38 +

38 +
Lampu hijau dari kakak Kaniya



"Assalamu Alaikum" Kak Ranti yang kebetulan sedang mengamati bunga di depan rumah Kaniya langsung menoleh ke sumber suara.


"Waalaikum salam. Eh Dinda, sama siapa itu?, cantik sekali" fokusnya langsung tertuju pada gadis kecil yang sedang memegang tangan Kaniya.


Syifa tersenyum ramah. Lalu memperkenalkan diri.


"Halo Tante, saya Syifa" Syifa mengulurkan tangannya untuk mengenalkan diri. Begitu Ranti menyambut, dia langsung mengecupnya dengan takzim.


Ranti terpukau dengan sopan santun yang dimiliki anak ini. Lalu matanya beralih kepada pria di belakang Kaniya. Dia terlihat gagah walau hanya memakai celana selutut dan kaos oblong.


"Saya, Abidzar. Ayah Syifa" Abidzar menangkupkan tangan.


"Ayo silahkan masuk" Mereka lalu masuk ke dalam rumah.


"Tante Kaniya. Rumah Tante cantik sekali. Aku sangat suka melihat bunga-bunga di depan. Apakah Tante yang menanamnya?" Tanya Syifa dengan mimik penasaran.


"Bukan, sayang. Penjaga villa dan keluarganya yang merawat selama ini"


"Tante juga punya penjaga villa?"


"Tentu. Tante tidak akan mampu merawatnya seorang diri, jadi harus ada penjaga villa. Mereka juga yang menjaga dan memastikan keamanan dan kenyamanan villa ini"


"Didepan,.aku lihat pegawai berseragam khusus. apakah itu pekerja di villa ini?" tanya Abidzar.


"ooo.. iya. memang ada 2 pegawai laki-laki dan 2 perempuan. Laki-laki ada yang merangkap supir, jika ada yang berniat berkunjung ke kebun stroberi kami"


"Kebun stroberi?" Abidzar mulai penasaran.


"Iya, kami memiliki kebun stroberi yang agak jauh dari sini. bagi pengunjung yang tertarik. akan di bawa kesana, tentunya dengan membayar biaya tambahan. Mereka bisa memakan buah stroberi dengan puas dari pohonnya. Tapi, kalau mau bawa pulang harus bayar sejumlah yang dipetik" Jelas Kaniya.


"Wow... Ini semua kamu yang mengelola?"


"Tidak juga, aku saja baru pindah kesini. Semua di kerjakan penjaga villa ini dan keluarganya" Jawab Kaniya


"Tapi, bagaimana bisa penduduk di kampung seperti ini bisa mengelola semuanya?"


"Tentu saja bisa, Apalagi kalau ditunjang pendidikan yang memadai"


"maksudnya?"


"Anak dari penjaga villa ini sudah menyelesaikan S1 manajemennya 3 tahun lalu. Dan kembali ke kampung ini untuk mengelola villa dan usaha lain yang dihasilkan dari villa ini. Aku hanya akan mendapatkan laporannya secara berkala"


Keluarga Kaniya hanya bisa melongo. Keluarga Kaniya sama sekali tidak tahu tentang semua ini. Mereka selama ini hanya melihat Kaniya di toko, kadang ke kota untuk membeli barang. Sama sekali tidak mengetahui bahwa Kaniya memiliki aset banyak di tempat ini. Punya villa saja sudah membuat mereka heran, Sekarang ditambah dengan kebun. Entah apalagi yang dimiliki Kaniya tanpa sepengetahuan keluarganya.


"Kamu percaya pada mereka?"


"Tentu saja, Aku mengenal mereka lebih dari sepuluh tahun lalu saat aku sedang kuliah S2. Bapak Hamzah pernah memberiku makan bakso gratis gara-gara lupa bawa dompet. Bukannya marah, karena aku tidak bawa dompet, bapak itu malah memberiku uang untuk ongkos pulang. Dari situ, aku mulai akrab dengan si bapak dan keluarganya" jelas Kaniya.


Kaniya tidak menceritakan bahwa, setelah itu anak si bapak itu sakit dan butuh banyak biaya. Kaniya yang kebetulan mendengar percakapan Pak Hamzah dengan istri yang sudah menolongnya hari itu, membantu untuk biaya operasi.


Bahkan setelah sembuh, sang anak di sekolahkan dan dibiayai hingga tamat kuliah. Jadi wajar saja, hutang Budi keluarga itu telah mendarah daging dan mereka tidak pernah berniat sedikitpun mengambil keuntungan dengan berbuat curang.


"Oo..".Abidzar hanya menatap kagum pada Kaniya yang begitu percaya pada pekerjanya. Tapi dia khawatir, sifat Kaniya ini bisa dimanfaatkan oleh orang lain.


