38 +

38 +
Tukang urut yang tidak mengurut



"Abi..." Kaniya terus memanggil Abidzar yang masih terbaring di tanah.


Beberapa orang telah sampai di tempat mereka dan memeriksa keadaan Abidzar. Abidzar sendiri dari tadi sebenarnya tidak pingsan, tapi merasa malu untuk bangun.


Bagaimana tidak, ia bertingkah seperti remaja labil yang sangat gembira karena cintanya diterima. Lalu melakukan selebrasi tanpa memperdulikan keselamatannya.


"Aduh... akh.." Teriaknya saat tiba-tiba para pegawai kebun yang akan membantunya, menyentuh area kaki dan pinggangnya untuk diangkat.


"Alhamdulillah, akhirnya sadar juga. Gimana Bi, apanya yang sakit?" Tanya Kaniya yang merasa cukup lega meskipun abidzar mengeluh kesakitan.


Menurutnya itu lebih baik daripada Abidzar tidak sadar sama sekali.


"Kaki aku sakit, pinggang juga" Jawab Abidzar sambil meringis menahan rasa sakit dan malu.


"Kamu sih, gaya gayaan pake lompat segala" ujar ibunya yang telah tiba ditempatnya. Antara khawatir tapi juga merasa lucu dengan yang menimpa abidzar.


Pasalnya, Abidzar dari kemarin sore sudah melakukan persiapan. Bahkan, keluarganya dan keluarga Kaniya dibawa untuk menginap di tempat ini. Malah lamarannya berakhir di tukang urut.


"Ayah, nggak apa-apa kan?? Padahal Syifa baru aja mau muji ayah yang bisa lompat tinggi. Eh... malah jatohh" Syifa merasa kasihan melihat ayahnya yang jatuh saat melompat.


"Ayah nggak apa-apa, nak" Abidzar berusaha menenangkan anaknya. Padahal iya sudah setengah mati menahan sakit, apalagi saat duduk seperti ini. Kakinya bahkan sulit untuk digerakkan.


"Sepertinya, kaki om Abidzar terkilir. Tapi, supaya lebih jelas, takut ada patah tulang atau bagaimana, bisa langsung dibawa ke dokter. Atau, gimana kalau kita bawa ke rumahku? kebetulan bapakku tukang urut" Akbar mencoba menawarkan bantuan.


"Iya pak, ayah Akbar ini kebetulan masih sepupu dengan saya. Dia Pandai mengurut, jadi bapak bisa segera mendapatkan pertolongan" Bapak penjaga Villa ikut meyakinkan.


Abidzar hanya pasrah. Jarak rumah sakit dari sini sangat jauh. Untuk pertolongan pertama, dia akan menerima saran dari Akbar. Apalagi bapak penjaga villa juga ikut mendukung usul itu.


"Baiklah" Jawab Abidzar kemudian.


"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang. sampai kapan kita akan duduk di kebun teh seperti ini, hehe.. tapi lucu yah, om Abidzar saking senangnya sampai jadi begini" Ridho yang dari tadi diam, tak bisa lagi menahan tawanya. Apalagi saat melihat Abidzar baik-baik saja.


Abidzar tak bisa berkata-kata. Bapak-bapak penjaga kebun, segera mengangkat abidzar yang ternyata tidak bisa berjalan sama sekali.


Jalan yang menanjak, membuat mereka agak kesulitan. Apalagi tubuh abidzar tergolong tinggi dan kekar. Tentu bobot nya pun tidak bisa dikatakan ringan.


Abidzar mencoba menahan sakit saat tubuhnya diangkat. Selang beberapa menit, mereka sampai di tempat parkir.


Abidzar dinaikkan ke mobil dan ditempatkan pada kursi tengah. Tapi abidzar kesulitan duduk,.meskipun sandaran kursi mobil telah diturunkan maksimal.


Melihat abidzar yang tersiksa, Kaniya berinisiatif menyewa pick up. Diapun mendatangi pihak cafe dan meminta disediakan mobil pick up.


Mendengar permintaan Kaniya, pihak cafe akhirnya menyediakan pick up untuk abidzar tumpangi.


Abidzar dinaikkan ke bagian belakang mobil pick up. Akbar, Ridho dan bapak penjaga Villa ikut bersama mereka di bagian belakang. Kaniya, naik ke kursi depan di samping supir. sedangkan yang lain kembali ke mobil masing-masing.


Kaniya sudah meminta agar mereka tetap tinggal menikmati liburan mereka, namun Akbar dan teman-temannya sepakat untuk pulang. Mereka bisa menikmati liburan gratis ini karena abidzar. Jadi mereka ikut bersimpati atas kejadian yang menimpa Abidzar.


Meskipun, merasa agak sedikit lucu karena lamaran romantis yang diharapkan dapat memberi kesan mendalam untuk Kaniya betul-betul terwujud. Abidzar jatuh, tepat di saat-saat mereka harusnya saling bersuka cita bersama keluarga.


