38 +

38 +
Gagal Menikah??



Dani menyerahkan buku nikah milik Kaniya. Kaniya menatap buku itu, lalu beralih menatap Afdhal.


Afdhal hanya diam, tidak tahu harus bicara apa. Yang dia tahu dari cerita Kaniya, mereka hanya menikah siri. Saat Dani tidak melakukan tugasnya dalam memberi nafkah, maka sama artinya mereka telah bercerai. Tapi, jika seperti ini, masalah mereka akan menjadi rumit.


"Kamu masih istriku, secara hukum agama dan negara. Aku sama sekali belum pernah mengucapkan talak padamu"


Kaniya tertegun mendengarkan ucapan Afdhal. Ditatapnya kembali buku nikah yang dahulu sangat diinginkannya.


Tapi kini, buku itu seperti hantu baginya. Pernikahannya dengan Afdhal, hanya tinggal menghitung hari. Tapi, masalah ini tiba-tiba datang.


'ujian apa lagi ini ya Allah'


Kaniya menatap langit dengan sendu. Dia bukannya menolak kehendak sang pencipta. Tetapi, kenapa sulit sekali baginya meraih bahagia.


Cinta Kaniya untuk Dani sudah hilang sepenuhnya. Tapi sakit atas luka yang ditorehkan di masa lalu, begitu sulit untuk disembuhkan, bahkan oleh waktu. Alasan Dani memang bisa diterima Kaniya, tapi tetap tidak bisa mengubah kenyataan.


"Kak, kita sudah lama berpisah, dan kupikir otomatis kita telah bercerai karena kita hanya menikah agama. Karena aku pergi, melalaikan kewajiban sebagai istri dan kakak pun tidak memberikan nafkah, maka otomatis kita telah bercerai. Aku sama sekali tidak tahu bahwa kakak sudah mendaftarkan pernikahan kita, dan kita masih jadi suami istri secara hukum"


"Aku melakukan ini, beberapa bulan sebelum kepergianmu. Rencananya, ini akan menjadi kejutan untuk hari ulang tahunmu, yang. Tapi, aku malah terjebak dalam pernikahan dengan Raina, dan kau meninggalkanku" jelas Dani dengan tatapan sendu.


Kaniya hanya bisa menghela nafas. Dia tidak tahu posisinya saat ini. Meskipun berhijab, tapi pemahaman agamanya masih sangat minim. Apalagi mengenai pernikahan.


"Kak, pernikahanku tinggal menghitung hari, aku gak mungkin membatalkan pernikahanku dengan Afdhal. Bisakah kakak menceraikan aku? Bukankah kakak sudah menikah dengan Raina?"


"Aku gak mau, yang. Aku sudah bersusah payah mencarimu. Aku mencintaimu, dulu, sekarang dan selamanya. Tentang Raina, dia sudah tahu segalanya dan merelakan jika nanti aku menemukanmu dan kita kembali bersama"


"Tapi.., aku sudah tidak mencintaimu. Apapun alasan perbuatanmu di masa lalu, rasa cinta itu telah terkikis di hatiku, hingga menghilang sepenuhnya. Saat aku bertemu lagi denganmu waktu itu, yang kuingat hanya tatapan kecewa ayahku, kesedihan beliau dan juga kematian anak kita dalam kandunganku" Ucap Kaniya setegas yang dimampunya. Menahan tangis karena sakit, setiap mengingat kejadian di masa lalu.


"Baiklah, kamu boleh tak mencintaiku lagi, tapi aku tetap akan berusaha agar kamu kembali kepadaku. Aku tidak akan pernah menceraikanmu". Balas Dani tak kalah tegas.


"Kalau begitu, kita akan bertemu di pengadilan. Aku akan mengajukan gugatan perceraian" Kaniya menatap Afdhal "Ayo kita pergi Dhal , urusanku dengannya sudah selesai".


Afdhal hanya mengikuti kemauan Kaniya. sejujurnya, dia pun bingung. Status Kaniya saat ini masih istri orang lain. Hal itu sama sekali tidak pernah terpikir olehnya, sehingga dia tidak memiliki cara untuk mengatasinya.


"Kaniya.. Aku tidak akan pernah menceraikanmu.." Dani berteriak melihat Kaniya yang telah meninggalkannya.


Perjalanan mereka ke mall, dipenuhi dengan keheningan. Masalah ini sungguh rumit bagi mereka yang sebentar lagi akan menikah. Mengurus di pengadilan agama pun butuh waktu lama. Apalagi, Dani menolak untuk menceraikannya.


