38 +

38 +
Quadruplet



Berita kehamilan Kaniya menghebohkan seluruh keluarga. Kedua mertuanya bahkan langsung menuju rumahnya begitu mengetahui kalau Kaniya sedang hamil.


Syifa mempersingkat acara menginap bersama mamanya, hanya tiga hari saja yang biasanya satu pekan.


"Bu, katanya Syifa akan punya dede bayi?" Syifa bertanya antusias.


"Iya sayang, Dede bayinya ada disini" Kaniya menuntun tangan Syifa untuk menjenguk perutnya.


"wah.. aku akan tinggal dengan ibu saja. Aku mau jaga ibu dan Dede bayi" Syifa masih berceloteh dengan antusias.


Nur, ibu dan ayah juga memberikan selamat pada pasangan berbahagia di depan mereka


"Selamat yah, nak. Kamu harus jaga kesehatan kamu, Kaniya. Jangan beraktifitas berat. Kamu juga nggak boleh melakukan perjalanan jauh dulu. Jadi, kegiatanmu di kota wisata bisa kamu wakilkan pada Nur atau orang lain" putus ibu Abidzar


"Baik, Bu. Aku juga nggak mau ambil resiko. Aku akan berusaha menjaga kandunganku dengan baik. Apalagi, usiaku sekarang tak muda lagi" Ucap kaniaya tulus.


Kaniya sangat bersyukur bahwa dia masih diberi kesempatan hamil di usia menjelang 39 tahun. Usia yang menurut sebagian orang tak lagi produktif untuk mengharapkan keturunan. Tapi, Alhamdulillah Allah masih m memberikan Anugerah itu.


Sedangkan ayah Abidzar, seperti biasa dia akan memberikan hadiah saat merasakan kebahagiaan. Jadi, hari ini dia mengirimkan makan siang kepada seluruh karyawan di perusahaannya, sebagai bentuk rasa syukur. Selain itu, beliau juga mengirimkan makanan dan mainan kepada beberapa panti asuhan di kota ini.


***


Waktu bergulir. Sebulan telah berlalu setelah Kaniya dinyatakan hamil. Hari ini, Kaniya kembali memeriksakan dirinya ditemani oleh Abidzar.


"Wah.. beruntungnya kalian, coba lihat di layar" Zalsabilah seperti biasa akan sangat heboh saat Kaniya memeriksakan diri.


Abidzar dan Kaniya hanya saling tatap, pasalnya mereka nggak paham dengan apa yang ada di layar.


"Maksudnya apa??. Kamu jelaskan saja, Bil" Ucap Abidzar. Kaniya hanya mengangguk setuju.


"Dasar, kalian. Lihat tuh, kalian punya empat calon bayi" Jawab Zalsabilah sumringah.


"Apa..??" Kaniya dan Abidzar sontak terkejut. Di keluarga Abidzar memang ada keturunan kembar tapi tidak pernah lebih dari dua.


"Quadruplet, wahhhhh... beruntungnya kalian, aku aja usaha dari rumah sampai rumah sakit, baru dapat satu selama lima tahun menikah. Kalian bahkan baru beberapa bulan menikah langsung dikasih empat. Membuatku jadi iri saja. pokoknya, sepasang untukku yah" Celoteh Zalsabilah tanpa menghiraukan wajah Abidzar yang pucat pasi, sementara Kaniya tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah" Ucap Kaniya dengan senyum bahagia. Dia hamil diusia begini, dan langsung dapat empat. Maka nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan.


"Kamu kok pucat sih?" Tanya Zalsabilah heran dengan respon Abidzar. Berbanding terbalik dengan respon sang istri. Kaniya ikut menatap Abidzar yang pucat.


"Bil, Kaniya gimana bawanya kalau banyak begitu? Meski ingin punya banyak anak, tapi nggak sekaligus juga sih. Aku bahagia, tapi aku takut kalau Kaniya kenapa Napa" Ucap Abidzar. Kaniya terenyuh mendengar penuturan suaminya.


"Yang, wanita itu memang sudah kodratnya untuk hamil, jadi berapapun anak yang ada dalam kandungannya, Allah sudah merancang agar si ibu ini kuat membawanya. Kita hanya harus berusaha agar gizi mereka terpenuhi. Kamu harus bantu aku jaga mereka" Ucap kaniya menenangkan sang suami.


