38 +

38 +
Suami??



Persiapan pernikahan Kaniya dan Afdhal dilakukan dengan cepat. Nindya kebagian tugas mencetak undangan untuk dibagikan pada keluarga jauh dan teman-teman Kaniya. Sementara, kakak-kakak Kaniya akan mendatangi rumah keluarga dan tetangga dekat, untuk memberitahu secara langsung.


Kebiasaan seperti ini merupakan adat yang telah dilakukan secara turun temurun. Di desa ini belum menggunakan jasa WO untuk sebuah pesta pernikahan. Masyarakat masih menggunakan cara tradisional.


Rencananya, Akad nikah akan diadakan di rumah Kaniya hari Sabtu dan resepsi pun dilakukan hari itu juga. Sementara, di rumah Afdhal pesta akan diadakan hari Ahad.


"Nin, undangannya sudah tercetak semua?"


"Sudah Tan, tinggal ketik nama-nama yang mau diundang"


"Kalau gitu, untuk urusan penyebarannya bisa diberikan pada Ridho. Biasakan Dho?


"Bisa dong Tan. Aku kan banyak teman, jadi tinggal dibagi aja ke mereka"


"Ok. kalau gitu, urusan sebar undangan sudah selesai" Kaniya menceklis catatan di bukunya.


"Nin, kamu dan ridho besok ikut kakak yah ke kota. Kita jalan-jalan beli semua keperluan yang harus di bawa ke rumah Afdhal" lalu Kaniya kembali mencatat, kebutuhan Afdhal mulai ujung kaki sampai rambut. Dari pakaian hingga parfum.


Sesekali, Kaniya saling berbalas chat dengan Afdhal tentang ukuran sendal, merk sepatu kesukaan dll. Mereka berbalas informasi, Afdhal untuk seserahan dan Kaniya untuk balasannya.


Memang seperti itulah adat di desa mereka. Mereka mencatat kebutuhan itu, karena bisa saja besok lupa harus beli apa. Agar lebih mudah, akhirnya mereka janjian untuk ke kota bersama, tentunya ditemani masing-masing keluarga.


***


Afdhal menjemput Kaniya pukul 8 pagi. Perjalanan ke kota memang dekat, hanya butuh waktu dua jam, tapi jika terjebak macet, maka akan membutuhkan waktu lebih lama.


"Hai calon Ipar" sapa perempuan yang duduk di kursi samping Afdhal. "Maaf yah, kalian belum boleh duduk berduaan di depan, hehe..!" cengirnya menyebalkan di mata Afdhal.


"gak pa pa kok. Memang belum boleh kan. Aku duduk di belakang sama mereka" Kaniya menunjuk Nindya dan Ridho yang keluar dari rumah.


Kaniya masuk ke mobil disusul oleh Ridho dan Nindya. Lalu Afdhal melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


"Persiapan di rumah kamu sudah sejauh mana Kaniya?" Tanya Juliana kakak Afdhal. Wanita berusia 40 tahun yang masih terlihat cantik meskipun sudah punya 2 anak.


"Alhamdulillah 50 persen kak. Mudah-mudahan pekan ini sudah bisa rampung semua. Rencananya, besok aku akan mencoba pakaian pengantin bersama Afdhal" Balas Kaniya.


"oo.. Ok". Lalu perjalanan di dominasi oleh kebisuan diantara mereka. sesekali terlihat Afdhal melirik Kaniya dari kaca.


Akhirnya, mobil berhenti di parkiran sebuah mall. Mall ini merupakan mall terbesar di kota ini. Mereka memilih kesini karena akan lebih mudah mendapatkan semua keperluan disini.


Mereka turun dari mobil dan melangkah masuk ke mall. Sekarang jam 10.40, sehingga Mall sudah terlihat ramai. Mereka segera melangkah menuju toko tujuan berbelanja di Mall tersebut.


Saat sedang serius memilih kemeja pria, seseorang tiba-tiba akan menarik kemeja yang hendak dipilih Kaniya. Kaniya merasa heran, sehingga berhenti menarik kemeja itu dan melihat siapa gerangan yang berebut kemeja dengannya.


