38 +

38 +
Permintaan Nur



Suasana ruang keluarga begitu tegang. Tak ada kata yang terucap, aura yang terpancar begitu suram. Bahkan ayah Abidzar yang terbiasa bersifat hangat pada keluarganya, kali ini terlihat begitu marah. Sedangkan Syifa sedari tadi telah dibawa ke kamarnya oleh pelayan.


"Bagaimana bisa, Nur? bagaimana bisa kamu mau menerima laki-laki itu menjadi suamimu?" Abidzar menatap nyalang adiknya yang tertunduk begitu selesai mengungkapkan permintaannya agar bisa menikah dengan Afdhal.


"Ini semua keinginan Nur, kak. Selama ini Nur telah salah karena pergi begitu saja dari Afdhal. Itu karena, aku tak bisa menerima perlakuan Afdhal yang saat itu ternyata terpengaruh obat. Nur sangat mencintainya, tapi Kenyataan bahwa orang yang aku cintai malah menghancurkan kehormatanku dan dia masih mencintai orang lain sangat menyakitiku, kak. Itu sebabnya aku memilih pergi saat itu" Nur berusaha menjelaskan. Dia telah cukup melihat kesungguhan Afdhal. Afdhal benar bahwa mereka harusnya menyelesaikan permasalahan mereka bersama-sama.


"Apa kamu lupa, Nur? Berapa tahun yang harus kamu habiskan untuk menghilangkan traumamu. Berapa air mata dan teriakan menyesakkan saat kau menatap Syifa. Kamu bahkan tidak bisa merawat anakmu sendiri. Dan sekarang, kamu begitu mudah menerimanya dalam hidupmu?"


"Maafkan aku, yah. Tapi.. semua ini memang kesalahanku. Aku yang memperumit keadaan ini. Tolong, biarkan aku bersama Afdhal" Nur masih tersedu dalam isaknya.


Dia memang salah waktu itu. Harusnya, dia lebih tegar dan menunggu Afdhal, bukan malah meninggalkannya tanpa jejak.


Afdhal memang salah, tapi dia dalam pengaruh obat. Nur pun akhirnya tahu bahwa obat per******** itu sebenarnya untuknya, tapi malah Afdhal yang meminumnya. Entah lebih hancur seperti apa hidupnya saat dia yang meminum obat itu.


Afdhal tidak sepenuhnya salah. Nur pun tahu bahwa Afdhal mencintai wanita lain. Wajar jika dalam keadaan tak sadar, dia menginginkan wanita itu yang bersamanya. Masalahnya adalah, hati Nur yang sangat mencintai Afdhal saat itu tak bisa menerimanya. Dan saat ini, Nur telah berusaha untuk berdamai dengan masa lalu.


"Nur, ayah tidak mau kamu menderita lagi nak. Jadi tolong pikirkan lagi. Jika pun Syifa yang menjadi alasanmu untuk menerimanya, bukankah kamu paham bahwa secara hukum agama, mereka tidak terikat hubungan keluarga. Nasab Syifa jatuh padamu, bukan padanya. Dan secara hukum negara, Syifa adalah anak dari kakakmu. Jadi, apa alasanmu menerimanya?"


"Maafkan Nur, ayah. Tapi, Nur mencintai Afdhal. Selain itu, dengan menikah dengan Afdhal, Syifa akan menjadi satu keluarga dengan ayah kandungnya. Meskipun nasabnya tetap padaku dan Afdhal suatu hari nanti tak bisa jadi wali nikahnya, tapi mereka bisa lebih bebas saling mengungkapkan rasa sayangnya" jawab Nur. Keputusannya untuk menikah dengan Afdhal sudah bulat. Dia telah memikirkan segala sesuatunya.


Kaniya dan ibu hanya menyimak dari tadi. Kaniya tak ingin ikut campur dalam masalah ini, meskipun dia sangat paham dengan kegundahan hati Abidzar.


Sedangkan ibu, beliau tak ingin membela salah satu dari mereka. dia paham dengan suaminya. Bagaimanapun juga, selama ini suaminya lah yang terus mendampingi Nur untuk berobat. Tapi, diapun paham dengan keinginan Nur. Dengan menikahi Afdhal, Syifa dan Afdhal akan memiliki hubungan kekeluargaan melalui dirinya. Mereka akan jadi ayah dan anak yang sebenarnya meskipun Syifa tak bernasab padanya.


"Nur, apakah kamu akan mengambil Syifa saat menikah nanti?" Tanya Abidzar sendu. Kaniya menggenggam tangan suaminya. menguatkan.


"Tidak, kak. Biarlah dia tetap menjadi anak kakak secara hukum negara. Aku dan Afdhal sudah sepakat akan hal itu. Tapi, bairkan kami membawanya bersama kami, tiga kali sepekan. Aku juga akan mengenalkan Afdhal sebagai papanya. Dan setelah cukup dewasa, kami akan menceritakan semuanya pada Syifa" Jawab Nur.


