
Setelah sarapan pagi yang terlambat, Syifa mengajak Kaniya kembali ke taman belakang. Hari ini, Syifa akan mengajak Kaniya memetik stroberi yang tampak menggoda dengan warnanya yang merah.
"Syifa, sekarang umurmu berapa?
"7 tahun, Tante" Jawab Syifa sambil terus memetik buah stroberi yang telah matang.
"oww... Kamu nggak sekolah?" Pertanyaan ini diberikan Kaniya karena Syifa selalu tampak ikut dengan ayahnya.
"Sekolah kok, Tan. Syifa hanya ikut ayah pas libur aja" Kaniya hanya mangguk-mangguk.
"Tan, kalau aku kesini lagi boleh yah ikut ke rumah Tante"
"Boleh dong sayang" jawab Kaniya mantap.
"Wah.. makasih Tan. Rumah Tante yang di ujung itu kan? yang banyak bunga di depannya? Nindya juga lihat banyak orang disana. Catnya warna cokelat"
"eh.. kok Syifa bisa tahu?"
"Iya dong. Semenjak dari pasar kemarin. Ayah terus berbicara tentang rumah Tante Kaniya. Trus Syifa penasaran, jadi ikut ke depan melihat"
Kaniya tersenyum saja dengan penuturan Syifa. Rumahnya dengan Villa keluarga milik abidzar jaraknya begitu dekat, sekitar 50 meter. Jadi bisa di lihat dari depan.
Villa Kaniya, terdiri dari 10 kamar yang mengelilingi sebuah ruang untuk pertemuan. Setiap kamar memiliki semacam balkon di bagian belakang agar tamu yang menginap bisa memanjakan matanya kapan saja dari kamar.
Kamar dibentuk seperti rumah petak. Setiap kamar memiliki tangga untuk naik, meskipun tidak terlalu tinggi, hanya 3 pijakan kayu.
Tangga berada di bagian dalam, sehingga para tamu bisa bertemu di ruang pertemuan saat keluar kamar. Untuk makanan bagi para tamu, Kaniya akan mengenakan biaya tambahan.
Biasanya tamu yang menginap di hari sabtu-minggu, datang berombongan. Mereka akan memboking seluruh kamar. Halaman yang luas, membuat mereka bebas mengatur kegiatan yang menyenangkan di malam hari. Dan berkeliling ke tempat wisata di siang hari, mengingat villa Kaniya dekat dengan beberapa destinasi wisata di kota wisata ini.
"Syifa, keranjangnya dah penuh. Kita bawa ke dalam yah" Syifa hanya mengangguk.
Keranjang kecil yang mereka bawa sudah penuh dengan stroberi. Mereka melangkah bersama ke dalam rumah, dengan Syifa yang terus menggandeng Kaniya.
Ibu dan Abidzar hanya bisa tersenyum melihat kelakuan syifa. Syifa telah lama kehilangan sosok ibu. Semenjak istri Abidzar meninggal, Abidzar tidak pernah lagi dekat dengan perempuan.
Sementara mama Syifa, adik Abidzar lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di luar negeri. Dia hanya akan datang sesekali, itupun harus dipaksa dulu saat ulang tahun Syifa.
"Kamu serius dengannya, nak?" Abidzar Menatap ibunya yang bertanya.
"Sangat serius, Bu"
"Kalau begitu, halalkan. Usia kalian sudah sangat cukup untuk menikah"
"Abidzar juga maunya menikahi Kaniya secepatnya. Tapi, Kaniya belum siap, Bu. Dia baru saja bercerai"
"Apa?. Dia sudah menikah? Tapi, dia masih terlihat saat muda. Ibu pikir, dia masih gadis yang baru selesai kuliah?" Tanya ibu yang begitu kaget dengan penuturan Abidzar.
"Tidak, Bu. Kaniya sudah pernah menikah tapi sekarang sudah bercerai"
"Berapa umurnya sekarang?" Tanya ibu penasaran.
"38 lebih, Bu" jawab Abidzar
"Apa? Itu artinya, dia akan kesulitan punya anak setelah kalian menikah? Lalu bagaimana dengan pewaris keluarga kita, Abi. Ayahmu pasti tidak akan senang mendengar ini" Ibu mulai khawatir dengan keadaan Kaniya yang ternyata sudah sangat dewasa bahkan kemungkinan sudah tidak produktif lagi.
"Kan, ada Syifa, Bu. Dia juga keturunan keluarga ini, apa yang harus dikhawatirkan?"
"Tapi, ibu dan ayah juga ingin cucu dari mu, Abi. Ibu baru punya Syifa. Sedangkan, adikmu malah tidak mau menikah"
"Bu, masalah anak itu adalah rejeki dari Allah. Kaniya juga belum tentu tidak bisa lagi melahirkan seorang anak. Apalagi zaman sudah modern begini, teknologi di rumah sakit sangat canggih. Jangankan yang sudah menikah, yang belum menikah saja bisa melakukan program untuk punya anak." Abidzar berusaha meyakinkan ibunya.
"Lagian,.ibu dan ayah mau aku menikah dengan wanita usia berapa tahun? Usiaku saja sudah 40 tahun bu. Dan Kaniya juga belum menerimaku. Dia sepertinya memiliki trauma dengan pernikahan sebelumnya" Papar Abidzar.
"hhhh.. kamu benar. Maafkan ibu, ibu hanya khawatir. Kamu yang semangat yah kejar Kaniya. Datangi keluarganya untuk melamar. Bukan kayak kemarin di pasar"
"hehhe.. yah maaf bu. Aku hanya terbawa suasana" ucap Abidzar mengusap lehernya.
