
"Dhal... hari itu aku sangat sakit hati melihat suamiku menikah dengan perempuan lain. Dia mengingkari janjinya untuk menjadikanku istri satu-satunya. Dan belum sempat aku mencerna dengan baik kejadian itu, aku pun harus kehilangan anakku, anak yang telah lama kuharapkan, namun tak kusadari kehadirannya. Dia pergi karena keteledoran ku. Aku membenci Dani saat itu, sangat membencinya. Aku ingin mengubur semua kenangannya. Aku tak ingin mengingatnya, karena mengingatnya juga akan membuatku ingat akan kepergian anakku, ingat akan tatapan penuh luka ayahku dan kesedihan ibuku" Kaniya terus berbicara kepada afdhal. dia meluapkan segala kemarahannya.
"Put... hei... lihat aku" Kaniya menatap kepada Afdhal yang memanggilnya.
"ikhlaskan semua lukamu di masa lalu, agar kamu bisa menyongsong masa depan dengan senyuman..
Bicaralah dengan Dani, kamu harus berdamai dengan masa lalu. Bagaimanapun juga, masa lalu akan sangat sulit bahkan tak bisa dihapus.
Maafkan dirimu Put, bebaskan dirimu dari rasa bersalah yang mengikat..Kamu bukan penyebab anakmu meninggal, bukan pula penyebab ayahmu bersedih hingga meninggal. Setiap manusia telah digariskan dengan takdirnya masing-masing... jadi cobalah Putri,.maafkan dirimu, berdamailah dengan masa lalumu"
Kaniya meresapi semua perkataan Afdhal, dia mendekat ke arah Afdhal.
"Dhal, setelah mengetahui masa laluku, apakah kamu masih mau menikah denganku??" tanya Kaniya mengerjapkan matanya lucu.
Afdhal gemes sendiri menatap Kaniya yang ekspresi wajahnya begitu cepat berubah. Padahal wajah wanita ini masih sembab karena menangis, tapi kenapa menurutnya malah menggemaskan.
"Tentu saja, aku kan sudah berjanji akan menerima masa lalumu. Andai pun kamu tidak bercerita hari ini, aku juga tidak akan menanyakannya" jawab Afdhal
"Makasih Dhal" Kaniya berucap dengan tulus. Hatinya lega. Dia tidak salah memilih pasangan. keraguannya pada Afdhal selama ini, bisa dia tepis kan.
"Sama-sama, cantik" Afdhal mengerlingkan mata, yang membuat Kaniya tersipu.
Afdhal senang melihat Kaniya sudah bisa kembali tersenyum. Melihatnya tadi, membuat Afdhal sangat takut. Afdhal berharap, Kaniya bisa mempercayai dirinya sebagai tempat berkeluh kesah, tempat untuk bersandar.
"Jam berapa sekarang, Dhal?" tanya Kaniya sambil duduk di atas pasir.
"jam 3"
"hah.... ?" kalau gitu, kita ke musholah dekat sini yah". Tanpa menunggu jawaban, Kaniya berdiri dari tempat duduknya.
***
Setelah menunaikan kewajibannya, Afdhal dan Kaniya memutuskan kembali ke mall tempat mereka berbelanja.
Dani yang dari tadi mengikuti dari jauh, perlahan mendekati mereka. Dia harus menemui Kania dan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.
"Yang..." panggil Dani begitu berada di dekat mereka.
Kania dan dan Afdhal menoleh, mereka menghentikan langkahnya.
"Yang... tolong dengar penjelasan ku" Kaniya menoleh ke Afdhal. Afdhal hanya mengangguk.
Afdhal berpikir bahwa ada hal yang harus mereka selesaikan tentang masa lalu. Karena, Kaniya tidak akan tenang menghadapi masa depan, jika masih menyimpan luka masa lalu. Dan Dani akan terus mengganggu Kaniya jika tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan.
"Baiklah, tapi biarkan calon suami saya ikut. Saya tidak ingin menyimpan rahasia apapun darinya" Dani tidak punya pilihan lain.
Lalu mereka kembali menuju bibir pantai, menyewa salah satu gazebo yang jaraknya agak jauh dari gazebo lain. Melihat hari yang beranjak sore, maka pengunjung akan makin ramai.
"Yang.. kamu..."
"tolong jangan panggil saya seperti itu, saya merasa risih mendengarnya"
"Tapi..." Dani menatap Kaniya yang tampak jengah.
"Baiklah.. "ucapnya menyerah..
Bahkan saat aku melihatmu jatuh pingsan, aku sangat ingin menyusulmu, tapi gak bisa. Apalagi, Raina tiba-tiba kontraksi dan harus di bawa ke rumah sakit"
Kaniya tak mampu membendung air matanya., bukan karena terharu dengan penjelasan Dani. Tapi karena kenangan akan kehilangan anaknya kembali, tepat dihari pernikahan suaminya.
