38 +

38 +
Sah



Sulaiman menatap Afdhal sejenak. Dia sudah menduga Afdhal memang ingin bertemu Kaniya. Tapi, dia tak menyangka bahwa Afdhal akan meminta dengan wajah memelas seperti ini.


"Maaf, Dhal. Kaniya sekarang tidak bisa ditemui orang luar. Jangankan kamu, calon suaminya saja nggak diizinkan ketemu dia" Jawab Sulaiman merasa tidak enak. Tapi, Ranti sudah mewanti-wanti agar Kaniya dijauhkan dari segala hal yang dapat merusak pesta perkawinannya. Dan Afdhal adalah salah satunya.


"Kak, aku hanya ingin menanyakan sesuatu. Sekarang aku sudah ikhlas Putri menikah dengan orang lain. Aku tahu dia tidak pernah mencintaiku. Tapi, aku sangat butuh bicara dengannya tentang suatu hal, aku hanya ingin memastikan kak" Afdhal memohon dengan mimik penuh harap.


"Tapi, aku tidak bisa memberikan izin. Tunggu sampai Kaniya sudah resmi menikah. Saat itu, silahkan kamu bertemu Kaniya dan suaminya" Jawab Sulaiman tegas. Dia tidak mau mengambil resiko apapun juga. Kegagalan pernikahan Kaniya sebelumnya dan bagaimana Afdhal ngotot tidak terima dengan pernikahan Kaniya yang sekarang cukup menjadi alasan kuat untuk memasukkan Afdhal dalam list orang-orang yang tidak boleh bertemu Kaniya sekarang.


"Sekarang, pulanglah. Orang tuamu mungkin mencari. bagaimanapun juga, kamu masih dalam proses pemulihan pasca kecelakaan" usir Sulaiman secara halus.


"Baiklah, kak..Assalamu Alaikum"


"Waalaikum salam"


Afdhal akhirnya pergi meninggalkan rumah Kaniya dengan kecewa. Rasa penasaran akan Nur yang dilihatnya sedang memegang anak kecil yang begitu mirip dengan wanita itu sangat mengusik hati Afdhal. Bagaimanapun, mereka berdua memiliki kenangan yang tak biasa. Membuat hatinya selalu terusik rasa bersalah.


***


Hari berganti, hari yang dinantikan pun telah tiba. Abidzar berjalan mondar mandir keluar masuk WC. Perutnya melilit, tapi saat masuk ke WC tidak terjadi apa-apa. Seolah-olah dia sedang dipermainkan.


Ayahnya sudah beberapa kali mengetuk pintu. Abidzar yang sudah dipenuhi keringat dingin, akhirnya membuka pintu.


"Loh.. kok belum selesai?" Tanya ayah, heran dengan abidzar yang masih handukan.


"Perutku melilit yah, rasa mau BAB, tapi pas masuk ke WC, berhenti begitu saja" Jawab Abidzar lesu.


Ayahnya mangguk-mangguk paham. Abidzar saat ini sedang gugup karena akan menikah. Dia lalu masuk ke kamar Abidzar dan memberikan nasihat agar Abidzar tidak terlalu gugup. Abidzar mendengarkan dengan khidmat.


"Sekarang, tarik nafas lalu buang pelan-pelan" Abidzar mengikuti perintah ayahnya, hingga beberapa kali. Abidzar pun merasa lebih baik.


Ayahnya benar, kegugupannya yang menyebabkan dia menjadi seperti ini. Sama saat dia akan ujian tingkat SMA. Untunglah, ayahnya bisa menenangkan Abidzar dan mengalihkan pikirannya agar lebih santai.


Abidzar lalu bersiap dan berangkat menuju rumah Kaniya.


Sementara di rumah Kaniya, segala persiapan telah diselesaikan. Kaniya di rias dengan sangat cantik. Ini adalah pernikahan keduanya, tapi pertama kali dilakukan pesta seperti ini. Meskipun dilakukan secara sederhana dengan hanya mengundang keluarga dan penduduk di sekitar rumahnya, namun semua persiapan dilaksanakan sebaik mungkin.