"Sayang...? Dia menatap Kaniya seakan tak percaya. begitupun Kaniya yang seakan melotot melihatnya.


'Kenapa dunia akhir-akhir ini terasa sempit. Setiap ke kota aku malah ketemu dia' batin Kaniya. Dia berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu. Tapi sebuah tangan mencegahnya.


"Sayang.. Tolong dengarkan penjelasan ku kali ini" Dani terus berusaha tapi Kaniya berontak. Dia tidak ingin lagi memberikan kesempatan kepada Dani untuk menjelaskan. Dia tahu, saat dia mendengarnya maka akan kebohongan lain yang akan diucapkan Dani. Sekarang mereka hanya masa lalu, dan bagi Kaniya masa lalu harus ditinggalkan di belakang, boleh menoleh tapi tidak untuk berbalik kembali.


"Lepas..."


"Ada apa ini .." Kaniya kaget saat mendengar suara Afdhal bertanya.


"Dhal... kamu.. apa sudah selesai ke toilet" tanya Kaniya dengan gugup.


Afdhal hanya mengangguk dan menatap heran kepada Kaniya dan laki-laki yang memegang tangan Kaniya.


"Dan anda.., tolong lepaskan tangan anda dari calon istri saya. Karena setahu saya, anda bukan salah satu mahramnya" Tegas Afdhal.


"Calon istri?? sayang... apa maksudnya ini?"


"Sayang...?" Tanya Afdhal bingung menatap Kaniya.


Kaniya hanya mampu terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Apakah ini saat yang tepat baginya menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


"Adinda Kaniya Putri, kenapa laki-laki ini memanggilmu, sayang... Siapa dia??" Tegas Afdhal meskipun dengan suara yang ditekan agar tidak menarik perhatian orang banyak.


Kaniya merasa takut melihat pancaran rasa marah pada ucapan Afdhal.


"Saya Dani, suami Kaniya" Dani memperkenalkan diri dengan begitu percaya diri.


"Suami???" Afdhal tak mampu menutupi rasa kagetnya. 'Kapan Kaniya menikah, kenapa orang di kampung tidak tahu. dia dijuluki perawan tua bukan perempuan bersuami apalagi janda' batin Afdhal.


Dia kenal Kaniya dari kecil. meskipun terpisah saat Kaniya harus kuliah di kota, sedangkan Afdhal menyelesaikan SMA nya di desa ini. Mereka jarang bertukar pesan karena minimnya alat komunikasi saat itu.


Kaniya pernah kembali ke desa dan Afdhal bertemu dengannya yang berbeda dengan Kaniya yang dulu sangat ceria. Saat itu, Kaniya telah menyelesaikan pendidikan di kota dan bekerja tapi tiba-tiba berhenti dari pekerjaannya.


Belum sempat Afdhal dan Kaniya berbagi cerita, Afdhal harus kembali ke kota tempatnya kuliah karena ada panggilan pekerjaan. Dan Kaniya melanjutkan S2 di kota lain. Mereka pun jarang bertegur sapa, karena kesibukan masing-masing, meskipun alat komunikasi telah canggih.


"Dhal.. dia..dia masa lalu yang kuceritakan dulu. Tapi, sekarang kami tak memiliki hubungan apa-apa" Kaniya mencoba menjelaskan garis besarnya.


"Tolong jangan menggangguku lagi. kesempatan anda dulu sudah habis. saya sudah pernah mendengarkan penjelasan anda, tapi ternyata semua bohong dan bukti kembali berbicara. Jadi kumohon, jangan berulah hari ini ataupun di masa depan" Kaniya menjeda ucapannya. Lalu menoleh ke arah Afdhal.


"Ayo Dhal, aku akan menjelaskan semuanya padamu tapi tidak disini" Kaniya berjalan kedepan tanpa memperdulikan Dani ataupun Afdhal di belakangnya.


