
"Ayah... khizz..khizzz" Kaniya terus menangis memanggil ayahnya
tok..tok..
Tring..tringg..
Sementara suara ketukan dan suara bel silih berganti terdengar. Kaniya masih terhanyut dalam mimpinya.
tok tok tok tok...
Suara ketukan semakin keras
"Ayah....,." Kaniya terbangun dari tidurnya, dikerjapkan matanya, lalu melihat sekitar. Dia berada di tempat asing. Dia kembali bermimpi.
tok tok..
Atensinya beralih ke suara ketukan di pintu. Dengan malas, Kaniya melangkah ke arah kamar Mandi. Dia mencuci wajahnya, menghilangkan jejak-jejak air mata yang terus mengalir. Lalu mengeringkannya dengan handuk yang tersedia di kamar mandi hotel.
Saat keluar, dia sempatkan melihat jam pada ponsel. sekarang sudah pukul 18.40, dan dia belum melaksanakan kewajibannya. Dengan segera dia membuka pintu dan melihat Abidzar dan Syifa berdiri disana.
"Tante, belum siap?"
"Maaf yah, Tante ketiduran. Tante mandi dan siap-siap dulu yah Syifa" Kaniya berucap dengan nada bersalah.
Abidzar hanya menatap wajah Kaniya yang terlihat sembab. Dia tak berbicara apa-apa, karena tak ingin membuat Kaniya merasa canggung jika bertanya. Lagian belum sedekat itu untuk bertanya hal pribadi.
"Ok Tante".
Setelah Syifa dan ayahnya kembali ke kamar mereka. Kaniya menutup pintu dan segera Menunaikan kewajibannya. Tidak menunggu mandi, Krn jika mandi maka waktunya tidak akan sempat.
***
"Tan, besok ikut Syifa dan ayah jalan-jalan yah. Ternyata asyik jalan bertiga. Serasa Syifa punya Ibu..."
Huk...
"Ini, minumlah, hati-hati makannya" Abidzar menyodorkan air minum ke arah Kaniya.
Dia mengacungkan jempol untuk anaknya dalam hati. Meskipun dia juga sedih mendengar perkataan anaknya yang seolah rindu akan sosok ibu yang telah meninggalkan mereka lima tahun lalu.
Kaniya berusaha menetralkan kekagetannya dengan perkataan Syifa. Dia merasa kasihan pada gadis kecil ini. Tapi mereka hanya orang asing yang baru bertemu. Tak pantas rasanya untuk terlalu dekat. Apalagi ada ayah Syifa yang nyatanya adalah laki-laki dewasa. Sekarang saja, dia sudah merasa tidak enak. Nafsu makannya tiba-tiba menurun drastis. menu Claypot seafood with asam sauce dihadapannya, rasanya sudah tidak menarik lagi. Dia ingin menyudahi acara makannya tapi takut mubazir karena tidak menghabiskan makanannya. Akhirnya, dia melanjutkan makan dengan enggan.
"Maaf yah Syifa, Tante bukannya gak mau. Tapi, besok Tante harus mendatangi sebuah tempat, jadi tidak bisa menemani Syifa"
"yah... artinya, Syifa dan ayah berdua lagi deh mainnya" Syifa mengerucutkan bibir.
"Memangnya, Syifa gak senang jalan berdua dengan ayah??" Tanya abidzar menatap Syifa dengan mimik sedih walau hanya pura-pura.
"Bukan begitu yah, tapi Syifa ingin juga jalan sama Ibu. Karena ibu dah gak ada, jadi Syifa ingin jalan sama Tante Kaniya"
"nggak Tan, Syifa pernah mimpi ketemu ibu. katanya, Syifa akan bertemu seseorang yang akan menjaga dan menyayangi Syifa dan ayah kayak ibu. Lalu, Syifa diajak ke hotel ini menemui ayah. Setelah ketemu ayah, ibu pergi. Dan ayah membawa Syifa masuk Lift yang didalamnya ada seorang perempuan pake jilbab. Tapi, Syifa gak lihat wajahnya Tante, karena tertutup cadar, tapi itu mirip tante" Kaniya dan Abidzar terperangah mendengar mimpi Syifa.
Abidzar sampai melongo mendengar anaknya berbicara begitu lancar. Meskipun ceria, anaknya bukanlah tipe yang langsung bisa dekat dengan orang lain. Dia juga tak menyangka bahwa anaknya bermimpi seperti itu, Syifa tidak pernah bercerita padahal mereka cukup akrab dan memiliki waktu berdua untuk bercerita dimalam Hari. Sebelum sesi dongeng, biasanya Abidzar akan meminta anaknya menceritakan pengalamannya di sekolah
"Syifa, mimpi itu bunga tidur sayang. Pasti Ibu Syifa wanita yang sangat baik dan sayang sama Syifa sehingga Tuhan mempertemukan kalian dalam mimpi. Tapi Tante mohon maaf yah, Tante betulan gak bisa ikut besok. Tante harus mengunjungi suatu tempat untuk urusan pekerjaan Tante"
"Nak, jangan paksa Tante dong, kan nanti kita bisa ketemu lagi nanti pada saat Tante Kaniya punya waktu" Hibur Abidzar sekaligus mengambil kesempatan agar Kaniya memberikan janji temu selanjutnya. "Benar kan Kaniya?"
