38 +

38 +
Hamil?



Kaniya masih terus menangis. Apalagi saat mulai mengingat bahwa sudah dua bulan ini dia tidak mendapatkan tamu bulanannya.


Bayangan saat dia keguguran dulu tanpa tahu bahwa dia hamil kembali datang. Rasa was-was membuat dia semakin menangis kesakitan, bukan lagi pada perutnya tapi dia memegang dadanya yang terasa sesak.


"Love... tenang yah. Jangan panik. Aku sudah telpon dokter, katanya kamu harus tenang" Abidzar terus berusaha menenangkan istrinya.


"Yang, bagaimana kalau aku hamil dan keguguran lagi. Aku betul-betul akan jadi ibu tak berguna. Bagaimana bisa, dua kali aku harus kehilangan anak sebelum menyadari keberadarannya" Ucap Kaniya masih dengan isaknya.


Meskipun telah berusaha menenangkan diri sesuai arahan suaminya, Kaniya masih saja terisak. Sesekali memukul dadanya yang terasa sesak.


"Semuanya sudah diatur Allah, love. Kamu jangan selalu menyalahkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi. Jika betul kamu hamil, maka aku yang lebih patut disalahkan jika terjadi apa-apa pada anak kita. Aku selalu meminta jatah tanpa kenal waktu dan tempat, maaf love. Tapi, menyalahkan diri tak akan membuat kita keluar dari masalah. Dan sekarang, aku minta kamu tenang sekarang" Abidzar mencoba konsentrasi dalam menyetir meskipun harus tetap berusaha menenangkan istrinya.


Selang lima menit, mereka sampai di rumah sakit. Kaniya segera ditangani, dokter yang merupakan keluarga dekat Abidzar telah menunggu kedatangan mereka.


"Kalian nggak perlu cemas, istrimu hanya kelelahan dan sepertinya kalian terlalu semangat dalam bertempur. Ada sedikit flek, tapi untuk memastikan kondisi janinnya kaniya biar ditangani istriku saja" Ucap dokter Faisal dengan senyum menenangkan.


"Maksudnya?? Kaniya hamil??" Tanya Abidzar melongo. Kaniya tak kalah terkejut, ini kedua kalinya dia hamil tanpa sadar dan membahayakan nyawa anaknya. Mereka berdua bertatapan, mencoba mencerna ucapan sang dokter.


"Kalian tidak tahu??" Kaniya dan Abidzar sama-sama menggeleng. Bahkan Kaniya sudah tidak merasakan sakit di perutnya seperti tadi waktu mau kesini.


"ckckckkc... Jangan bilang.. ucapanku bahwa kalian terlalu semangat bertempur juga benar dan itu kalian lakukan barusan??" Dokter Faisal menatap tak percaya.


Lagi-lagi Kaniya dan Abidzar tanpa sadar mengangguk. Tapi Kaniya buru-buru mengalihkan pandangan, merasa malu.


"Astagfirullah, berhubungan dalam keadaan hamil memang nggak dilarang dan cenderung aman, tapi harus diperhatikan juga kondisinya, jangan terlalu kasar... yah, kalian pahamlah, cari gaya yang aman" celoteh Dr Faisal. Sedangkan Abidzar sedang merutuki kebodohannya yang tidak tahu kalau istrinya hamil. Kalau tahu, dia tidak akan memforsir tenaga istrinya.


"Kami kan nggak tahu, Sal" Abidzar mencoba membela diri.


Kaniya yang rasa sakitnya tiba-tiba hilang, akhirnya diantar ke ruang praktik istri dr Faisal yang memang adalah dokter kandungan.


Rasa panik Abidzar berubah menjadi sebuah harapan. Dia berharap Kaniya betul-betul hamil. Meskipun agak takut, karena memang tadi mereka bermain cukup lama dan agak kasar. Tapi, Abidzar berharap, bayinya akan kuat dan bertahan.


"Assalamu Alaikum sayang" Dr Faisal menyapa istrinya begitu masuk ke ruangan.


"Waalaikum salam, cinta" jawab istrinya tak kalah manis, lalu menyambut suaminya yang memberikan pelukan lalu ciuman di kening. Mereka memang seperti ini saat bertemu.


"Apa kabar Kaniya, Bang Faisal bilang kamu Hamil? Beneran? wah.. selamat yah..." Zalsabilah heboh sendiri melihat Kaniya.


"Tapi kok pucat sih" Kaniya hanya bisa tertunduk menahan malu. Abidzar masih setia berdiri di belakangnya, mendorong kursi roda untuk mendekat ke meja dokter.


