
"Pernikahan?"
"Iya, bukankah kamu sudah menikah?"
"iya sih, aku sudah menikah. Tapi itu sudah sangat lama, bahkan sekarang baru saja bercerai". Jawab Kaniya yang entah kenapa ingin berkata jujur pada Abidzar.
"Eh..." Abidzar mengerutkan kening. Orang suruhannya bilang, Kaniya akan segera menikah. Kenapa malah bercerai
"Tapi, informasi yang kudapat, kamu akan menikah 3 bulan lalu?" Kaniya barulah paham dengan maksud Abidzar. Tapi dari siapa abidzar dapat informasi, bahkan dia saja tidak tahu desa tempat tinggalnya.
"Dapat informasi dari mana? memang dia tidak bilang kalau aku gagal menikah?" Tanya Kaniya, memaksakan senyum. Meskipun tidak mencintai Afdhal, tapi kegagalannya menikah menyimpan luka tersendiri. Dia harus kehilangan teman seperti Afdhal, belum lagi gunjingan dari tetangga sekitar.
"gagal menikah? trus kenapa bisa bercerai?" Refleks Abidzar merutuki dirinya karena pertanyaan itu meluncur begitu saja.
Kaniya hanya menatap muram. Dia ingin menjawab pertanyaan Abidzar tapi dia tidak merasa bahwa mereka tidak sedekat itu untuk curhat. Apalagi di tempat seperti ini, dimana begitu banyak kendaraan terparkir.
Abidzar yang melihat gelagat Kaniya, merasa bersalah. Dia tidak seharusnya menanyakan hal sensitif seperti itu.
"Maaf. aku tidak bermaksud.."
"Tidak apa-apa, saya ambil kunci dulu pak. Pak Abi duluan aja ke tempat Syifa" Kaniya melanjutkan jalan ke arah motornya. Lalu mengambil kunci yang masih terpasang disana.
Begitu berbalik, Kaniya melihat abidzar menunggunya. Tak ingin bertanya lagi, Kaniya menyegerakan langkah dan mereka bersama menuju tempat Syifa dan neneknya berada.
Ibu abidzar agak terkejut melihat abidzar datang bersama dengan seorang perempuan. Sebab selama istrinya meninggal, tidak pernah sekalipun dia membawa atau terlihat berjalan bersama perempuan.
"Tante Kaniya.. Sini" Syifa berteriak heboh melambaikan tangannya memanggil Kaniya. ibu Abidzar tambah heran dengan Syifa yang terlihat mengenal perempuan itu.
Kaniya tersenyum hangat melihat kelakuan Syifa. Beberapa orang juga terlihat memperhatikan mereka.
"Nek,.kenalkan. Ini Tante Kaniya" Syifa meraij tangan Kaniya dan membawanya mendekati sang nenek.
"Saya Kaniya, nyonya" Kaniya berucap sambil mengulurkan tangannya.
"Tidak usah terlalu kaku, panggil saja Tante, ibu juga boleh" Jawab ibu Abidzar ramah.
"Iya, Tante" Kaniya mengangguk malu.
Setelah berbincang sebentar, mereka memutuskan untuk masuk ke pasar, sesuai tujuan utama.
Syifa terlihat antusias saat melihat banyak jajanan pasar yang menggugah selera. Belum lagi, saat jejeran stroberi yang sudah dipetik tertata rapi di rak.
Dia langsung mengajak Kaniya membeli satu persatu kue atau buah yang diinginkannya. Kaniya hanya mengikuti kemana langkah Syifa membawanya. Dia juga menjaga agar anak itu tidak sampai tertabrak orang yang lalu lalang karena tubuhnya yang masih kecil tapi begitu lincah bergerak kesana kemari.
Semua yang dilakukan Kaniya tidak lepas dari pengamatan ibu abidzar. Dia merasa sangat senang, karena akhirnya Syifa dan Abidzar mau dekat dengan seorang wanita.
Ibu bisa melihat pancaran mata anaknya terhadap Kaniya. Abidzar terlihat suka mencuri curi pandang.
"Jika sudah klik, dihalalkan. Jangan cuma curi curi pandang kayak gitu. nanti diambil orang, baru deh nangis darah" Suara ibu yang begitu dekat dengannya membuat abidzar mengalihkan pandangan dari Kaniya.
"Saya lagi liatin Syifa kok Bu, bukan Kaniya" ucap Abidzar malu. Dia seperti anak SMA yang kepergok memperhatikan gadis yang disukainya.