Berselang 20 menit Kaniya selesai di rias, pengantin laki-laki beserta keluarga telah datang bersama dengan keluarganya. Memang tak banyak yang datang, karena keluarga abidzar hanya beberapa orang saja yang tinggal di kota ini. Kebanyakan keluarga dari ayahnya tinggal di luar negeri sementara keluarga ibunya tinggal di kota lain.


Terhitung 8 mobil yang mengantar abidzar, kebanyakan adalah keluarga dari ibunya, para sepupu, tante dan omnya.


Tepat pukul 11.00, ijab kabul dilaksanakan. Abidzar dapat melaluinya dengan lancar, meskipun gugup saat pertama berjabat tangan dengan wali Kaniya. Hingga akhirnya kata sah, menggema memenuhi ruangan.


Setelah proses ijab Qabul, Abidzar di antarkan ke kamar pengantin perempuan. Abidzar masuk bersama om dan tantenya. Sementara di dekat Kaniya ada seorang perempuan tetua di kampung ini bersama Ranti.


Kaniya diminta untuk mencium tangan suaminya, lalu abidzar membalasnya dengan kecupan di kening. Dan rangkaian kegiatan lain dilakukan sesuai petunjuk dari tetua kampung.


Setelah semua dilaksanakan, kedua mempelai keluar untuk menyambut tamu. Tapi, hanya sekitar setengah jam, sampai keluarga Abidzar pulang kerumahnya. Setelahnya, Abidzar dan Kaniya kembali ke kamar untuk melaksanakan shalat Dzuhur.


Kaniya melepas baju pengantinnya dengan dibantu oleh penata rias. Membersihkan make up nya lalu berwudhu dan melaksanakan shalat berjamaah dengan suaminya.


Setelah shalat, Kaniya kembali dirias untuk duduk di pelaminan menyambut tamu-tamu undangan meskipun tak seberapa banyak yang diundang.


Meskipun Abidzar dan Kaniya berada di kamar yang sama, tapi mereka hanya berbicara seperlunya. Masih sama-sama gugup, walau telah resmi menjadi suami istri. Ditambah lagi, ada orang lain bersama mereka.


"Tan, sudah selesai...... wah... tantiipppnya tantekuuuuuu" Nindya berkata sambil memeluk Kaniya.


"Istri siapa dulu donk" Jawab Abidzar sombong.


"Cie..... dah klaim aja, istri nieeee" Jahil Nindya.


Kaniya yang sedang dirias wajahnya tidak bisa banyak bereaksi.


Semua tamu menatap Kaniya dengan kagum. Kaniya selama ini tak pernah berdandan. Sehingga, saat dipoles cantiknya jadi berlipat ganda.


"Love, tadi itu teman kamu?" Kaniya langsung menoleh menghadap suaminya. Dia agak geli dengan panggilan dari suaminya.


"Love?? Kamu manggil aku love? Kok geli yah dengernya, hehe " bisik Kaniya menjawab panggilan suaminya.


"Trus panggil apa dong? Sayang? enggak ah. Terlalu banyak hal yang harus disayangkan. Buang makanan, sayang. Habisin uang banyak, sayang. Pokoknya, nggak mau kalau panggil sayang" Abidzar ikut berbisik.


'khemmm' Kaniya dan Abidzar sontak berbalik saat mendengar suara deheman.


"Kayaknya asyik banget nih obrolannya. Sampai nggak nyadar ada tamu yang antri" Ucap salah satu tamu yang hendak memberikan ucapan selamat.


"Eh.. Bu Erna. Maaf Bu, tadi ada hal penting yang dibicarakan". Kaniya berucap sambil segera berdiri diikuti oleh Abidzar.


"Selamat yah, Bu Kaniya. Saya sampai heran Bu Kaniya tiba-tiba menghilang beberapa hari dan dicarikan guru pengganti. Ternyata mau nikah toh. Untung yah Bu Kaniya, karena yang punya sekolah sahabatnya, jadi mudah deh dapat izin selama ini" Bu Erna berkata dengan senyum manisnya.


