
Halaman villa Abidzar di sulap menjadi tempat resepsi. Acara dilaksanakan mulai pukul 10.00 pagi. Tamu-tamu mulai berdatangan, termasuk teman-teman mengajar Kaniya di kota wisata.
"Wah... Selamat yah say. Nggak nyangka bakalan resepsi disini sama do'i. Ini sih dah kayak tetanggaku idolaku. Pacar 5 langkah ini mah, jalan sebentar aja dah ketemu" Oceh Fatimah saat bertemu Kaniya.
Kaniya tersenyum mendengar ocehan sahabatnya. Fatimah datang bersama suami dan anaknya.
"HM.. Nggak juga sih Fat, kami kan tinggal berjauhan sebenarnya. Rumah disini cuma dipake Sabtu-ahad, selebihnya dia ada di kota" Jawab Kaniya.
"Betul juga yah, trus abis ini masih mau jauh jauhan?"
"Tentu saja tidak" bukan Kaniya yang menjawab tapi Abidzar. Dia langsung memeluk pinggang istrinya. Kaniya dan Fatimah hanya mampu tertawa melihatnya. Lalu Abidzar melihat ada rekan bisnisnya yang baru datang, dia mengajak Kaniya untuk menyambutnya.
"Aku kesana dulu yah, Fat" Fatimah hanya mendengus mendengar panggilan Kaniya padanya. Namun, Kaniya tak peduli dan tetap melemparkan senyum manis pada sahabatnya itu, yang sangat tidak menyukai panggilan Fat, apalagi sejak sudah melahirkan dua anak. Kesan gendut terlalu terasa saat mendengar nama itu.
Namun demikian, Fatimah tahu Kaniya memanggilnya seperti itu bukan untuk menghinanya. Tapi, Kaniya sangat suka melihatnya cemberut, sama saat dia memanggil Kaniya dengan nama Kan.
Fatimah kembali ke mejanya yang berdekatan dengan keluarga Kaniya. Sementara Abidzar masih mengajak istrinya untuk berkeliling menyapa para tamu secara langsung.
Abidzar dan Kaniya tidak duduk di pelaminan seperti saat pesta di rumah Kaniya. Mereka berbaur dengan tamu yang lain. Meskipun demikian, Abidzar telah menyambut seluruh tamu di atas panggung yang disediakan.
Untuk hiburan, para tamu dimanjakan dengan suara-suara merdu dari anak-anak di sekolah Kaniya. Setiap kelas membawakan satu lagu dan pertunjukan tari.
Abidzar sengaja meminta ini pada Fatimah. Abidzar mengadakan lomba di pesta pernikahannya, agar siswa/siswi yang memiliki bakat menyanyi dan menari dapat menyalurkan bakatnya.
Abidzar memberi hadiah sebesar sepuluh juta rupiah untuk pemenang pertama, tujuh juta lima ratus ribu rupiah untuk pemenang kedua dan lima juta rupiah untuk pemenang ketiga. Harapan satu empat juta rupiah, harapan dua sebesar tiga juta rupiah dan harapan tiga sebanyak dua juta rupiah. Sedangkan masing-masing tim yang ikut berpartisipasi namun belum menang akan mendapatkan satu juta rupiah per tim.
Total jumlah kelas di sekolah Kaniya ada lima belas rombel. Jadi, jumlah kelompok yang ikut adalah lima belas.
"Mas Abi.." Abidzar dan Kaniya menoleh ke asal suara yang memanggil Abidzar.
"Hai Renata, datang dengan siapa?" Tanya Abidzar.
"Sendiri mas. Mama dan papa lagi ada kegiatan di luar kota, jadi aku datang sendiri kesini mewakili mereka" Jawab Renata, sambil melirik Kaniya.
"Oh iya, kenalkan ini istriku, Adinda Kaniya Putri. Love, ini Renata, anak salah satu sepupu ibu, jadi aku dan dia masih saudara sepupu juga" Jelas Abidzar.
"Kaniya" Ucap Kaniya sambil mengulurkan tangan.
"Renata" Balas Renata setengah hati. Dia menatap sinis pada Kaniya dan berubah tersenyum manis saat bicara dengan Abidzar.
