
Kaniya terus berusaha mensugesti dirinya agar memahami bahwa Afdhal saat ini sedang kecewa. Pikirannya sedang kacau, tak mampu berpikir jernih jadi wajar jika sedikit tinggi nada suaranya. Tapi, dia juga tak ingin Afdhal memojokkannya.
"Hanya?? Dhal, aku ini berpikir realistis. Aku nggak mungkin menikah denganmu disaat orang tuamu tak menginginkanku. Aku pernah menikah dalam bayang rasa kecewa ayahku dan semua berkahir buruk. Aku tak pernah ingin lagi mengulang kesalahan yang sama meskipun itu dari orang tuamu. Aku butuh pernikahan yang direstui dari semua keluarga, baik dariku maupun dari calon suamiku" Ucap Kaniya tegas.
"Tapi kita bisa berusaha mendapatkan restu itu bersama-sama, bukan malah kamu menikah dengan orang lain" Afdhal masih merasa tak terima dengan keputusan Kaniya menikah dengan orang selain dirinya.
"Sampai kapan? ok.. anggaplah orang tuamu, keluargamu akhirnya menerimaku. Tapi di mata mereka aku tetap adalah wanita dengan masa lalu yang cacat. Mereka akan menganggap ku sebagai wanita beruntung yang dinikahi olehmu meskipun dengan masa lalu yang rumit. Lalu, aku akan selalu jadi rendah di mata mereka. Dan aku ini sangat tidak suka direndahkan untuk hal seperti itu, aku pasti akan melawan orang-orang itu yang adalah keluargamu. Lalu, kamu pikir jenis keluarga seperti apa yang akan kita bangun? Stop berpikir tentang cinta. Aku sudah tidak muda lagi untuk mengukur semua atas nama cinta. Lagian, aku pun belum merasakan itu padamu. Karena aku sudah mematok diriku, hanya akan jatuh cinta pada suamiku, bukan calon suamiku" Kaniya mencoba membuka pikiran Afdhal. Mereka tak mungkin hidup bahagia dibawah naungan ketidak ikhlasan orang tuanya menerima Kaniya.
Sementara Abidzar menelan ludahnya, dia sadar bahwa Kaniya belum mencintainya saat ini. Tapi, dia bertekad akan membuat Kaniya jatuh cinta setiap hari, saat mereka sudah menikah.
"Munafik... " cibir Afdhal.
"maksudmu?" Kaniya bertanya dengan heran karena Afdhal seolah menganggap ucapannya hanya buatkan.
"Cih.., jika kamu tidak mencintainya, tidak mungkin kamu memanggilnya semesra itu, kalian bahkan belum menikah tapi sudah memanggil dengan panggilan sayang. Dulu saja, untuk bertemu dengan ku harus selalu ada mahram bersamamu sebagai syarat atau aku harus bawa teman. Tapi saat ini, kamu bahkan bisa bepergian jauh dengannya tanpa mahram" Kaniya melongo mendengar ucapan Afdhal.
Sementara Abidzar tak mampu menahan tawanya. Dia sungguh kasihan pada orang ini, cemburunya bahkan membuatnya mencibir Kaniya yang diakuinya begitu dicintainya.
"Kenapa kamu tertawa, senang melihatku kehilangan Putri dan kamu yang dipilihnya?" Afdhal menatap pada Abidzar dengan sengit seolah ingin membunuhnya.
"eh... bukan. maaf, ha..ha.. tapi kamu lucu aja, haha..." Abidzar bahkan mengeluarkan air mata karena tertawa.
"Bi...." Panggil Kaniya dengan nada mengancam tapi bagi Afdhal bernada manja. Dia merasa pasangan ini meremehkannya. emosinya sudah di ubun-ubun.
"Abidzar, tolong berhenti tertawa. Kalian sedang berbicara serius" Ranti angkat bicara. Dia tak ingin membuat Afdhal makin salah paham.
"Maaf, kak. Aku cuma heran saja dengan Lelaki ini. Dia mengatakan mencintai Kaniya, tapi masih bisa meninggikan suara di depan Kaniya, menuduh Kaniya hanya karena sebuah panggilan dan sesuatu yang hanya dilihatnya sepintas. Wah..hebat sekali. Pantas kamu kehilangan Kaniya. Ternyata, cintamu tak sehebat yang kupikirkan. Yang kamu lihat hanya sisi positif Kaniya, kamu bahkan kecewa saat Kaniya terlihat tidak sesempurna yang kamu pikirkan. Tapi..,.kamu lupa, bahwa tidak semua yang nampak oleh mata adalah kebenaran, Karen bisa saja ada hal lain di belakangnya" Abidzar menatap Afdhal yang juga menatapnya penuh aura permusuhan.
"Karena aku baik, maka aku akan menjelaskan padamu. Pertama, Namaku adalah Abidzar, keluarga dekatku memanggil Abi dan Kaniya pun ikut-ikutan panggilan ibuku, dan kadang menyingkatnya menjadi, Bi. Itu namaku bukan untuk kata Baby apalagi Hubby atau Abi (ayah). Dan sekedar informasi, setelah menikah, aku akan memintanya memanggilku, Hubby bukan Abi.. Auch...." Abidzar berteriak rendah saat Kaniya menendang kakinya. Dia menatap Kaniya dengan senyuman manis sambil mengangkat kedua jari tangannya tanda damai.