"Ayah, Tante, Syifa bosan, bisakah aku keluar saja? jalan - jalan di taman. Aku melihat banyak bunga di samping"


"oo.. boleh saja. Nindya, bawa Syifa jalan-jalan ke belakang"


"eh.. jangan dulu. Sudah hampir Dzuhur, kita harus bersiap untuk shalat. Setelah shalat kita makan siang bersama. Barulah Syifa bisa main di belakang" Cegah kak Ranti.


Dia tak mau, Syifa terhanyut menikmati pemandangan di belakang rumah hingga berat untuk kembali ke rumah menunaikan shalat.


Syifa yang mendengar itu pun menurut. Nindya membawanya masuk ke kamar dan mengambilkan jilbab pasangnya yang tergolong kecil. Lalu dicobakan pada Syifa. Syifa hanya menurut karena di rumah ini tidak tersedia mukena untuk anak sekecil Syifa.


Setelah dirasa cocok. Nindya membawa Syifa berwudhu. Mereka menggunakan air yang mengalir langsung dari gunung. Air ini mengalir ke rumah penduduk melalui pipa air. Segar sekali. Untuk menghindari kekurangan air, jika tiba-tiba air tidak mengalir karena berbagai sebab. Kaniya telah menyediakan 3 penampungan air.


Kaniya, Nindya dan Syifa memilih shalat di dalam kamar. Sedangkan Abidzar menuju Musholla bersama Sulaiman yang baru datang dari jalan-jalan dengan Ridho dan Tiara.


Mushollah ini cukup bisa menampung puluhan jamaah. Abidzar diminta untuk menjadi imam. Dia mengenakan sarung dan baju yang diberikan oleh Kaniya. Entah dari mana Kaniya mendapatkan baju yang cocok dengannya.


Setelah selesai shalat, Abidzar dan Sulaiman masih berdiam di mushollah. Sulaiman merasa penasaran dengan pria yang dibawa adiknya. Begitupun Abidzar yang merasa perlu menyampaikan maksudnya pada kakak lelaki Kaniya.


"Anda dan Kaniya..? " Sulaiman merasa sungkan untuk bertanya. Tapi, di sisi lain, dia juga penasaran.


Abidzar yang melihat itu, menganggapnya sebagai kesempatan yang tidak bisa dilewatkan.


"Saat ini, kami berteman. Itu yang diinginkan Kaniya. Tapi, sebenarnya saya ingin lebih dari itu. Saya berniat mendekati Kaniya untuk menjadikannya istri saya" ucap Abidzar mantap.


Sulaiman cukup terkejut. Tapi dia melihat kesungguhan dari pria di depannya.


Namun, dia tidak akan mengambil keputusan ataupun memaksa Kaniya untuk menerima seseorang lagi dalam hidupnya.


"Saya sebagai kakak hanya bisa mendukung keputusan Kaniya. Tapi, saya harap sebelum anda meneruskan niat anda mempersunting Kaniya, tolong mantapkan dulu hati anda dan keluarga. Saya tidak mau, Kaniya ditolak keluarga calon suaminya, baik karena umur atau masa lalunya. Selama ini, Kaniya sudah sangat menderita. Kami tidak ingin hal itu berulang lagi" Sulaiman berkata lirih.


"Saya belum mengetahui sepenuhnya tentang masa lalu Kaniya. Saya hanya tahu Kaniya seorang janda. Tapi, apapun itu, saya telah menerima masa lalu Kaniya. Tentang umur, saya lebih tua dari Kaniya jadi itu bukan masalah. Sekarang, saya hanya butuh jawaban dari Kaniya dan restu dari keluarganya. Setelah itu, saya akan memperkenalkannya pada keluarga saya yang lain"


"Baiklah. Selama anda tidak menyakiti Kaniya. Saya tidak akan melarang anda mendekati Kaniya, tentu dalam batas yang diperbolehkan dan tidak ada pacaran. Silahkan saling mengenal, buat Kaniya nyaman untuk membuka masa lalunya dan menerima Anda"


Abidzar menghela nafas lega. Setidaknya, dia telah mendapatkan lampu hijau dari kakak Kaniya.


Mereka lalu kembali ke rumah. Disambut oleh keriuhan canda tawa di dapur karena celotehan Syifa dan Ridho yang sangat senang menggoda gadis kecil itu.


Setelah makan siang, Abidzar dan Syifa pamit. Mereka harus segera kembali ke kota. Keponakannya, sekarang berada di rumah sakit.


Abidzar menceritakan kepada Kaniya bahwa keponakan yang dimaksud adalah anak adiknya yang melahirkan waktu mereka bertemu di hotel dulu. Sebenarnya, Dia bukanlah adik kandung Abidzar tapi sepupunya, anak dari saudara ayahnya.


Kaniya dan keluarga mengantar abidzar sampai gerbang. Syifa melambaikan tangan dan berjanji akan datang lagi menemui Kaniya.


***