Abidzar membawa Kaniya ke dalam pelukannya lalu mencium keningnya.


"Hei... kalian ini. lihat tempat dong kalau mau mesra-mesraan" Sela Zalsabilah di momen romantis keduanya.


"Nah, karena kalian sudah selesai pemeriksaan, sebaiknya kalian pulang. Aku mau ketemu dulu sama suamiku. Mau protes, mau nuntut anak kembar juga" Usir Zalsabilah.


Pasangan itu, mau tidak mau segera keluar dan menebus resep yang diberikan di apotek. Sepanjang perjalanan pulang, Kaniya tak henti tersenyum. Abidzar yang duduk disampingnya pun tertular kebahagiaan sang istri.


Berita hamilnya Kaniya kembar 4 membuat heboh grup keluarga. Bahkan, Tante Abidzar dulu yang khawatir Abidzar tak punya anak, bisa bernafas lega.


Kehamilan Kaniya berjalan dengan normal. Yang tidak normal adalah keinginannya yang aneh. Sampai usia 5 bulan kehamilan, Kaniya selalu meminta Abidzar menemaninya makan ceker ayam. Meskipun tersiksa, akhirnya Abidzar terbiasa.


Tapi setelah cukup mampu menerima menu makan malam dengan ceker ayam, Kaniya malah meminta yang lain. Kaniya tak lagi suka dengan ceker, dia meminta mangga muda setiap hari.


Terdengar cukup mudah sebenarnya. Masalahnya adalah, Kaniya meminta mangga muda milik tetangganya yang selalu dilihatnya seolah melambai minta dipetik.


Dan, Kaniya minta Abidzar sendiri yang harus memetiknya, satu perhari. Jadilah Abidzar selama dua hari menjadi tukang minta mangga pada tetangganya.


Kenapa cuma dua hari? Saat Abidzar sedang memanjat, Kaniya melihat Anak tetangga yang masih SMA kelas 12 menatap dengan mupeng pada suaminya. Jadilah, dia merajuk sendiri dan tak lagi mau makan mangga muda.


Bisa dibayangkan, bingungnya Nur membuat Pakaian Sailormoon versi hijab. Tapi, dia berusaha ditengah persiapan pestanya untuk memenuhi keinginan sang ipar.


Tanpa mempedulikan penilaian orang lain, Abidzar duduk berdampingan dengan sang istri. Begitupun saat berjalan menyapa para tamu undangan, Abidzar nampak santai meskipun dengan tatapan penuh tanya dari rekannya.


Tapi saat mereka melihat Kaniya yang tengah hamil besar. Mereka jadi tersenyum penuh arti karena sepertinya paham dengan keadaan Abidzar yang mengikuti kemauan sang istri.


sementara di atas pelaminan, keluarganya cuma bisa terkekeh manyaksikan Abidzar yang ditatap aneh oleh orang-orang karena menggunakan kostum tidak sesuai tema.


Syifa duduk di pelaminan, di samping Nur bersama kakek dan nenek dari mama dan papanya. Dia telah diberitahu tentang ayah kandungnya, dan cukup bisa menerima, apalagi setelah mendapatkan kasih sayang melimpah dari keluarga Afdhal. Intinya, kedua keluarga telah mengetahui dan memahami apa yang terjadi antara Nur dan Afdhal di masa lalu.


"Dinda?" Kaniya dan Abidzar sontak menatap kearah yang memanggil.


Kaniya cukup terkejut melihat Dani berada di depannya. Bayangan saat Dani mengacaukan rencana pernikahannya dengan Afdhal membuatnya agak takut, dia mengacau lagi pada rumah tangganya yang bahagia.


"Pak Daniel kenal istriku?" Tanya Abidzar


Dani menatap Abidzar dan Kaniya bergantian. Lalu pada perut kaniya yang terlihat sangat besar. Dilihatnya raut wajah Kaniya yang seperti tidak nyaman dengan keberadaannya.


"Ya,.saya kenal dengannya. Bisa kita bicara?" Kaniya menatap suaminya, seolah minta tolong. Abidzar yang melihat gelagat istrinya, berusaha mengerti.


"Maaf pak Daniel, sepertinya istri saya kurang enak badan. Saya akan mengantarnya ke kamar" Tolak Abidzar secara halus.