"Kamu jadi dokter kebanyakan tanya sih. Bukannya langsung memeriksa pasien. Tadi itu, Kaniya merasa kesakitan. Trus aku lihat darah di seprei..." Abidzar menceritakan pengalaman tadi sewaktu Kaniya tiba-tiba menangis kesakitan.


"OOO.. gitu. jadi kalian nggak sadar kalau Kaniya lagi hamil? Emangnya kamu nggak ngidam? Nggak merasa ada yang berubah?" Zalsabilah menyelidik, sambil meminta Kaniya berbaring.


"Nggak, sih. Tapi akhir-akhir ini aku memang terlalu perasa. dikit dikit nangis, lapar tapi nggak kuat makan nasi, bawaannya mual" Jawab Kaniya.


"Dia juga tiba-tiba aneh, masa sukanya makan ceker ayam pedas, bubur kacang ijo sama es pisang ijo. Apa itu sebenarnya kamu lagi ngidam, love? Tapi kita nggak nyadar?" Abidzar menatap Kaniya, dia betul-betul merasa bersalah sekarang. Padahal sikap istrinya sangat aneh belakangan ini.


"Kalau begitu, kita periksa dulu yah" Dr Zalsabilah segera melakukan tugasnya. Sedangkan Faisal pamit kembali ke ruangannya.


Usia kandungan Kaniya menginjak usia 8 Minggu. Keram perut yang dirasakan tadi disebabkan karena aktifitas kamar mereka yang terlalu berlebihan ditambah rasa panik yang berlebihan.


"Bagaimana dengan darah di seprei Bil, apa itu tak masalah?" Tanya Abidzar khawatir.


"Darah??. Tapi sejauh ini aku nggak lihat Kaniya pendarahan" Ucap Dr. Zalsabilah bingung.


"Tapi..."


"Yang..." Kaniya menggeleng, meminta Abidzar berhenti bicara. Dia jadi teringat kelakuan suaminya tadi. Dia tak mungkin mengatakan pada dokter cantik di depannya. Tadi saja, dia harus malu pada suami dokter ini gara-gara ketahuan baru melakukan yang iya-iya, secara barbar pula.


Abidzar menatap istrinya dengan tatapan bingung.


"Kalian kenapa, ada yang mau dikatakan Kaniya?" Tanya Dr. Zalsabilah.


"Nggak dok, sepertinya suamiku salah lihat. Dia kira ada bercak darah di seprei. Aku panik mendengarnya, bahkan seperti merasakan ada yang mengalir di bagian bawah, makanya perutku kayak tambah melilit" Jawab Kaniya.


"Trus, kenapa istriku terlihat sangat pucat? bahkan dia sempat sesak nafas di mobil?" Tanya Abidzar lagi.


"Bagaimana nggak pucat kalau dia kelelahan karena aktifitas kalian. Memangnya berapa ronde sih? kamu nggak kerja?" Dr Zalsabilah menyelidik.


"Kamu ini dokter apa wartawan sih, Bil. lengkap amat pertanyaannya" Abidzar menjawab dengan cuek.


"Dokter sih, tapi aku bisa jadi wartawan keluarga. Kan aku bisa share kabar ke yang lain kalau gara-gara kelamaan puasa, tongkatnya Abidzar menyerang istrinya secara brutal hingga hampir keguguran" Ucap Zalsabilah dengan mata mengerling ke Kaniya. Dia sangat suka melihat Abidzar kebakaran jenggot.


"Eh.. mau beralih juga jadi tukang gosip" Abidzar memperhatikan ruangan dr Zasabilah yang didesain sederhana. Tapi di ruangan ini ada sofa yang terlihat nyaman digunakan untuk berbaring.


"Kok ada sofa di ruangan ini? itu sofa kayaknya enak juga digunakan berbaring. Trus, di meja ada susu cokelat, ngapain kamu bawa susu cokelat ke ruangan mu?" kini giliran abidzar yang menyelidik. Rumah sakit ini memang milik keluarga Abidzar. Zalsabilah adalah menantu dalam keluarga mereka, sedangkan Faisal adalah sepupu dua kali dari Abidzar sekaligus temannya dari kecil jadi mereka cukup akrab.


Zalsabilah hanya tersenyum penuh misteri. Tapi Abidzar bisa melihat semburat merah di pipi iparnya itu.


