38 +

38 +
Memaafkan masa lalu



Abidzar mengepalkan tangannya, emosi itu perlahan tersulut kala mengingat tangisan adiknya di masa lalu. Apalagi, ditambah ingatan akan sosok Syifa yang kemungkinan akan kembali pada orang tua kandungnya. Abidzar bahkan lupa, kalau saat ini mereka berada di tempat umum.


"masih berani menampakkan diri didepanku?" Ucap Abidzar dengan suara tertahan namu sarat akan kemarahan.


"Maafkan saya, tapi saya dipanggil untuk datang ke kantor ini oleh ayah Nur" Jawab Afdhal berusaha tenang.


"Kalau begitu, kamu tentu siapa untuk menerima pelajaran dari saya"


Afdhal meneguk kasar ludahnya. Dia sangat paham maksud Abidzar, apalagi saat dia melihat tangan Abidzar yang bersiap menghantamnya. Afdhal hanya mampu berdoa dalam hati, agar Abidzar ingat tempat. Sekarang mereka tengah berada di depan umum, bahkan beberapa orang mulai memperhatikan mereka.


dretttt....


Tiba-tiba getaran di hp Abidzar menghentikan niatnya. Dia segera merogoh hp yang berada dalam saku celananya. Dilihatnya, sang istri sedang memanggil.


Abidzar lalu menatap Afdhal seolah berkata, kamu jangan kemana-mana, setelah ini kita buat perhitungan.


"Assalamu Alaikum, love" Wajah Abidzar yang tadi terlihat sangar saat menatap Afdhal, berubah 180 derajat. Dia menjawab panggilan dari istrinya dengan raut bahagia, walau tak saling menatap.


Afdhal yang melihatnya hanya mampu bergidik ngeri. Tak mengira bahwa Abidzar dapat berubah secepat itu. Kesempatan ini tak disia-siakan, sesegera mungkin dia masuk ke dalam kantor dan menemui calon mertuanya.


Afdhal tahu, apa yang akan dilakukan Abidzar tadi mungkin akan dilakukan oleh ayahnya. Tapi, dia telah membulatkan tekad untuk terus memperjuangan Nur dan anak mereka. Dia tak ingin hidup dalam penyesalan seumur hidupnya.


"Sudah, love. ini mau ketemu rekan bisnis yang lain di luar. Kamu mo nitip sesuatu?"


Suara Abidzar makin menjauh dan akhirnya tak terdengar lagi oleh Afdhal. Dia seakan berburu dengan waktu, berjalan seperti berlari


Abidzar yang selesai menelpon akhirnya menyadari bahwa Afdhal tak lagi disana. ingin mengejar, tapi waktu pertemuannya juga semakin dekat. Akhirnya, ia melupakan Afdhal dan bergegas ke tempat janjian dengan rekan bisnisnya. Dia percaya bahwa ayahnya akan melakukan yang terbaik untuk Nur dan memberikan pelajaran pada Afdhal.


***


Di rumah, Kaniya uring-uringan. Pasalnya, hari ini ibu mertuanya sedang ikut arisan tapi dia malas ikut, Syifa masih di sekolah dan Nur sedang bekerja. Hanya dirinya yang tersisa di rumah.


Diperiksanya laporan yang dikirimkan oleh pegawainya di kota wisata. Namun, rasa bosan tak kunjung hilang.


Akhirnya, Kaniya meminta izin suaminya untuk jalan-jalan ke mall terdekat. Setelah mendapat izin, Kaniya berangkat dengan diantarkan oleh supir.


Setiba di mall, Kaniya langsung menuju toko pakaian, membeli beberapa gamis yang dirasa cocok untuknya. Setelah puas berbelanja, Kaniya berniat mencari makan siang. Tapi, tiba-tiba saja Fatimah mengirim pesan bahwa dia sedang di rumah sakit di kota ini.


Kaniya yang mendengar bahwa anak Fatimah sedang sakit dan dirawat, memutuskan membeli mainan untuk si kecil Zidan dan buah-buahan. Setelahnya dia mencari tempat makan cepat saji.


Setelah itu, dia bergegas meninggalkan Mall menuju rumah sakit yang disebutkan Fatimah.


"Fat, aku dah di depan nih, Zidan dirawat di ruangan mana?" Tanya Kaniya lewat sambungan telpon. Dia menyimak jawaban Fatimah dan bersiap masuk ke dalam rumah sakit.


"Ok" Jawabnya setelah Fatimah memberikan instruksi.


"Pak, tolong bantu saya bawa barang-barang ini yah" Pinta Kaniya dengan sopan pada pak supir.


"Siap, Bu" Jawab pak supir yang membuat Kaniya tersenyum melihat tingkah pak supir.


Mereka melangkah dengan Kaniya berjalan di depan membawa parcel buah sementara pak supir berjalan di belakang dengan mobil-mobilan cukup besar yang bisa diduduki oleh Zidan nantinya.


Kaniya yang penasaran mengikuti arah Afdhal yang didorong oleh seorang perawat pria. Di kamar itu, Afdhal dibaringkan di atas tempat tidur. Tampak bahwa luka Afdhal cukup serius, tapi Kaniya tak melihat seorangpun keluarga Abidzar.


