38 +

38 +
Aku Janda yang Baru Resmi Bercerai



Kaniya bingung dengan pertanyaan Abidzar. Dia menatap ke sekeliling tapi hanya mereka berempat di tempat ini. Kaniya bersyukur dalam hati, setidaknya dia tidak akan menjadi bahan tontonan dari pengunjung pasar.


"Pak, kalau bercanda lihat-lihat tempat" ucap Kaniya berusaha santai.


"Tapi, aku serius"


"Serius?? di tempat seperti ini?


Abidzar mengikuti pandangan Kaniya ke sekitar dan baru sadar dari kebodohannya. Dia terlalu terbawa perasaan sehingga langsung ingin melamar Kaniya.


"Maaf, tadi aku terbawa perasaan melihatmu begitu cantik saat tertawa" Wajah Kaniya langsung memerah.


"Khemm..." Suara ibu kembali menyadarkan Abidzar yang tanpa sengaja terdengar sedang menggoda Kaniya.


"Yah.. melamar itu, artinya Tante Kaniya akan jadi ibunya Syifa kan yah?" Kaniya tambah memerah mendengar ucapan Syifa. Dia merutuki pasangan ayah dan anak ini, mereka hobi sekali membuat Kaniya merona malu.


Ibu yang mendengar pertanyaan cucunya, mau tak mau ikut tersenyum.


"Memangnya Syifa, mau kalau Tante Kaniya jadi ibunya??"


"Mau nek... " Ucap Syifa dengan semangat. Kaniya rasanya ingin menghilang dari tempat ini. Malu..... teriaknya dalam hati. Tapi di sisi lain, ada perasaan hangat yang menelusup dalam hatinya.


Ibu, menatap Kaniya yang terlihat gugup. Wajahnya telah memerah tanpa memerlukan perona wajah.


"Maafkan anak Tante yah Kaniya, Dia membicarakan masalah lamaran' di pasar. Dia memang sebodoh itu untuk urusan seperti ini, tidak ada romantis romantisnya jadi orang. Nanti ibu ajari dulu yah di rumah, sebelum datang melamarmu lagi"


Bukannya merasa lega, Kaniya malah makin memerah mendengar ucapan ibu Abidzar.


'Ada apa dengan keluarga ini, mereka mau mengerjaiku atau bagaimana sih. kalau aku baper gimana?' batin Kaniya.


"Sekarang, ayo kita pulang" Ibu mengajak mereka semua pulang.


Kaniya pun teringat bahwa ia kesini untuk mengambil belanjaan yang sudah dipesannya. Dia pamit untuk pergi ke bagian pasar yang lain.


Abidzar yang tidak ingin kehilangan jejak Kaniya di kota wisata ini, segera meminta ibu dan Syifa jalan duluan ke mobil. Dia lalu menyusul Kaniya.


"Kaniya..." Kania yang sedang berjalan dengan cepat, menoleh karena panggilan Abidzar.


"ya?"


Abidzar mempercepat langkah dan berhenti tepat di depan Kaniya.


"Aku.. boleh minta nomor hp mu?" Kaniya untuk sejenak tertegun, tapi dia harus cepat karena pasar akan segera tutup.


Dia lalu merogoh tas dan mengeluarkan Hp nya. Lalu dibukanya aplikasi warna hijau.


Abidzar yang melihat Kaniya, langsung melakukan hal yang sama. Mereka mendekatkan HP nya. Abidzar memindai kode pada hp Kaniya. Sesaat kemudian, Nama: Adinda Kaniya Putri telah tersave di hp nya.


Abidzar tanpa bertanya sudah mengetahui nama lengkap Kaniya dari nama profilnya. Andai ada nama ayahnya juga, lengkaplah sudah untuk disebut dalam akad nikah.


Abidzar menertawai sendiri hayalannya.


"kok senyum-senyum, ada yang aneh??"


"nggak kok, Kaniya. Oh iya, kamu selama disini nginap dimana?"


"di rumahku pak, kebetulan aku memang baru tadi pindah kesini"


"oh ya?? kamu tinggal dimana?"


Kaniya langsung saja menyebutkan alamatnya. daripada lama, pikirnya.


"Sudah yah pak, aku buru-buru. keluarga sedang menunggu di rumah"


"Ok.. Kaniya.." abidzar menunggu Kaniya berhenti. "aku serius dengan ucapan tadi" Ucap Abidzar begitu Kaniya menghadapnya lagi


"Maaf pak, Aku hanya seorang janda yang baru bercerai"


"Selama kamu bukan istri orang, aku tidak masalah. Kamu janda, aku duda, kita sama saja. memang apa yang salah dengan status itu."


"Tapi, aku belum siap untuk memulai hubungan dengan orang lain lagi"


"Aku akan menunggu sampai kamu siap. Tapi, aku mohon, saat kamu siap, ijinkan aku yang masuk mengisi hatimu"


Kaniya menatap abidzar yang terlihat begitu serius terhadapnya. Sejak pertama bertemu abidzar, lelaki itu dan anaknya memang telah menarik perhatiannya.


Kaniya hanya diam. Abidzar yang melihat itu akhirnya memutuskan untuk pulang lebih dulu. Tak ingin memaksa Kaniya.