Abidzar sebisa mungkin menghindarkan istrinya dari hal yang tidak menyenangkan. Melihat gelagatnya, Pak Daniel ini adalah salah satu hal yang bisa membuat Kaniya tidak senang. Jadi Abidzar memutuskan menghindarkan Kaniya darinya.


"Tolonglah pak Abidzar, saya ingin berbicara dengannya. Dan istri saya berharap bisa menemui dan bicara dengannya" Abidzar semakin bingung saat Daniel membicarakan tentang istrinya. Kenapa bisa Kaniya mengenal mereka ini.


"Maaf kak Dani, saya rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi" Lirih Kaniya. Dia menatap suaminya, mengajak menjauh dari sana.


Abidzar membawa Kaniya ke kamar yang sengaja mereka sewa untuk sekedar istirahat saat Kaniya merasa capek saat pesta pernikahan Nur dan Afdhal.


"Dia,.Dani yang itu love?" Tanya Abidzar. Kaniya hanya mengangguk. Lalu dia memperhatikan wajah suaminya.


"Yang, kamu jangan cemburu yah. Aku nggak mau kamu marah kayak dulu hanya karena aku ketemu mantan. Tadi itu nggak sengaaja, sumpah" Kaniya menaikkan kedua jarinya. Dia masih ingat, suaminya dulu sangat marah saat dia tak sengaja bertemu Afdhal. Meskipun mereka sudah saling memaafkan, namun Kaniya tidak bisa menghapus begitu saja ingatan akan kemarahan Abidzar. Jadi sebisa mungkin dia menjaga sikapnya.


"Kamu masih ingat, love. Kamu nggak mau bicara sama pak Daniel karena itu?" Abidzar menatap prihatin pada istrinya. Dia tak menyangka, kelakuannya dulu membuat istrinya takut hingga sekarang.


Mungkin bagi orang lain, itu berarti kemenangan karena dapat membuat istrinya takut berdekatan dengan pria lain. Tapi bagi Abidzar, ini memperlihatkan bahwa dia meninggalkan luka yang sulit tertutup di hati istrinya.


"Maafkan aku, love. Kamu, jika ada yang masih harus kalian selesaikan, aku tidak masalah kok. Aku bisa menemanimu"


"Kalau aku sendiri nggak ada lagi masalah sama dia. Kami sudah bercerai. Dia memberikan uang dan beberapa aset lain padaku saat perceraian. Meskipun, aku menggunakan uang yang diberikan padaku untuk membeli mobil keluarga, selebihnya kuberikan pada orang tuanya, beserta rumah dan seluruh aset yang diberikan. Aku merasa tidak pantas mendapatkannya. Bagaimanapun juga, dulu dia yang membayar kuliahku sampai selesai setelah kami menikah. Terlepas dari penghiatannya, dia adalah sosok yang baik" tutur Kaniya.


Mendengar istrinya memuji mantan suami, Abidzar rasanya tidak rela. Tapi, dia berusaha tidak memperlihatkannya pada sang istri. Dia khawatir, Kaniya semakin takut padanya dan memberikan jarak, tidak mau berbicara terbuka lagi padanya.


"Lalu? kamu mau menemuinya?" Tanya Abidzar.


"Memang bisa? Aku hanya kasihan melihatnya, dia tampak kurus, seperti tak terawat, apakah dia sakit?" Tanya Kaniya merasa kasihan melihat Dani


"Hei.. Aku sudah menahan diri yah kamu muji-muji dia dari tadi, sekarang kamu mengkhwatirkan dia?" Abidzar tak mampu lagi bertahan dengan wajahnya yang biasa-biasa saja.


"Hahahah...Kamu lucu Yang, tadi katanya ingin menemani, sekarang kok marah?"


"Kamu sih, sengaja yah mau mancing aku?"


Masih dengan tawanya, Kaniya mengangguk mantap. Dia memang takut membuat Abidzar marah, tapi melihat wajah suaminya yang seperti merasa bersalah, dia jadi ingin mengerjainya. Dia ingin melihat sampai sejauh mana suaminya bisa menahan cemburu saat dia membahas tentang pria lain.


Abidzar yang merasa dikerjai, akhirnya memojokkan Kaniya, mengikis jarak dan menciumnya dengan lembut.


Kaniya yang semakin hari semakin mudah terpancing akhirnya turut larut dalam buaian cinta Abidzar. Mereka menikmati hari mereka yang indah di kamar hotel tempat resepsi Nur dan Afdhal.