
'sayang.. kenapa.. ko' kamu nangis'
'ka..kak lagi dimana sekarang?' Kaniya berusaha menahan tangisnya tapi tak mampu.
'kakak lagi di luar kota sekarang, ada pekerjaan yang harus diselesaikan'
'Kak.. Kaniya sekarang sedang sakit... sakit sekali... Kaniya boleh video call'??
'kamu sakit apa yang, kamu ke rumah ibu yah. ntar, aku usahakan cepat pulang yah'
Kaniya dapat melihat raut panik dari wajah sang suami.
'kak ... aku ganti ke VC ya kak' lalu Kaniya mengubah mode panggilan dan Dani menerimanya.
'Yang... kamu dimana, kok kayak ditaman. katanya lagi sakit??'
Kaniya lalu mengarahkan kamera ponselnya ke tempat duduk Dani tadi. masih ada wanita hamil yang bersama Dani, dia menunggu sambil ngemil.
'yang... kamu...' Dani berbalik dengan resah, menatap tepat ke arah Kaniya yang sedang mengarahkan kamera ponselnya ke wanita berbaju hijau didepannya.
'hati aku yang sakit kak...' lalu Kaniya mematikan sambungan telpon dan berjalan cepat menuju motornya terparkir. Tak dipedulikan Dani yang mengejarnya.
Begitu sampai, Kaniya langsung melajukan motornya kembali ke rumah. Dia tidak ingin langsung melabrak Dani bersama perempuan yang bersamanya. Bukannya tidak marah, tapi dia sadar, statusnya hanya istri siri. Saat dia bertindak gegabah, bisa saja malah dia yang akan mendapatkan rasa malu. Dia memilih pulang ke rumah, dan akan meninggalkan rumah itu setelah Dani menceraikannya.
Dia mengingat semua kenangan indah selama bersama Dani. Lalu beralih ke kebiasaan Dani satu bulan ini yang berubah. Dani lebih sering lembur, bahkan bekerja diakhir pekan. Akhirnya Kaniya, mengerti penyebabnya.
Kaniya terisak, bahkan matanya mulai buram dan hampir menabrak pejalan kaki.
"hei... bawa motor yang benar dong" ucap kasar seorang bapak-bapak yang hampir ditabrak Kaniya saat menyebrang.
"M..maaf pak" Kaniya hanya menundukkan wajah memohon maaf.
Sang bapak yang mendengar suara serak Kaniya dan wajahnya yang sembab karena menangis menjadi kasihan. mau lanjut marah tapi tak sampai hati. Akhirnya, ia membiarkan Kaniya melanjutkan perjalanannya.
Sampai di rumah, Kaniya menuju kamarnya. Dia kembali hanyut dalam tangisnya. Dia tidak pernah berpikir bahwa Dani akan melakukan hal ini, menghianatinya, menodai pernikahan mereka.
"bahkan wanita itu hamil, saat aku harus selalu menggunakan alat kontrasepsi, khizzz...khizzz.. mereka melakukan prewedding saat aku dan kak Dani hanya bisa menikah secara siri tanpa memiliki foto dengan gaun pengantin " Kaniya terus meratapi nasibnya.
Sekilas dia teringat kekecewaan ayahnya saat memilih menikah siri daripada berpisah dengan Dani. Dia juga mengingat bagaimana ayahnya menolak dia datang ke rumah sebelum menikah secara hukum.
"khizzz... ayah,.maafkan Kaniya... Bu.. Kaniya sangat rindu... khiz..khizz" Kaniya terus terisak dalam tangisnya.
"akh..." tiba-tiba dia merasakan perutnya sakit. Kaniya akhirnya tersadar, bahwa dia belum memakan apapun juga. Rasa pening di kepala dan mual ikut menyerangnya.
Kaniya melangkah gontai menuju dapur sambil memegang perutnya. Dia meraih kotak makanan yang dibawa tadi siang untuk Dani.
Dengan gemetar, Kaniya menyuapkan makanan. Saat suapan terakhir, dia mendengar suara pintu terbuka. Kaniya meminum air putih didekatnya dan menunggu Dani di meja makan. Dia sudah siap mendengar semua penjelasan Dani. Bahkan dia siap jika harus berpisah dengan Dani. Ini adalah resiko yang harus ditanggungnya, karena memilih jalan ini.
"Yang... " Dani duduk bersimpuh di depan Kaniya..Kaniya hanya diam, menatap gelas yang masih dipegangnya.
"Yang.. Tadi itu anak atasan aku, Raina" Dani mengamati reaksi kaniya. Kaniya sudah mulai mau menatapnya. Dani tahu, Kaniya sangat mencintainya. Kaniya tidak akan pergi meninggalkannya hanya karena kesalahpahaman ini.