Untuk selanjutnya, Renata mendominasi Abidzar untuk mengobrol. Hingga Kaniya merasa tak nyaman karena dia sama sekali tak dilibatkan dalam obrolan. Abidzar sendiri biasa saja dalam menanggapi Renata, namun belum menyadari ketidaknyamanan istrinya.
"Bi, aku ke Akbar yah, kayaknya disana seru deh" Pamit Kaniya sambil menatap ke arah Akbar dan kelompoknya yang sedang asyik bercengkrama.
Abidzar menatap ke arah Akbar. Dia terlihat sedang berkumpul dengan teman-teman sekolahnya.
"Ayo love, aku juga mau menyapa mereka" Jawab Abidzar lalu merengkuh pinggang istrinya.
"Ren, aku kesana yah, menyapa tamu yang lain" Pamit Abidzar pada Renata.
"Tapi Abi, aku masih ingin membicarakan banyak hal denganmu. Biarkan sajalah istrimu kesana" Tahan Renata tak rela melepaskan Abidzar.
"Lain kali aja yah, lagian ini kan resepsi pernikahanku jadi harus keliling menyapa banyak tamu"
"Tapi.. " Renata masih ingin bicara, namun Abidzar sudah membawa istrinya beranjak dari sana. Lagian, Abidzar juga sudah tidak nyaman karena Renata sering nyerempet membahas masa lalu mereka yang memang sangat akrab, masa saat Renata masih sekolah bersama Nur dan dia telah kuliah.
Renata hanya bisa menghentakkan kakinya menatap penuh rasa iri pada Kaniya. Andai Abidzar dan orang tuanya menerima usulan perjodohan dari ayahnya, dialah yang akan berdiri disisinya saat ini.
Abidzar sendiri tidak pernah menganggap usaha ayah Renata untuk menjodohkan mereka. Pasalnya, ayah Abidzar dari dulu hanya ingin menjodohkan Abidzar dengan putri, Dewi penolongnya. Sayangnya, saat itu ternyata Putri telah menikah. Tapi, kini sang ayah pantas berbangga karena akhirnya dia mencapai keinginannya.
"Eh.. ada raja dan ratu nih. Ada apa gerangan yang mulia berdua datang ke tempat kami?" Tanya Akbar dengan gaya ala pelayan kerajaan pada Kaniya dan abidzar.
Kaniya hanya tersenyum menatapnya. Sedangkan teman-teman Akbar tak mampu menahan tawa.
"parah kamu Bar" Ucap salah satu teman Akbar sambil tertawa
"Ratuku ingin bertemu denganmu" Jawab Abidzar dengan intonasi penuh wibawa khas seorang raja.
"hehhe... kalian ini, ichh. Aku cuma lelah saja dari tadi keliling, berdiri, belum sempat istirahat. Jadi mau duduk sama kalian, kayaknya seru deh. Kalian bahas apaan?" Tanya kaniya yang penasaran dari tadi.
Abidzar yang mendengar ucapan Kaniya hanya fokus pada kata lelah. Dia menatap istrinya dengan penuh rasa bersalah karena tidak memberikannya waktu untuk duduk malah sibuk berkeliling.
"oww.. kami mulai mendiskusikan penampilan teman-teman tadi di panggung. Sekaligus, memantapkan persiapan untuk penampilan sebentar. Sekarang kan lagi istirahat, jadi kami punya waktu buat diskusi" Jawab Akbar.
"OOO.." Kaniya dan abidzar mengangguk tanda mengerti
"Ayah.. ibu" Kaniya langsung menoleh saat mendengar suara Syifa memanggilnya.
"Syifa. Dari mana saja nak, kok nggak pernah kelihatan sih. Ibu kan jadi kangen" Kaniya menyamakan tinggi dengan Syifa lalu memeluknya.
"Syifa bersama mama, tapi mama dari tadi pindah-pindah terus, Syifa jadi nggak nyaman" Jawab Syifa cemberut.
"pindah-pindah kenapa?" Tanya Abidzar penasaran.
"Itu yah, dari tadi mama selalu pindah kalau om yang disana mendekati kami. Padahal yang diajak ngobrol juga Syifa. Om nya baik yah, lucu, Syifa senang berbicara dengan om itu" Jawab Syifa, matanya berbinar kala berbicara tentang om yang dimaksud.
Kaniya dan Abidzar sontak menoleh kearah yang ditunjuk oleh Syifa. Namun tak melihat om yang dimaksud Syifa.