Kaniya yang mendengar itu jadi merasa tidak enak. Tapi, dia balas tersenyum.


"Iya Bu, lain kali saya mau ngajar di sekolah saya sendiri saja, supaya nggak perlu izin dari siapa-siapa kalau mau bolos mengajar. Trus, nggak ada yang berani sindir-sindir atau larang-larang saya. Terimakasih yah Bu atas kedatangannya jauh-jauh kesini. Suami saya juga akan adakan pesta di sana, ibu dan teman-teman datang yah" Jawab Kaniya tak kalah manis.


"Insya Allah Bu Kaniya. Makasih loh undangannya" Bu Erna berlalu karena teman-temannya pun telah mengantri di belakangnya. Mereka tidak banyak bicara seperti Bu Erna, hanya memberikan ucapan selamat lalu menuju meja makanan.


"Mereka teman-teman mengajarmu?. Kok kayak nggak suka yah sama kamu?" Abidzar bertanya dengan penasaran.


"Entahlah, tapi kayaknya mereka kurang senang karena aku masuk lewat jalur dalam. Bahkan aku ngambil jam Bu Erna sebagian. Kan Fatimah kasihan liat dia ngajar terlalu banyak, jadi aku iya-iya aja waktu diminta Fatimah ngajar dikelas itu, ekonomi. Eh ternyata dia kayak nggak senang dan sering menatap sinis. Tapi aku cuek saja sih" Jawab Kaniya.


Mereka lalu kembali berdiri saat ada tamu yang datang.


"Selamat Bu Cantik, Semoga jadi keluarga Sakinah mawadah warahmah, jangan menetap disini yah Bu, kelas kami sepi nggak ada ibu" Akbar berceloteh panjang lebar.


"Insya Allah, kalau suami mengizinkan tetap mengajar. Tapi, kalau pun tidak, ibu akan tetap kesana minimal sekali sebulan" Jawab Kaniya.


Dia memang diwajibkan oleh Fatimah untuk ke sekolah, minimal sekali sebulan, mengajar ataupun tidak.


"Selamat yah Bu" Teman-teman Akbar yang lain pun memberi selamat. Setelahnya, mereka berfoto sebelum turun.


Akbar dan teman-temannya memang diundang oleh Kaniya. Kaniya pun menyediakan mobil untuk mengantar mereka.


Setelah foto bersama, mereka menuju tempat makanan. Kaniya sangat terhibur dengan kehadiran Akbar dan teman-temannya.


Saat menjelang shalat Ashar. Kaniya dan Abidzar dibawa masuk ke kamar. Mereka berganti baju dan membersihkan diri.


Abidzar mandi lebih dulu, karena Kaniya masih harus membersihkan sisa-sisa make up nya.


Kaniya mendengar suara handle pintu dibuka. Saat melihat ke arah kamar mandi, Abidzar berdiri dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


"Eh..." Kaniya salah tingkah melihat penampilan Abidzar. Pun Abidzar yang baru pertama kali melihat Kaniya tanpa jilbab.


Tadi siang dia tidak begitu memperhatikan Kaniya saat dirias karena begitu banyak orang di kamar. Dia saja harus berganti baju di kamar mandi, dari kamar mandi dia telah mengenakan celana panjang dan kaos lengan pendek untuk dalaman. Setelah itu, barulah keluar untuk menggunakan pakain adat yang disediakan untuknya.


"Sudah selesai yah? kalau gitu giliran aku yah" Kaniya segera menuju kamar mandi. Bahkan sempat menabrak Abidzar yang masih mematung di tempatnya.


Abidzar yang tersadar karena di tabrak Kaniya, segera meraih tangan Kaniya, hingga gerakannya terhenti.


"Itu nyata yah? kita betul-betul sudah menikah?" Tanya Abidzar dengan raut bahagianya. Kaniya hanya mengangguk malu.


"Love, jangan lama-lama yah" Bisiknya, lalu melepaskan Kaniya.


"Iya" Jawab Kaniya dan bergegas masuk kamar mandi.