38 +

38 +
Pertemuan dua sahabat



Hari ini, Kaniya akan menemui sahabatnya di sekolah. Dia berangkat ke sekolah dengan menggunakan motor matic yang disediakan untuknya.


"Assalamu Alaikum" Sapanya saat mulai masuk ke pos jaga di pintu masuk.


"Waalaikum Salam. Adik cari siapa?" Tanya pak satpam saat bertemu Kaniya.


"Saya cari Bu Fatimah. Sudah datang belum yah?"


"Oh.. beliau sudah datang dari tadi. Sudah buat janji sebelumnya?"


"Sudah"


"Kalau begitu, Adik langsung saja masuk ke ruangannya. Yang paling ujung dari sini, itu ruang khusus untuk ketua yayasan di sekolah ini"


"Ok. Terimakasih yah pak" Lalu Kaniya berjalan ke arah kantor yang ditunjuk oleh pak satpam.


tok tok


"Assalamu Alaikum"


"Waalaikum Salam" Kaniya mendengar suara pintu dibuka dari dalam "Kaniya?? Masya Allah. Cantik banget sekarang" Fatimah langsung menarik Kaniya ke dalam pelukannya, lalu mengurai dan memperhatikan lagi penampilan Kaniya, lalu di peluk lagi. Begitu berulang-ulang beberapa kali.


"Kamu bisa aja, memangnya dulu aku nggak cantik? Harusnya sekarang yang cantiknya berkurang, diganti sama kerutan, kan sudah tua, hehe"


"nggak, pokoknya kamu makin cantik, lebih anggun"


"Ya.. kan mau masuk ke lingkungan sekolah. Jadi harus sopan dong pakaiannya" jawab Kaniya lagi.


"Hehe... sudahlah, yang penting kamu harus istiqamah yah berhijabnya. Jangan buka tutup"


Kaniya hanya mengangguk. Fatimah memang religius dari dulu. Dia sering menegur Kaniya jika buka jilbab saat keluar rumah. Tapi, dia tidak pernah memaksakan kehendaknya pada Kaniya, sekedar memberi tahu. Katanya itu sudah jadi kewajibannya sebagai teman.


"Nggak nyangka kita ketemu lagi. Kamu serius kan mau ikut mengelola sekolah kita?"


"Serius dong. Aku bahkan sudah pindah kesini"


"Serius? Wah... Akhirnya, pemilik sebenarnya muncul juga. kamu harus lihat sekolah ini sekarang". Fatimah menarik Kaniya untuk berjalan jalan keliling sekolah.


"Masya Allah, nggak nyangka sekolah yang kita bangun sejak kuliah S2 dulu bisa sebagus ini sekarang"


"Iya, dong. Siapa dulu yang kelola"


"Iya deh, Bu DR. HJ. St. Fatimah. Nggak ada lawan memang, hehehe.." Kaniya terus menatap ke sekeliling memperhatikan setiap perubahan sekolah ini dari saat pertama dibangun.


"Tapi lebih hebat lagi nih, yang ngirim dana beasiswa tiap semester bagi siswa tidak mampu" Puji Fatimah menatap kagum pada Kaniya.


"Kalau yang itu nggak usah dibahas lagi"


"Oh iya" Kaniya membuka tas ransel yang dipakainya lalu memberikan kantong plastik pada Fatimah.


"ini apa?"


"Itu uang dari mantan suamiku. Dia ngasih banyak uang sebagai syarat kami bercerai. Dia mengancam akan mempersulit jika aku tidak menerimanya"


"Oo.. jadi bener dia mendaftarkan pernikahan kalian?. Wah.. hebat juga dia. Tapi kok, dia bisa ngasih uang banyak begini sih?"


"Uang segitu mah, cuma recehan buat dia..Nggak ada artinya. Sekarang dia pewaris tunggal dari perusahaan kakeknya. Meskipun dia punya ponakan sih, yang sekarang jadi anaknya"


"Wah... Jadi dia kaya sekarang?"


"iya. Makanya aku terima aja uangnya. Kan nggak baik menolak rejeki. Apalagi jika rejekinya bisa dinikmati siswa tidak mampu di sekolah kita, hehehe.." Kaniya memang tidak berniat menikmati sedikitpun uang dari Dani.


Meskipun awalnya, dia menggunakan uang itu untuk membeli mobil keluarganya. Tapi setelah berpikir, dia memilih untuk menyumbangkan uang itu ke sekolah atas nama Dani.


Dia mengganti seluruh uang pembelian mobil dengan uangnya. Lalu membawa uang itu kesini. Dengan demikian akan lebih bermanfaat, daripada lumutan di bank.


Setelah puas berkeliling, Kaniya dan Fatimah kembali masuk ke kantor.


"Jadi, kamu mau jadi apa disini?"


"Kalau aku sih, nggak mau ribet. Bisa jadi guru aja nggak. Atau kasih kerjaan sebagai staf gitu. Yang nggak ada jam tetapnya apa? Aku kan cuma mau banyak liburan disini?" Kaniya mulai dengan mode pemalasnya.