"Calon suaminya meninggal, saat menjelang hari pernikahan mereka. Padahal dia sedang hamil 3 bulan saat itu, akhirnya dia mengalami depresi" jelas Dani.
"Lalu,.apa hubungannya dengan kakak?" Marah Kaniya, matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Suatu hari, aku ke rumah atasanku mengantarkan berkas, karena beliau tidak masuk kantor. Tapi, aku tanpa sengaja bertemu dengannya dan dia langsung memelukku dan menganggap aku adalah Raka calon suaminya" Kaniya menatap tak percaya pada Dani.
Lalu Dani membuka ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto yang didalamnya terlihat wajah Raina sedang dipeluk dari belakang oleh pria mirip suaminya. Bedanya, lelaki itu memiliki rambut panjang yang diikat rapi.
"Tapi.. ka.. khiz..kakak sangat mesra dengannya saat di taman, memanggil sayang, bahkan melakukan foto prewedding" Kaniya masih belum paham dengan semua penjelasan Dani, dengan apa yang didengar dan dilihatnya. Isakannya, sesekali masih terdengar.
"Karena setelah hari itu, ayahnya menginginkanku berperan sebagai Raka dan berusaha membuat sembuh anaknya. Aku harus datang pada saat diminta olehnya, dan juga menemaninya untuk berobat" Dani kembali menjelaskan.
"Kenapa kak Dani tidak menolak? Demi menemani anak atasan, Kakak bahkan seringkali meninggalkanku akhir-akhir ini. Kita tidak pernah lagi makan bersama, saat kakak pulang, aku sudah tertidur. Apakah kakak tahu betapa kesepiannya aku.
"ya.. kakak menemuinya. Dia memiliki emosi labil. Bahkan pekerjaan kakak di kantor, sebagian dikerjakan oleh orang lain atas perintah ayahnya. Dia memintaku untuk selalu siap saat anaknya memanggilku.
tapi, tenang saja. Raina terlihat sudah ada kemajuan. dokter bilang, dia akan segera sembuh asal rajin berobat dan tidak terkena tekanan lagi. setelah dia sembuh, kakak tidak punya kewajiban lagi untuk menemuinya"
"Lalu foto prewedding itu??" Kaniya
"Calon suaminya meninggal saat mereka akan melakukan foto prewedding di taman itu. Dia mengalami kecelakaan tunggal. Untunglah waktu itu, Raina pergi lebih dahulu ke salon dan langsung menuju taman. Sedangkan calon suaminya berangkat sendirian dari kantornya.
Saat ini, dia masih menganggap bahwa dia dan Raka akan menikah. Sehingga dia ingin melanjutkan foto prewedding nya di taman. Dia bilang, itu kemauan bayi dalam kandungannya. Sekarang usia kandungannya sudah enam bulan dan calon suaminya meninggal 3 bulan lalu" papar Dani.
"Kak.. kenapa kakak membantunya, bahkan sampai tega membohongiku. Apakah cuma karena kasihan?" sejenak Dani terdiam menatap Kaniya.
"Sebenarnya, ayahnya tahu tentang pernikahan siri kita. Dia mengancam akan menuntut karena aku menyalahi kontrak jika aku tak memenuhi permintaannya" Dani tertunduk lesu setelah mengatakannya.
"Lalu, apa kalian akan menikah??" Kaniya sudah berhenti menangis.
"tentu saja tidak. Aku sudah punya istri. istri yang sangat cantik, yang rela meninggalkan keluarganya demi bersama denganku. kenapa aku harus menikah dengan orang lain...
Aku sangat mencintaimu Adinda Kaniya Putri, istriku. Hanya kamu yang akan selalu jadi istriku. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu, di sisiku dan di hatiku. Kau separuh nafasku, bagaimana bisa aku hidup jika harus berpisah denganmu?" Kaniya menarik nafas lega. wajahnya yang tadi pucat perlahan merona. Mendengar ungkapan cinta dari suaminya membuatnya bisa melupakan semua kesalahannya.
Kaniya menghambur masuk ke pelukan suaminya.
"Maafkan aku yang, maafkan aku yang membuatmu menangis, maafkan aku yang tidak jujur selama ini, harusnya aku membicarakan semuanya denganmu" Dani merengkuh erat tubuh istrinya.
Kaniya menarik diri dari pelukan Dani, lalu menatap wajah suaminya yang sendu penuh rasa bersalah.
"Kaniya yang minta maaf kak, karena sudah berburuk sangka padamu" Mereka bertatapan lama dan dalam. Hingga Dani mendekatkan wajah mereka dan menyatukan nafas.
Kaniya menyambut perlakuan suaminya dengan penuh cinta. Saat alunan cinta mulai menghanyutkan mereka, Dani membawa Kaniya ke dalam kamar dan menuntaskan segala kerinduannya terhadap sang istri.
***