38 +

38 +
Kembali ke kampung



Abidzar akhirnya mengantarkan Kaniya pulang ke kampungnya. Kaniya memutuskan untuk melakukan segala persiapan di kampung halamannya.


Meskipun dikampung Kaniya begitu banyak tetangga julid. Tapi, Kaniya sadar bahwa di samping kejulidan mereka, ada perhatian yang terselip. Apalagi, di kampung itu semua keluarganya tinggal.


"Kaniya, kamu ingin pesta seperti apa?" Tanya abidzar mengikis sepi diantara mereka.


"Yang sederhana saja. Cukup akad, lalu syukuran kecil-kecilan bersama keluarga" Kaniya tak ingin pesta mewah. Abidzar tak ingin mendebat Kaniya, meskipun begitu dia tetap akan berusaha agar pesta pernikahan mereka memiliki kesan mendalam bagi Kaniya.


"Ok. Untuk di kampungmu, kita akan mengadakan pesta sesuai keinginanmu. Tapi, aku memiliki banyak keluarga dan teman yang harus diundang. Kamu nggak keberatan kan, kalau kita buat pesta di kota wisata?" Tanya abidzar.


"Tidak masalah, Bi. Di kampung kami, memang pesta pernikahan diadakan di dua tempat, di tempat laki-laki dan perempuan. Jadi nggak masalah kalau kamu mau mengadakan pesta setelah akad di rumah" Jawab Kaniya.


Abidzar menghela nafas lega. Biar bagaimana, dia dan keluarganya bukanlah asli orang sini. Jadi, dia tidak begitu paham adat, apalagi jika itu di kampung Kaniya.


"Bagaimana dengan mahar, apa yang kamu minta?" Tanya Abidzar lagi.


"Berikan saja sesuai kemampuanmu"


"Serius?. Aku mampu memberikan sebuah mobil, rumah,...."


"stop... maksudku bukan begitu, aku tak ingin yang mewah. Yang biasa aja, yang kayak di kampungku" Potong Kaniya kesal.


"Memangnya, di kampungmu seperti apa jika memberikan mahar? beri aku satu contoh" Tanya abidzar lagi, dia betul-betul buta untuk urusan seperti ini. Pernah menikah ternyata tidak cukup memberikan pengalaman untuknya memahami hal seperti ini.


"Di kampung ku, biasanya lelaki akan memberikan emas 1 atau 2 gram. Biasa pula, ada yang memberikan sawah. Tapi, calon pengantin pria yang harus membayar uang nikah, dan memberikan sejumlah uang belanja kepada keluarga calon mempelai wanita" Jelas Kaniya panjang lebar.


"OOO.. kalau begitu, aku akan memberikan mahar satu set perhiasan, satu petak sawah, satu rumah, ...."


"Stop..." Kaniya melirik Abidzar yang duduk di depan dengan wajah kesal.


Kaniya memang duduk di belakang bersama ridho. Sedangkan Abidzar duduk di depan dengan supir.


Ridho yang dari tadi pura-pura tidur terus berusaha menahan tawa karena perdebatan kedua calon pengantin ini. Dia tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka tentang pernikahan.


Ridho tahu, tantenya tidak akan berbicara sebebas ini dengan Abidzar saat dia sudah terbangun. Dia sengaja pura-pura tidur, agar Tante dan calon omnya memiliki kesempatan bicara berdua.


"Bi, aku mohon jangan berlebihan. Ayahmu, bahkan sudah memberikan saham di perusahaannya. Dan keuntungan yang kudapat dari itu semua sudah menjadi modal dalam berbagai usahaku. Jadi, jangan lagi memanjakan ku dengan berbagai pemberian. Lagian.... " Kaniya menjeda.


"kamu yakin, mau menghafalkan semua mahar itu saat Qabul?" Tanya Kaniya dengan nada menyindirnya.


"eh.."Abidzar tersentak dan baru sadar sesuatu. Dulu, di pernikahan pertama, dia ingat betul menyebutkan mahar berupa uang dolar sejumlah tahun kelahiran istrinya.


"Baiklah, aku akan cari yang tidak terlalu panjang disebut" ucap Abidzar seolah pasrah. Tapi tangannya sedang berselancar melihat-lihat diinternet tentang akad nikah.


Dari hasil pencarian, Abidzar tahu bahwa dia tidak mesti harus menyebutkan maharnya satu persatu. Cukup mengikutkan pada apa yang dikatakan oleh orang yang menikahkannya.


Perjalanan menuju kampung Kaniya diisi percakapan mereka berdua tentang pernikahan. Ridho yang akhirnya betul-betul tertidur akhirnya mengeluarkan dengkuran halus yang membuat Kaniya menoleh sejenak, heran. Dia baru ingat bahwa Ridho akan mendengkur saat tertidur. Meskipun dengkurannya bukan dengkuran kasar yg kerap mengganggu orang lain di sekitarnya.


