38 +

38 +
Acara lamaran



Suasana di rumah Kaniya tampak ramai. Keluarga Kaniya sedang bersiap untuk acara lamaran Kaniya. saat ini, Kaniya di rias oleh Nindya secara sederhana. Kaniya tidak begitu suka dengan dandanan berlebihan. Apalagi ini baru acara lamaran.


Sedangkan di dapur, keluarga Kaniya dan tetangga dekat rumah mempersiapkan jamuan. Dua jam lagi, Keluarga Afdhal akan datang melamar Kaniya. Mereka tampak antusias karena Kaniya akan segera menikah.


"Gak nyangka yah, akhirnya kak Kaniya luluh juga sama kak Afdhal. Padahal selama ini terus terusan menolak" ucap Inah, gadis tetangga yang sedang menyiapkan kue.


"Namanya juga jodoh Nah, sekuat apapun kita menolak, kalau memang jodohnya akan tetap ketemu juga" Balas kak Ranti, bijak.


"Mereka cocok sih, kak Afdhal itu baik sama kayak kak Kaniya. Kak Kaniya sekolahnya tinggi, sampai S2 sama kayak kak Afdhal. tapi, kenapa kak Kaniya memilih tinggal di desa yah? Di kota kan peluang kerja lebih bagus" heran Inah.


"Itu karena Kaniya diminta pulang oleh alm. ayah kami. Jadi, dia kembali ke desa dan membuka toko disini. Lagian, untuk seorang perempuan, sekolah tinggi tidak melulu untuk dapat pekerjaan, itu juga bisa jadi bekal saat kita berumah tangga" kak Ranti kembali menjelaskan kepada Inah.


"Oo..." Inah mangguk-mangguk berusaha memahami penjelasan kak Ranti. Namun, tetap saja dia heran. Tapi sudahlah, bukan urusanku juga.


Semua hidangan telah tertata rapi di ruang tamu. Di luar rumah di pasang tenda, agar keluarga dan tetangga yang menyambut kedatangan keluarga Afdhal tidak bersempit-sempitan di dalam rumah.


Pukul 10.10, keluarga Afdhal telah datang. Mereka dipersilahkan masuk ke dalam rumah. Tapi karena ruangan yang tidak cukup luas menampung mereka, maka sebagian duduk di luar.


Yang datang hanya keluarga Afdhal, sedangkan Afdhal tidak ikut dalam rombongan. Memang seperti itulah adat di desa ini. Yang datang melamar hanya keluarga terdekat, imam dusun dan tetangga terdekat.


Pihak dari Afdhal yang datang sepuluh mobil dan disambut dengan baik. pembicaraan hari ini tinggallah pengesahan, karena pada dasarnya orang tua Afdhal telah datang sebelumnya untuk memastikan. Karena merasa takut jika lamarannya ditolak lagi. Mendengar secara langsung Kaniya menerima lamaran Afdhal, orang tuanya pun bergegas untuk menyiapkan acara lamaran.


Setelah semua duduk, acara lamaran pun berlangsung. Secara garis besar, acara lamaran berisi penyampaian maksud kedatangan keluarga Afdhal yaitu untuk melamar Kaniya, yang diterima dengan baik oleh pihak keluarga. Selanjutnya membicarakan uang belanja dan mahar yang diminta oleh pihak keluarga Kaniya.


Pembicaraan pun berlangsung dengan lancar. Karena pihak keluarga Kaniya tidak memberatkan dalam hal yang belanja maupun mahar. Mereka menyerahkan sepenuhnya pada kemampuan dari keluarga Afdhal. Keluarga Afdhal pun tidak keberatan memberikan uang belanja yang sesuai dengan kebutuhan pesta pada saat ini, dan mahar berupa emas seberat 38 gram. Pesta akan dilaksanakan 1 bulan dari sekarang.


Setelah seluruh pembicaraan keluarga, semua orang di persilahkan untuk menyantap hidangan yang tersedia, baik dari pihak Afdhal yang datang maupun pihak Kaniya yang menyambut mereka.


Kaniya tampak cantik dengan gaun panjang berbahan brokat, warna biru pastel. Kaniya tetap berada di kamar bersama Nindya dan Inah. Dia tersenyum ramah saat ada keluarga Afdhal yang masuk ke kamar untuk melihatnya. Di sekitarnya penuh dengan hantaran dari keluarga Afdhal. Diatur dengan cantik, agar terlihat indah pada saat difoto.


"Wah... calon pengantinnya cantik banget. Pantaslah kak Afdhal susah pindah ke lain hati" puji salah seorang tamu yang tak Kaniya kenal. kemungkinan, dia keluarga Afdhal dari desa lain.


"Iya dong, Win. Aku sama kakakmu, Andi sampai harus rela menemani saat mereka ketemu untuk bahas tugas akhir. Meskipun, akhirnya aku tahu juga sih kalau tugas akhir itu cuma akal-akalan si kakak aja buat bisa ketemu sama sang pujaan" cerita Nabila yang membuat Wina terbahak. dia tak menyangka kalau sepupunya sebucin itu pada seorang perempuan. padahal usianya sudah tak muda lagi.


