38 +

38 +
Kembali ke kota



Di mobil Abidzar, Ridho yang mengemudi dan abidzar duduk di sampingnya. Sementara Mobil keluarga Kaniya di kemudikan oleh Nindya.


Abidzar memang sudah tidak merasakan sakit tetapi kakinya masih membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya. Bapak Akbar berpesan agar abidzar tidak menggunakan dulu kakinya untuk aktifitas yang berat sampai betul-betul pulih. Itulah gunanya dia diberikan ramuan untuk dioleskan pada kakinya.


"Setelah ini, kita ke rumah sakit yah. Setidaknya, kamu harus periksa dulu kakimu. Meskipun sudah tidak sakit, namun kita tetap harus memastikan ke dokter" Kaniya berbicara dari kursi penumpang di belakang Abidzar. Kaniya duduk bersama Syifa dan ibu Abidzar.


"Baiklah, tapi sepertinya harus ke kota. Kamu bisa ikut?" Tanya Abidzar.


"Aku tanya dulu sama kak Sulaiman dan yang lain. Kalau diijinkan, aku dan ridho akan ikut" Jawab Kaniya.


Abidzar hanya mengangguk, lalu kembali menatap ke depan. Dia merasa tak nyaman saat berbicara harus menoleh ke belakang.


Kaniya memang benar, dia tetap harus memeriksakan dirinya ke dokter. Bukannya tak percaya dengan kemampuan bapaknya Akbar. Tapi, tidak ada salahnya dia mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.


Kaniya sibuk mengirim pesan pada Nindya untuk menyampaikan maksudnya. Tapi karena Nindya sedang sibuk menyetir, sehingga pesannya diabaikan.


Tak berapa lama, mobil telah sampai di depan gerbang villa keluarga abidzar. Nindya ternyata mengikuti dari belakang.


Mereka pun sama-sama masuk ke dalam dan memarkirkan mobil.


"Om Abi mau ke kota? Apa kakinya masih sakit?" Nindya bertanya setelah membaca pesan dari Kaniya di HP nya.


"Sudah tidak sakit, tapi kami mau memastikan aja ke dokter. Bukan apanya, kejadian tadi itu terlalu menakjubkan buat aku. Kayak susah dipercaya sih, tapi nyata dan aku yang merasakan" Abidzar menjelaskan.


"Bagus juga sih memastikan ke dokter untuk menenangkan diri juga. Tapi, di perkampungan, keahlian seperti itu memang sudah biasa sih. buktinya, siswa Kaniya tadi tidak ada yang kaget. Saya juga sering dengar, ada orang-orang yang mengobati patah tulang cuma pake air, ada yang radang telinga dibacakan doa lalu ditiup telinganya atau sakit gigi ditiup pake doa, lalu dikasih kumur pake air garam dan banyak lagi" Jelas Ranti panjang lebar berdasarkan informasi dari tetangga saat sedang berkumpul.


"Iya, kak. Kami hanya ingin memastikan ke dokter, agar tidak merasa was-was. Bagaimanapun juga, ini pengalaman pertama kami menemukan hal seperti ini" Ucap Kaniya.


"Jadi, kamu mau ikut ke kota? memangnya nggak ngajar?" Tanya Tiara.


"Tidak, kak. Aku kosong besok" jawab Kaniya


"Kalau begitu,.kamu ditemani Ridho yah. Bagaimanapun juga, harus ada yang menjagamu disana. Abidzar belum jadi suamimu, jadi kalian belum bisa bepergian bersama meski ada anak dan orang tuanya. Dengan ikutnya Ridho, kami bisa lebih tenang" Putus Sulaiman.


"Iya, kak. Rencananya juga gitu. Lagian, Abi juga belum bisa mengemudi, jadi Ridho bisa menjadi supir kami sementara ini" Jelas Kaniya.


"Kalian berhenti dulu ngobrolnya. kita masuk dulu ke rumah, masa ngobrol di tempat parkir kayak gini sih" Ajak ibu Abidzar pada semua.


Kaniya dan keluarganya mengikuti dari belakang. Sementara Syifa yang dari tadi tertidur karena kelelahan, di gendong oleh pelayan di villa ke dalam kamarnya.


Syifa memang sangat antuasias saat tahu ayahnya akan melamar Tante Kaniya. Sepanjang malam dia terus bertanya ini dan itu pada neneknya. Hingga baru tertidur setelah dibacakan dongeng oleh sang ayah agar berhenti berceloteh karena sibuk menyimak. Jam 11 malam setelah menyelesaikan dua dongeng, akhirnya Syifa tertidur.


Di dalam villa, telah tersedia minuman hangat di meja ruang tamu beserta kue untuk menyambut tamu mereka. Meskipun ini siang hari, tapi suhu udara lumayan dingin, jadi minuman hangat akan sangat cocok untuk dinikmati bersama.