"Jangan-jangan, ruangan ini juga jadi tempat kalian untuk.... dan susu cokelat itu untuk...." Abidzar berkata sepotong potong. Ternyata sepupunya memiliki imajinasi melebihinya dalam hal berhubungan dengan sang istri.


"Kamu nggak usah shock gitulah, kamu kan juga sudah tahu, nggak usah diperjelas juga"


"Yang.. jangan ditanya terus, kamu kayak nggak ingat kelakuanmu saja deh. Memang kamu lupa tadi habis makan stroberi dimana?? Tak cukup hanya buahnya, kamu sekalian bawa selainya" Kaniya mengingatkan suaminya, tapi segera menutup mulut saat Zalsabilah menatapnya.


"Nah loh... Jangan-jangan yang kamu anggap darah di seprei itu stroberi yang tumpah, hahah.. aku harus kasih tahu bang Faisal nih" Jadilah kegiatan periksa Kaniya yang sudah berakhir jadi perbincangan tak tentu arah antar sepupu.


Kaniya diperbolehkan pulang setelah mendapatkan pengarahan yang cukup dan vitamin buat ibu hamil, serta menghabiskan satu botol cairan infus yang tertancap indah di tangannya.


Kaniya diminta beristirahat total selama sebulan, tidak boleh beraktifitas enak dulu di kamar. Abidzar nampak tidak rela karena asupan nutrisinya tiap hari harus terjeda selama sebulan. Tongkat saktinya terpaksa harus puasa dulu demi sang anak dalam kandungan istrinya.


"Love, makasih yah" Ucap Abidzar saat mereka telah berada di mobil. Abidzar tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya begitu tahu ada benihnya yang tumbuh dalam kandungan sang istri.


"Untuk..??" bingung Kaniya.


"Untuk semuanya, love. Tapi, aku sangat bahagia karena kamu hamil. Aku nggak tahu harus bilang apa. Pokoknya, aku akan penuhi semua keinginan kamu" Ucap Abidzar mantap.


"Oh, ya??. Kamu janji nggak akan menolak" Tanya Kaniya memastikan.


"Iya, aku janji love" jawab Abidzar.


"Baiklah. Yang, sebenarnya aku mau ini dari sebulan lalu. Tapi, takut kamu menolak dan marah" Ucap Kaniya menerawang. Abidzar memperhatikan wajah istrinya yang murung.


"Memangnya, kamu mau apa?"


"Aku mau makan ceker ditemani kamu, love" Jawab Kaniya takut-takut.


"Cuma ditemani, kan? bukannya aku selalu menemanimu makan saat di rumah?" Tanya Abidzar tak paham.


"Maksudku, aku mau kamu ikut makan ceker bersamaku" Jawab Kaniya dengan binar penuh harap.


Wajah Abidzar sontak menjadi pucat. Nyatanya, dia sangat geli melihat ceker ayam apalagi dengan warna merah. Kaniya yang melihat perubahan wajah suaminya, jadi cemberut. Dia bisa menebak kalau suaminya akan menolak.


"Kalau nggak mau yah sudah, makanya jangan sok berjanji kalau nggak bisa menepati" Ucap Kaniya ketus. Hormon kehamilan membuatnya sangat sensitif. Dan itu sudah terjadi beberapa pekan terakhir tapi baik dia maupun Abidzar tak menyangka bahwa ini disebabkan oleh faktor kehamilan. Apalagi, mereka sekarang tinggal terpisah dari orang tua.


"Aku kan belum jawab, love. A..ku mau kok" Abidzar dengan terpaksa mengiyakan. Takut istrinya marah dan anaknya bisa ileran kalau kemauan ngidamnya nggak dipenuhi.


"Makasih, Yang" Kaniya sontak tersenyum dan memeluk suaminya. Menciumi seluruh wajah suaminya, wujud kegembiraan. Tak sadar kalau yang dilakukannya membuat tongkat sakti suaminya menggeliat.


"Ok..ok. tapi kamu berhenti dulu yah. Ini diparkiran loh. Sekarang, kita pulang" Kaniya menghentikan aksinya dan kembali duduk dengan tenang.


Abidzar berusaha menenangkan diri, menghalau semua keinginan menerkam kaniya. Abidzar mulai mengemudikan mobilnya kembali ke rumah. Sekarang pukul sembilan malam dan rumah mereka hanya berjarak sekitar lima menit.


Malam itu, Abidzar dan Kaniya beristirahat dengan tenang di rumah. Tanpa aktifitas enak di kamar dan hanya berpelukan hingga pagi.


***