38 +

38 +
Romansa Pengantin Baru



Hari ini Abidzar, Kaniya dan keluarganya menuju kota wisata untuk melaksanakan pesta pernikahan mereka.


Nindya mengajak semua temannya yang membantu bekerja di toko. Sekalian, mereka akan menikmati keindahan alam dengan menginap beberapa hari di villa Kaniya.


Ridho pun demikian, dia mengajak teman-temannya untuk ikut. Abidzar tentu tak keberatan dengan hal itu. Bahkan, dia akan membelikan seragam untuk mereka dan menjadikannya pagar ayu dan pagar bagus.


Total Lima mobil mereka gunakan untuk menuju kota wisata. Kaniya menggunakan mobil terpisah dengan yang lain. Sulaiman bersama Tiara, Ranti dan suaminya, serta Citra kakak Kaniya yang baru kembali dari rumah mertuanya di luar kota. Citra suami dan anak-anak nya yang masih berusia 10 dan 6 tahun.


Satu mobil lagi berisi saudara-saudara alm. ayah dan ibunya. Bagi yang merasa sudah terlalu tua untuk perjalanan jauh, mereka meminta anaknya untuk mengantar Kaniya dan membantu saat resepsi pernikahan Abidzar dan Kaniya di kota wisata. Meskipun sebenarnya, semua persiapan telah dilakukan keluarga Abidzar, namun kehadiran keluarga tentu akan membuat Kaniya lebih bahagia.


Keluarga Abidzar telah lebih dulu berangkat untuk mempersiapkan resepsi pernikahan mereka di kota wisata.


Kota wisata sendiri sebenarnya hanyalah sebuah Kecamatan yang masih satu kabupaten dengan desa Kaniya. Hanya saja, di daerah ini terdapat banyak sekali tempat wisata sehingga diberikan nama kota wisata.


Ada berbagai destinasi wisata yang sangat menarik. Seperti, kebun teh tempat Abidzar melamar Kaniya, hutan Pinus untuk tempat camp, yang didalamnya disediakan berbagai wahana seperti flying fox, kebun stroberi, berkuda.


Di sepanjang jalan kota ini banyak tempat foto yang sengaja dibuat, yang disewakan bagi pengunjung. Selain itu, banyak ditemui penjual makanan, yang bisa disinggahi pengunjung, penjual bunga, buah dan kue-kue kering.


Terdapat banyak kebun stroberi di pinggir jalan. Pengunjung bisa memanen stroberi langsung dengan tarif cukup murah, hanya lima ribu perorang untuk masuk dan stroberi yang dipetik hanya seribu rupiah perbiji.


Bagi para pencinta alam, ada sebuah tempat khusus yang biasanya digunakan untuk camp. Para pendaki, biasanya juga akan istirahat dulu di tempat ini sebelum memulai pendakiannya.


Sebenarnya, keindahan tempat ini telah ada secara alami. Namun, perhatian dan kebijakan yang diberikan pemerintah daerah membuatnya semakin indah dan diminati.


Bahkan penginapan mulai dari yang kecil hingga yang seperti hotel berbintang dengan suasana asri dan memanjakan mata, telah tersedia di tempat ini. Dari yang bentuknya biasa-biasa saja sampai yang sangat unik pun tersedia di tempat ini.


Hal ini dikarenakan, persaingan antar pemilik penginapan, tempat peristirahatan di kota ini memang sangat ketat. Bagaimana tidak, Ke kota wisata tidak perlu takut kemalaman, karena akan sangat mudah menemukan penginapan. Sehingga, setiap pemilik usaha harus berupaya agar konsumen memilih jasa penginapan yang mereka tawarkan.


Setiap akhir pekan, akan banyak rombongan wisatawan yang mengunjungi daerah ini. Karena, kota wisata betul-betul dipenuhi dengan berbagai tempat wisata. Jangankan yang untuk masuk perlu bayar, yang gratis saja sudah terlihat sangat indah. Sepanjang jalan begitu memasuki kota wisata, kita akan disuguhi pemandangannya sangat indah. Jadi, Kaniya merasa tidak pernah rugi membeli berbagai aset di tempat ini. Dan kebetulan, setiap aset yang dibeli dan di kelolanya, memberikan keuntungan yang cukup banyak untuknya. Meskipun, dia tak pernah memperlihatkannya pada orang lain.