"Ayah, nenek, lihat. Syifa dapat banyak stroberi dari kebun" Syifa berlari masuk memperlihatkan keranjangnya yang berisi stroberi.
"Syifa nggak sayang sama stroberinya?.masa buah cantik begitu dipetik?" sindir Abidzar menatap jahil pada anaknya.
"nggak yah, kan buah memang untuk dipetik. iya kan Tante?" Nindya meminta pembenaran dari Kaniya.
"Iya, sayang. Buah memang untuk dipetik kalau sudah matang. kalau tidak, akan berakhir busuk dipohonnya dan gak bisa dimakan lagi" jawab Kaniya.
"Tuh kan yah" Syifa berkata dengan sombong.
Ayahnya hanya mangguk-mangguk sambil tersenyum penuh arti pada ibunya.
"Tante, saya juga mau pamit pulang" pamit Kaniya pada ibu Abidzar.
"Makan dulu nak. Makan siang sedang dipersiapkan" Ucap ibu abidzar.
"Terimakasih, Tan. Tapi, saya sudah terlalu lama di luar. Keluarga saya pun akan segera kembali ke kampung" tolak Kaniya dengan halus.
"Baiklah, kalau begitu"
"Yah.. Tante, masa pulang sih" Rajuk Syifa.
Kaniya hanya tersenyum membelai rambut Syifa.
"Tante kan punya keluarga di rumah. kalau Tante tidak pulang, bisa-bisa mereka khawatir. Syifa kalau lama nggak pulang, ayah Syifa khawatir bukan?" Syifa mengangguk
"Nah, begitu juga Tante Kaniya"
"ok Tante. Tapi, nanti kita ketemu lagi yah" Syifa langsung memeluk Kaniya, enggan berpisah.
"Iya, kapan aja Syifa kangen, bisa datang ke rumah tante" Jawab Kaniya menenangkan.
"Aku antar yah, Kaniya" Kaniya menatap Abidzar. Dia tidak ingin hanya berduaan dengan Abidzar. Tadi pagi saja sudah banyak kejadian yang tak seharusnya.
Melihat tatapan ragu dari Kaniya. Abidzar segera memahami kekhawatirannya.
"Syifa juga ikut. Kan ingin tahu rumahnya Tante Kaniya" Lanjut abidzar.
Kaniya tersenyum lalu mengangguk. Setelah berpamitan. Mereka berjalan keluar menuju rumah Kaniya. Kaniya menatap Villa abidzar yang berbeda dengan miliknya. Villa ini berbentuk rumah panggung meskipun tidak tinggi. Di dalamnya terdapat banyak kamar.
Villa keluarga Abidzar hanya sesekali digunakan untuk kegiatan kantor. Selebihnya, Abidzar tidak menyewakan untuk umum.
Abidzar memang membeli villa ini hanya untuk tempat peristirahatan keluarga. Lalu direnovasi sesuai keinginannya.
Sehingga keluarga intinya memiliki kamar yang lengkap dengan perabotnya, bahkan pakaian tersedia lengkap. Dapur untuk keluarga mereka juga terpisah dari yang lain
Ada sekat antara kamar untuk tamu dengan kamar keluarga mereka. Kamar keluarga inti abidzar ada empat, terdiri atas kamarnya, kamar Syifa, kamar adiknya dan kamar orang tuanya.
Sedangkan kamar tamu berjejer di bagian depan. Ada pintu yang menghubungkan dengan ruangan di bagian dalam dimana keluarga abidzar bertempat. Kamar tamu terdiri dari lima kamar di bagian kanan dan empat kamar di bagian kiri yang dibagikan ujungnya terdapat satu ruang dapur dan sekaligus ruang makan.
Di bagian paling belakang di ruang keluarga abidzar, ada pintu yang langsung menghadap ke taman belakang. Sehingga, jika ingin ke taman, mereka bisa keluar dari pintu belakang.
Tentunya pintu ini hanya bisa diakses dari ruang keluarga abidzar. Tamu yang datang tidak bisa masuk ke dalamnya.
Bahkan, penjaga kebun melewati pintu samping untuk masuk. Begitu yang membantu memasak dan membersihkan ruangan itu. Mereka menggunakan pintu samping lalu naik ke rumah dengan menggunakan pintu belakang.
Sangat jarang, pintu penghubung di buka kecuali saat keluarga besar abidzar yang berlibur kesini.
Abidzar hanya berusaha menjaga agar anaknya bisa bermain dengan bebas di belakang. Dan tanaman kesukaan anaknya bisa terawat dengan baik tanpa gangguan tangan-tangan jahil.
Lagipula, di bagian depan sudah ada taman yang bisa dinikmati umum. Ada pula tempat untuk membuat api unggun.
Abidzar selalu menyebut ini adalah rumah keduanya. Karena, selama membelinya setiap akhir pekan, abidzar akan berlibur kesini. Syifa sangat senang di tempat ini.
"Wah... Indah sekali" Syifa memecah kesunyian yang tercipta di antara mereka.
Dia berlari masuk gerbang rumah menuju hamparan bunga yang berjejer indah di sebelah kiri dan kanan jalanan masuk. Kaniya tersenyum melihat tingkah Syifa yang begitu mencintai tanaman. Dia pun mengajak Abidzar dan Syifa untuk menuju rumahnya di bagian belakang.
***