Sepanjang perjalanan, abidzar terus merenungi kejadian tadi. Rasa bahagianya karena penerimaan Kaniya, malah berakhir dengan rasa malu karena tindakan cerobohnya. Ditambah rasa sakit di kaki dan pinggangnya.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah Abidzar. Orang tua Akbar sampai tertegun melihat iring-iringan mobil masuk ke pekarangan rumah mereka yang untungnya Sangat luas. Tiga mobil berisi teman-teman Akbar. Satu mobil milik keluarga Kaniya dan satu mobil milik Abidzar Serta, pick up yang membawa abidzar.


"Assalamu Alaikum" ucap Kaniya yang turun duluan mengapa orang tua Akbar. Akbar memang telah mengabari perihal kedatangan mereka. Tapi tidak menyangka, bahwa yang datang akan sebanyak ini.


"Waalaikum salam" Jawab ayah dan ibu Akbar bersamaan. Mereka pun menatap ke dalam bak mobil pick up, dimana abidzar berbaring berbantalkan paha bapak penjaga villa.


"Silahkan dibawa turun dulu, kita pindahkan bapak ini ke dalam rumah" Ayah Akbar mengarahkan.


Bapak penjaga villa dibantu Akbar, ridho dan Sulaiman yang segera turun dari mobilnya diikuti yang lain, segera mengangkat abidzar turun dari mobil


Abidzar di baringkan dilantai rumah yang beralas karpet biru. Abidzar dari tadi hanya diam menahan sakit.


Ayah Akbar mulai memeriksa kaki abidzar yang mulai membengkak. Bagian pinggang pun tidak lepas dari pemeriksaan.


"Ini ada pergeseran sendi di bagian pergelangan kaki. Kalau di bagian pinggang hanya sedikit keseleo" Ayah Akbar lalu terdengar membaca basmalah, lalu menyentuh kaki Abidzar yang terasa sakit.


Abidzar merasakan ada rasa dingin yang menjalar di kakinya. Sesaat kemudian, dia merasakan ada yang bergerak pada pergelangan kakinya. Rasa sakit yang dideritanya perlahan hilang.


"Coba digerakkan perlahan kakinya, pak" Ujar ayah Akbar.


"Sakitnya, hilang" ucap Abidzar takjub. padahal, saat mendengar kata tukang urut, Akbar sudah menyiapkan diri untuk menahan rasa sakit. Malu rasanya jika berteriak menangis di depan calon istri.


"Alhamdulillah, kalau begitu, saya akan berusaha mengobati pinggang Anda, pak" Abidzar hanya mengangguk pasrah, berharap sakit dipinggangnya pun hilang.


Bapak Akbar pun menyentuh bagian pinggang Abidzar yang terasa sakit. Abidzar kembali merasakan rasa dingin pada area pinggangnya. Terasa seperti dikompres es batu, dingin sekali. Tapi kemudian, rasa dingin itu hilang, dan sakit yang dideritanya tadi terasa menghilang.


"Bagaimana?" tanya bapak Akbar


"Sakitnya, hilang pak. Kok bisa?"


"Alhamdulillah, semua berkat pertolongan Allah. Artinya, Allah masih meridhoi nak Abidzar untuk menggunakan kakinya untuk beribadah kepada Allah. Jadi pergunakan sebaik mungkin yah, pak" Bapak Akbar menjawab dengan bijak.


Abidzar merasa ini di luar logikanya. Kaniya, keluarganya, ibu dan anak abidzar sampai melongo, tatkala melihat abidzar dapat berjalan seperti biasa. Namun, bagi bapak penjaga villa dan teman-teman Akbar, hal ini sudah biasa. Bahkan ada beberapa pasien yang terlihat sangat parah keadaannya masih bisa diobati, meskipun memerlukan waktu agak lama dan menggunakan ramuan khusus. Mereka yang datang, biasanya adalah yang takut jika harus ke dokter dan dioperasi.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak pak. Saya tidak tahu harus berterimakasih dengan cara apa?" Ucap Abidzar dengan tulus.


"Tidak usah sungkan, pak. Saya merasa senang jika melalui saya, ada orang yang memperoleh kesembuhan. Saya ini hanya perantara, yang menyembuhkan tetaplah Allah"


Kaniya yang duduk bersama keluarganya dengan Syifa didekatnya, merasa sangat bersyukur atas kesembuhan abidzar.


"Ini ceritanya, gimana kok bisa sampai patah begini pergelangan kakinya, pak?" tanya ibu Akbar, kepo.


Ibu abidzar yang tadi khawatir pada anaknya, tapi juga gemes dengan tindakannya yang sedikit kekanakan menunjukkan rasa bahagia hingga berakhir jatuh, akhirnya menceritakan kejadian yang dialami Abidzar.


