38 +

38 +
Memaafkan tapi sulit melupakan



"Bu Kaniya..." Kaniya yang hendak berjalan ke mejanya, kembali menoleh saat suara dari luar memanggilnya.


"Bu Kaniya, maafkan kami yah karena mudah percaya dengan ucapan perempuan tadi" Kaniya hanya tersenyum dan mengangguk. Dia tidak akan mendendam, meskipun dia akan sulit lupa, termasuk wajah-wajah yang menatapnya, seakan dia adalah tertuduh yang sudah pasti harus dihukum. Kaniya memang se pengingat itu jika berhubungan dengan sebuah hinaan terhadap status perawan tuanya. Diusianya yang sudah lebih dari 38 tahun, tapi tetap saja betah menjomblo.


"Bu Kaniya..., mohon maaf tadi saya khilaf ..dan terbawa suasana. Sa..ya merasa senasib dengan ibu tadi hingga tersulut emosi dan menuduh Bu Kaniya. Suami saya.. kawin lari bersama tetangga saya yang perawan tua. Bahkan,.kami baru saja dikaruniai seorang putra" Ucap ibu-ibu yang ikut mencemooh Kaniya tadi dengan Isak tangis, entah karena rasa bersalah atau teringat sakit hati pada sang suami.


"Tidak apa-apa Bu, saya telah memaafkan ibu, tapi saya mungkin akan sulit melupakan kejadian ini, termasuk hinaan anda. Jadi saya mohon, lain kali jangan terlalu ikut campur yang bukan urusan ibu, jangan menuduh tanpa bukti kuat apalagi hanya karena perkataan orang lain. saya akui, usia saya sudah sangat matang untuk menikah, bahkan kebanyakan bilang saya adalah perawan tua" Kaniya menjeda ucapannya untuk mengambil nafas "Ibu jangan memukul rata pada semua orang jika hanya satu yang berbuat salah, karena itu sangat tidak adil"


"iya Bu Kaniya, saya akan lebih introspeksi diri lagi" lalu dia pamit diikuti oleh orang-orang yang dari tadi telah selesai foto copy annya tapi tinggal karena penasaran.


Setelah mereka semua pergi. Kaniya seperti tidak punya tenaga lagi untuk melanjutkan pekerjaan. Dia memilih pulang ke rumah.


Ridho dan Nindya memaklumi suasana hati sang Tante dan akan menjaga toko hingga tutup seperti biasa.


***


"tumben cepat pulang Din?" Ranti yang sedang duduk di teras merasa heran karena Kaniya pulang lebih cepat dari biasanya. Wajahnya juga terlihat ditekuk. menandakan suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Biasalah kak, gara-gara belum menikah, Kaniya sering dihina orang, bahkan hari ini, Kaniya dianggap pelakor" jawab Kaniya dengan sendu.


"Pelakor? Siapa yang menyebut kamu pelakor?" Sulaiman kakak lelaki Kaniya tiba-tiba muncul dari dalam rumahnya dengan wajah marah.


"Sudah selesai kok kak, tadi di toko ada ibu-ibu yang datang langsung nuduh gara-gara ada yang mengirimkan fotoku sedang berbicara dengan suaminya di depan toko. trus dia juga nemu transferan uang ke rekeningku dari suaminya"


"Kenal sih, karena dia salah satu orang yang mengerjakan tugas akhirnya di toko. Wajar dong kalau dia transfer untuk membayar. Suaminya sudah menjelaskan tadi kepada para pengunjung toko yang kebetulan memang banyak sekali hari ini.


"Jadi kamu di hina di depan orang banyak ??" Sulaiman menunggu balasan adiknya, saat adiknya mengangguk, Sulaiman bertambah emosi "Kurang ajar orang itu" Lanjutnya menahan emosi.


"Sabar kak, sebaiknya kakak duduk dulu"Kaniya berdiri mengambilkan kursi plastik untuk kakaknya. "kan tadi suaminya sudah klarifikasi dan mereka semua minta maaf.


Ranti dan Sulaiman menghela nafas panjang. Adik mereka ini adalah salah satu wanita yang tidak pernah terlalu memusingkan jodohnya. Tapi bagaimanapun juga mereka sadar, bahwa Kaniya harus menemukan pasangannya.


"Kaniya, Usia kamu kan sudah sangat matang untuk menikah, 38 lebih, apa nggak sebaiknya kamu menerima Afdhal??"


"Entahlah kak Sul, aku hanya menganggapnya sebagai teman. dan dia juga sudah tidak pernah lagi menanyakan tentang lamaran itu. Saat ini, kami mungkin lebih baik jadi teman saja"


"Pikirkanlah lagi" bujuk Ranti.


"Huft.. baiklah kak, aku akan memikirkannya. Jika hatiku merasa yakin dan Afdhal kembali melamarku, maka tak ada alasan untukku menolak. namun, jika tidak maka aku akan tetap menunggu jodoh yang Allah siapkan untukku" saat mengatakan itu, Kaniya tiba-tiba teringat pada wajah yang ditemuinya di kota. Sampai saat ini, mereka belum berkomunikasi lagi.


"Aku ke kamar dulu yah" Kaniya lalu pergi ke kamarnya, meninggalkan kakak-kakaknya yang membisu namun mungkin sedang berperang dengan pikirannya masing-masing.


***