38 +

38 +
Menguak masa lalu (1)



Kaniya dan Afdhal sampai di pantai dalam 10 menit perjalanan. Kaniya turun dari mobil lalu melangkah ke pinggir pantai, melepas sepatu tapi tidak kos kaki nya.


pantai nampak sepi, karena panas matahari telah menyengat. Pukul 11.30, tapi Kaniya tidak merasa terganggu dengan panas matahari.


Afdhal yang melihat Kaniya, segera menyusul. takut, Kaniya kembali kehilangan fokus.


"Kaniya..." Kaniya menoleh dan tersenyum.


"Sudah lama banget aku gak ke pantai. Rasanya ingin berlarian, membuat rumah pasir, mengumpulkan kulit kerang, seperti dulu waktu kita masih kecil dan diajak ke pantai bersama teman-teman yang lain di sekolah, tapi malu.. Sekarang, kalau ingin seperti itu jadi ingat umur, heheh... Aku kan sudah tua, kamu juga" Kaniya kembali terkekeh setelah menyelesaikan ucapannya.


"Usia tidak jadi halangan untuk melakukan itu semua Kaniya. kamu bebas melakukan apa yang kamu mau disini, termasuk menangis kencang atau berteriak marah" Kaniya menatap Afdhal dengan mata berkaca-kaca.


Kehadiran Dani membuat lukanya kembali menganga. Dia ingat ayahnya, mengingat raut kecewa dari wajah sang ayah, mengingat sang ayah dengan berat hati menyerahkannya pada Dani sang pujaan hati saat itu, bahkan tanpa kehadiran saudara-saudaranya.


'khizzz...khizzz...' tangis itu pun akhirnya pecah. Makin lama makin menyayat hati.


Afdhal hanya menatap Kaniya dalam diam. Dia membiarkan Kaniya menumpahkan segala keresahan hatinya dalam tangis.


"Ayahhhhhhhh... Maafkan Kaniya... maaf atas kesalahanku... maaf untuk membuatmu kecewa" Kaniya berteriak ke arah ombak yang terus menderu, berkejaran ke pinggir pantai, menghempas kaki Kaniya.


Andai waktu bisa diulang, Kaniya tidak ingin mengenal Dani, tak ingin mencintainya begitu dalam, tak ingin membuat ayahnya kecewa, tak ingin membiarkan dirinya ditipu begitu saja dan tak ingin kehilangan ayahnya dengan membawa kesedihan karena masalahnya.


"Kamu tahu Dhal, aku begitu menyesali masa laluku hingga ingin ku kubur saja. Aku tak ingin bertemu dengannya lagi. Bukan karena aku begitu mencintainya, tapi karenanya aku membuat ayah kecewa. Karenanya, aku membuat ayah bersedih di sisa umurnya" ratap Kaniya. Dia lalu menceritakan kisah yang Afdhal lewatkan tentangnya. kisah yang bahkan saudara-saudaranya tidak tahu


Flash back on


"Ayah....??"


"Apa yang kalian lakukan.." ayah menatap Kaniya dan Dani yang berada dalam posisi Dani di atas tubuh Kaniya.


Ayah Kaniya yang melihat posisi itu langsung berpikiran negatif. Dia tidak menyangka, anak yang begitu dibanggakannya, dipercaya sepenuh jiwa, berbuat seperti ini.


"Ayah... ini tidak seperti yang ayah lihat" Kaniya mendorong Dani yang masih terpaku di atasnya, hingga terjungkang ke belakang.


"Lalu?? apa yang harus ayah pikirkan saat anak gadis ayah berduaan dengan seorang pria dengan posisi yang.... astagfirulqlah...." menghela nafas, ayah Kaniya berusaha menenangkan hatinya. Jika tidak, darah tingginya akan kumat, dan dia tidak membawa persediaan obat.


Ayah terduduk dilantai, menatapi sang putri dengan tatapan penuh kekecewaan. Dani terdiam disudut kamar, bahkan tidak mengeluh sakit saat terjatuh didorong Kaniya tadi.


"Apa salah ayah Kaniya, kenapa kamu ingin menarik ayah ke neraka dengan perbuatanmu ini. Kenapa Kaniya???"


"Om.. Kaniya tidak salah, tadi itu..."


"Diam kamu!! saya tidak bicara denganmu. Panggil orang tuamu kemari. saya akan bicara dengan mereka tentang kalian"


"Tapi yah, kami tidak melakukan apa-apa, kak Dani tadi itu..." Kaniya bingung sendiri menjelaskan kejadian tadi. Jujur pun sama saja mereka tetap salah, dan memang sudah ada niat untuk berbuat lebih tapi tidak jadi karena kedatangan ayah.