Kaniya menatap Abidzar dengan gamang. Dia belum siap menikah lagi. Tapi dia juga tidak bisa menampikkan bahwa ia nyaman bersama Abidzar dan anaknya.


***


Kaniya melajukan motornya pulang ke rumah. Keluarganya sedari tadi khawatir karena Kaniya memaksa pergi sendiri.


Sekarang sudah setengah enam dan Kaniya belum sampai rumah. Kabut sudah mulai memadati jalan.


Perasaan lega saat mereka mendengar suara motor Kaniya.


"Kok lama sih, Din?"


"Ketemu teman, kak. Oh iya, itu belanjaannya sudah dibawa ridho ke dapur. ada ikan pindang, bisa langsung digoreng saja lalu kita nikmati sama mangga yang dibawa dari rumah."


"Ok... kita juga nggak mungkin masak banyak makanan sekarang. Tinggal tumis sayur saja deh supaya cepat" Mereka lalu membagi tugas untuk memasak.


Tiara dan Nindya juga ikut membantu sehingga kurang dari setengah jam, semua pekerjaan telah selesai.


Setelah itu, mereka membersihkan diri dan bergabung dengan yang lain untuk melaksanakan shalat magrib. Ada Mushallah kecil di samping villa yang sering digunakan untuk shalat bagi para tamu yang menginap.


***


Berada di daerah pegunungan, tentu dingin yang menusuk tulang saat malam seperti ini. Kaniya enggan keluar dari kamar. Padahal keluarganya sedang menghabiskan waktu di halaman rumah dengan membakar api unggun.


Mereka juga membuat acara bakar-bakar jagung, hingga suasana dingin menjadi hangat.


Ridho memetik gitar dan keluarganya bergantian menyanyi lagu-lagu lawas. Tidak penting suara mereka terdengar aneh. Yang penting mereka merasa bahagia menikmati malam setelah beberapa bulan ini dipusingkan dengan gunjingan tetangga tentang keluarga mereka.


"Nin, Kaniya mana?"


"Ada dikamar, om. Katanya mau istirahat" jawab Nindya


"Kalau gitu, bawakan jagung bakar ke kamarnya. Tadi juga dia makannya sangat sedikit" Ranti berkata dengan khawatir. Akhir-akhir ini, nafsu makan Kaniya memang agak menurun. Tapi malam tadi, Kaniya nampaknya betul-betul tidak menikmati makanan. Dia makan hanya sedikit.


"Iya" Nindya lalu membawa dua buah jagung bakar masuk ke kamar Kaniya.


Sampai di kamar, Nindya melihat kepompong besar di atas tempat tidur.


"Tan..." Kaniya belum bergerak.


Mengingat susahnya Kaniya dibangunkan saat tertidur. Nindya menyimpan jagung bakar di atas meja, lalu mendekat ke Kaniya..Ini belum jam 8 dan tantenya ini sudah memilih tidur dalam kamar. Sungguh tak boleh dibiarkan.


"ok..Nindya hitung sampai tiga. Kalau sampai Tante belum bangun, jangan salahkan aku kalau, Tante akan aku gelitiki sampai nggak bisa berhenti ketawa"


"satu... dua.. Ti..." Kaniya yang ternyata tidak tidur, berusaha melepaskan dirinya dari jeratan selimut yang membuatnya tampak seperti kepompong.


"Jangan.. aku bangun..aku gak tidur kok"


Nindya hanya tertawa melihat aksi tantenya. Tantenya ini sangat tidak tahan bila digelitik. jadi itu menjadi senjata Nindya jika ingin tantenya cepat bangun, apalagi jika dia hanya berpura-pura tidur.


"Tan, ini ada jagung bakar. Tante makan yah. kan tadi, makannya cuma sedikit"


Kaniya menoleh kearah meja tempat jagung bakar berada. Terlihat menggiurkan. Tapi entah mengapa, Kaniya merasa tidak nafsu makan. Dia selalu terbayang wajah Abidzar yang terlihat lunglai saat dia tak menjawab pertanyaannya.


Entahlah, ada perasaan takut, abidzar akan kecewa padanya. Dia tetap ingin bertemu Abidzar dan Syifa. Tapi, apakah setelah kejadian tadi, abidzar masih mau menemuinya? Kaniya terus bertanya dalam hatinya.


"Tan..?" Nindya menatap tantenya yang menghayal sampai tak melihat hp nya berbunyi tanda pesan masuk.


"HP nya bunyi, Tante"


Pandangan Kaniya langsung mengarah pada HPnya. dia mengambil dan membuka pesan masuk.


"Besok aku ke rumahmu yah. Boleh kan?"


Kaniya yang membaca pesan itu, merasa sulit percaya. Abidzar masih mau bertemu dengannya, setelah kejadian tadi?.


"Bisa" Kaniya menyimpan HP nya, lalu mengajak Nindya bergabung dengan yang lain. Jagung bakar kembali di bawa keluar.


Nindya yg melihat itu hanya dapat menatap aneh. Dia mulai curiga, ada sesuatu dengan tantenya. Tapi takut Untuk bertanya.


***