38 +

38 +
Kisah Dani (2)



"Tidak usah kaget begitu, saya bahkan sudah tahu alamat rumah kalian" Tatapan orang tua itu yang tadinya begitu menyedihkan, entah kenapa berubah jadi menakutkan bagi Dani.


"Apa mau anda?"


"Seperti yang saya bilang tadi, menikahlah dengan Raina"


"Tapi, saya tidak bisa menikah dengan Raina. Saya sudah menikah dan saya tidak akan menduakan istri saya"


"Kalian hanya menikah siri, jadi tidak masalah jika kamu menikah dengan Raina. Lagipula, wanita itu tidak cocok mendampingimu. Kamu adalah seorang pewaris di keluarga kita, sedangkan dia hanya dari kalangan biasa, bahkan berasal dari desa"


"Pewaris?? hahaha... bapak kembali berimajinasi rupanya, saya ini Dani pak bukan Raka.. Saya hanya rakyat jelata, sama dengan istri saya, jadi jangan suka bercanda, gak lucu tahu pak" Dani tidak bisa menahan tawanya mendengar penuturan pak Handoko.


'Kehilangan anak betul-betul bisa membuat orang stress'. Batin Dani.


"Saya tidak bercanda, saya serius. Kamu pikir, kenapa kamu bisa mirip dengan Raka dan saya, itu karena kita adalah keluarga. Kamu adalah anak dari saudari kembar saya"


"Bagaimana bapak bisa begitu yakin kalau saya adalah anak dari saudara kembar anda, pasti anda salah orang. ibuku sama sekali tidak punya saudara" Dani tak mau kalah.


Pak Handoko hanya mampu menghela nafas dan akhirnya menjelaskan pada Dani.


"Saat Raka kecelakaan dan dinyatakan meninggal dunia, kakekmu terkena serangan jantung, untunglah masih bisa diselamatkan. Raina yang saat itu juga ikut menyusul ke rumah sakit, begitu terpukul dan akhirnya di rawat di rumah sakit juga.


Dokter lalu mengatakan bawa Raina hamil. Mendengar berita itu, kakekmu menjadi bersemangat dan bisa cepat pulih. Berbeda dengan Raina, yang sulit menerima kenyataan.


Melihat keadaan Raina yang hamil dan masih belum menerima kenyataan bahwa Raka telah meninggal. Kami memutuskan untuk semntara menyembunyikan kematian Raka" Pak Handoko mengambil nafas lalu melanjutkan.


"Ayah Raina, berkata akan menikahkan Raina dengan lelaki lain agar nama baik mereka terselamatkan. Kami tak setuju karena kalau sampai Raina menikah dengan orang lain, maka anak dalam kandungannya, akan menjadi anak mereka secara hukum. Padahal, dia adalah anak Raka. Anak itu adalah harapan kami, sebagai penerus keluarga ini"


Dani kembali menatap pak Handoko. Dia bisa paham dengan masing-masing kepentingan orang-orang kaya ini. Keluarga Raka yang butuh pewaris, sedangkan ayah Raina tidak ingin nama baik keluarganya tercoreng karena anaknya hamil di luar nikah. Tapi apa mereka memikirkan perasaan Raina? Dia bahkan baru kehilangan, tapi orang-orang ini hanya memikirkan kepentingan sendiri.


Dani tentunya hanya mampu menggerutu di dalam hatinya.


"Lalu, ayah Raina berpapasan denganmu di kantor dan melihatmu sangat mirip dengan Raka. Dia pun menceritakannya padaku, karena menganggap saya memiliki anak lain. Saya kaget mendengarnya, lalu kami pun menyelidikimu. Akhirnya, kami tahu bahwa kamu adalah anak dari saudari kembar ku yang memilih menikah dengan pria miskin dari desa, daripada mengikuti keinginan ayah kami untuk menikah dengan anak dari teman bisnisnya.


Dia pergi dari rumah dan kami tidak pernah bertemu lagi. Tak disangka, dia memiliki anak sepintar dirimu, dan begitu mirip denganku dan tentunya Raka saudara sepupumu" Pak Handoko masih terus bercerita. Antara percaya dan tidak percaya, Dani hanya diam mendengarkan. Dia akan menanyakan kepada mama Hani nanti.


"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya pada ibumu. Kami hanya dua bersaudara, yang terpisah karena cintanya pada laki-laki itu.


Setelah kepergiannya, ibu kami sakit-sakitan. Tapi, beliau selalu berharap dapat bertemu lagi dengan ibumu dan memintanya kembali ke rumah" Sendu pak Handoko


" Dani, kamu adalah keponakanku, kamu yang akan menggantikan Raka, karena saya hanya memiliki seorang putra. Karena dia telah meninggal, otomatis kamu harus mengambil alih perusahaan menggantikannya.


Kamu juga harus mengambil tanggung jawab atas Raina, karena dia sedang mengandung anak Raka, saudaramu. Jika tidak, anaknya akan di cap sebagai anak haram oleh masyarakat. Dan nama baik keluarga kita dan keluarga Raina akan tercoreng "


Dani hanya terkekeh. Dia bingung setengah kesal dengan orang tua didepannya. Dia bicara seolah-olah Dani adalah boneka yang bisa diperintah sesuka hati. Jika memang dia adalah pamannya, lalu kemana mereka selama ini. Mereka sangat kaya, lalu kenapa tidak bisa menemukan mereka. Giliran butuh saja, mereka begitu cepat menemukan dan memerintah ini itu.