"Ibu paham kok, gak perlu mengelak. Kamu sudah lama menyendiri, nak. Sudah saatnya kamu memiliki pendamping lagi. Syifa juga butuh sosok ibu. Almh. Istrimu pasti sedih kalau kamu terus terusan sendiri seperti ini"
Ibu Abidzar berkata dengan lirih. Bagaimanapun juga, mereka sedang berada di pasar. Meskipun saat ini mereka berada disudut yang jarang dilewati orang, demi mengawasi Syifa dan Kaniya yang sedang memborong jajanan tetap saja sesekali ada orang lewat.
"Ayo kita ajak mereka pulang, kalau tidak Syifa akan terus mengajak Kaniya berjalan mencari jajanan. Padahal, Kaniya tadi abis jatuh gara2 kesenggol pintu mobil"
"kok bisa?" tanya ibu penasaran.
"itu salahku Bu, aku buka pintu tanpa memperhatikan ada orang sedang berjalan di luar,.mana keras lagi caraku" Aku abidzar sambil meringis membayangkan berada di posisi Kaniya.
"Kamu yah...ckck.." ibu hanya geleng-geleng kepala,.tidak tahu harus bicara apa.
"Tapi Bu, aku senang karena dengan kecelakaan itu, aku bisa bertemu lagi dengan Kaniya dan mengetahui kalau dia gagal menikah" cerita Abidzar sambil senyum senyum.
"Menyelakai orang kok senang. Kasihan dong Kaniya nya. Sudah dibawa ke dokter?"
"Tentu saja belum, kan lagi disini sama kita" Abidzar memutar bola mata mendengar pertanyaan ibunya
Kan gak masuk akal, kalau dia sudah mengantar Kaniya ke dokter dan sekarang mereka sedang belanja bersama disini.
"Dasar kamu, nggak tanggung jawab"
"Bu.. kalau disuruh tanggung jawab sih aku mau, langsung bawa ke KUA"
"Cih... itu sih maunya kamu, nak. Sudah lamar orangnya belum?"
"Belum dong, Bu. Kan kami baru ketemu lagi. Kami itu cuma kebetulan ketemu tapi Syifa sudah sayang banget sama dia. Ini pertemuan kami yang ketiga dengan cara kebetulan"
"Wah... cuma Syifa nih yang sayang..Pertemuan ketiga tanpa sengaja?!Biasanya jodoh tuh" ibu Abidzar menaik turunkan alisnya menggoda abidzar.
"Iya Bu, bapaknya cuma ikut-ikutan aja. Tapi doakan yah bu" ibu hanya tertawa mendengar ucapan Abidzar. Abidzar pun ikut tertawa bersama ibu.
"Seru banget, kayaknya" Abidzar menghentikan tawanya saat Kaniya dan Syifa tiba-tiba sudah ada di depan mereka.
Syifa mengerjab lucu melihat nenek dan ayahnya tertawa heboh berdua. Untung tempat ini agak sepi, jadi tidak ada orang yang memperhatikan mereka.
"ayah dan nenek kenapa?"
"Itu, ayahmu tadi ingat waktu ibu dandani kayak perempuan waktu SMP. Pas selesai, ada temannya lewat dan minta kenalan" Jawab ibu sekenanya.
Ibu tidak ingin berbohong sepenuhnya, jadi dia menceritakan kisah Abidzar yang disulapnya jadi perempuan waktu masih SMP.
Apesnya, setelah didandani, temannya bertamu dan minta kenalan dengan abidzar. Abidzar yang tidak ingin ketahuan, akhirnya meladeni temannya tersebut dan terburu-buru izin masuk kamar.
Setelah itu, abidzar kembali berpenampilan lelaki dan keluar menemui temannya. Sepanjang hari, teman Abidzar selalu bertanya tentang gadis bernama Feby. Hingga Abidzar mengusir temannya dengan alasan dia harus membantu ayahnya.
Kaniya menahan tawa mendengar cerita itu. Abidzar sendiri mukanya sudah memerah menahan malu. Demi apa, sang ibu membuka aib didepan gebetannya.
"hahahaha.. Syifa mau lihat ayah berdandan kayak perempuan, ada fotonya nek?? " Syifa bertanya dengan antusias tanpa menghentikan tawa.
Kaniya yang mendengar Syifa tertawa tak mampu juga menahan tawanya. Dia sampai memegang perutnya karena dari tadi menahan tawa. Abidzar yang tadinya jengkel jadi ikut tersenyum melihat Kaniya dan Syifa tertawa. Perasaannya jadi terasa hangat.
"Kaniya, boleh aku melamarmu?"
Kaniya tiba-tiba menghentikan tawanya menatap Abidzar tak percaya.
***