"Dhal" Afdhal menoleh saat mendengar suara Kaniya memanggilnya.


Kaniya tampak prihatin melihat kondisi Afdhal, apalagi tak ada keluarga yang menemaninya.


"Kamu kenapa Dhal, kena rampok?" tanya Kaniya penasaran.


Afdhal hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Kaniya. Dia tak mungkin mengaku bahwa mertua Kaniya yang melakukan ini padanya.


"Tidak, hanya ada sedikit masalah dengan orang" Jawab Afdhal masih dengan senyumnya.


Meskipun dia merasakan sakit dibadannya, tapi dia telah mendapatkan restu untuk menikah dengan Nur. Afdhal rela merasakan semua sakit ini.


"Oo.. orang di rumahmu nggak ada yang tahu? kok sendirian disini?" Tanya Kaniya lagi dengan raut penasaran.


"Mereka nggak ada yang tahu. Aku nggak mau buat mereka khawatir. Tolong jangan kasih tahu mereka yah" Pinta Afdhal memohon


"Nggak mungkin juga aku ngasih tahu mereka, aku kan sudah nggak ada akses untuk berhubungan dengan keluargamu" Jawab Kaniya tersenyum. Selama mereka gagal menikah, hubungan dengan keluarga Afdhal pun tidak lagi sebaik dulu. Meskipun tak juga dibilang bermusuhan.


"Maaf yah, Kaniya" Afdhal merasa tidak enak. Dia pun tak lagi memanggil Kaniya dengan nama Putri. Dia ingin menjaga perasaan Nur dengan tidak mengistimewakan panggilan untuk Kaniya. Apalagi, Nur menceritakan bahwa nama yang disebutnya pada malam kejadian itu adalah Putri.


Kaniya sendiri tidak merasa ada yang berbeda dengan panggilan itu. Baginya, setiap orang bisa memanggilnya dengan nama Dinda, adinda, putri, Kaniya atau siapapun selama itu masih namanya.


"Tidak apa-apa. Harusnya aku yang minta maaf" Balas Kaniya.


"Kamu nggak salah, kita memang tidak bisa memaksakan perasaan apalagi mengenai jodoh. Aku sekarang harusnya berterimakasih padamu, andai kamu tidak menolak keegoisanku untuk mempertahankan hubungan kita, mungkin aku nggak akan tahu bahwa ada seseorang yang begitu mencintaiku tapi nyatanya telah kulukai begitu dalam. Terimakasih Kaniya" Ucap Afdhal tulus.


"Semua sudah ditakdirkan. Pertemuan kita, batalnya pernikahan kita, mungkin adalah jalan agar kamu dapat bertemu dengan Nur"


"Iya. Semoga kami dapat diberikan kemudahan untuk menikah. Hari ini, aku sudah dapat restu dari calon ayah mertua dan suamimu" Afdhal berucap dengan binar bahagia.


Kaniya dapat melihat binar bahagia itu. Dia sekarang yakin bahwa Afdhal mencintai Nur. Tanpa cinta, Afdhal tak mungkin berjuang dengan sekeras ini.


Kaniya pun paham bahwa luka ditubuh Afdhal kemungkinan adalah ulah suaminya.


"Selamat yah, semoga kalian diberikan kemudahan. Dan tolong maafkan suamiku jika dia yang menyebabkan luka mu ini"


"Tidak masalah Kaniya, sakit yang kurasakan ini pasti tidak sesakit yang dirasakan Nur dulu. Andai saja dia tidak pergi, dulu, mungkin kisah kami tak akan seperti ini. Tapi, aku tidak ingin lagi berandai-andai, karena jika saat itu dia tidak pergi, mungkin aku hanya akan menikahinya karena rasa tanggung jawab" tutur Afdhal dengan senyum tak pernah lepas.


Afdhal masih ingat, saat tadi dia berbicara dengan ayah Nur. Beliau yang begitu menyayangi anaknya menceritakan semua kejadian yang menimpa Nur setelah kembali ke rumahnya. Nur lebih banyak diam dan seringkali mengurung diri dalam kamar. Hingga Nur dinyatakan hamil dan tidak mau menyebutkan pria yang menghamilinya. Nur bahkan mengancam akan bunuh diri jika ayahnya mencari tahu tentang pria itu.


Kehamilan Nur tidaklah mudah di masa depresinya. Bahkan setelah melahirkan, Nur pun mengalami baby blues. Sehingga anaknya dirawat oleh Abidzar dan istrinya. Karena Nur belum menikah, keluarganya memutuskan untuk mendaftarkan Syifa sebagai anak Abidzar dan istrinya.


Sekarang, Afdhal telah menerima masa lalu. Dia ingin memulai hidup baru dengan Nur. Dia ingin mereka meninggalkan semua luka di masa lalu.


"Bu... ada telpon dari bapak. Katanya dari tadi menghubungi ponsel ibu tapi tak diangkat" Wawan yang sedari tadi duduk di kursi agak jauh dari tempat tidur pasien, mendekat menyodorkan hp nya pada Kaniya.