Kaniya sudah cukup merasa shock bertemu lagi dengan Dani. Dan Dani masih menganggap dia sebagai istrinya. Sungguh lucu orang itu, bagi Kaniya.


Cinta Kaniya untuk Dani telah habis seiring dengan penghianatan nya. Yang tersisa hanya benci, itupun mulai tergerus secara perlahan. Hanya ada rasa muak saat Kaniya melihat laki-laki itu saat ini. Bahkan ia merasa menyesal pernah begitu hanyut dalam cintanya.


Kaniya terus berjalan, tanpa sadar arah dan tujuannya. Sampai ia tiba-tiba ditarik oleh seseorang dari belakang.


"Kamu gila yah... Kamu berniat bunuh diri??" Kaniya menatap sekitar, dia telah berada di pinggir jalan. Kaniya hampir saja tertabrak sebuah mobil, andai saja Afdhal tak segera menariknya.


Kaniya seringkali hanyut dalam pikirannya dan seakan lupa dengan sekelilingnya. Afdhal memahami ini, karena setelah bertemu kembali Kaniya beberapa tahun lalu saat Kaniya kembali dari kota, Kaniya memiliki kecenderungan seperti itu. Kaniya terkadang hilang fokus dan seperti hidup dalam dunianya sendiri.


"Maaf.., aku gak nyadar tadi"


Kaniya menatap Afdhal dengan penuh rasa bersalah. Kaniya menatap ke arah belakang Afdhal, disana ada Dani yang terlihat shock dengan keadaan Kaniya yang seperti itu.


"Sayang, kamu nggak apa-apa?"


"berhenti memanggilku seperti itu. Sekarang ini kita hanya orang asing. Aku sudah tidak ingin berhubungan denganmu lagi"


"Tapi Say..."


"stop... saya bilang, jangan memanggilku seperti itu"


"Baiklah, tapi tolong, beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya. Cukup lama aku mencarimu. Bahkan, aku pernah ke desa mencarimu, tapi ayah bilang kamu pindah kuliah ke kota lain dan beliau tidak ingin memberi tahu tempatnya"


"Maaf, tapi penjelasan anda tak bermakna lagi untukku. Kita sudah berpisah dan tidak memiliki ikatan lagi. Sekarang ini, saya akan meniti masa depan, saya akan menikah dengan Afdhal dua pekan lagi.Jadi, tolong berhenti menggangguku. Jadilah masa lalu, yang tetap hanya ada di masa lalu, jangan pernah datang lagi" Tegas Kaniya, dengan sorot mata tajam. Sekuat tenaga menahan tangis, saat mengingat masa lalunya yang kelam karena pria ini.


"Tapi Kaniya, Aku tidak akan tenang jika belum menjelaskan yang sebenarnya"


"Saya tidak mau mendengar lagi, tolong mengerti... "


" Pak Dani, tolong hargai keinginan calon istri saya. Dia tak ingin lagi berurusan dengan anda. Dan lihat, kita sedang berada dipinggir jalan. saya tidak mau hal ini jadi konsumsi publik"


Dani menatap sekeliling. sejenak tadi dia lupa tempat. Dia menghela nafas kasar.


Kaniya berjalan kembali ke arah mall, kali ini menuju parkiran. Dia akan menyerahkan semua urusan belanja kepada Nindya dan Ridho. semua sudah tercatat lengkap, tinggal dicari.


Dia segera menuju mobil, disusul oleh Afdhal. Afdhal mengirim pesan kepada kakaknya, bahwa dia dan Kaniya harus menuju suatu tempat untuk urusan penting. Afdhal akan menjemput mereka setelah selesai berbelanja.


Afdhal melajukan mobil ke area pantai yang berada cukup dekat dengan mall tersebut. Sedangkan Dani hanya mampu terpaku menatap kepergian Kaniya. Dia kembali gagal menjelaskan kenyataan yang sebenarnya. Kejadian yang disesalinya sampai saat ini. Kejadian yang membuatnya kehilangan wanita yang sangat dicintainya.


***