"Kita foto dulu yuk, lalu kirim ke kak Afdhal. biar dia bete' gara-gara gak bisa melihat kak Kaniya secara langsung" Kaniya hanya tersenyum mendengar obrolan saudara ipar didepannya.


Kegiatan mereka terhenti saat Kak Ranti masuk bersama seorang ibu-ibu yang masih sangat cantik, dibelakangnya mengikut pula beberapa perempuan yang juga keluarga Afdhal.


Momen ini diabadikan oleh fotografer yang telah disewa oleh keluarga Kaniya. mereka pun berfoto bersama, lalu bergantian. Sampai mereka memutuskan untuk keluar kamar.


"Din, kamu keluar dulu yah, menyapa keluarga Afdhal. Banyak yang ingin kenal kamu, kasihan kalau harus satu persatu masuk ke kamar" panggil kak Ranti.


"Baik kak" Kaniya dibantu Nindya berdiri hendak menuju ruang tamu. Sedangkan Nabila, Wina dan yang lain telah keluar lebih dulu setelah acara foto-foto.


"Eh.. Calonnya Afdhal sudah keluar kamar. Masya Allah, cantiknya,.ayo kita foto bareng. Tante, mau pamer sama Afdhal karena lebih dulu bisa foto berdua dengan kamu"


"iya Tante" jawab Kaniya, lalu bergeser agar lebih dekat dengan Tante Santi, ibunya Andi yang tidak sempat masuk ke kamar tadi.


Acara kenalan dengan keluarga Afdhal pun berlangsung dengan baik. Kaniya meladeni setiap tamu yang mengajaknya berbicara dengan sangat sopan. Acara foto-foto pun tak terelakkan. Kaniya sudah seperti selebriti untuk hari ini. Namun dia menjalaninya dengan penuh senyum. Antusias keluarga Afdhal menjadi penyemangat baginya, atas pilihan yang diambil.


Sempat ragu jika keluarga Afdhal bisa menerimanya dengan baik. Karena selain perbedaan umur,keadaan ekonomi keluarga Afdhal lebih baik.


Keluarga Afdhal meninggalkan rumah Kaniya pukul setengah 12 siang. Kaniya kembali ke kamar setelah mereka pulang. Masuk ke kamar, Kaniya mendapati kakaknya sedang membagikan kue hantaran kepada keluarga dan tetangga.


Tanpa terasa azan berkumandang, Kaniya menatap kamarnya yang cukup berantakan. Lalu ia memutuskan untuk mengungsi ke kamar Nindya untuk bersih-bersih, ganti baju dan shalat Dzuhur.


Selepas shalat, Kaniya merebahkan dirinya di tempat tidur. Acara hari ini benar-benar membuatnya lelah. Namun lelahnya terbayar saat melihat kebahagiaan keluarganya mempersiapkan acara lamarannya.


'Ini baru lamaran, saat menikah pasti persiapannya lebih dari ini, lelahnya juga, huft...' batin Kaniya.


Tapi dia tak ingin mengeluh. Pernikahan adalah acara yang sakral. Dan acara lamaran seperti ini baru pertama kali baginya, jadi dia akan menjalaninya dengan sebaik mungkin. Dia ingin pernikahannya dengan Afdhal adalah yang terakhir. Meskipun sampai saat ini getaran yang diharapkan hadir sebagai rasa cinta belum nampak juga.


Namun, Kaniya tahu bahwa rasa cinta itu akan hadir karena terbiasa. Apalagi jika telah halal untuk bersama. Mencintai orang sebaik Afdhal pasti tidak akan susah. Kaniya selalu berusaha meyakinkan hatinya bahwa ini adalah pilihan terbaik. Afdhal ada jodohnya.


Kaniya memejamkan mata, lalu sosok gadis kecil yang tersenyum manis padanya nampak hadir. di belakangnya tampak sang ayah menatap mereka dengan senyuman. Kaniya mengingat janjinya untuk menerima mereka saat bertamu di rumahnya. Dan semua kenangan bersama anak dan ayah itu tiba-tiba saja muncul.


"astagfirullah... kenapa aku malah mengingat mereka, hufttt... inikah yang disebut ujian sebelum pernikahan??" gumam Kaniya.


Dia meraih ponselnya dan memeriksa pesan Afdhal yang kebanyakan pujian karena foto-foto yang dikirim keluarganya. Dia menyesal karena tak memaksa ikut. Padahal, memaksa pun dia tidak akan diijinkan ikut.


Dia hanya tertawa membaca chat dari Afdhal. apalagi saat Afdhal mengirim emot manyun gara-gara pesannya tidak dibalas. Kaniya membalas pesan Afdhal, lalu memutuskan untuk tidur siang.


***