
"Dhal..? itu suara ibu??" Kaniya yang penasaran segera bertanya kepada Afdhal. Hatinya semakin bertambah tak karuan.
Afdhal yang seketika berbalik, melihat ibunya yang tampak menahan marah. Dia tidak lagi menghiraukan Kaniya yang sedang bertanya. Dimatikannya panggilan kepada Kaniya.
"Bu..., Afdhal akan menjelaskan semuanya"
"Harus, kamu harus menjelaskan semuanya pada ibu, ayah dan keluarga kita. Ini bukan persoalan kecil yang bisa kalian sembunyikan"
"Baiklah Bu, tapi aku mohon, jangan memisahkan ku dengan putri" Ucap Afdhal memegang tangan ibunya.
"Maaf, Dhal. Tapi kali ini, ibu tidak bisa membantumu. Sekarang, keluarlah makan malam. Setelah itu, kita akan membicarakan ini bersama yang lain"
ibu lalu keluar dari kamar Afdhal. Ibu begitu terpukul dengan kenyataan yang baru diketahuinya. Dia mengenal Kaniya dengan baik. Dia berpikir, Kaniya adalah wanita baik-baik, yang meskipun belum menikah tapi terlihat sangat menjaga dirinya. Siapa sangka, dia berstatus seorang istri. Dan parahnya, anaknya sampai akan berbohong kepada keluarga demi menutupi status Kaniya.
Afdhal menghela nafas panjang. Dia tidak menyangka akan ketahuan seperti ini. Dia lalu ingat bahwa tadi menelpon Kaniya. Lalu dikirimnya pesan kepada Kaniya bahwa tadi ibunya memanggil untuk makan malam.
Mengakhiri chatingan dengan Kaniya, Afdhal pun keluar menuju meja makan, bergabung dengan keluarganya.
Kegiatan makan malam berlangsung tenang. Afdhal mengamati wajah-wajah di meja makan. Semua nampak biasa-biasa saja. Artinya, ibu belum mengatakan apa-apa.
Setelah semua menyelesaikan makan, Ibu mengajak semua anggota keluarga untuk ke ruang keluarga. Semua masih nampak normal bagi keluarga Afdhal karena memang beberapa hari ini, pembicaraan tentang pernikahan Afdhal rutin dilakukan setiap malam.
"Afdhal akan membicarakan sesuatu yang penting dengan kita. Saya harap, kita sekeluarga dapat membicarakan hal ini dengan tenang"
Afdhal melihat ibunya, mengangguk ke arahnya, sehingga dia pun mulai bercerita.
"Ayah, kakak, om dan Tante, sekalian. Sebelumnya saya mohon maaf, karena masalah ini mungkin akan berdampak pada keluarga kita"
"apakah Kamu melakukan kesalahan fatal?" Kakak Afdhal mulai penasaran.
"Entahlah, mungkin bisa dikatakan ini kesalahanku juga" jawab Afdhal.
"Jelaskanlah, nak. Kita akan mencari solusi bersama-sama" ayah Afdhal berucap bijak.
"Yah, semuanya. Saya dan Putri tidak bisa menikah sekarang, kami akan menundanya" Afdhal mencoba agar tidak gugup mengatakannya.
"Apa maksudmu? persiapan pernikahannya hampir rampung loh? masa' main tunda aja" Tante Afdhal bertanya dengan tidak sabar.
"Sebenarnya, Putri.. , dia masih berstatus istri orang lain" menjeda ucapannya, Afdhal menatap ke sekitar yang tampak hening.
Semua terhenyak dengan pengakuan Afdhal. Hanya ibunya yang tidak lagi kaget dengan penuturan Afdhal
"Mak..maksudnya, gimana?? Kaniya punya suami??" Tanya kakak Afdhal tak percaya. Pasalnya, selama ini dia kenal baik dengan keluarga Kaniya. Dia tidak pernah mendengar Kaniya menikah.
