
Kaniya merebahkan dirinya di tempat tidur. Kejadian tadi masih terus berputar dipikirannya. Dia merasa lelah dengan pertanyaan "kapan nikah" ?.
Kaniya mengingat beberapa lamaran yang sudah ditolaknya selama kembali tinggal di desa ini. Alasannya, dia merasa belum cocok dengan orang yang melamarnya, masih belum merasakan getaran yang membuat hatinya ingin berkatan 'ya'.
'Apa aku terima Afdhal saja yah? tapi Afdhal gak pernah lagi menyinggung masalah lamaran' batin Kaniya.
Selama ini, yang melamarnya adalah teman-teman di masa kecilnya, Anton dan Afdhal. Anton yang pulang ke kampung dan kerja di kantor desa, meninggalkan gaji puluhan juta, demi gaji ratusan ribu. sehingga Kaniya merasa aneh dengan hal itu. Dia tak ingin menggadaikan masa depannya dengan sebuah keraguan, hanya karena tak ingin dicap sebagai perawan tua.
Menjawab keraguan Kaniya, tiga bulan setelah lamaran yang ditolak Kaniya, seorang wanita tiba-tiba datang dari kota tempat Anton dulu bekerja. Wanita tersebut berusia kira-kira 18 tahun dan telah hamil 6 bulan tapi Anton tidak mau bertanggung jawab. Dia beralasan, anak itu bukanlah anaknya, karena dia bukan lelaki pertama yang menyentuhnya.
Anton pulang ke kampung, karena dipaksa menikah oleh orang tua wanita itu. Dia kira akan bisa lepas setelah kembali ke kampung, tapi ternyata keluarga si wanita yang ternyata banyak premannya bisa menemukan tempat tinggal Anton.
Sekarang mereka telah menikah, Anton memutuskan pindah ke kota untuk bekerja, karena gajinya di kantor desa tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya nanti.
Kembali ke Kaniya yang galau. Dia membaca chat nya dengan Afdhal. Chat yang tidak pernah dihapusnya. kebanyakan seperti itu sih, dia menyimpan chat dari beberapa pria yang dikenalnya, yang memiliki niat serius dan ingin melamarnya.
Hal ini dilakukan, karena pernah satu kali, seorang pria yang ditolaknya menyebarkan fitnah bahwa Kaniya selama ini mengejar-ngejarnya. Kaniya menolak karena pria itu sering minum minuman keras dan belum bekerja, keluarga Kaniya pun menolak.
Flashback On
"Yang, kamu tahu gak, dulu ada wanita di desa ini yang ngejar-ngejar aku. Dia bahkan melakukan berbagai cara supaya aku melamarnya. Dia sangat baik padaku dan orang tuaku, sering memberikan makanan, hingga ibu luluh dan melamarnya. Tapi saat dilamar, dia malah menolak dan mau menerima jika aku memberikan mahar yang sangat tinggi. Jelas saja aku tolak dan tidak jadi menikah dengannya". Jelas lelaki bernama Randi yang pernah melamar Kaniya, kepada calon istrinya saat mereka bertemu di sebuah cafe bersama keluarga.
Semua yang duduk dimeja tersebut, menyimak dengan baik, ucapan Randi. Mereka merasa Kaniya bukanlah gadis baik. Mendekati seorang pria dengan berbagai cara, hanya demi mendapatkan mahar yang tinggi.
"Kalau aku sih, masalah mahar semampu kamu saja yang. Kan kita tidak boleh memberatkan untuk urusan mahar" keluarga si gadis mangguk-mangguk mengiyakan.
"perempuan mana sih yang pernah nak Randi lamar" tanya ibu si gadis dengan penasaran.
"ohh.. itu si Kaniya, yang tinggal di perempatan jalan di kampung kami. Dia punya toko ATK juga, dulunya baik banget, sering membawakan makanan pas hari Jum'at, apalagi kalau bulan ramadhan, kalau panen sayuran dia selalu membawa sayur ke rumah. Jadinya, aku lamar, malah dia tolak.. kami yang takut malu jika lamaran ditolak, meminta keluarganya menerima dengan berbagai tawaran, termasuk mahar sesuai keinginan mereka. Keluarganya minta mahar terlalu tinggi dan mustahil kami berikan. Karena yang mereka minta adalah rumah tempat tinggal kami, padahal anakku bukan cuma 1, tidak mungkin rumah itu diberikan kepada istri Randi". papar si ibu menggebu.
Kaniya yang dari tadi duduk di kafe tersebut, memilih diam. Ingin rasanya dia melabrak mereka dan mengatakan apa yang diucapkan mereka lebih banyak bohongnya. Tapi buat apa, biar sajalah mereka mengarang bebas. Lagian, jika dipikir-pikir, betul juga yang dikatakan si ibu.
Kaniya memang sering berbagi makanan pada hari Jum'at, apalagi pada bulan ramdhan. Tapi bukan hanya pada ibu Randi, Kaniya membagikan kepada semua warga sekitar. mengejar-mengejar? Kaniya rasanya ingin menyiram air dingin ke kepala Randi, agar dia terbangun dari mimpinya.
Jangankan mengejar, menatap saja Kaniya merasa malas. Andai semua chat berupa kata-kata gombalan yang tak pernah dibalas atau ajakan bertemu yang selalu ditolak Kaniya.
