
Abidzar dan Kaniya sampai di rumah sakit hanya selang lima menit. Jarak rumah mereka dengan rumah sakit memang dekat, itulah yang menyebabkan Abidzar memilih tetap tinggal di rumahnya saat Kaniya hampir melahirkan.
Di rumah sakit, dokter Zalsabilah yang menangani Kaniya sudah menunggu. Mereka memeriksa Kaniya dan memutuskan untuk melakukan operasi sekarang juga.
Abidzar mengabari keluarganya dan keluarga Kaniya. Mereka semua sedang berada di desa dan akan berangkat bersama-sama hari ini juga.
Proses operasi berjalan lancar. Abidzar tersenyum haru saat melihat anak-anaknya lahir kedunia dengan selamat. Di usia yang tak lagi muda, istrinya memberikan empat buah hati sekaligus. Tiga bocah tampan dan satu putri cantik yang sangat mirip dengan Abidzar.
"Ini tidak adil, bagaimana bisa keempat anakku, putra dan putri semua mirip denganmu. Sementara aku yang mengandung. Aku yang menahan sakit" Rajuk Kaniya.
"Itu karena aku terlalu mencintaimu, jadi anak-anak kita mirip semua denganku. Mereka akan menjadi sama sepertiku, menghujanimu dengan cinta" Balas Abidzar dengan senyumnya yang merekah.
Kaniya tersenyum bahagia melihat suaminya yang begitu bahagia.
"Terimakasih, love karena memberikan mereka sebagai hadiah terindah dalam pernikahan kita. Tapi bagiku, kamu adalah anugerah yang diberikan Tuhan, pendampingku di dunia dan insya Allah akan tetap bersama hingga di akhirat nanti" Ucap Abidzar tulus.
"Aamiin" Kaniya akhirnya memejamkan matanya dan tertidur. Selang beberapa menit, Kaniya yang telah memberikan asi ekslusif pada keempat anaknya, akhirnya tertidur. Abidzar menemani istrinya di ruang rawat.
***
"Wahhh... cucu-cucuku cantik dan tampan-tampan yah" Ucap Ayah Abidzar tak berhenti menatap kagum pada cucu-cucunya.
"Dia sangat mirip Abidzar. Kasihan kamu Din, kamu yang bawa kemana mana selama lebih 9 bulan, eh malah dia nggak mirip kamu" Ucap Ranti sambil tertawa. Mereka semua sangat antusias melihat bayi kembar Kaniya.
"Halo Dede Dede, aku Syifa kakak kalian, ay
Kaniya sangat bahagia melihat keluarganya hadir, memberikan dukungan padanya. Dia teringat pada ayah dan ibunya. Andai mereka masih ada, mereka pasti akan sangat bahagia karena Kaniya memberikan empat cucu pada mereka.
Keluarga Abidzar dan Kaniya datang satu persatu untuk memberikan selamat. Hadiah bertumpuk di dalam kamar sehingga Kaniya meminta supir membawanya pulang.
Kamar rawat ini untungnya hanya dihuni oleh Kaniya sehingga tidak akan ada yang terganggu dengan penjenguk yang sangat banyak. Apalagi pada saat jam besuk. Meskipun, ini adalah rumah sakit keluarga mereka, tapi demi kenyamanan Kaniya Abidzar tetap meminta agar mereka hanya dapat dibesuk pada jamnya saja. Kaniya masih butuh istirahat, meminimalkan waktu untuk membesuk, tentu akan membuatnya lebih banyak memiliki waktu istirahat.
Seminggu dirawat, akhirnya Kaniya diperbolehkan pulang. Disebelah kamar utama, telah disiapkan kamar bayi dan dua orang baby sitter. Kaniya hanya menyediakan dua orang karena, dia dan mertuanya pun akan turun tangan langsung untuk merawat anak-anaknya.
Kamar anak-anaknya terhubung langsung ke kamarnya, sehingga jika ingin ke kamar mereka, Kaniya cukup membuka pintu penghubung.
***
"Horeee.... kita ke rumah nenek" seru gadis cilik berusia 5 tahun.
"Luna jangan ribut, ntar ibu jadi pusing dengar suaramu" Tegur Alfa, sang kakak.
"Tau nih, Luna. Suaranya kok bisa cempreng begitu" King ikut menggerutu.
"Kalian berdua jangan menyalahkan Luna, dia hanya bahagia karena kita akan ketemu kak Syifa. Kan sudah sebulan ini, kak Syifa ikut sama nenek" Raja membela adiknya agar tidak menangis.
Mereka berempat adalah kembar identik, bahkan saat Luna yang perempuan pun mirip dengan kakak kakak nya yang lelaki semua.
Suara langkah kaki terdengar dari arah dapur. Mereka sontak menoleh dan melihat seorang wanita cantik datang menenteng sebuah rantang berisi makanan dan di belakangnya lelaki tampan walau sudah berusia 45 tahun.
"Ayah.. ibu" Mereka berdiri menyambut ayah dan ibunya.