"Kenapa berhenti? bingung cara menjelaskan? Jika ayah tidak datang, entah apa yang akan kalian lakukan" ayah lalu menatap ke arah Dani. "Sekarang, panggil orang tuamu" Dani yang melihat kemarahan dalam tatapan mata ayah Kaniya, hanya bisa menelan ludah dan segera menelpon orang tuanya.


Pintu yang terbuka, dan ruang kamar yang memang tidak kedap suara, membuat penghuni lain dapat mendengar mereka. Wajah-wajah penasaran tampak di depan pintu kamar Kaniya.


Namun, saat ayah menoleh mereka memilih kembali ke kamar masing-masing. Mungkin tidak ingin terlihat melihat betapa hancurnya hati sang ayah. atau mungkin juga tak ingin disalahkan karena membebaskan seorang laki-laki masuk ke kamar salah seorang penghuni perempuan.


***


Suasana kamar itu begitu sepi, hanya aura mencekam yang terasa. Wajah Dani tampak biru bekas tamparan dari papanya. Sementara Kaniya, wajahnya telah sembab, dipenuhi air mata.


"Sebagai papa Dani, saya sangat menyesal dengan kelakuan putra saya pak. Maafkan kami yang tidak pandai mendidik anak" ayah Dani, berkata dengan penuh penyesalan.


"Saya tidak akan menyalahkan anak anda saja, karena dalam hal ini Kaniya pun bersalah. Bahkan... saya yang paling bersalah karena telah gagal mendidiknya dengan pendidikan agama" ayah Kaniya menundukkan kepala.


"ayah... tapi Kaniya masih kuliah, kak Dani baru bekerja yah, belum bisa menikah. Kami akan menikah 5 tahun dari sekarang" Kaniya berusaha melakukan penawaran, lalu menatap Dani.


"Om, pa, ma, Dani baru bekerja dan telah menandatangani perjanjian untuk tidak menikah selama 5 tahun ke depan. Jika melanggar, Dani akan dikenakan denda dan pemutusan hubungan kerja" Lanjut Dani menjelaskan keadaanya.


Dia bukannya tidak mencintai Kaniya, tapi untuk bisa mencukupi kehidupan mereka, dia harus bekerja. Dan perusahaan tempatnya bekerja sekarang, memberikan gaji yang cukup besar tapi dengan berbagai peraturan yang sangat ketat. Termasuk tidak bisa menikah sampai masa kerja 5 tahun.


"Tapi, Saya tidak ingin sampai anak saya terjerumus dalam zina. lebih baik kamu keluar dari pekerjaan itu dan menikah. Saya akan tetap membiayai kuliah Kaniya, dan kamu bisa mencari pekerjaan lain" ayah Kaniya tetap teguh dengan keputusannya.


Dani yang merasa menemui jalan buntu akhirnya mengambil keputusan. Dia menatap orang tuanya yang hanya pasrah dengan segala keputusan mereka. Dia sangat sadar bahwa setiap ayah tidak akan pernah rela anaknya melakukan hal seperti ini.


"Om.. saya tidak ingin membuat Kaniya hidup menderita dengan kerja tidak jelas. Biarkan saya tetap bekerja, dan kami akan menikah siri"


"Apa??" Ayah merasakan kepalanya sakit saat mendengar permintaan Dani. Dia tidak ingin anaknya menikah hanya secara agama. Bagaimanapun, yang akan dirugikan adalah kaum perempuan. Hidup dalam ikatan pernikahan tanpa payung hukum.


"Saya meminta anda menikahkan kami secara siri. Dengan demikian, kami bisa tinggal bersama dan terhindar dari zina. Kami akan menunda untuk punya anak, sampai pernikahan kami terdaftar.


Tapi, jika anda tidak setuju, saya tidak akan memaksa. Lagi pula, saya dan Kaniya tidak melakukan apa-apa tadi. Kaniya sampai saat ini masih terjaga kesuciannya.


Untuk kedepannya, Saya akan berusaha lebih menahan diri saya, dan akan melamar Kaniya, 5 tahun yang akan datang" pinta Dani, dan Kaniya menganggukkan kepala menyetujui ide Dani.


"Saya tetap ingin kalian menikah, Kalau tidak Kaniya harus pulang dan menikah di kampung dengan lelaki pilihan saya"


"Yah.. Kaniya tidak mau menikah dengan orang lain yah. Kaniya cinta sama kak Dani. Kaniya rela menunggu kak Dani, lagian Kaniya masih kuliah yah, dan Kaniya...."


