38 +

38 +
Permintaan Kaniya



"Tapi??" Abidzar tidak sabar menunggu Kaniya yang seakan ragu menerimanya.


"Tapi, masa kamu lamar aku dengan pakaian seperti itu sih. Tanpa cincin pula. Bukannya, sudah belajar sama tante... eh.. maksudku mama kamu cara melamar yang benar?" Kaniya berucap dengan mimik serius tapi sibuk menahan tawa.


Abidzar memperhatikan penampilannya. Celana pendek dengan kaos oblong. Pakaian kebangsaannya saat berada dalam suasana santai.


"Maaf, tapi saat lihat kamu, bawaannya yah ingin segera menghalalkan. Takut kamu kepincut sama cowok lain. Apalagi, kulihat, kamu sangat akrab dengan siswa cowokmu tadi"


"Haha... Astagfirullah.. Aku dan siswaku memang cukup akrab. Tapi, bukan berarti aku akan memilih salah satu dari mereka untuk jadi pasanganku. Aku belum se frustasi itu gara-gara belum menikah"


Abidzar dan keluarga Kaniya ikut tersenyum melihat tawa Kaniya. Abidzar memang merasa bersalah karena selalu gagal menciptakan suasana romantis saat melamar Kaniya.


Di pasar, ibu dan anak nya yang jadi saksi kekonyolannya. Sekarang, malah keluarga Kaniya yang melihat. Tapi, Abidzar tidak akan kapok untuk terus meminta Kaniya menjadi istrinya, hingga dia bosan dan akhirnya berkata "Ya".


"Jadi, lamaranku diterima tidak?"


"ummm... tergantung. Berikan aku proposal pernikahan yang menarik, lalu paparkan di depan keluargaku. Sanggup?" Kaniya mulai bisa menerima Abidzar dalam hidupnya. Namun, kegagalannya di masa lalu membuatnya harus banyak berpikir sebelum menerima lamaran seorang pria.


"Ok. Aku akan membuat proposal yang akan membuatmu terkesan dan tidak pernah menolakku lagi" Abidzar menjawab dengan mantap.


Keluarga Kaniya menghela nafas lega karena kesanggupan dari Abidzar memenuhi keinginan Kaniya. Abidzar bahkan tidak berpikir lama untuk mengiyakan.


Mereka sudah cukup melihat kesungguhan Abidzar untuk menghalalkan Kaniya. Sedangkan Kaniya, meskipun masih ada keraguan di hatinya tapi dia perlahan mulai membuka hati. Hanya saja rasa takut akan kegagalan, tetap menghantui hatinya.


"Nah,.karena kaniya dan abidzar sudah sepakat, sekarang kita makan bersama dulu, ayo semua, aku sudah menyiapkan hidangan di dapur" Ranti berkata dari arah dapur.


Tadi Ranti meminta Nindya menyiapkan hidangan makan siang yang sudah dimasaknya. Setelah Abidzar memberikan jawaban, Ranti segera menyusul untuk memeriksa kesiapannya. Dan ternyata memang Nindya selalu bisa diandalkan untuk urusan menyajikan makanan dengan rapi.


"Ayo Abidzar, kita makan dulu. mengungkapkan perasaan itu butuh tenaga, apalagi kamu sampai melamar seperti ini di depan keluarga si wanita, pasti sudah habis banyak tenagamu, hehe" Sulaiman mencoba berkelakar meskipun sepertinya tidak terdengar lucu bagi abidzar. Tapi Abidzar tetap tertawa.


Mereka semua lalu beranjak ke dapur. Kaniya menuju taman untuk memanggil Ridho dan Syifa. Mereka berdua masih terlihat asyik menikmati pemandangan. Syifa pindah dari satu bunga ke bunga yang lain. Mencium harumnya, namun tidak berniat memetiknya. Sementara Ridho terlihat tenang mengikuti Syifa, menjawab setiap pertanyaan Syifa tentang bunga yang menarik namun belum dia tahu namanya.


"Syifa, Ridho, makan siang dulu" ajak Kaniya setelah di dekat mereka.


Syifa dan Ridho menoleh bersamaan. Mereka pun ikut kaniya ke dalam rumah dan menuju ruang makan..


"Ayah..." Syifa langsung berlari ke arah ayahnya yang sudah duduk manis di meja makan.


"Yah, tadi Syifa lihat bunga yang baaaanyak. Di rumah kita belum ada bunga seperti itu yah. Tadi, kak Ridho memberitahu semua nama-nama bunga yang Syifa tidak tahu" celoteh Syifa


Syifa memang selalu bersemangat bercerita tentang banyak hal pada ayahnya. Dan Abidzar akan mendengarkan dengan penuh perhatian.


"oh ya? Syifa suka sama bunganya?" Syifa hanya mengangguk.


"Kalau begitu, kita minta Tante Kaniya menemani ke tempat yang jual bibit bunga itu" Abidzar menoleh pada Kaniya minta persetujuan.


"Kenapa harus beli? Kan sudah ada disini, rata-rata bunga di belakang itu yang ditanam bijinya. Sebagian bisa di stek jadi ambil saja bibit di belakang. Nanti aku kasih tahu penjaga Villa supaya mengambilkan untuk Syifa" Ucap Kaniya.