"Kapan Kaniya menikah? Bahkan dia dicap sebagai perawan tua. Mana mungkin punya suami? Kamu mau ngeprank kami yah??" Kakak Afdhal mencoba mencerna semua perkataan Afdhal yang tidak masuk akal.
"Saya tidak bercanda, kak. Kaniya pernah menikah siri di kota. Karena suatu alasan, Kaniya meninggalkan suaminya. Dia pikir, mereka telah bercerai karena sama-sama tidak melakukan kewajiban sebagai suami istri.
Ternyata, sebelum mereka berpisah, suaminya telah mendaftarkan pernikahan mereka dan mendapatkan akta nikah. Dan kami baru mengetahuinya, saat kami bertemu dengannya di kota kemarin"
Kakak Afdhal mulai mengingat kejadian saat Kaniya dan Afdhal tiba-tiba meninggalkan mall dan menjemput mereka. Saat pulang, Kaniya dan Afdhal hanya diam, bahkan mereka tak saling bicara saat berpisah.
Suasana nampak hening. Tak ada yang berbicara. Semua nampak kaget dengan cerita Afdhal.
"Saya tidak bisa berbicara banyak tentang pernikahannya di masa lalu, karena itu adalah masalahnya. Saya hanya berharap, agar kalian dapat merestui kami, setelah Putri, resmi bercerai dari suaminya".
"Tidak bisa..., kami tidak akan merestuimu menikah dengannya. Dia berstatus istri, tapi selama ini hidup seperti wanita bebas.. Dia telah membohongi banyak orang" Om Tanu langsung berdiri menatap Afdhal. Afdhal pun ikut berdiri menatap omnya.
"Tapi, putri juga tidak tahu statusnya masih jadi istri orang lain om"
"Tidak masuk akal... mana mungkin, dia tidak tahu. Bagaimana bisa, suaminya mengajukan pendaftaran pernikahannya jika tanpa sepengetahuan istri. Kamu jangan ikutan bodoh Afdhal" Afdhal pun pernah memikirkan hal itu, tapi dia percaya pada Kaniya.
Lagi pula, dia mendengar sendiri Dani mengatakan akan menjadikan buku nikah itu sebagai kejutan ulang tahun Kaniya. Artinya, Kaniya memang tidak mengetahuinya. Entah bagaimana prosesnya, Afdhal tak tahu.
"Tapi itu kenyataannya, om. Saya dengar sendiri waktu mereka berbicara"
"Om mu benar Afdhal, bagaimana pun juga kami tidak setuju kamu menikah dengan Kaniya. Andai dia janda, kami tidak akan menolak. Tapi, dia adalah istri orang saat ini, dan kami merasa tertipu"
"Yah, Saya mencintai Putri. Saya akan menunggu sampai mereka resmi bercerai"
"Jangan gila kamu, Dhal. Ibu tidak setuju. Ibu tidak rela kamu menikah dengan perempuan bersuami"
"tapi Bu, Putri akan mengurus pernikahannya, kami akan menikah setelah dia resmi bercerai"
"Bu.. Putri, tidak seperti itu"
"Lalu seperti apa?"
Afdhal tidak mampu menjawab pertanyaan ibunya. Dia hanya bungkam, tak ingin membeberkan kisah Kaniya pada keluarganya. karena itu bukan wewenangnya. Tentang status pernikahan Kaniya saja, dia belum mendapat izin. Tapi karena ibu terlanjur mendengar, Afdhal pun memutuskan untuk mengatakannya.
"Besok, kita akan ke rumah Kaniya untuk membatalkan pernikahan kalian" Ucap ayah final. Lalu beliau beranjak dari tempat duduknya menuju kamar.
"Yah.. Afdhal tidak ingin membatalkan pernikahan dengan Putri, yah....."Afdhal mencoba memohon pada ayahnya tapi sang ayah bergeming
"Bu.." beralih pada ibunya, tapi ibunya hanya diam. mengedarkan pandangan ke arah yang lain, Afdhal hanya mendapat tatapan penolakan.