Abidzar menatap Kaniya dengan senyumnya yang menawan. Meskipun tidak mempan terhadap Kaniya, bahkan dia hendak mendelik tajam pada Abidzar tapi dia tahan demi kesopanan. Padahal dia tidak berniat bertemu lagi dengan mereka. meskipun Syifa adalah gadis manis yang langsung membuatnya jatuh cinta saat pertama jumpa. Tapi, Kaniya hanya tidak ingin menimbulkan persepsi macam-macam dari orang lain yang melihat.
Lihat saja sekarang, mereka bertiga makan layaknya sebuah keluarga kecil bahagia. Kaniya rasanya ingin memutar bola matanya karena jengah.
"Heheh.. iya Syifa, kita bisa ketemu lagi lain waktu"
"Yeee... benar yah Tan, janji loh" girangnya sambil mengarahkan jari kelingking kepada Kaniya.
Mau tidak mau, Kaniya menyambut dan menautkan jari kelingking mereka. hal itu tidak terlepas dari pengamatan Abidzar. Dia memperhatikan jari-jari Kaniya yang bebas dari cincin kawin. 'Aku yang akan mengisi jari itu dengan cincin, ternyata gadis ini benar-benar nyata sayang' ucap Abidzar dalam hati, seolah berbicara pada sang istri yang telah tiada.
Abidzar tidak tahu saja kalau di kota ini, tidak semua orang yang menikah menggunakan cincin kawin.
"kalau begitu, Tante harus menyimpan nomor hp. Yah, minta hp ayah, Syifa mau nyimpan nomor Tante Kaniya"
"Sebentar sayang, kita habiskan dulu makanannya. Nanti mereka menangis loh, dari tadi cuma diaduk-aduk gak dihabisin" Abidzar menasehati Syifa tapi melirik kepada Kaniya yang seolah hilang selera makan.
Merasa tersindir, akhirnya Kaniya mempercepat makannya, hingga hanya hening yang mengiringi kegiatan makan mereka. Syifa pun hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.
Setelah makanan di depan mereka tandas, Syifa menagih janji nomor HP Kaniya. Abidzar pun melakukan Scan pada barcode WA Kaniya, lalu menelponnya agar Kaniya ikut menyimpan nomornya. Lalu mereka berbincang sebentar dan memutuskan kembali ke kamar.
Syifa yang tiba-tiba lengket dan tak ingin berpisah dengan Kaniya hendak menginap bersamanya. Namun setelah diberikan penjelasan dan berbagai bujukan,.akhirnya dia mau mengerti dan ikut bersama ayahnya.
Tiba di kamar, Kaniya merebahkan tubuhnya sejenak. Merasa takjub dengan berbagai kejadian hari ini. Bertemu mantan, tersesat lalu bertemu dengan gadis kecil yang menggemaskan ditambah ayahnya yang.. sayangnya terlihat 'Gagah'.
Kaniya mengakui hal itu, meskipun tidak terang-terangan memperhatikan, tapi melihat sekilas pun dia bisa menilai penampakan pria dewasa itu. Tubuh tinggi dan kekar, sama sekali tidak terlihat lemak ditubuhnya. Kaniya merasa rendah diri saat membayangkan dirinya yang pendek dan agak berisi namun tidak pada tempatnya.
'Ngapain juga aku memikirkan dia' Kaniya merutuki kebodohannya, lalu bergegas bangun menuju ke kamar mandi, membersihkan diri. Dia mengganti pakaiannya dengan sebuah daster mini. Kaniya memang selalu membawa pakaian ganti saat ke kota, meskipun tidak niat untuk menginap, hanya untuk berjaga-jaga.
Keluar dari kamar mandi, Kaniya melakukan VC dengan Nindya untuk laporan, supaya ibunya atau kakak Kaniya tidak khawatir berlebihan seperti biasa.
Kaniya yang belum ingin tidur, membuka pesan dari beberapa pelanggannya yang membuat tugas akhir, termasuk Afdhal, lalu membalasnya.
Kaniya juga membuka pesan Anton temannya di masa kecil yang mengirimkan undangan pernikahan. Kaniya membalas dengan doa agar acaranya dilancarkan. Anton sudah menerima dengan ikhlas saat Kaniya menolak lamarannya. Biar bagaimanapun, Kaniya tidak menolaknya dengan kasar. Kaniya selama ini adalah kakak kelas yang selalu baik padanya dan Afdhal, juga pada teman-teman mereka yang lain di desa. Meskipun demikian, hubungan mereka bertiga dulu tergolong paling dekat dibanding yang lain.
Setelah sulit menahan kantuk, Kaniya menyimpan HP nya, membiarkan lampu tetap menyala karena dia takut kegelapan saat berada di tempat asing. Kaniya membaca doa, lalu menarik selimut menutupi tubuhnya. Berharap tidurnya lelap tanpa gangguan mimpi lagi.
***