda sebagian. Saya hanya mengambil sesuai dengan apa yang telah saya selesaikan. Untuk selanjutnya, saya tidak bisa melanjutkan membantu anda. Maaf"


"Tapi Bu Kaniya, saya tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi. sedangkan di desa ini, hanya Bu Kaniya yang menyediakan jasa pengetikan dan mengerti tentang kepenulisan tugas akhir. Tolong saya sampai selesai Bu" Pak Sandi mencoba untuk memohon sampai mengatupkan tangan.


"Mohon maaf pak, ini sudah keputusan saya. Terus terang saya bukanlah orang yang mudah melupakan sesuatu, meskipun bisa memaafkan. Apalagi kejadian hari ini sangat menampar harga diri saya sebagai seorang perempuan yang masih lajang. Ini sangat berpengaruh terhadap mood saya bekerja kedepannya, utamanya jika berhubungan dengan bapak. Karena pasti saya akan terus teringat dengan ucapan istri bapak dan tatapan menuduh dari orang-orang yang bahkan tidak kenal baik dengan saya. Jadi mohon maaf sekali lagi" Tegas Kaniya.


Pak Sandi menatap istrinya, menyalahkan. Istrinya hanya menunduk, merasa bersalah tapi enggan disalahkan apalagi minta maaf. Akhirnya, Pak Sandi menarik istrinya keluar toko setelah berpamitan dan mengucapkan maaf sekali lagi. Mau tidak mau, dia harus mengerjakan tugas akhirnya sendirian. Dia tidak mungkin menjelaskan bahwa bantuan Kaniya dalam tugas akhirnya bukan cuma sekedar pengetikan dan print tapi juga dalam penyusunannya, dia hanya perlu mengumpulkan bahan yang tidak tersedia di perpustakaan mini Kaniya, melakukan penelitian dan mendiskusikan beberapa hal penting dengan Kaniya. Sekarang, dia bingung karena setelah seminar proposal, dia harus meneliti dan melanjutkan menulis bab IV namun tidak begitu paham dan kebanyakan waktunya digunakan untuk bekerja. Padahal sebelumnya, dia sudah tenang karena akan dibantu meskipun tidak sepenuhnya.


Kaniya menghela nafas lega saat suami istri itu pergi meninggalkan toko. dia mengamati sekitar, tampak raut wajah bersalah dari orang-orang itu.


***