"huuu.. mana ada kerjaan santai. Sekarang, yang kosong posisi kepala sekolah. Mau?"


"oh.... tidak.. Pekerjaan itu akan membuatku cepat tua. Kasih aku kerjaan lain, yang membuatku dekat dengan orang-orang disini, tanpa mereka perlu tahu siapa aku"


Padahal, Kaniya sudah pernah mencoba kursus memasak.


"Bunuh saja aku..." Kata Kaniya berlebihan.


"Hahahaha.... kamu akan mengajar ekonomi di kelas X. itupun cuma 2 kelas. Bagaimana?"


"Itu, masuk berapa kali?"


"Kamu cuma perlu datang 2 kali sepekan" Jawab Fatimah tersenyum.


"Serius?? wah.. kamu memang temanku yang terbaik" Kaniya memeluk Fatimah sambil menggoyangkan badannya.


"Sudah ah. Dikasi jam sedikit kok senang. Guru disini kalau banyak jam malah senang. Karena gaji dihitung berdasarkan jam mengajar"


"Oh ya? Tapi nggak apa-apa deh, yang penting aku kerja, hehe" Kaniya menertawakan dirinya sendiri yang akhirnya akan jadi guru, sesuai jurusannya di perguruan tinggi. meskipun sebenarnya ia ragu, apa masih tahu cara mengajar di kelas.


"hhh.. begini nih, kalau orang yang nggak butuh kerjaan harus cari kerja"


"Jangan mulai deh..."


"Iya iya. Besok traktir aku yah. Pokoknya aku mau menjelajahi semua destinasi wisata di kota wisata ini, kita keliling mulai Sabtu sampai Minggu" Kaniya hanya bisa mengangguk mendengar permintaan sahabatnya.


"Dan semua kamu yang bayar, kayak biasa"


"Iya, Bu Hajjah"


"ih.. apaan sih kamu. Kayak kamu ngga aja. kita berangkatnya sama-sama loh itu"


Kaniya hanya memutar bola mata, mendengar perkataan Fatimah. Menurutnya, kata Hajja itu tak perlu disematkan di depan nama. Dia juga tak perlu, pamer pada semua orang kalau sudah melakukannya. Bahkan keluarganya saja tidak tahu.


Hanya almh. ayah dan ibunya yang tahu dan sempat mengantar. Bahkan sang ayah sempat memberinya uang. Padahal, Kaniya saat itu sudah bisa berdiri sendiri dengan uang yang dimilikinya. Ayahnya tak peduli, dan tetap memaksanya menerima uang itu. Bahkan ayah rutin mengirimkan uang bulanan pada Kaniya.


"Fat..."


"jangan mulai deh. Aku masih sama lo yah. nggak senang aku kalau kamu dah manggil kayak gitu"


"Yah maaf, Fat. Tapi itu yang paling pendek" Ucap Kaniya menahan senyum melihat wajah Fatimah yang mulai jutek.


"Tapi bukan Fat juga kali, Kan"


"Nah loh. Kamu juga manggil aku Kan.. Iya Kan?"


"Nah.. itu tahu, makanya kalau singkat nama yang enak dong di dengar"


"hahaha . kamu dari dulu suka banget sih balas dendam"


"Biarin, daripada kesel"


Mereka menghabiskan waktunya untuk bercanda tawa bersama. Kaniya sangat senang mendapati bahwa sahabatnya masih semenyenangkan dulu.


Fatimah pun begitu bahagia bertemu lagi dengan Kaniya. Kaniya adalah sahabatnya dari zaman Kuliah S1. Meskipun jarang berteman akrab dengan perempuan, tapi Kaniya merasa cukup nyaman dengan Fatimah.


Fatimah tidak akan bertanya panjang lebar tentang masalah Kaniya. Kaniya akan membicarakannya sendiri setelah siap.


Sama dengan permasalahannya dengan Dani. Fatimah menjadi salah satu orang yang dipercaya untuk mendengarkan curhatannya.


"Bagaimana dengan duda hot yang kamu ceritakan kemarin?"


Kaniya menatap Fatimah. Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu.


Kaniya segera memohon izin kepada Fatimah untuk pulang duluan. Hari ini, Abidzar akan melakukan VC setelah Dzuhur. Sebenarnya Syifa yang rindu sih, jadi Kaniya menyanggupi untuk mengangkat VCnya nanti. Walau demikian, tetap saja Kaniya deg degan.


Kaniya harus pulang, kalau tidak dia harus menerima telpon Abidzar disini. Dia belum siap untuk mengenalkan abidzar kepada sahabatnya ini. Biarlah, Fatimah penasaran dengan sosok Abidzar.


"yah.. gitu deh. Nanti aja aku ceritakan. Sekarang aku harus pulang dulu. Jadwalku mengajar, kirim saja yah. Assalamu Alaikum"


"Waalaikum salam" Fatimah hanya geleng geleng kepala karena Kaniya yang sudah berjalan menuju tempat parkir.


"nggak pa palah. Dia kan memang seaneh itu" Fatimah memilih melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


***