38 +

38 +
Lamaran mendadak



Kaniya memasuki rumahnya yang terasa sepi. Keluarganya sudah pulang ke desa mereka. Kaniya sekarang hanya tinggal sendirian. Meskipun begitu, Penjaga villa dan istrinya akan kerumah Kaniya untuk membersihkan rumah dan membantu memasak.


Sebenarnya, Kaniya akan menyewa jasa orang lain untuk melakukan itu semua. Tapi, bapak penjaga villa berkata, mereka ingin melakukan itu untuk kaniya. Mereka akan marah, andai Kaniya menolak niat baik mereka.


Kaniya merebahkan dirinya di tempat tidur. Dia mengingat awal pertemuan dengan Abidzar dan anaknya. Mereka bertemu tiga kali secara kebetulan. Lalu entah mengapa dia bisa jadi merasa nyaman bersama mereka.


Suara azan membuat Kaniya segera beranjak untuk berwudhu. Kaniya memilih shalat di dalam kamar.


Selepas shalat Dzuhur, Kaniya memutuskan ke dapur untuk makan. Dia membuka tudung saji dan dibawahnya telah tersedia makanan yang dimasak istri penjaga villa. Tumbuhan paku yang ditumis dan diberikan bumbu pecel. Di piring lain, ikan bakar dan sambal tomat dengan sedikit cabe merah.


Kaniya mulai menyantap hidangan didepannya. Dia sangat bersyukur, karena tidak begitu pemilih makanan.


Selesai makan, Kaniya membersihkan meja dan mencuci piring. Dia tidak mau merepotkan istri penjaga villa untuk urusan seperti ini.


Berselang beberapa menit. Kaniya merasakan saku gamisnya bergetar, panggilan dari Abidzar.


Kaniya merapikan jilbabnya lalu menggeser ikon video pada layar.


"Assalamu Alaikum, Tante"


"Waalaikum salam, sayangnya Tante"


"Tante, Kangen..."


"Tante juga kangen"


"Tapi, Syifa lebih kangen. Kangennya banyak pokoknya" Syifa tak mau kalah.


"Iya deh, Tante kangennya biasa-biasa aja" Ucap Kaniya mengalah. Syifa tampak tersenyum.


"Tan, tadi di sekolah, Bu guru minta kami menggambar pemandangan. Jadi aku gambar pemandangan di rumah Tante. Coba lihat" Syifa memperlihatkan gambarnya pada Kaniya.


"Wah... bagus yah. Kamu kok bisa jago gambar?"


"Bisa dong, Tan. Mama aku kan juga jago gambar" Kaniya mengangguk paham. Pasti yang dipanggil mama adalah adik dari Abidzar.


Lalu Syifa menceritakan semua pengalamannya hari ini. Mulai dari bibi yang pulang kampung sehingga ayah yang membuatkannya bekal. Sampai murid baru yang membuatnya sangat jengkel.


Kaniya menimpali dengan semangat saat Syifa bercerita. Hingga, Syifa membawa hp nya naik ke tempat tidur. Kaniya pun sama, tapi tiba ia ingat sedang memasak air tadi. Kaniya izin ke Syifa untuk mematikan kompor yang dipanggil Syifa.


Syifa yang menunggu Kaniya datang, sangat sulit menahan kantuk di jam seperti ini. Dia pun perlahan terlelap dengan hp yang masih terhubung dengan Kaniya.


Abidzar yang baru menyelesaikan pekerjaannya, kaget saat masuk kamar dan melihat anaknya tertidur dengan hp yang masih menampilkan panggilan pada Kaniya.


"Syifa, maaf yah, Tante lama yah?"


"Nggak kok, santai aja"


Kaniya kaget melihat wajah abidzar di layar HPnya.


"Loh, Syifa mana?"


"Ketiduran, heheh"


"oo.. kalau gitu, aku tutup yah"


"Eh.. jangan dong. Emang cuma Syifa yang kangen? Ayah nya kan juga kangen"


"ihh...apaan sih, gak jelas" Ucap Kaniya tersipu. Lalu hendak memutuskan panggilan.


Abidzar tersenyum karena masih sempat melihat muka kemerahan Kaniya.


Dia harus bersabar. Dia akan menunggu sampai Kaniya mau membuka hati untuknya.


***


Waktu bergulir, enam bulan sudah Kaniya menjalani rutinitasnya sebagai guru. Dia merasa sangat senang bisa berinteraksi dengan siswa.


"Bu Kaniya, ntar sore jalan yuk" ajak Akbar, salah satu siswa Kaniya yang lumayan Badung.


"Kemana, sama siapa?"


"Ke kebun teh, Bu. Sama teman-teman di Bank IPS, Bu. Disana ada perkebunan bunga Krisan yang baru di buat di bagian dalam, Katanya lagi, sekarang ada resto di dalamnya, pokoknya ibu nggak bakal nyesel ikut kita"


untuk teman kelasnya, Akbar memberikan nama Bank IPS. Tidak ada alasan khusus sih untuk pemilihan nama itu, tapi mereka merasa bahwa bank itu berarti banyak uang. Jadi dengan nama Bank IPS, mereka berharap suatu hari nanti jadi orang kaya. Jadi bisa kayak bank, uang keluar masuk tiap hari. Pemikiran apa pula itu (author)


"Serius?"


"Serius, Bu. Bahkan kami dah menabung dari jauh-jauh hari. Biaya masuknya mahal, heheh." Ucap Akbar bersungguh-sungguh.


Kaniya lalu mengiyakan. Memang, enam bulan ini Kaniya sangat akrab dengan siswa di kelas Akbar.


Akbar lalu menyampaikan pada teman-temannya bahwa Kaniya akan ikut dengan mereka.


