
Kaniya dan Abidzar duduk termenung di dalam kamar. Kaniya ingin bertanya pada Abidzar tentang Syifa, tapi tidak tahu harus bertanya seperti apa. Dia takut menyinggung perasaan abidzar. Tapi, dia penasaran, sangat penasaran.
Sedangkan Abidzar, dia terus mengingat pertanyaan Syifa. Pertanyaan itu seperti tamparan baginya. Dia seolah-olah diingatkan bahwa sesungguhnya Syifa bukanlah anaknya.
Sejak adiknya melahirkan dan tidak mampu merawat anaknya karena keadaan mentalnya tidak memungkinkan, Abidzar memutuskan untuk mengambil Asyifa sebagai anaknya.
Bahkan pada akta kelahirannya, Syifa didaftarkan sebagai anak Abidzar dan istrinya.
"Bi..." Kaniya mencoba memanggil suaminya yang sedari tadi hanya diam, seolah menanggung beban yang sangat berat.
Abidzar menoleh pada Kaniya, menatapnya dengan sendu.
"Syifa..Syifa.. anakku love. Aku yang mengazaninya saat baru lahir. Aku yang memberinya nama. Aku yang merawatnya, bersama ibunya, sedangkan Nur berobat di luar negeri bersama ayah" Abidzar terisak.
Kaniya merengkuh suaminya dalam dekapan hangatnya.
"Dia... laki-laki itu tidak seharusnya mengaku-ngaku love. Dia tidak berhak atas Syifa. Dia tidak ada saat Nur mengandung, mungkin juga tidak ingat telah menghancurkan hidup seorang gadis" Abidzar terus bercerita sambil terisak dipelukan Kaniya.
Kaniya tidak berkomentar, hanya terus mendengarkan suaminya. Tapi, sampai sini dia mulai paham, kalau Syifa adalah anak dari Nur adik Abidzar.
"Nur ngidam sangat parah saat hamil, almh. istriku sebisa mungkin memenuhi semua keinginannya. Hingga, Syifa lahir, Nur mengalami baby blues ditambah trauma atas kejadian yang menyebabkamnya hamil. Dia harus berobat ke luar negeri bersama ayah sedangkan Syifa kami yang merawat.
Istriku sangat senang dengan kehadiran Syifa, dia merawatnya sepenuh hati. Syifa saat itu berusia satu tahun delapan bulan, ketika almh. istriku mengandung. Dia begitu senang saat tahu akan segera memiliki seorang adik" Isak Abidzar makin terdengar.
Dia berhenti berbicara. Kaniya hanya mampu mengelus punggung sang suami, tak berani menyela. Dia dengan sabar, menanti Abidzar melanjutkan ceritanya.
"Tapi, saat usia kandungannya menginjak usia 4 bulan, dia malah kecelakaan saat pulang dari mall. Ini salahku, harusnya aku menemaninya. Andai aku tidak terlalu sibuk dan sering meninggalkan mereka, mungkin dia masih hidup, Syifa tidak perlu kehilangan sosok ibu yang begitu dicintainya, ataupun adik yang diharapkannya" Lanjut Abidzar tersedu.
"Bi... semua yang terjadi pada kita telah diatur oleh Allah. Jangan menyalahkan diri sendiri karena kepergiannya. Allah maha baik, andai ibunya Syifa tidak meninggal, aku tak akan ada dalam hidupmu. Aku bukan mensyukuri kepergiannya, tapi aku merasa bahwa inilah jalan Allah mempertemukan kita. Meskipun aku tak bisa menggantikan posisinya di hatimu, tapi aku akan terus membersamaimu, Bi. Aku akan selalu mencintaimu, suamiku" Ucap Kaniya mencium sudut bibir suaminya.
Abidzar akhirnya tersenyum dengan apa yang dilakukan istrinya. Kesedihannya seakan menguap mendengar ucapan istrinya itu.
"Love, apakah sebaiknya kita pindah saja keluar negeri bersama Syifa? Mamanya tetap bisa menemuinya,.tapi lelaki jahat itu tidak bisa lagi bertemu dengannya." Ucap Abidzar berapi-api.
Dia sangat membenci Afdhal begitu mengetahui bahwa dialah lelaki yang menghancurkan masa depan adiknya. Tapi, dia tidak bisa menampilkan bahwa, kejadian itu membawa warna tersendiri dalam kehidupannya. Membuatnya memiliki seorang anak bernama Syifa.
"Bi.. meskipun aku nggak tahu cerita yang sesungguhnya, tapi aku mengenal Afdhal dari kecil. Kami sering bermain bersama. Aku tahu sifatnya dia bagaimana. Aku yakin, ada kesalahpahaman disini"
"Kamu membelanya, love?"
"Bu .bukan Bi. Maksudku, berikan kesempatan padanya untuk menceritakan segalanya. Kita juga nggak bisa terus menyalahkan dia padahal kita tidak tahu cerita yang sesungguhnya"
Abidzar hanya terdiam, diapun sebenarnya sangat ingin tahu cerita yang sebenarnya. Tapi, selama ini Nur melarangnya mencari tahu. Abidzar sangat paham, bahwa Nur berusaha melindungi pria itu, yang artinya Nur sangat mencintainya.