Meskipun terkesan kurang ajar tapi dia lebih memilih seperti ini daripada ikut emosi seperti Afdhal. Dia tidak akan paham apa yang bisa diperbuatnya saat emosinya naik gara-gara tuduhan Afdhal.
Dia berusaha memahami segala rasa kecewa Afdhal yang harus kehilangan Kaniya. Dia pun dulu merasakan kecewa karena mendengar Kaniya akan menikah. Tapi, dia berusaha menerima dan Allah kembali mempertemukan mereka dengan cara yang lebih indah.
Afdhal menatap Kaniya dengan tatapan penuh rasa bersalah. Kesedihannya semakin mendalam. Dia selalu merasa paling mengenal Kaniya, merasa paling mencintainya, tapi dia malah tak bisa mempertahankan Kaniya di depan keluarganya. Dia bahkan menuduh Kaniya. lidahnya begitu fasih mengucapkan kalimat tuduhan pada Kaniya
Kaniya yang melihat Afdhal begitu rapuh dengan wajah bersalahnya, tak sanggup untuk marah. Dia masih tetap merasa bersalah karena tak mampu membalas cinta Afdhal dan tidak bersedia memperjuangkan hubungan mereka, dulu.
"Maafkan aku Kaniya, mungkin dia benar. Cintaku perlu dipertanyakan. Nggak seharusnya aku menuduhmu seperti itu. Aku bahkan mengenalmu dari kecil. Rasa cemburu membuatku gelap mata. Maafkan aku" Ucap Abidzar tertunduk.
"Nggak apa-apa Dhal, kamu nggak salah kok. Maafkan aku yah, karena tidak bisa bertahan dalam hubungan kita. Aku ingin hidup dalam penerimaan keluarga suamiku, Dhal. Aku tak sanggup jika harus berjuang dalam memperoleh restu. Aku juga butuh rasa diinginkan, dicintai, dihargai, bukan hanya oleh suamiku tapi juga keluarganya. Dan semua aku dapatkan dari Abi. Keluarganya begitu mencintaiku, aku merasa berharga saat bersama mereka. Mereka bahkan tak pernah mempermasalahkan masa laluku meskipun mereka sangat tahu pernikahan ku di masa lalu. Mereka pun tak pernah menyinggung hanya karena mereka jauh lebih kaya daripada aku. Sekali lagi, maafkan aku, tapi andaipun aku tak akan pernah bisa mencintai Abidzar, aku akan tetap bersamanya selama cinta dan kasih sayang darinya juga keluarganya terus menyertaiku" Kaniya berkata dengan mantap sambil menatap Abidzar yang tersenyum hangat.
Afdhal kembali menatap Kaniya, mencoba tersenyum. Lalu, Afdhal berdiri dari tempat duduknya. Dia merasa tak ada lagi yang harus dibicarakan. Kaniya tak mungkin lagi dijangkau nya. Putri yang diidamkannya untuk jadi ratu dalam istananya, sekarang akan menjadi permaisuri orang lain.
"Aku pamit. Assalamu Alaikum" Lalu tanpa menunggu jawaban, Afdhal berdiri sambil menunduk. Dia ingin segera pergi dari rumah ini membawa segala kesedihannya, hatinya hancur berkeping, tak pernah dia merasakan cinta pada seorang wanita seperti dia mencintai Kaniya. Bahkan pada wanita di masa lalunya, saat dia masih bekerja di kota lain. Wanita penuh perhatian yang selalu menunjukkan rasa cinta dan harapan untuk bersamanya. Wanita yang sempat menghabiskan malam dengannya karena sebuah kekonyolan dari teman-temannya. Sebuah kejadian yang selalu membuatnya menyesal dan kehilangan wanita itu, sosok teman yang selalu membersamainya.
"waalakum salam" jawab Kaniya, Abi dan Ranti, menatap iba pada Afdhal. Suara itu hanya lamat-lamat didengarnya. Dia memasuki mobilnya, mengemudikannya tak tentu arah. Jiwanya seolah hilang entah kemana.
'brakkkkk'
Suara benturan keras menyadarkan Afdhal. Mobilnya tanpa disadari keluar jalur dan menabrak pagar rumahnya. Untunglah tak ada orang didekat sana. Afdhal merasa kepalanya pusing. Darah mengalir ke pelipisnya, bercampur dengan air mata yang jatuh entah karena rasa sakit pada lukanya atau karena sakit hatinya.
"Astagfirullah... Afdhal.... " Ibu Afdhal berlari keluar rumah melihat mobil anaknya yang menabrak pagar rumah.
Afdhal hanya mendengar suara-suara yang memanggilnya tanpa tahu menjawab. Telinganya berdengung. Akhirnya kegelapan menyapanya.