"Kak, setelah aku yakin kakiku pulih, aku berencana mengajak Kaniya menemui ayah si luar negeri" Abidzar tak ingin menunda pembicaraan kelanjutan hubungan mereka.


"Saya bukannya menolak keinginanmu. Tapi, saya ingin kamu mempertemukan Kaniya dengan ayahmu jika memang sudah benar-benar yakin dengan penerimaan beliau nanti. Saya belum bisa mempercayakan Kaniya kepadamu untuk dibawa sejauh itu. Saya juga berharap, ayahmu sendiri yang akan mendatangi kami untuk melamar Kaniya. Kami anggap itu sebagai bukti penerimaan beliau pada Kaniya" Ucap Sulaiman dengan tegas.


"Baiklah kak, saya mengerti. Saya akan menjelaskan kepada ayah tentang keinginan saya untuk menikahi Kaniya secepatnya. Semoga beliau bisa meluangkan waktu untuk kembali ke negara ini" Ucap Abidzar. Bagaimanapun juga, dia harus menghargai keputusan dari kakak Kaniya yang menjadi pengganti kedua orang tua mereka yang telah meninggal dunia.


"Ayo dicicipi dulu kuenya, nak" seperti biasa, ibu Abidzar selalu berlaku ramah dan perhatian.


Beliau melihat Abidzar yang sudah ngebet ingin menikah dan segera membawa Kaniya menemui ayahnya untuk izin, sebagaimana kebiasaan di daerah mereka. Namun ternyata, Keluarga Kaniya menolak. Ibu Abidzar dapat mengerti dengan keputusan itu. Memang tidaklah bijak membawa Kaniya keluar negeri bersama abidzar, bahkan saat dirinya pun ikut bersama cucunya.


"Terimakasih, Bu" Ranti memulai mencicipi kue dan minuman di depannya. Dia memberikan kode kepada yang lain agar melakukan hal yang sama.


"Selama ikut Tante, kuliah Ridho gimana?" Tanya Ridho. Dia khawatir akan tertinggal kuliahnya. Dia selama ini, bahkan harus berjalan kaki ke kampus. Meskipun telah diberikan jatah yang cukup, tapi Ridho ingin berhemat agar tidak terlalu menyusahkan Tantenya yang terlalu baik hati.


" Kan kita ke kota, Dho. kamu lupa, kampusmu ada di kota" Kaniya menjelaskan.


"Iya yah. hehe... Ridho nggak fokus, tan" padahal, maksud ridho bukan begitu. Bisa saja kan, jarak kampus dan rumahnya Abidzar berjauhan. Sementara dia tidak punya motor.


"Tenang aja, om Abi punya motor di rumah. kamu bisa membawanya ke kampus. atau lebih nyaman pake mobil aja??" Tawar abidzar


"Duh... nggak usah om. justru aku selalu jalan kaki ke kampus karena jaraknya dekat" Jelas Ridho.


"oo.. kalau gitu, kamu nanti diantar supir ke kampus" putus abidzar.


Ridho hanya mengangguk pasrah. Dia sudah setengah mati membangun image sebagai pemuda kampung miskin yang tidak punya apa-apa,.kini malah disuruh antar jemput pake mobil mewah.


'Apa.kata dunia...' bisiik Abidzar dalam hati.


Setelah berbincang cukup lama, keluarga Kaniya pamit karena harus pulang ke kampung sebelum sore. Nindya tidak mau terjebak kabut di jalan. Dia belum mahir membawa mobil, jika ada kabut di jalan.


Pukul empat sore, Kaniya, abidzar, ibu dan anaknya kembali ke kota dengan Ridho sebagai sopir. Abidzar memang tidak pernah membawa supir saat kesini. Karena di villa ini telah ada supir jika mereka ini jalan-jalan.


Sayangnya, saat ke kebun teh, dia memilih menyetir sendiri dan supir diijinkan kembali untuk berlibur bersama keluarga masing-masing.


Supir yang telah ikut abidzar selama membeli villa ini merasa sangat bahagia. Pasalnya, anaknya telah lama minta diantar pergi jalan-jalan, tapi dia selalu sibuk di hari Minggu karena harus mengantar Abidzar dan keluarga.


Bismillahirrahmanirrahim


"Siap yah, kita berangkatttttttt" Ridho langsung menjalankan mobil setelah selesai berucap dengan gaya jenakanya.


Kaniya hanya tersenyum simpul. Tapi, Syifa tampak tertawa terbahak bahak karena ekspresi wajah Ridho saat mengucap kalimat itu.


"Ayo...." Jawab Syifa tak kalah heboh.


Mobil itu akhirnya melaju dengan kecepatan pelan membelah jalan menuju kota tempat tinggal abidzar dan keluarganya.


***