"Memang siapa nama om itu?" Tanya Kaniya.
"Om Afdhal, Bu" Jawab Syifa.
Kaniya dan Abidzar sama sama terkejut mendengarkan Syifa. Abidzar mulai berpikir alasan Afdhal mendekati adik dan anaknya. Apakah pria itu ingin balas dendam padanya karena tidak mampu memiliki Kaniya. Pikiran Abidzar jadi rumit.
"Ok.. Sekarang, kamu sama ibu yah. Ayah akan cari mama kamu dan om Afdhal". Abidzar lalu meninggalkan Syifa dan Kaniya di meja Akbar.
Kaniya menatap khawatir pada suaminya. Dia tahu betul, suaminya sangat protektif terhadap keluarganya. Namun melihat Syifa yang mulai berbaur dengan Akbar dan teman-temannya, memilih ikut bergabung. Dia tak ingin membuat anaknya bertanya tanya.
***
Sementara di bagian dalam rumah Abidzar yang jauh dari keramaian, Nur sedang bersitegang dengan Afdhal.
"Aku sudah bilang, tak ingin ketemu kamu lagi. Kenapa masih terus mengikutiku. Lagian darimana kamu dapat undangan ke acara ini" Nur tak bisa lagi membendung kemarahannya. Bukan apanya, dari tadi Afdhal terus mengikutinya bahkan berusaha menarik perhatian Syifa. Dan berhasil, Syifa sangat antuasias saat berbicara dengan Afdhal.
"Tapi, aku ingin dekat dekat denganmu. Aku ingin tahu kejadian malam itu secara pasti, tidak mungkin kamu menghindari ku jika hanya karena aku merenggut kehormatanmu. Kamu tahu betul bahwa aku orang bertanggung jawab, Nur. Kamu tahu pasti bahwa aku pasti menikahimu setelah kejadian itu" Jawab Afdhal
"Aku tak butuh tanggung jawabmu, hanya karena kehilangan selaput darah. Mana mungkin aku mau menghabiskan waktu dengan orang yang dihatinya masih mencintai orang lain" Kata Nur, sinis.
"Bagaimana dengan Syifa?. Dia butuh sosok papa. Dan aku yakin, Syifa adalah anakku" Balas Afdhal tanpa keraguan.
Nur menatap horor pada Afdhal. Bagaimana bisa laki-laki ini meyakini Syifa adalah putrinya.
"Kamu jangan ngarang yah, anak kamu dari mana? hahah.. Dia itu punya ayah yang sangat perhatian, yaitu kakakku Abidzar dan Ibu yang sangat mencintainya meskipun akhirnya meninggalkannya karena sakit lima tahun lalu. Lalu dari mana kamu yakin bahwa dia adalah anakmu?" Ejek Nur.
Syifa adalah anak Abidzar dan almh. istrinya. Dan itu sah di mata hukum. Dia tak habis pikir, darimana Afdhal menyimpulkan bahwa Syifa adalah anaknya.
"Kamu jangan berbohong lagi, Nur. Aku sudah tahu semuanya. Kamu waktu itu hamil, kan?. Meskipun kamu menutup rapat semua ini, tapi aku akan menemukan bukti bahwa Syifa adalah anakku" Ucap Afdhal penuh tekad.
Saat ini, dia hanya mengandalkan insting seorang ayah. Namun, dia sudah mengambil rambut dari Syifa saat asyik berbicara dengannya tadi. Hal itu tidak disadari oleh Nur. Dia harus membuat Nur dan Syifa menjadi miliknya.
Dia merasa sangat beruntung saat melihat bahwa ada undangan dari Abidzar untuk omnya yang sedang ada kepentingan lain dan tidak bisa hadir. Diapun mengusulkan diri untuk menggantikan beliau. Afdhal memang saat ini, sudah kembali bekerja di perusahaan om nya di kota. Dia sudah bosan menjelajah, jauh dari keluarga.
"Lalu.. Setelah itu apa? Kamu akan menikahiku? Menikahiku tapi hatimu untuk putri? Aku tidak mau, aku tidak akan pernah hidup dalam pernikahan yang akan menyiksaku seumur hidup" Jawab Nur dengan emosinya yang memuncak.