"aku dan Raina sebenarnya memang telah menikah, sehari sebelum resepsi agar Raina yang menganggapku Raka betul-betul yakin dengan pernikahan itu.
Tapi, pernikahan itu tidak terdaftar secara hukum. Sama dengan pernikahan kita. Lalu kami melakukan resepsi agar masyarakat tahu bahwa Raina telah menikah dan anaknya tidak dianggap anak di luar nikah. Keluarganya mengatur sedemikian rupa, bahkan pada undangan dituliskan bahwa pernikahan telah dilakukan 9 bulan sebelumnya.
Aku tak lebih hanya sosok pengganti. Aku pengganti Raka, calon suami Raina. Nama di undangan pun tetap nama Raka. Buku nikah yang ditujukan ke publik pun atas nama Raka. Entah bagaimana keluarga mereka membuatnya.
Tapi, dengan melihat itu, aku sadar bahwa mereka bisa melakukan apa saja agar keinginannya tercapai" Dani menjeda ucapannya lalu menatap ke arah lautan.
Dani terkenang saat dia dan ayah Raka bertemu di kantor, hingga ia pun harus menikah dengan Raina.
Flashback on
Dani mengedarkan pandangannya, sesaat setelah ia berhasil menyelesaikan presentasinya. Dilihatnya wajah-wajah kagum dari peserta yang hadir hari ini, disertai tepuk tangan yang meriah.
Atasannya menatap dengan kagum. Tapi, dia melihat tatapan yang berbeda dari seorang bapak yang mungkin seusia papanya. Tatapan itu begitu dalam, sarat akan kesedihan dan kerinduan. Merasa bahwa Dani menyadari tatapannya, Bapak itu akhirnya hanya tersenyum mengangguk.
Tapi saat Dani keluar dari ruangan, sang bapak ternyata telah menunggunya. Dani hanya dapat mengikuti, saat asisten pribadi dari bapak tersebut memintanya untuk menemui atasannya di restoran dekat kantor.
"Raka..." mata sang bapak berkaca-kaca memanggil nama anaknya sambil menatap lekat wajah Dani. Dani sudah tidak heran saat mendapat perlakuan seperti ini. Karena waktu baru bertemu dengan Raina, Raina bahkan langsung memeluknya karena menganggapnya Raka.
Dani hanya dapat tersenyum maklum, terenyuh dengan sikap sang bapak yang mungkin sangat merindukan Raka.
"Dani, pak. Nama saya Dani. Saya bukan Raka" ucap Dani berusaha mengingatkan bapak di depannya.
"Maaf nak.., saya hanya sangat rindu pada anak saya. Jika saja saya tidak melihat sendiri anak saya dikuburkan, mungkin saya akan menganggap kamu adalah dia yang sudah memangkas rambut" ucap bapak itu sendu.
"Saya Handoko, ayahnya Raka. Dia dan Raina akan menikah, tapi tiba-tiba kecelakaan itu merenggutnya. Kami sangat terpukul atas kematian Raka. Saat ini, istriku bahkan sakit-sakitan karena tidak bisa menerima kematian anak kami" lanjut pak Handoko..
"Saya paham pak, saat pertama kali melihat saya, Raina langsung menganggap saya Raka. Entah kenapa kami begitu mirip, padahal dilihat dari mana pun juga, kami tidak mungkin keluarga. Saya berasal dari keluarga menengah ke bawah, sedangkan keluarga kalian adalah orang terpandang dan kaya raya, hehehee" Dani berusaha mencairkan suasana yang entah kenapa seakan membawanya larut kedalam kesedihan sang bapak.
"Kamu bisa saja nak. tapi kamu benar, kalian memang sangat mirip. Andai, saya tidak melihat sendiri istri saya saat melahirkan, saat ini pasti saya akan melakukan tes DNA. Apalagi, kamu sangat mirip denganku saat muda. Tapi, alismu sangat mirip dengan adik kembarku" pak Handoko kembali menanggapi. Kini matanya terlihat menerawang jauh.
"Kalau boleh tahu, kenapa bapak ingin menemui saya??" Tanya Dani, karena dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya, agar cepat pulang dan bisa mengajak istrinya makan malam di luar.
"Saya ingin memintamu untuk menikah dengan Raina... "
"Apa..??" Belum sempat melanjutkan, Dani sudah menyela ucapan pak Handoko. "Maaf pak. Tapi saya tidak bisa menikah dengan Raina" tegas Dani.
Pak Handoko menghela nafas, lalu menatap Dani.
"Saya mohon, jika kamu tidak menikah dengan Raina, orang-orang akan menganggap bahwa anak itu adalah anak haram karena lahir di luar nikah. Anak itu adalah cucu saya, keturunan satu-satunya keluarga kami dari Raka. Jadi saya mohon, bantulah kami" Pak Handoko memegang tangan Dani.
"Tapi, saya benar-benar tidak bisa menikah dengannya pak" Dani tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Adinda Kaniya Putri,... " Dani menatap pak Handoko dengan kaget mendengar nama istrinya disebut.
***