"Baiklah, semua keputusan ada padamu. Tapi, kakak mohon padamu, dahulukan kebahagiaan Syifa. Jika dia tidak bisa menerima Afdhal sebagai papanya, jangan dipaksakan" Nur menghela nafas lega mendengar penuturan Abidzar. Itu berarti, abidzar mulai memberikan izin dia menikah dengan Afdhal.


Lalu ditatapnya sang ayah.


"Yah... maafkan Nur. Nur mohon, berikan izin pada Nur untuk menikah dengan Afdhal. Selama ini, Nur tidak pernah betul-betul bisa melupakannya. Mungkin hal itu pula yang menyebabkan pemulihan kesehatan Nur berjalan lambat"


"Kamu sudah dewasa, nak. Maafkan ayah yang terlalu keras padamu tadi. ayah hanya menginginkan kebahagiaanmu. Jika memang itu Afdhal, ayah akan merelakanmu menikah dengannya. Tapi, sebelum ayah memberikan. restu. Minta dia menemui ayah besok" Ucap ayah.


"Baik, Yah. Nur akan menghubungi Afdhal agar menemui ayah besok" Jawab nur dengan senyuman.


"Yah, terimakasih" Ayah hanya mengangguk.


"Nur, perlu kamu tahu bahwa Afdhal lah dulu yang melamar Kaniya. Dia telah mencintai Kaniya sejak dulu. Apakah kamu sudah tahu kenyataan itu?" Tanya Abidzar dengan raut serius. Dia tak ingin ada masalah dengan mereka hanya karena adiknya tidak tahu masalah ini.


Kaniya menatap Nur dengan rasa tidak enak. Banyak sedikitnya, dia telah tahu tentang permasalah Afdhal dan Nur.


"Syukurlah, kalau begitu" ucap Abidzar. Lalu mereka mengakhiri pertemuan malam itu dan kembali ke kamar masing-masing.


****


Esok harinya Abidzar bersiap berangkat ke kantor dan mengantar Syifa ke sekolahnya. Sarapan pagi berlangsung seperti biasa, semua anggota ke keluarga berkumpul dan celotehan Syifa menjadi bumbu penyedap kebersamaan mereka.


"Yah, hari ini aku sama mama aja yah, soalnya ayah kan ada meeting penting sama kakek, jika ke sekolahku dulu, ayah pasti terlambat" Seperti biasa, Syifa selalu perhatian pada ayahnya.


"Dari mana kamu tahu kalau ayah ada meeting pagi ini?" Tanya Kaniya penasaran.


"Aku lihat di hp ayah, Bu. Ada pengingat tentang meeting hari ini. Itu berarti meetingnya sangat penting"


"Kok kamu bisa yakin gitu kalau meetingnya penting?" Kaniya terus bertanya karena penasaran. Sedangkan Abidzar mengulum senyum melihat raut wajah sang istri.


"Ayah selalu melakukannya pada meeting-meeting penting perusahaan, Bu. Ayah bilang, takut lupa kalau nggak ada pengingat" Jelas Syifa.


Kaniya akhirnya paham dan hanya bisa ngangguk ngangguk.


"Kalau begitu, ayah berangkat sama kakek. Syifa berangkat bareng mama yah"


Syifa mengangguk, lalu berdiri dari tempatnya. Dia berpamitan pada nenek dan kakeknya, lalu pada ayahnya dan Kaniya..


****


Di kantor, Abidzar telah menyelesaikan satu meetingnya. Namun, dia masih harus menemui rekan bisnis mereka yang lain di luar kantor.


Tapi, baru beberapa langkah ke luar kantor, Abidzar melihat Afdhal keluar dari mobilnya.


Abidzar cukup terkejut, tapi akhirnya ia ingat bahwa lelaki ini sekarang mengejar adiknya, bukan lagi istrinya. Jadi, dia tidak akan melarang. Meski demikian, dia masih belum begitu rela sebelum memberikan pelajaran padanya dan melihat kesungguhannya meminang sang adik.


Dia dengan mantap menunggu Afdhal di jalan masuk kantor. Afdhal yang melihat abidzar berdiri menghadangnya, hanya mampu tersenyum. Dia sangat paham akan perasaan abidzar. Andai itu dia, pasti tidak akan pernah memaafkan seseorang yang telah menghancurkan kehormatan adik perempuan satu-satunya


Meskipun agak ngeri dengan tatapan itu, tapi Afdhal menguatkan hati berjalan ke arah Abidzar. Tepat di depannya, Afdhal berhenti.


Afdhal hendak mengulurkan tangan untuk berjabat tapi Abidzar malah menepisnya dan bersiap memukul Afdhal.


Afdhal tentu hanya akan diam, karena dia merasa pantas mendapatkannya. Meskipun tahu rasanya pasti sakit, tapi itu belum seberapa dengan luka yang ditorehkannya.


***