"Benar Tan? emang boleh yah bibitnya diambil dari sini?" Syifa bertanya penasaran.


"Boleh dong sayang" Jawab Kaniya.


"Kalau begitu, makasih Tan" Syifa tersenyum manis, dan mencium pipi Kaniya.


"Oh, iya. Makasih kak Ridho, sudah menjelaskan banyak nama bunga sama Syifa" Ucap Syifa.


"Cium pipinya mana, Fa" Tanya Ridho menaik turunkan Alisnya.


"Eh... nakal yah kamu, minta cium sama anak gadisnya orang. Lihat tuh, om Abi sudah mulai keluar tanduknya" Nindya memberikan peringatan.


Ridho menatap ke arah Abidzar yang sudah memasang wajah marah.


"Hehe.. peach om, Aku cuma bercanda" Ridho cengengesan, berusaha menjelaskan.


Semua merasa lega saat Abidzar sudah mengembalikan raut wajahnya ke semula.


"Kak Ridho mau dicium juga? Sini kak" Syifa yang merasa berterimakasih pada Ridho tanpa mengerti keadaan malah kembali menyulut kemarahan Abidzar.


"Eh... kak Ridho nggak mau dicium kok Fa. Tadi cuma bercanda" jawab Ridho gelagapan menatap takut takut pada Abidzar.


"Syifa sayang, Syifa nggak boleh cium cowok sembarangan yah. Kan kalau bukan mahram nggak boleh bersentuhan" Kaniya berusaha menjelaskan.


"Kan kak Ridho bukan orang sembarangan Tan, terus mahram itu apa?" Syifa memang sudah cukup kritis dalam memahami sesuatu. Selalu saja ada pertanyaan yang ditanyakan nya saat tidak paham.


"Iya juga sih, tapi ridho itu bukan mahram untuk Syifa. Mahram itu orang yang memiliki hubungan keluarga dekat dengan syifa dan tidak boleh syifa nikahi misalnya ayah Syifa atau saudara Syifa" Kaniya berusaha menjelaskan agar Syifa dapat memahami.


"Jadi, kak Ridho bukan mahram Syifa,.kalau mahram tidak boleh dinikahi?" Kaniya mengangguk. Abidzar memperhatikan cara Kaniya berinteraksi dengan anaknya. Dan dia selalu bahagia melihat mereka berdua seakrab ini.


"Jadi, Syifa bisa menikah dengan kak Ridho? kan bukan mahram."


huk..huk..


Ridho yang sedang meminum air, tiba-tiba tersedak. Keluarga Kaniya yang lain sibuk menahan tawa. apalagi saat tanduk Abidzar perlahan keluar lagi. Dia menatap tajam Ridho yang membuat Syifa bertanya panjang lebar. Abidzar sangat menjaga anak kesayangannya, dia bahkan kadang tidak rela meninggalkannya saat harus bekerja. Bagaimana bisa, sekecil ini sudah ada lelaki yang menggodanya. Abidzar sungguh tidak rela.


"Syifa sayang, kita makan dulu yah. Kasihan yang lain sudah lapar" Ranti segera mengalihkan perhatian Syifa. Ranti yakin, saat ada jawaban yang keluar maka akan ada juga pertanyaan balasan dari Syifa.


Syifa menatap ke arah orang-orang yang duduk melingkar pada kursi di ruang makan.


"Ah iya. maafkan Syifa yah semuanya. Ayo kita makan sekarang" Syifa berkata dengan cerianya, tanpa sadar bahwa tadi dia sudah membuat ayahnya berusaha menahan diri untuk menyerang Ridho yang dianggap menggoda anaknya.


Abidzar sadar bahwa dia tidak bisa mengeluarkan kekesalannya pada ridho, apalagi dia sedang mendekati Kaniya. Dia hanya perlu lebih menjaga Syifa sekarang, agar tidak didekati laki-laki hidung belang. Apalagi saat masih kecil begini. Bukankah sangat marak sekarang laki-laki dewasa menyukai gadis kecil.


Abidzar tidak bisa membayangkan jika ada sosok pedofil yang mengincar putrinya.


"Karena tuan putri kita sudah mempersilahkan, ayo kita makan sekarang" Tiara segera mempersilahkan semuanya.


"Kamu mau lauk apa Bi? Ini aja yah. Ikan ini enak loh, ini kesukaanku. Kak Ranti membakar ikan ini untukku" Kaniya mulai mengalihkan perhatian Abidzar agar tidak terlalu memikirkan candaan Ridho yang mungkin agak keterlaluan buatnya sebagai seorang ayah yang posesif.


"Makasih.." Abidzar tersenyum senang dengan perhatian Kaniya.


Apalagi panggilan yang begitu disenanginya saat Kaniya yang memanggilnya seperti itu. Kemarahannya menguap entah kemana. Sepanjang acara makan siang, Abidzar menunjukkan raut bahagianya.


Abidzar sudah tidak sabar untuk mengajukan proposal yang sesuai dengan permintaan Kaniya. Dia berjanji akan membuatnya sepenuh hati dan membuat Kaniya terkesan.


***