Akhirnya, dia kembali ke kamar. Afdhal mengirim pesan pada Kaniya, bahwa keluarga Afdhal telah tahu yang sebenarnya. Dan besok, mereka akan datang menemui Keluarga Kaniya di rumahnya.
Kaniya yang membaca pesan Afdhal, hanya bisa memejamkan mata. Dia tahu, saat mendengar suara ibu Afdhal tadi, maka semua akan menjadi rumit.
Kaniya menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Dia hanya membaca pesan Afdhal tanpa berniat membalasnya. Dia akan pasrah pada kemana takdir membawa hidupnya.
Sudah terlalu banyak hal yang dia alami sejak dulu. Menikah diusia muda, karena kepergok dalam kamar bersama sang kekasih, secara siri pula. Lalu di hianati suaminya dengan menikahi perempuan lain tanpa izin.
Jika pun sekarang dia gagal menikah, maka itu mungkin hukuman atas kesalahannya di masa lalu yang abai atas permintaan ayahnya.
'Ya Allah, ampuni segala dosa hamba, dosa orang tua dan keluarga hamba. Berikan jalan terbaik untuk setiap permasalahan hamba' Aamiin.. Kaniya kemudian memejamkan matanya. Mencoba lelap diantara kekalutan pikirannya.
Kaniya duduk di sebuah taman. Kaniya terisak sambil menyembunyikan wajahnya diantara lututnya. Dia merasa bebas menangis di taman ini. Di rumah, dia harus terlihat tegar atas semua permasalahannya.
"Tante kok nangis sih?,kangen yah sama Syifa" Kaniya, menghentikan tangisnya dan mendongak menatap gadis kecil yang berdiri di depannya.
"Syifa, kok ada disini? kamu sendirian? ayah mana?" Kaniya mengedarkan pandangan mencari sosok ayah Syifa.
"Syifa tadi diajak ibu jalan-jalan, eh.. malah ketemu Tante yang lagi nangis. Kata ibu, Syifa harus hibur Tante"
"trus, ibunya mana?".
"ibu lagi nyari ayah. Sekarang, kita main yah Tante.." Syifa lalu menarik tangan Kaniya menuju ayunan.
"Sekarang, Syifa naik yah ke ayunan, biar Tante yang dorong ayunannya"
"gak ah Tan, Syifa mau duduk sama Tante di atas ayunan"
Kaniya melihat ayunan yang cukup lebar untuk mereka duduki berdua. Diapun setuju dan duduk bersama Syifa. Saat akan menghentakkan kaki, agar ayunan dapat bergerak. Kaniya merasakan seseorang di belakangnya mendorong ayunan.
"Abi...??"
"Abi? kok Abi sih Tan?.... eh.. kok masih tidur sih... Tan.. Tante.. tadi ngomong kok sekarang tidur lagi.. Tante Kaniya.." Nindya mengguncang tubuh tantenya agak kasar. Pasalnya dari tadi, dia mencoba membangunkan tantenya tapi malah tantenya bicara tidak jelas.
"Tan..."
"Ikh.. berisik" Kaniya kembali tidur dan terlihat tersenyum. Melihat itu, Nindya memiliki ide.
"Tante Kaniya, kebakaran.. tolong..."
"Mana...mana kebakaran..." Kaniya langsung melompat dari tempat tidur hendak berlari keluar. Tapi balik lagi.
"Nin.. Ijazah dan barang-barang berharga lain di lemari bagian bawah, bantu Tante untuk..."
"hahahaha..." Kaniya berhenti bergerak saat mendengar suara tawa Nindya. Dia akhirnya sadar telah dikerjai dan hendak mengejar Nindya.
"Stop Tan, tadi itu darurat. karena Tante susah dibangunkan, mana senyum senyum dalam tidur. padahal di luar ada bapak-bapak cari Tante. tampan sih Tan"
Kaniya tidak jadi mengejar Nindya.
"Siapa?"
"Gak kenal, Tan. Baru ketemu akunya. Sekarang Tante mandi deh"
Kaniya menuju kamar mandi dengan penasaran.
'siapa yah?' tanyanya dalam hati.
***