"ohh.. jadi saya keluarga kalian? ibuku saudara kembar anda?, hahaha... hebat sekali anda" ucapnya sambil bertepuk tangan.


"Lalu kemana Anda selama ini, anda seakan lupa kalau punya seorang saudari. Apakah anda tidak khawatir padanya sedikitpun hingga tak pernah mencarinya. padahal anda tahu dia menikahi pria miskin, tentunya akan banyak kesulitan yang dialami seorang putri Sultan seperti dia jika harus hidup melarat.


"Melihat cara anda menilai istri saya, saya cukup paham, mama saya bukan pergi tapi pasti kalian usir kan, karena memilih menikahi papa?. Dan sekarang, anda mau saya jadi pengganti Raka? hahaha... lucu sekali anda. Saya Dani, dan selamanya akan tetap jadi Dani anak ibu Hanifah. Saya tidak sudi menjadi Raka.


Dan sekali lagi saya tekankan, saya tak akan menikah dengan Raina" Lalu Dani beranjak dari tempat duduknya, hendak meninggalkan restoran itu.


Melihat hal itu, Pak Handoko pun berkata dengan pelan, tapi penuh penekanan.


"Istrimu sering kali pulang sendiri dari kantornya. Bukankah, akan sangat menyedihkan jika dia tiba-tiba mengalami tabrakan...."


"Jangan ganggu istriku" Dani mengetatkan rahang menahan emosinya.


"Itu tergantung dari sikap dan pilihanmu, Dani. Apalagi, jika kakekmu sampai tahu kamu memiliki istri dari kalangan miskin. Sampai sekarang, beliau tetap menjunjung kesetaraan dalam hubungan pernikahan. Tentunya ini berbeda denganmu, karena kamu adalah satu-satunya cucunya yang tersisa. Jadi pasti kamu akan diterima dengan baik saat Kembali ke keluarga kita, walaupun ayahmu orang dari kalangan bawah. Nenek mu juga akan sangat bahagia bertemu dengan ibumu. Jadi pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan. Saya memberi waktu, 3 hari untuk berpikir. Hari Sabtu, datanglah ke tempat ini memberikan jawabanmu" Pak Handoko, kembali menikmati minuman didepannya, sambil menatap kepergian Dani. Dia yakin, Dani pasti akan menikah dengan Raina.


***


Dani memasuki rumahnya dengan langkah gontai, kejadian hari ini benar benar menguras pikirannya. Kaniya yang duduk di ruang tamu, segera menyambut kedatangan suaminya.


Diraihnya tangan sang suami, lalu dikecup dengan khidmat. Dani membalas dengan kecupan di dahi.


"kok lama sih pulangnya, kak? Banyak kerjaan yah di kantor" tanya Kania sambil memberikan air minum kepada sang suami saat telah tiba di kamar dan duduk di sisi ranjang.


"Iya, yang. Aku sibuk banget tadi" lalu diminumnya, air hangat yang diberikan sang istri. Dani memang punya kebiasaan minum air hangat ketika baru pulang kantor, alih-alih air dingin.


"Kalau gitu, kita di rumah aja yah kak, makannya. Biar aku pesan makanan dulu" Kaniya langsung memesan lauk secara online. Lalu mendorong suaminya masuk kamar mandi. Sedangkan dia menyiapkan pakaian untuk dipakai suaminya.


Dani yang kelelahan, hanya bisa mengangguk, seolah tak bertenaga.


"Yang, aku kok kayaknya lemas banget yah, bantu aku dong menggosok badan" pinta Dani dengan tatapan menghiba.


Kaniya yang merasa kasihan pada suaminya akhirnya ikut masuk ke kamar mandi, tanpa rasa curiga.


Kaniya meletakkan pakain Dani di atas ranjang, dan mengikuti suaminya ke dalam kamar mandi. Dani begitu senang dengan sang istri yang langsung menurut. Seketika lelahnya hilang dan kembali memiliki banyak tenaga.


Dani memutar kran air, hingga air berjatuhan membasahi mereka. Kaniya yang tidak siap,.ikut basah karena perbuatannya.


"Kak.. kok gak bilang-bilang sih, main putar aja krang airnya. Kan aku jadi basah" gerutu Kaniya.


"yah..gak apa-apa, kita sekalian aja mandinya, barengan" ucap Dani santai. Lalu di tariknya sang istri supaya merapat kepadanya di bawah guyuran air. Kaniya mau tidak mau hanya bisa menurut. Kaniya mulai membantu menggosok badan suaminya, dan begitupula sebaliknya.


"Yang..., kamu dah bersih kan. Aku.. kangen" Dani menatap sang istri dengan sayu, lalu pandangannya turun ke arah bibirnya. Tamu bulanan sang istri memang sedang menyapa sepekan ini.


Kaniya yang paham dengan tatapan itu hanya bisa mengangguk dan sang suami pun tersenyum bahagia.


Dani meraup bibir sang istri dan mengecapnya dengan lembut yang disambut baik oleh Kaniya. Mendapat balasan yang manis, Dani mulai melanjutkan aksinya hingga kegiatan mandi mereka menjadi sangat lama.


***