"Bu, biar aku saja yang bawa rantangnya" Raja hendak menggantikan ibunya membawa rantang. Dia merasa, sebagai yang tertua dia harus selalu bisa membantu ibu, ayah dan adik-adiknya.
"Yang ini, biar ibu yang bawa, kamu bantu ibu menjaga adik-adik agar bisa duduk rapi di mobil saja yah. Terutama Luna, kamu jaga dia jangan sampai jatuh gara-gara terlalu aktif berlarian" Ucap Kaniya berusaha menolak halus keinginan anaknya membawa rantang yang cukup berat untuk diangkat anak seusia raja.
"Baik Bu" Raja lalu mengajak adik-adiknya ke mobil. Alfa dan King berjalan berdua di depan, Raja dan Luna di belakangnya.
Mereka masuk ke mobil yang sudah dibukakan oleh pak Wawan. Kaniya dan Abidzar berjalan dengan bawaan masing-masing di belakang mereka. Dua orang baby sitter yang merawat si kembar membawa perlengkapan anak-anak selama beberapa hari.
"Nah...karena kita semua sudah di mobil, kita akan berangkat. Tapi sebelumnya, kita baca doa dulu agar kita diberikan kemudahan dan keselamatan selama perjalanan hingga kembali ke rumah" Abidzar lalu memimpin keluarganya untuk berdoa.
Perjalanan kali ini cukup lama, karena abidzar telah mengambil cuti sepekan. Mereka memanfaatkan hari libur sekolah si kembar untuk berlibur di kota wisata. Mereka juga sekaligus akan mengadakan syukuran karena usia si kembar sudah lima tahun.
Tapi sebelumnya, mereka akan ke rumah orang tua abidzar untuk menjemput Syifa lalu ke desa Kaniya untuk berangkat bersama keluarganya. Nur dan Afdhal serta kedua anaknya yang berusia 4 dan 2 tahun pun akan ikut.
"Halo cantik dan tampannya kakak, rindunya banget sama kalian..." Sapa Syifa begitu keempat adik-adiknya turun dari mobil
"Assalamu Alaikum, kak" Ralat Alfa pada kakaknya.
"Hehe... kakak lupa, saking rindunya sama kalian. Waalaikum salam pangeran dan putri" Jawab Syifa lalu menunduk sedikit seolah-olah memberi hormat.
"serannnng" Teriak King memberikan aba-aba.
Syifa tiba-tiba terhuyung saat mendapatkan serangan dari keempat adiknya. Keempat bocil di depannya langsung memeluk dan menghujaninya dengan ciuman. Syifa tertawa kegelian karena tingkah adik-adiknya. Berusaha terlepas, Syifa menggelitik satu persatu yang bisa dijangkau nya, sehingga tawa renyah terdengar di teras depan keluarga Abidzar.
Suara indah kelima cucunya, membuat ayah dan Ibu Abidzar keluar. Mereka telah siap untuk ikut ke kota wisata.
"Sudah anak-anak, kasihan kak Syifa kalian keroyok begitu" Tegur Kaniya agar kelima anak anaknya berhenti bermain.
"Ayo kita ke mobil, kalian mau ikut siapa? Aku sama nenek, atau sama ibu dan ayah?" Quadruplet kebingungan, jika ikut ayah ibunya mereka tidak bisa bersama kak Syifa yang sangat senang bercerita pada mereka. Tapi, jika ikut Syifa, mereka tak bisa bermanja dengan ibu.
"Jangan buat adik-adikmu kebingungan. Mereka rindu padamu, tapi sulit untuk pisah sama ibu kalian. Jadi, kamu ikut kami, biar baby sitter mereka ikut mobil nenek" Abidzar memberikan jalan tengah. Bukannya mobil mereka tak muat jika ditambah satu gadis kecil seperti Syifa. Tapi, Quadruplet selalu memerlukan ruang luas di mobil jika untuk perjalanan jauh agar mereka bisa bermain dan tidak bosan.
"Ye... Luna bisa duduk sama kak Syifa" Seru Luna antusias.
Mereka pun melanjutkan perjalanan ke desa Kaniya. Setelah istirahat sambil menunggu keluarga Kaniya bersiap, mereka pun berangkat ke kota wisata. Sedangkan Nur dan Afdhal telah menunggu di jalan keluar.
***
Halaman Villa keluarga Abidzar telah dipasangi tenda. Para tamu yang terdiri dari keluarga, teman-teman Kaniya dan juga anak-anak yatim, serta anak-anak dari keluarga kurang mampu di kota wisata ini telah duduk di kursi masing-masing.
Hari ini, Quadruplet genap berusia 5 tahun. Syukuran kali ini dilakukan Kaniya di kota wisata karena ingin anak-anaknya berbagi dengan anak-anak kurang mampu. Akbar yang mengatur semua acara yang akan berlangsung.
Akbar sendiri telah menyelesaikan kuliahnya. Dia kembali ke desa, menolak tawaran untuk menjadi penyanyi, pun pekerjaan di perusahaan Abidzar. Dia lebih memilih untuk mengajar di sekolah Kaniya sebagai guru Seni Budaya.