Kaniya memang menolak lamaran Randi. Tapi, karena mereka terkesan memaksa dan menceritakan semua kelebihan-kelebihan anaknya yang orang-orang juga tahu kalau itu tidaklah benar. Seolah-olah Kaniya akan merasa rugi jika tidak menikah dengannya. Mereka harusnya bersyukur, karena Randi yang masih muda, mau melamar Kaniya yang usianya lebih tua. Mereka mengatakan rumah yang mereka tempati adalah milik Randi.
Ayah Kaniya yang tahu betul bahwa mereka hanya punya rumah itu, memintanya sebagai mahar jika mereka ingin menikahi Kaniya. Ayah Kaniya juga berkata bahwa setelah menikah, Kaniya tidak lagi memiliki hak terhadap rumah ini, toko, dan sawah, karena Kaniya yang telah dikuliahkan dan menghabiskan banyak uang, jadi tidak punya hak lagi atas harta keluarga. selain itu, mahar juga harus segera dialihkan kepemilikannya kepada Kaniya setelah menikah. Sebenarnya hal ini dilakukan karena Ayah Kaniya bingung, bagaimana lagi menolak dengan halus.
Ibu Randi yang mendengar itu langsung menolak permintaan ayah Kaniya. Mereka pun meninggalkan rumah itu dengan wajah ditekuk karena lamarannya ditolak. Sejak saat itu, Ibu Randi selalu menceritakan keburukan Kaniya dan keluarganya kepada masyarakat di desanya. Hinaan akan kesendirian Kaniya, selalu disangkut pautkan dengan kesombongannya yang selalu menolak lamaran dan memberikan tuntutan mahar yang tinggi.
Flashback Off.
Kaniya membuka hp nya dan membaca pesan masuk.
"kamu ada waktu gak, esok siang?"
"Npa?" balas Kaniya singkat
"ada hal penting yang harus kita diskusikan"
"tentang?"
"Tugas akhir, ada yang perlu direvisi. Tapi aku malas ke toko, jadi kita bahas di kafe biasa aja yah, kamu aku jemput deh"
"gak usah Dhal, aku bisa kesana sendiri kok, kamu bawa teman kan?" tanya Kaniya pada si pengirim pesan yang ternyata adalah Afdhal.
"Tentu dong, Aku kan sangat tahu, kamu malas ketemuan kalau cuma berdua"
"ok, setelah Dzuhur tapi yah"
"siap tuan putri"
Kaniya hanya membaca pesan itu. Dia membuka grup alumni, dan ada sebuah undangan dari temannya yang akan menikah kedua kalinya, karena suaminya meninggal dunia setahun lalu. Dia memberikan selamat, dan akan mengusahakan untuk datang.
lalu iseng membuka grup keluarga, ada undangan dari sepupu dua kalinya di desa sebelah, yang akan dilamar pekan depan.
Kaniya menghela nafas panjang, sepupunya itu bahkan seumuran Nindya tapi sudah akan menikah. Pantas saja Kaniya dijuluki perawan tua, sudah pantas punya cucu tapi belum menikah juga.
'huft... mereka Mudah sekali ketemu jodoh. Trus, jodohku dimana ya Allah....' batin Kaniya mendongak ke atas seolah berbicara pada Tuhan. Undangan pernikahan kedua kali temannya, undangan acara lamaran sepupunya, dan kejadian di toko tadi berputar seperti kaset rusak. Kaniya cukup frustasi tapi tidak tahu harus mengadu pada siapa selain Allah.
Biasanya, dia akan santai saja, karena merasa pernikahannya adalah urusannya. Dia tidak bisa memutuskan menikah hanya karena desakan orang lain. Tapi kali ini, dia cukup merasa terganggu dan terus kepikiran.
Kaniya sesungguhnya bingung perkara jodoh, dia selalu menganggap bahwa apabila dia menolak sebuah lamaran, berarti dia belum berjodoh dengan orang itu. Jadi tidak ada yang namanya menolak jodoh, karena jodoh sudah ditetapkan bahkan sebelum manusia lahir, kalau memang jodoh yah pasti ketemu juga kan. Kenapa orang pusing dengan jodoh orang lain?.
Meskipun begitu, dia merasa cukup tertekan saat ada pernikahan di keluarga besarnya, apalagi yang masih sangat muda. Karena, keluarganya yang pasti akan membandingkannya dengan Kaniya yang belum menikah sampai sekarang. Sepertinya, menikah sudah dijadikan ajang lomba saja di keluarga.
Kaniya satu-satunya yang masih berstatus lajang di usia matang seperti ini, bahkan disebut perawan tua karena tidak juga menikah padahal sudah 38 tahun lebih. Tapi, apakah Kaniya betul-betul adalah perawan tua?
Merasa mumet dengan pikirannya yang terus menerka-nerka, apakah dia memiliki jodoh di dunia ini, dimana jodohnya, seperti apa? sampai semua pria yang dekat dan menunjukkan sinyal cinta, terus menari-nari dipikirannya. Memberikan daftar kelebihan dan kekurangannya, seakan melakukan peragaan untuk dipilih Kaniya. hingga Kaniya memutuskan berwudhu, lalu membaca beberapa surah pendek, dan tertidur.
***