Saat mobil berhenti di parkiran mall, Kaniya tidak beranjak turun. Dia seolah kehilangan energi. Semangatnya untuk belanja, hilang entah kemana. Akhirnya, dia hanya mengirimkan pesan kepada Nindya agar segera keluar.


Lima menit menunggu, akhirnya Nindya dan yang lain sampai di mobil. Mereka pulang dengan membawa banyak belanjaan. Sama seperti perjalanan tadi, saat ini Kaniya dan Afdhal hanya saling diam. Nindya yang merasa heran, juga tidak enak untuk bertanya, sehingga ikut diam. Hanya kakak Afdhal yang sesekali berbicara, mengomentari hal-hal yang dilihatnya di jalan.


Menjelang magrib, akhirnya mereka sampai di rumah Kaniya. Setelah Kaniya dan kedua keponakannya turun, Afdhal melajukan mobil kerumahnya.


***


Kaniya yang merasa buntu dengan kehadiran Dani tidak tahu harus berbuat apa, semntara persiapan pernikahan terus berlanjut. Pun Afdhal yang merasa bingung bagaimana harus menjelaskan kepada orang tua dan keluarganya.


Besok, mereka akan mengurus berkas pernikahan pada imam dusun, dan diteruskan kepada KUA. Rencananya, mereka akan menikah di rumah Kaniya.


Tapi permasalahan yang muncul tentang status Kaniya, mau tidak mau akan mengancam ditundanya pernikahan mereka, bahkan bisa saja batal. dan Afdhal tidak ingin hal itu terjadi.


Afdhal lalu menghubungi Kaniya untuk membicarakan permasalahan mereka. Kemarin, saat baru bertemu dengan Dani mereka masih sangat shock sehingga tidak tah harus berbicara apa. Tapi sekarang, Afdhal berpikir bahwa mereka harus membicarakan masalah ini.


"Halo.." suara Kaniya menyapa pada dering pertama.


"Assalamu Alaikum, put"


"Waalaikum salam, Dhal"


"Put, tentang pernikahan kita, besok kita harus menyiapkan berkasnya dan membawa ke pak imam. Tapi.."


"Aku paham, Dhal. Aku juga bingung. Tentang statusku yang masih jadi istri kak Dani secara hukum, aku sungguh tak tahu. Kami hanya menikah secara siri, dan kupikir kami secara agama pun telah bercerai karena masing-masing tidak memenuhi hak dan kewajiban selama bertahun tahun.


Aku tidak tahu, kalau dia sudah mendaftarkan pernikahan kami dan telah memperoleh akta nikah. Aku tidak pernah berniat untuk berbohong padamu". Kaniya berusaha menjelaskan.


"Iya, aku percaya padamu. Tapi.. kita tidak mungkin menikah saat kamu masih terikat pernikahan dengan orang lain" Afdhal berkata sendu. Dia begitu mencintai Kaniya, andai Kaniya janda sekalipun dia tetap akan menerimanya. Tapi, saat ini Kaniya berstatus seorang istri.


Tanpa disadarinya, di belakang Afdhal, ibunya berdiri mematung. Dia sungguh kaget dengan ucapan Afdhal pada lawan bicaranya.


Tadinya, ia hendak memanggil Afdhal untuk makan malam. Tapi, dia malah harus mendengar pembicaraan Afdhal dengan Kaniya.


"A..ak..ku, akan menerima semua keputusanmu, Dhal. Aku tahu, kita tidak mungkin menikah saat ini. Tapi.., undangan sudah disebarkan, aku tidak tahu harus mengatakan apa pada keluargaku"


"Sabarlah,.Put. Bagaimana kalau kita tunda saja pernikahan kita. Aku akan berkata pada keluargaku kalau aku tiba-tiba harus ditugaskan di luar kota, kebetulan kami belum menyebar undangan. Undangan untuk keluarga dan teman-temanmu yang terlanjur tersebar, kita bisa kirimkan penyampaian penundaan.


Lalu, kamu bisa mengurus perceraianmu. Saat akta ceraimu ...."


"Tidak ada lagi pernikahan, Afdhal. Kamu tidak akan menikah dengan Kaniya" belum sempat Afdhal meneruskan rencana yang muncul begitu saja di otaknya saat berbicara dengan Kaniya, ibunya sudah menyanggah dengan cepat.


"I..Bu..??"


***