"Diam Kaniya, ayah tidak mau kamu berbuat dosa"


"Kalau begitu, izinkan kak Dani menikahi Kaniya secara siri. Kaniya percaya pada kak Dani. Kak Dani mencintai Kaniya seperti Kaniya mencintainya ayah, dia tak akan menyakiti Kaniya."


Para orang tua yang ada di ruangan itu tampak tercengang dengan keputusan Kaniya. Begitu cintanya dia pada Dani hingga mau menikah secara siri.


Ayah menatap Kaniya dengan rasa kecewa yang dalam. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, menikahkan mereka lebih baik daripada terjerumus ke dalam zina. Bahkan saat dipisahkan pun, Kaniya kemungkinan akan tetap berlari pada pria ini.


"Baiklah, ayah akan menikahkan kalian. Ayah akan meminta teman ayah di kota ini untuk mengurus pernikahan kalian secara agama. Tapi, jangan harapkan kedatangan saudara saudaramu, karena ayah tidak akan memberi tahu mereka. Termasuk ibumu, ayah hanya akan menyampaikan padanya, tapi tidak mengijinkannya untuk datang. Anggap ini hukuman ayah untukmu.


Kau pun tak ayah terima kembali ke rumah sebelum pernikahan kalian terdaftar secara hukum negara. Jatah bulanan dari ayah akan tetap dikirim ke rekeningmu Kaniya. Tapi ayah, ibu dan kakak-kakakmu tidak akan datang menemuimu. Ayah akan membuat alasan, agar mereka tidak menemuimu.


Setelah kalian menikah, ayah akan membebaskan kalian untuk tinggal bersama, tapi ayah minta, kalian tunda memiliki anak. Agar tidak terjadi fitnah terhadap anak kalian di mata orang-orang yang tidak tahu kalian telah menikah. selain itu, jika kalian punya anak, statusnya pun tak akan jelas, karena pernikahan kalian saja belum terdaftar"


Kaniya hanya terus menangis mendengar ucapan sang ayah. Orang tua Dani pun hanya bisa menurut pada keinginan calon besannya. Mereka akan tetap menerima Kaniya dan Dani di rumahnya.


Mama Dani sampai meneteskan air mata, merasa begitu kasihan pada Kaniya yang harus kehilangan keluarganya demi bisa bersama anak mereka. Meskipun itu hanya sementara, tapi berpisah dengan orang tua bukanlah hal yang mudah bagi seorang anak perempuan.


Ayah pamit untuk mengurus pernikahan Kaniya dan Dani. Tapi, papa Dani menyarankan pernikahan diadakan di rumahnya saja. Ayah Kaniya pun setuju karena jika meminta bantuan temannya, maka akan semakin banyak yang tahu sehingga mungkin akan didengar oleh keluarga mereka di kampung.


Mereka lalu berangkat ke rumah Dani. Sampai disana, segala persiapan telah dilakukan. Sebelum berangkat dari kos Kaniya, papa Dani telah menelpon ke rumah untuk mempersiapkan semuanya.


Setelah sampai, Kaniya didandani oleh adik Dani yang seumuran dengan Kaniya. Meskipun dengan pakaian seadanya, tapi Kaniya tetap terlihat cantik. Dia menggunakan kebaya putih milik Mama Dani. meskipun tidak begitu pas dibadannya, namun tidak terlalu longgar sehingga Kaniya tetap nyaman memakainya.


Kebahagiaan itu tetap hadir diantara kesedihan yang mendera. Kaniya bahagia karena secara agama, dia telah resmi menjadi istri Dani, lelaki yang dicintainya.


Andai saja pernikahan ini disaksikan oleh ibu dan kakak kakaknya, kami pasti akan merasa lebih bahagia. Andai saja, pernikahan Kaniya tidak diiringi raut kecewa dan kesedihan ayahnya, pasti Kaniya akan lebih bahagia.


tapi, apalah daya, nasi sudah menjadi bubur, Kaniya telah mengambil keputusan, bahkan rela menentang sang ayah demi bisa bersama Dani tanpa harus membuatnya berhenti bekerja.


Ayah Kaniya pulang setelah ijab kabul dan mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Meskipun kecewa, Kaniya adalah putri yang sangat disayanginya. Dia harus menguatkan hati agar bisa menceritakan ini kepada sang istri dan menenangkannya. Ayah Kaniya sangat sadar bahwa berita ini akan sangat menyakiti hati istrinya.


***