Kekhawatiran penduduk di daerah ini, termasuk Kaniya mungkin hanya karena seringnya terjadi longsor pada jalan masuk ke kota wisata. Jalan, meskipun selalu diperbaiki tapi retakan sering saja terjadi dan mempercepat rusaknya aspal.


Abidzar duduk di belakang bersama istrinya tanpa penumpang lain. Abidzar memang sengaja meminta supir mengantar mereka karena ia ingin duduk lebih dekat dengan istrinya tanpa diganggu orang lain. Apalagi, Syifa anaknya sekarang sedang bersama mamanya. Jadi, Abidzar bisa lebih bebas bersama Kaniya.


"Love, coba lihat tanganmu" Kaniya menatap bingung pada Abidzar namun tetap memberikan tangannya.


Abidzar memerhatikan jemari tangan sang istri. Lalu mengecupnya.


"Kenapa?"


"Nggak, hanya ingin mengecupnya" Jawab Abidzar sambil tersenyum.


"Aneh deh" Kaniya tak bisa menahan senyumnya. Lalu menghadap jendela, mencoba menikmati pemandangan di luar.


"Love" Abidzar kembali memanggil Kaniya. Kaniya spontan berbalik, dan.


cup


Kaniya membolakan mata saat tiba-tiba saja bibirnya menabrak bibir Abidzar. Saat ingin melepas, Abidzar malah menahan kepalanya dan memperdalam ciumannya.


Mau tak mau, Kaniya akhirnya pasrah , bahkan menikmatinya. Turut membalas ciuman dari suaminya itu.


Pak sopir yang melihat hanya bisa menggeleng pelan.


'Dasar pengantin baru, nggak tahu apa kalau aku dah lama nggak ketemu istri. Kan jadi pengen. Nasib-nasib' Rutuk sang supir dalam hati. Tapi tak urung, senyumnya terkembang melihat tuannya yang terlihat sangat bahagia.


Mendapat balasan dari Kaniya, Abidzar makin bersemangat. Tangannya pun tak tinggal diam. Dielusnya punggung sang istri membuat Kaniya makin terbuai.


Abidzar yang tak bisa menemukan celah dari bagian belakang istrinya yang tertutup rapat, akhirnya memindahkan tangannya ke bagian depan. Untung saja, Kaniya menggunakan jilbab pasang yang cukup lebar sehingga pak supir tidak melihat pergerakan tangan sang tuan.


Tangan Abidzar terus bergerilya tanpa ingat bahwa dalam mobil ada orang lain. Sementara Kaniya masih terus memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan sang suami. Ciuman keduanya belum terlepas, hanya sesekali mereka mengambil nafas lalu melanjutkan lagi.


Abidzar bersorak dalam hati saat mendapati kancing dibagian depan gaun istrinya. Dengan tak sabar, dibukanya bagian paling atas lalu coba menelusupkan tangannya. Namun sayang, dia masih menyentuh kain, belum bisa merasakan kulit sang istri yang sedari tadi dicarinya.


'kenapa pula, istriku suka sekali memakai pakaian berlapis' meskipun kecewa karena tak bisa menyentuh secara langsung, tak urung membuat Abidzar menghentikan penjelajahannya.


Dia terus menyentuh, apa yang diinginkannya. Hingga Kaniya memekik kaget kaget karena Abidzar yang gemes, meremas aset masa depannya dengan keras.


"ach.." Abidzar menganggap bahwa itu adalah ******* dan tambah semangat melakukannya.


"Bi..." Kaniya menghentikan ciumannya dan menjauhkan wajah dari Abidzar. Abidzar yang merasa kehilangan bibir sang istri, menghentikan aksinya. Menatap Kaniya yang bibirnya sudah membengkak, dikerucutkan pula.


Pemandangan itu membuat Abidzar ingin kembali menarik Kaniya dalam dekapannya. Ditatapnya Kaniya dengan penuh tanya, matanya sudah memerah menahan sesuatu yang terus mendesak ingin dilepaskan.


"Sakit.."Lirih Kaniya. Abidzar yang melihat bibir Kaniya mengucapkan kata 'sakit' menjadi merasa bersalah. Tapi, rasa ingin kembali merasakan istrinya, membuat dia kembali ingin merengkuh istrinya.