Kurang lebih dua jam perjalanan, mereka sampai di depan rumah Kaniya. Kaniya membangunkan Ridho dan mereka turun bersama-sama.


Kehadiran Kaniya yang menggunakan mobil mewah menurut orang-orang di kampungnya menarik perhatian. Beberapa tetangga yang kebetulan lewat, tidak bisa mengalihkan perhatian dan akhirnya menyapa.


"Eh.. Kaniya, kok baru kelihatan, dari mana saja?" Tanya seorang ibu tetangga Kaniya.


"Bu Endang?, Saya dari kota Bu. Selama ini kan saya memang tinggal di kota wisata Bu, buat kerja" Jawab Kaniya tidak melanjutkan langkahnya untuk masuk ke rumah demi menghormati orang lebih tua yang sedang bertanya.


"Andai kamu jadi menikah dengan Afdhal, tentu kamu tidak usah pergi jauh untuk bekerja. Sayang yah, keluarga Afdhal menolakmu yang ternyata sudah menikah" ucap ibu itu menyayangkan, dia menatap Kaniya dengan tatapan merendahkan.


Raut wajah Kaniya langsung berubah. Namun sebisa mungkin tidak menunjukkan kemarahannya. Ridho yang telah berjalan masuk ke rumah tentu tidak mendengarkan semua pembicaraan ini. Sedangkan Abidzar masih duduk di mobil karena menerima telpon dari ibu.


"Mungkin belum jodoh, Bu. Saya kerja di kota wisata juga karena terlanjur ada rumah di sana. Sayang kalau dibuat nganggur lebih lama. Lagian, ijazah saya harus dimanfaatkan. kalau saya tinggal di desa ini yah, ijazah saya nganggur dong Bu padahal kan susah dapatnya, enam tahun loh saya kuliah untuk dapat dua ijazah. Coba ibu tanya sama Amel anak ibu, dia akan menjelaskan bagaimana susahnya dapat gelar. Eh..tapi, Amel kan belum wisuda, jadi belum punya pengalaman dapat gelar di ijazah. Tapi setidaknya, dia bisa menjelaskan susahnya dapat ijazah sarjana, beluma lagi magister. Sekarang sudah masuk 10 semester kan dia?" Kaniya membalas panjang lebar.


"Kok bawa-bawa Amel sih. Amel kan harus kerja agar bisa menutupi uang kuliahnya. Dia itu bekerja keras untuk kuliah, wajar kalau banyak pelajaran tertinggal. Tidak kayak kamu yang menyusahkan orang tua, buat bayar kuliah. menghabiskan banyak uang, dikira kuliah yang benar ternyata malah menikah diam-diam di kota" Ibu itu mulai tidak terima saat anaknya dibawa-bawa. Sedangkan tetangga lain mulai memperhatikan mereka berdua. Mereka mendekat ke arah Kaniya dan Bu Endang


Kaniya menghela nafas lelah. Inilah yang membuatnya malas pulang kesini. Tapi, meskipun sikap mereka seperti ini, mereka tetap saling bergotong royong saat ada perhelatan. Mereka tetap saling menjenguk pada saat ada yang sakit. Saking besarnya sikap gotong royong warga, kadang urusan pribadi pun ingin dicampuri.


Abidzar yang baru turun dari mobil, agak terkejut melihat orang-orang yang berkumpul di depan rumah Kaniya. Dia melihat calon istrinya yang seperti menahan kekesalan.


"Ada apa Kaniya?" Kaniya menoleh ke sumber suara. Ibu-ibu di sana juga otomatis menoleh ke arah Abidzar.


Pandangan kagum jelas ditunjukkan mereka pada Abidzar.


"Dia bos kamu, Kaniya?" Tanya Bu Wati yang berdiri di dekat Bu Endang. Dari tadi dia begitu kagum menatap mobil di depannya. Dan tak bisa menutupi rasa kagumnya saat sosok tinggi dan tampan keluar dari mobil.


"Saya calon suaminya Kaniya, Bu." Jawab Abidzar mantap.


"Calon suami?"Pekikan tertahan terdengar dari arah kerumunan. Mereka menatap tak percaya, setengah kagum kebanyakan iri, karena Kaniya selalu dikelilingi pria tampan dan kaya yang mau jadi suaminya. Bahkan anak-anak gadis mereka yang muda dan cantik belum pernah mengenalkan seorang pria yang tampan dan terlihat mapan.


"Calon suami?" Suara seorang lelaki tiba-tiba menyeruak dari kerumunan. Kaniya menatap pada pemilik suara yang sangat dikenalnya.


***