Ibu Akbar tertawa mendengar kisah yang diceritakan ibu Abidzar dengan semangat 45.


Yang lain pun bisa tertawa bebas karena rasa khawatir telah hilang. Mereka merasa kasihan, namun merasa lucu juga karena lamaran romantis abidzar yang bukannya berakhir mengesankan malah mengenaskan, membuat mereka tak bisa menahan tawa. Terkadang, tertawa di atas penderitaan orang lain memang semenyenangkan itu.


"Untung dapat tukang urut bagus, coba kalau sampai telat di bawa ke dokter tanpa pertolongan cepat dan tepat, mungkin dia akan di rawat di rumah sakit, lama sehingga lama pula bisa urus pernikahan" Lanjut Ibu Abidzar.


Abidzar cemberut mendengar ucapan ibunya. Dia sudah malu, eh ibunya malah menambahkan.


Kaniya hanya tersenyum melihatnya. Diapun sebenarnya merasa lucu. Tak menyangka akan seantusias itu Abidzar mendengar jawabannya. Dia jadi merasa sangat dicintai, diinginkan,.dibutuhkan, meskipun abidzar tak pernah berkata mencintainya. Tapi, Kaniya pun sadar, bahwa mereka bukan lagi remaja labil yang harus meneriakkan kata 'i love u' untuk menunjukkan perasaan.


Kaniya lebih butuh pembuktian, tindakan nyata atas rasa cinta yang diberikan seseorang padanya.


"Alhamdulillah, abidzar baik-baik saja. Kecelakaan memang bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. Abidzar mungkin memang sudah ditakdirkan untuk jatuh seperti itu, sehingga ini menjadi peringatan bagi yang lain agar bisa berpikir lebih jernih dalam setiap keadaan" ucap Sulaiman.


Yang lain pun mengangguk mendengarkan penjelasan Abidzar.


Pembicaraan pun akhirnya dilanjutkan dengan lebih santai. Ayah Akbar ternyata memang telah lama menggeluti pekerjaan sebagai tukang urut meskipun pada praktiknya tidak betul betul mengurut pasiennya.


Abidzar diberikan semacam ramuan tradisional tapi bentuknya sudah kering. Jadi untuk memakainya, abidzar harus menggunakan air. Bapak Akbar meminta abidzar untuk memakainya sampai habis. Ramuan tradisional itu memanglah dibungkus dengan wadah sangat kecil. Hanya untuk sekitar tiga hari pemakaian.


Setelah dirasa cukup lama berada di rumah itu, Abidzar memohon pamit. Dia memberikan amplop yang segera di tolak oleh suami istri di depannya itu.


"Terimakasih banyak,.pak. Tapi,.kami merasa sangat senang dapat membantu bapak yang ternyata adalah calon suami Bu Kaniya. Beliau ini guru yang sangat baik. berkatnya, anak kami jadi mau sekolah dan sekarang lebih terarah lagi" Ibu Akbar menatap sayang pada putranya lalu mengelus rambutnya. Akbar yang diperlakukan seperti itu menatap ibunya dengan senyum manis.


"Kalau begitu, izinkan nanti Akbar untuk kuliah ke kota. Kami akan membiayainya sampai selesai" tawar Kaniya.


"Terimakasih bu Kaniya, tapi kami tidak ingin merepotkan kalian" Akbar menolak, merasa sungkan dengan kebaikan gurunya itu.


"Kalau begitu, kamu akan saya terima kerja paruh waktu di toko saya, tapi kamu akan tetap kuliah. Jadi kamu bisa masuk setelah kuliah atau pada saat tidak ada jadwal kuliah. jadi shift untukmu lebih fleksibel" Abidzar kembali memberikan tawaran.


Orang tua Akbar merasa senang dengan tawaran itu. Akbar akan bekerja dan mendapatkan gaji untuk kuliahnya. Rasanya mereka sangat ingin Akbar menerimanya.


"Baiklah, kalau yang itu, Akbar setuju. Tapi, Akbar harus meminta persetujuan ayah dan ibu" jawab Akbar.


Ayah dan ibu Akbar mengangguk ke arah Akbar.


"Terimakasih banyak pak, Bu. Kami akan sangat senang jika Akbar dapat mengenyam pendidikan tinggi. Tentu kami akan mengijinkan Akbar kuliah".


Ibu Akbar memeluknya, merasa bersyukur karena ada orang baik yang akan membantu pendidikan sang anak.


Abidzar, Kaniya dan keluarga mereka akhirnya betul-betul pamit, dan meninggalkan rumah Akbar. Tapi, teman-teman Akbar masih tetap tinggal karena mereka akan melanjutkan acara di rumah ini menggunakan sisa uang yang diberikan Abidzar. Akbar telah berusaha mengembalikannya tapi abidzar menolak.


***