"Bi.." Abidzar yang mendengar suara istrinya kembali mengurungkan niat. Kaniya yang melihat suaminya menatap dengan penuh tanya, memberikan kode lewat matanya.


Abidzar yang melihat kode sang istri, akhirnya menatap kearah sana dan melihat pak supir yang senyum-senyum sendiri di depan sambil menyetir memperhatikan jalanan.


'Astagfirullah' Abidzar mengusap wajahnya. Mencoba menetralkan kembali perasaannya yang selalu ingin menerkam sang istri.


"Nggak pak, tadi di jalan ada kucing kebelet kawin tapi dihentikan satpol PP" Jawab sang supir asal.


"Maksud kamu??" Suara Abidzar mulai meninggi.


Sang supir yang sadar salah bicara, karena menyinggung tuannya meskipun dengan maksud bercanda, akhirnya ketakutan sendiri.


"Maaf pak, itu hanya candaan yang biasa aku lihat di story' teman" Jawab sang supir kelabakan. Sementara Kaniya yang tadi mukanya memerah karena merasa malu, sekarang memerah menahan tawa. Ingin tertawa tapi takut Abidzar makin marah. Dia memilih diam.


"Lain kali, kalau aku lagi sama Kaniya di mobil kamu tutup mata dan telinga saja"


"Kalau nabrak gimana, pak?" Tanya pak supir kebingungan.


"Maksudnya, kamu nggak harus dengar atau melihat apapun juga. Anggap kamu itu tak ada di mobil, anggap saja tak melihat..."


Hahahaha....


Kaniya yang tak bisa lagi menahan tawanya akhirnya meledak juga. Dia tak menyangka akan melihat sisi Abidzar yang seperti ini. Terkesan bodoh nggak sih. Tapi ingin berpikir apalagi mengucapkannya malah takut, dosa nggak sih membully suami.


"Love, kok ketawa sih"


"eh...nggak, Bi. Aku hanya membayangkan supirnya menyetir sambil tutup mata" Ucap Kaniya tak ingin membuat suaminya tersinggung karena menertawainya.


"Kamu membayangkan supir itu, di depanku?" Tanya Abidzar merasa tak senang.


Kaniya yang melihat sang suami tambah murka, hanya bisa menelan ludah. Niat hati ingin menghindari kemarahan suami, ini malah membuatnya makin marah.


"Maksudku bukan begitu, Bi...." Jawab Kaniya gugup. Dia melihat pancaran mata suaminya yang memerah. Kaniya melihatnya seperti orang marah. Andai dia fokus melihat, Kaniya tentu melihat bahwa pancaran mata itu bukan karena marah tapi sedang dipenuhi kabut keinginan yang mendesak.


"Sekarang, kamu chat keluargamu agar mereka langsung menuju villa. Kita akan singgah, untuk menghukummu" Bisik Abidzar menahan gejolak yang ada dalam dirinya.


Kaniya merinding mendengar bisikan suaminya. Dia segera mengirimkan pesan pada Nindya, yang hanya dibalas jempol.


"Wan, menepi dulu di depan, trus kamu cari makanan disekitar sini. Kalau mau coba beberapa wahana juga silahkan saja. Aku dan istriku mau istirahat sekitar 2 jam" Ucap Abidzar pada sang supir.


"Baik, pak" Pak supir segera menghentikan mobilnya di depan salah satu penginapan.


Abidzar keluar dari mobil dan meraih tangan istrinya untuk segera memasuki salah satu penginapan yang berjejer di sepanjang jalan yang mereka lalui saat ini.


"Bi.. kok malah kepenginapan sih, rumah kita kan tinggal 10 menit dari sini?" Tanya Kaniya heran.


"Tanggung, love. Aku dah nggak kuat kalau masih harus menunggu sampai rumah. Belum lagi, disana banyak orang. Kita nggak akan punya waktu untuk berdua".Jawab Abidzar sambil terus berjalan untuk menyewa kamar.


Setelah mendapat kunci, Abidzar meraih pinggang istrinya dan membawanya ke kamar mereka.


Abidzar membuka pintu dengan tidak sabar. Lalu menutup kembali dan menguncinya. Kaniya mengikuti setiap langkah sang suami. Dia menyadari keinginan sang suami. Hanya saja, dia tak menyangka bahwa Abidzar akan seniat ini sampai sampai rela menyewa kamar padahal rumah mereka hanya tinggal beberapa menit.