Dia selalu ingat, saat Afdhal mendesah kan nama Putri disaat pelepasannya. Tubuhnya yang kesakitan tidak sebanding dengan rasa sakit hati karena Afdhal membayangkan orang lain saat menguasainya. Pemaksaan yang dilakukan Afdhal saat terpengaruh obat, mungkin masih bisa dimaafkan nya. Tapi mengingat bahwa, orang lain yang dibayangkan Afdhal membuatnya tak bisa menahan rasa sakit hati. Apalagi Nur sangat mencintai Afdhal, walau dalam diam.
"Tapi kamu tahu sendiri, Putri tak pernah bisa kuraih. Aku memang mencintainya, tapi itu hanya sekedar cinta sepihakku. Kita dekat saat itu, perasaan cinta akan mudah tumbuh andai saat itu kamu tidak pergi dan kita menikah, Nur"
"Omong kosong. Kamu tak pernah bisa melupakan Putri, buktinya kamu bahkan melamar dan hampir menikah dengannya" Kali ini bukan Nur yang menjawab, melainkan Abidzar yang entah datang dari mana.
Abidzar mendekati adiknya dan berdiri dihadapannya, seolah melindungi Nur dari orang jahat.
"Ternyata kamu yang telah membuat adikku trauma selama ini. Hingga dia sulit didekati oleh seorang lelaki. Bertahun-tahun dia menjalani terapi, dan sekarang kamu datang dengan segala omong kosong mu? Jangan dekati adikku lagi" Abidzar lalu membawa Nur dari hadapan Afdhal.
"Nur.. Aku akan menemukan bukti bahwa Syifa adalah anakku dan aku akan membuktikan bahwa aku pantas mendapatkan kesempatan hidup bersama kalian" Teriak Afdhal melihat Nur telah pergi bersama Abidzar.
Sementara Abidzar yang menahan kemarahan karena baru mengetahui siapa lelaki yang membuat adiknya menderita selama ini terus menarik Nur menuju meja ibu dan ayahnya.
Dia berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan orang tuanya. Dia meminta agar Nur tetap di sisi ibunya, agar Afdhal tidak mengganggunya lagi.
Lalu Abidzar kembali ke Meja tempat Kaniya dan Syifa berada. Sekarang adalah penampilan Kelas Akbar. Berbeda dengan yang lain yang menggunakan gitar atau musik pengiring yang memang khusus disediakan oleh Abidzar, mereka memilih berbagai peralatan dapur.
Akbar sendiri bertugas sebagai vocalis. Lagu salawat terdengar indah dinyanyikan olehnya. Hadirin tampak kagum dengan penampilan dari Akbar dan kawan kawan yang ternyata mampu membuat harmonisasi yang indah dari peralatan yang mereka bawa.
Setelah itu, teman-teman wanitanya naik ke panggung untuk menampilkan tari tradisional. Suara gendang ditabuh mengiringi tiap hentakan langkah mereka. Kali ini teman-teman Akbar yang lain, yang mengiringi tarian itu. Akbar memang melibatkan semua teman kelasnya untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Sebenarnya bukan hanya karena hadiah yang ditawarkan. Tapi,.lebih pada rasa hormat dan ucapan terimakasih terhadap Kaniya.
Penampilan Akbar dan teman-temannya dihadiahi tepukan yang sangat meriah dari para hadirin. Bahkan guru-guru yang melihat mereka, rasanya sulit percaya bahwa anak-anak yang terkenal Badung itu bisa menampilkan karya seindah ini di pesta Kaniya.
Fatimah pun memberikan apresiasi atas penampilan mereka. Secara langsung Fatimah menyambut mereka setelah turun dari panggung. Akbar dan kawan-kawannya merasa sangat senang, karena Fatimah merasa senang dengan penampilan mereka.
Setelah semua peserta lomba tampil, selanjutnya penentuan pemenang berdasarkan pilihan terbanyak dari tamu undangan.
"Pemenang harapan ketiga jatuh pada kelompok Pesona MIPA 1" Ridho yang bertindak sebagai MC untuk acara lomba, membacakan tiap-tiap pemenang. Setiap penyebutan nama pemenang selaku diberikan tepukan yang meriah oleh hadirin. Sampai akhirnya, tibalah pada nama untuk pemenang pertama.
"Dan pemenang pertama untuk lomba kali ini adalah... Kelompok KaniZar's Fans"
Prok prok..