"Baiklah... mari kita sambut Bintang acara kita hari ini, Quadruplet, Raja, Alfa, King dan Luna" Keempat bocah cilik yang disebut namanya naik ke panggung dengan percaya diri.
"Assalamu Alaikum teman-teman. Perkenalkan saya Raja, disamping saya ada empat adik-adikku mulai dari Alfa, King dan Luna. Kami semua adalah anak-anak dari Ibu Kaniya dan Ayah Abidzar. Hari ini, kami berusia 5 tahun. Jadi, kami akan mengucapkan rasa syukur kami kepada Allah dan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada ayah dan Ibu" Raja berhenti dan memberikan mic kepada Alfa.
"Terimakasih ayah, ibu. Karena kalian, kami lahir ke dunia, selalu sehat dan bahagia" Ucap Alfa.
"Terimakasih ayah,.ibu. Karena kalian, kami lahir menjadi pria yang tampan dan gadis yang cantik" Ucap king meneruskan
"Terimakasih ayah, ibu, karena kalian, kami tak pernah kekurangan kasih sayang" Ucap Luna menambahkan.
Mereka lalu saling tatap dan berucap bersama-sama
"Terimakasih kakek, nenek, kak Syifa, semua om Tante dan sepupu" Ucap mereka bersama-sama.
Mic lalu di kembalikan kepada Raja
"Terimakasih untuk semua yang hadir. Kami sangat senang karena kehadiran Kelian semua" Ucap raja. Mereka berempat lalu berpegangan tangan dan menunduk bersama sama memberikan hormat.
Suara tepukan tangan membahana mengiringi mereka yang turun dari panggung. Disambut oleh ciuman dan pelukan dari keluarga yang bangga karena mereka begitu PD berdiri dan berbicara di depan banyak orang
Acara kemudian dilanjutkan dengan makan-makan, tanpa memotong kue apalagi tiup lilin. Kaniya tidak menyediakan itu semua untuk si kembar.
Menjelang Dhuhur, mereka semua menuju Mushallah di dalam Villa untuk shalat berjamaah, dilanjutkan doa bersama untuk kesehatan dan umur yang berkah untuk Quadruplet dan keluarga.
Kemudian, semua kembali ke tempat acara. Quadruplet bersama Syifa, Kaniya dan Abidzar membagikan amplop berisi uang dan bingkisan berupa pakaian untuk anak yatim dan anak anak dari keluarga kurang mampu.
Acara berakhir pukul 02.00, dan keluarga Kaniya telah kembali ke Villa yang disediakan. Sementara villa ini khusus bagi keluarga inti dan baby sitter serta asisten yang akan mengurus keperluan mereka selama disini.
Quadruplet dan Syifa telah masuk ke kamar mereka. Kaniya dan Abidzar pun sama.
Sekarang, mereka telah berganti baju santai dan bercengkrama di tempat tidur.
"Love, makasih yah. Makasih karena selalu memberikan kebahagiaan untukku" Ucap Abidzar tulus.
"Aku juga berterimakasih Yang, kamu sudah jadi suami siaga selama ini. Memberikan cinta, dan membantuku melakukan banyak hal. Terimakasih" Ucap Kaniya menatap suaminya.
"Love, disini kok dingin yah walau masih siang gini" Abidzar secara tiba-tiba mengalihkan pembasahan.
"Lah, kan memang begitu cuaca disini Yang. Kamu bukan pertama kali loh kesini" Jawab Kaniya.
"Iyakah? tapi aku merasa sangat dingin sekarang. Butuh selimut supaya hangat" Ucap Abidzar menatap Istrinya.
"Ohh.. aku ambil dulu yah" saat hendak beranjak, Abidzar menahan istrinya.
"Kamu ini yah. masa begitu aja nggak ngerti. Aku nggak butuh selimut kain. Aku butuh kamu jadi selimut" Ucap Abidzar lalu menarik istrinya hingga jatuh kepelukannya. Dengan sigap, Abidzar memutar sehingga Kaniya jadi berada di bawah.
Ditatapnya sang istri dengan lapar. Kaniya hanya pasrah menjadi selimut bagi sang suami, disiang bolong. Bahkan, selimut ini sangat aktif memilih posisi nyaman untuk menghangatkan sang suami, hingga keringat mengalir deras di tubuh mereka.
Aktifitas mereka berlanjut hingga mereka sama-sama terkapar kelelahan.
Kehidupan rumah tangga Kaniya dan Abidzar menjadi sangat indah, penuh warna apalagi setelah kehadiran Quadruplet. Pertengkaran kecil bukannya tak pernah menghampiri, tapi mereka bisa menyikapinya dengan bijak dan semakin mengeratkan ikatan cinta di antara mereka.
Kaniya, sangat bersyukur karena diusianya yang ke 38+ masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk menikah, bertemu jodoh yang tepat. Saat orang lain ragu akan dirinya yang mungkin tidak bisa memberikan keturunan karena usia, Allah kembali menunjukkan kuasanya dengan memberikan bayi kembar empat.
Maka tak ada yang mustahil, jika Allah sudah berkehendak.
***
Tamat