"Love, maaf yah. Tapi aku betul-betul ingin sekarang. Kamu dari tadi menggodaku terus" Ucap Abidzar pada Kaniya.


"Menggoda?" Kaniya membolakan mata. "Menggoda gimana sih, Bi. Dari tadi aku nggak ngapa-ngapain di mobil. Dasar pikiranmu saja yang mes*um" lanjut Kaniya cemberut..Bibirnya mengerucut. Membuat Abidzar malah semakin tergoda.


Dengan cepat, Abidzar meraup bibir sang istri. Kaniya yang tak siap, kaget dan langsung memukul dada abidzar tapi diabaikan. Abidzar meneruskan aksinya. Bahkan, dia mulai menjelajahi tubuh sang istri dengan tangan besarnya.


Kaniya tak lagi memberontak, dia kini mengalungkan tangan dileher sang suami dan membalas setiap kecupannya. Sesekali ******* lolos dari bibirnya.


Merasa semakin terdesak keinginannya, Abidzar membaringkan sang istri dan melepas semua penghalang ditubuh mereka. Suasana sejuk di kota wisata, berubah jadi panas di kamar penginapan yang mereka sewa.


Abidzar terus menunjukkan pemujaan terhadap tubuh istrinya. Kaniya pun menyambut dengan lantunan kidung indah yang begitu merdu di telinga Abidzar. Memotivasinya untuk memacu lebih cepat, hingga mereka sampai ditujuan.


Abidzar mencapai tujuan dengan begitu puas. Menyemaikan kembali benih benih cinta di kebun stroberi istrinya. Berharap akan menjadi Abidzar Abidzar Junior yang akan membersamai mereka di hari-hari yang akan datang.


Kaniya terkulai lemas dibawah Kungkungan sang suami. Keringat terlihat membasahi tubuhnya. Abidzar masih menatap sang istri yang tampak begitu cantik di matanya saat seperti ini.


Kaniya yang merasa di tatap seperti itu, kembali bersemu merah. Dia mengingat bagaimana dia berteriak, mendesah tak karuan seperti tadi. Padahal waktu di rumah, dia tidak berani mengeluarkan suara. Apa karena Abidzar yang hari ini tampak begitu hot di matanya, atau karena permainan suaminya yang begitu panas, ataukah lagi karena di tempat ini dia tidak takut akan kedengaran orang lain.


"Berat, Bi" cicit Kaniya.


"Hehe...maaf. Dan makasih love" Abidzar mengecup kening istrinya dan berguling ke samping. Dia meraih Kaniya dalam dekapannya. Dilihatnya jam, dan saat ini sudah kurang lebih satu jam dari saat mereka masuk ke kamar ini.


"Love, aku senang deh kalau kamu kayak tadi. Aku jadi merasa kamu menikmati setiap sentuhan ku. Aku merasa disemangati love. Kamu juga terlihat sangat cantik, suaramu merdu dan...ach aw.. sakit love" Abidzar mengelus pinggangnya yang dicubit Kaniya.


"Kamu sih, nggak perlu dijelaskan juga sih yang kayak gitu" Kaniya kembali memanyunkan bibirnya karena merasa malu.


Perpaduan yang indah menurut Abidzar, rona merah di wajah dan bibir bengkak yang mengerucut. Sungguh indah untuk dipandang.


Abidzar kembali memajukan wajahnya dan mengecup bibir sang istri. Kaniya menyambut dengan membuka bibirnya, memberikan akses pada Abidzar untuk menjelajah lebih jauh.


Ciuman yang awalnya lembut itu, akhirnya menuntut lebih. Kaniya yang merasa terbuai, untuk mengenali segala aset sang suami, tak mampu membendung keinginannya. Akhirnya Abidzar menuntun Kaniya untuk menjadi pengendali dalam permainan.


Mereka menghabiskan waktu di kamar itu lebih lama dari rencana. Tak puas hanya sekali, mereka melakukan berkali-kali hingga kelelahan dan tertidur, melupakan sang supir yang kebingungan karena sudah menunggu berjam jam, tapi sang majikan belum keluar juga. Pukul lima sore, mereka keluar dan melanjutkan perjalanan