"Apakah itu berarti, Syifa nanti akan jadi anaknya? aku akan kehilangan Syifa?"
Entah kenapa Abidzar bertanya seperti itu. Kaniya tidak habis pikir, padahal Abidzar lebih paham agama darinya. Kaniya melihat ketakutan di mata Abidzar. Perasaan takut kehilangan Syifa.
"Kamu tahu sendiri, Bi. dalam agama kita, anak yang lahir di luar nikah itu milik ibunya, nasabnya ke ibunya, jadi dia nggak punya hak apa-apa sama Syifa, bahkan sekedar memberikan warisan. Kecuali, jika Nur dan Afdhal men..."
"Stop,....Love, jangan sebut dulu namanya di depanku"
Kaniya menghela nafas. Dia sangat paham bahwa Abidzar sangat menyayangi Syifa. Bahkan, dia tak pernah menyangka bahwa Syifa bukanlah anak kandungnya.
Kaniya selama ini melihat Abidzar yang begitu menyayangi Syifa. Membawanya kemanapun dia pergi.
"Bi.. lelah kan? Kita istirahat dulu yah. Aku capek.." Ucap Kaniya manja. Dia ingin mengalihkan perhatian suaminya.
Abidzar hanya mengangguk. Kaniya merasa sedih melihat suaminya yang tampak murung. Diapun berinisiatif untuk menghibur sang suami.
"Mau masuk kamar mandi duluan atau aku yang duluan?" Tanya Kaniya.
Mendengar pertanyaan istrinya sisi jahil Abidzar serasa berontak keluar.
"Bisa sama-sama aja love?, kita harus hemat waktu. Bukankah, kita harus segera tidur?" Abidzar menaik turunkan alisnya.
"Nggak ah. Kamu duluan aja" Jawab Kaniya sambil mendorong suaminya masuk ke kamar mandi.
Abidzar akhirnya pasrah dan masuk sendirian ke kamar mandi. sementara itu, Kaniya sedang memilih seragam untuk membahagiakan suaminya malam ini. Setelah didapatkan, Kaniya menyembunyikan dibalik pakaian yang masih dikenakannya.
Selang beberapa menit, Abidzar keluar dari kamar mandi, dan Kaniya bergegas masuk tanpa mempedulikan panggilan dan lirikan menggoda dari suaminya.
"Love, jangan lama yah" Ucap Abidzar mengetuk pintu.
"Iya" Jawab Kaniya.
Setengah jam kemudian...
Abidzar mengalihkan pandangan dari jendela setelah mendengar suara pintu terbuka. Ditatapnya istrinya tanpa berkedip. Pasalnya, Kaniya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan gaun tidur yang sangat tipis.
Tanpa mengalihkan tatapannya, Abidzar mendekati Kaniya.
"Kamu sedang menggodaku, nyonya?" Tanya Abidzar dengan tatapan laparnya.
"Menurut, anda tuan?"
"oh.. rupanya kamu mulai berani yah?" Abidzar merengkuh tubuh Kaniya, menghilangkan jarak yang tadi tak seberapa.
"Sudah pintar yah sekarang?, siapa yang memberikan baju seperti ini?" Tanya Abidzar di sela deruan nafasnya yang memburu.
"Entahlah... aku menemukannya di lemari itu" Jawab Kaniya berusaha mengatur detak jantung yang seperti berlomba.
"Hmm.. kamu terlihat seperti hidangan yang membuatku lapar. Boleh aku menyantapnya sekarang?" Tanya abidzar dengan tatapan berkabut.
Kaniya hanya mengangguk untuk memberikan jawaban. Dia memang melakukan ini untuk suaminya. Dia ingin suaminya menikmati malam mereka dengan bahagia, melupakan sejenak masalah yang mengganggu pikirannya.
Melihat anggukan sang istri, Abidzar pun mulai menikmati sajian yang terhidang di depannya. Dinikmatinya perlahan, menunjukkan kekagumannya lewat pujian, dari bibir dan tangannya.
Kaniya pasrah dengan segala perlakuan sang suami, terkadang dia pun turut mengambil alih menguasai suaminya, membuat Abidzar semakin terpesona pada sang istri. Hingga mereka bersama mencapai puncak keindahan dunia.
Abidzar menatap istrinya yang kelelahan. Diusapnya keringat di kening sang istri. Lalu, dibersihkan setiap bagian tubuh istrinya, yang membuat Kaniya merasa geli dan akhirnya tertawa.
Kaniya berusaha menghindar, namun Abidzar memegangnya dengan erat.
"Sudah, Bi. hahaha.. aku tidak tahan, geli..."
"Tapi, kamu harus dibersihkan, love" jawab Abidzar tanpa menghentikan kegiatannya. Bahkan sesekali sengaja menggelitik istrinya, hingga Kaniya berusaha membalas.
Mereka terus saling menggelitik dan tertawa hingga kelelahan. Malam itu, mereka akhirnya dapat tertidur dengan senyum yang merekah.
***