Saat akan keluar gerbang, Kaniya melihat gadis kecil yang telah dirindukannya selama 3 bulan tidak bertemu. Yah, Syifa memang tidak bisa menemui Kaniya selama tiga bulan ini karena ayahnya ke kota lain.


Padahal, hubungan mereka sudah mulai ada peningkatan selam 3 bulan terakhir. Sayangnya, ayah memintanya untuk mengelola usaha di kota lain karena manajernya baru saja dipecat karena ketahuan korupsi. Abidzar harus menangani masalah yang diakibatkan oleh bawahannya


"Tante Kaniya..." Syifa berlari ke arah Kaniya. Kaniya langsung menyambut dan mengangkat tubuh Syifa berputar.


"Syifa, turun sayang, nanti Tante Kaniya kelelahan menggendong kamu"


"Nggak apa kok, Bi, Syifa masih kecil, belum terasa beratnya. Lagian, kami juga cuma berputar, nggak sampai digendong"


Abi hanya tertegun mendengar Kaniya begitu lembut menyebut namanya.


"Tuh kan yah. Syifa kan kangen sama Tante Kaniya" Abidzar mau tidak mau hanya mengangguk.


Abu tersadar dari lamunannya Diapun mengajak anaknya dan Kaniya untuk langsung bersama-sama menuju mobil Abidzar. Tanpa mereka sadari, pancaran mata menatap mereka dengan rasa yang sulit dimengerti


"Eh.. motorku, gimana?"


"tenang aja, ntar aku suruh supir buat ambil motor kamu"


"Baiklah"


Di mobil, Syifa kembali menguasai Kaniya. Begitu banyak cerita yang Syifa sampaikan dan di sambut antusias oleh Kaniya.


Mereka mengobrol layaknya ibu dan anak. Kaniya merasa bahagia, Allah mengirimkan Syifa untuk jadi penyembuh baginya yang kehilangan anak.


"Kita langsung pulang ke rumah yah. Ada keluargaku disana, baru datang tadi pagi"


"Hore, kita ke rumah Tante Kaniya.."


Kaniya dan Abidzar tersenyum melihat keceriaan Syifa yang diajak ke rumah Kaniya.


beberapa saat di mobil, akhirnya mereka sampai di rumah Kaniya. Di ruang tamu, Keluarga Kaniya semuanya berkumpul.


"Assalamu Alaikum" Kaniya, abidzar dan Syifa serentak mengucap salam.


"Waalaikum salam" jawab keluarga Kaniya bersamaan pula.


"Eh . ada si cantik, masuk yuk" Ridho langsung mengajak Syifa untuk masuk.


Syifa pun menurut. Dia sangat senang berkumpul dengan keluarga Kaniya. Karena keluarga ini sangat hangat kepadanya. Berbeda dengan perlakuan yang sering ia peroleh dari keluarga ayahnya. Apalagi jika ayah dan Nenek tidak ada.


"Kita langsung ke belakang yah, main" Syifa pun menurut.


Abidzar yang melihat semua anggota keluarga Kaniya berkumpul (setidaknya itu yang diketahuinya) mengumpulkan keberanian untuk melamar Kaniya.


Dia selama ini sudah berusaha dengan berbagai cara agar Kaniya mau menerimanya. Tapi mungkin Kaniya tidak merasa bahwa lamarannya serius karena situasi dan cara melamar Abidzar yang terlihat seperti main-main.


Maka kali ini, dia akan meminta Kaniya menjadi istrinya di depan kakak-kakaknya.


Ranti mempersilahkan Abidzar untuk duduk lalu dihidangkan teh dan kue.


"Lama yah nggak ketemu, Pak Abidzar"


"iya, saya berada di kota lain, selam tiga bulan" jelas abidzar.


"Pak Sulaiman..."


"Panggil kakak saja kayak Kaniya. Saya lebih tua, sepertinya" sanggah Sulaiman.


"Baiklah, kak. Maaf jika terkesan mendadak. Tapi, Saya ingin meminta restu untuk melamar, Kaniya. Saya sudah menunggu selam 6 bulan. Dan saya rasa, kami sudah cukup saling mengenal. Jadi, bisakah saya melamar, Kaniya?"


Sulaiman terkejut dengan lamaran mendadak yang diberikan Abidzar. Dia menatap Kaniya yang tampak tak kalah terkejut darinya


"Untuk urusan pernikahan, kami serahkan sepenuhnya pada Kaniya. Jika dia menerima, maka kami pun akan menerima" jawab Sulaiman.


"terimakasih, kak. Saya memang akan melamar Kaniya secara langsung hari ini" Abidzar lalu menoleh pada Kaniya yang masih tertegun.


"Kaniya, mungkin bagimu, pertemuan kita masih kurang lama untuk memutuskan menikah. Tapi kita sama-sama tahu bahwa lama seseorang saling mengenal atau berpacaran tidak akan menjamin sebuah rumah tangga bisa tetap utuh.


Aku percaya bahwa, kebetulan-kebetulan yang membuat kita bertemu adalah rencana yang telah tersusun rapi dari sang pencipta.


Jadi, Adinda Kaniya Putri, maukah kamu menjadi pendampingku, kekasih halal untukku, calon ibu untuk Syifa dan anak-anak kita kelak?" Abidzar menatap Kaniya. Menunjukkan kesungguhan dalam hatinya.


Dia berani mengambil kesempatan ini, siap untuk ditolak dan lebih dari siapa untuk menghalalkan Kaniya secepatnya jika diterima.


Dengan hati berdebar. Abidzar menunggu jawaban Kaniya. Semua keluarga Kaniya pun menunggu dengan penuh harap agar Kaniya bisa menerima lamaran Abidzar.


"Aku mohon maaf, tapi... " Kaniya menjeda sambil menatap Abidzar


***