38 +

38 +
Menjadi Tahanan Rumah



Abidzar mendengar decak kagum dari orang orang sekitarnya. Sebenarnya, untuk masalah mahar, dia tidak ingin menyombongkan diri. Dia betul-betul ingin membuat Kaniya terkesan. Dia akan memberikan perhiasan emas seperti umurnya, lalu mahar yang lain sesuai tanggal, bulan dan tahun kelahiran yang didengarnya dari bisik-bisik tetangga tadi.


Acara terus berlanjut hingga akhirnya ibu Abidzar dipersilahkan untuk masuk kamar memasang cincin sebagai tanda pengikat hubungan mereka.


Abidzar sama sekali tidak diperkenankan masuk ke dalam kamar untuk memasang cincinnya. Mereka belum sah menikah, jadi belum diijinkan bersentuhan, olehnya itu, Ibunya yang memasangkan cincin.


Setelah pemasangan cincin di dalam kamar. Kaniya dibawa keluar untuk diperkenalkan pada seluruh keluarga Abidzar.


"Wah..Cantik yah" Adik Abidzar berkata dengan nada riang, yang diangguki keluarga yang lain.


Selanjutnya mereka melakukan foto bersama. Abidzar pun di perbolehkan berfoto dengan Kaniya, walau tidak boleh bersentuhan. Kaniya berdiri di samping Abidzar sambil memperlihatkan cincin di jarinya pada kamera. Sedangkan Abidzar berdiri menatap Kaniya. Terpancar kebahagiaan di wajah mereka.


Sesi foto hanya dilakukan beberapa menit, kemudian dilanjutkan dengan acara menyantap hidangan yang tersedia. Meski demikian, kaniya masih saja mendapatkan permintaan untuk berfoto dengan sepupu dan keluarganya yang lain.


Rumah Kaniya tidak di hias seperti kebanyakan acara lamaran di desanya. Kaniya betul-betul ingin melakukan semua secara sederhana. Bahkan dia hanya merias dirinya sendiri secara sederhana. Pakaian yang dipakainya memang baru tapi hanya sebuah gamis sederhana yang nyaman dipakai. Segala kesederhanaan yang ditampilkannya malah semakin menampakkan kecantikannya.


Abidzar sampai tidak mau memalingkan wajah darinya. Namun, sesekali ketika adiknya melihat, dia langsung menyapu wajah sang kakak, agar ingat bahwa mereka belum sah.


"Ma... jadi Tante Kaniya sebentar lagi jadi ibu nya Syifa?" Syifa bertanya takut-takut pada adik Abidzar.


Selama ini, mereka tidak dekat. Syifa masih agak takut dengan Tantenya itu karena pernah melihatnya sedang mengamuk.


Padahal, Nur memiliki kepribadian yang lembut. Dia sangat menyayangi Syifa. Tapi, malam itu, Syifa pernah terbangun dari tidur dan melihat tantenya sedang mengamuk di kamar. Dia tampak memecahkan barang-barang di sekitarnya.


Dan besoknya, Syifa melihat tantenya di bawa ke rumah sakit dan mereka baru bertemu lagi sekarang.


"Tentu sayang. Tapi kamu harus terus sama mama, nggak boleh selalu sama ibu baru dan ayahmu" Kata Nur sambil menatap sayang pada Syifa. Syifa mewarisi kecantikan Nur, bahkan bentuk bibir dan wajah mereka sangat mirip. Alis nya yang menyerupai Abidzar, tebal dan hitam tapi terlihat sangat rapi. Hanya hidung Syifa yang tidak semancung Abidzar maupun Nur.


"Tapi, Syifa juga mau sama Tante Kaniya. Syifa mau belajar bersama ayah dan Tante Kaniya" Jawab Syifa dengan polosnya.


Kesedihan di mata Nur semakin nampak. Dia sangat ingin Syifa kembali dekat dengannya.


"Mama juga bisa menemani Syifa belajar" bujuk Nur.


"Benarkah? bukankah mama sangat sibuk? Mama kan akan kembali keluar negeri lagi"


"Tidak. Mama akan tinggal disini, bersama nenek dan Syifa"


"Jadi, Syifa harus tinggal bersama mama? lalu ayah?" Syifa jadi bingung sendiri. Dia tidak ingin berpisah dengan ayahnya.


Nur terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa lagi pada Syifa.


"Sabar, lakukan pelan-pelan. Syifa tidak akan mudah untuk lepas dari ayahnya. Mereka dari dulu selalu bersama. Bahkan Abidzar selalu membawa Syifa dalam perjalanan bisnisnya saat Syifa belum sekolah. Saat sekolah pun, Syifa akan dibawa ikut serta saat libur" bisik ibu nya menenangkan.


Nur menghela nafas panjang. Memang salahnya yang tidak pernah berusaha dekat dengan Syifa. Selama ini, dia sibuk menyembuhkan dirinya.


"Maksud mama, Syifa harus sering nginap bareng mama sama nenek. Supaya mama dan nenek tidak kesepian di rumah" Jawab Nur pada Syifa.


"OOO.. tentu, Ma. Tapi, mama janji yah, saat Syifa nginap sama mama, mama harus ajarin Syifa menggambar yang bagus kayak mama"


"Siap tuan putri" jawab Nur dengan ceria. Dia berjanji akan membuat Syifa kembali dekat dengannya.


"Sekarang, kalian makan dulu yah. Kita akan kembali ke kota setelah ini" Syifa dan Nur akhirnya makan bersama yang lain.


Keluarga Abidzar pamit setelah segala hal yang berhubungan dengan pernikahan mereka dibicarakan.


Saat keluar dari rumah, Nur memegang tangan Syifa bersama Abidzar.


"Yah, ada Doraemon" Syifa menatap ke arah luar pagar, dimana sebuah sepeda motor berhenti dengan boncengan penuh dengan balon berbagai karakter kartun.


"Syifa mau?" Tanya Abidzar.


"Biar aku saja kak yang bawa Syifa keluar beli balon, kakak ke mobil saja. Ayo Syifa" Nur langsung membawa Syifa ke luar pagar.


Melihat itu, Abidzar hanya menghela nafas. Dia tahu, adiknya ingin lebih dekat dengan Syifa. Dan menurutnya itu sangat wajar dan sebuah kemajuan yang sangat pesat bagi Nur. Dulu, Nur sering histeris saat menatap Syifa.


Penjual balon yang tadi berhenti karena membeli minuman di warung dekat rumah Kaniya, akan segera pergi. Namun, Nur segera menahannya.


"Tunggu pak. Anak saya mau balon" Ucap Nur agak keras. Teriakannya mengundang perhatian dari seorang pria yang sejak tadi duduk di mobilnya, menatap ke arah rumah Kaniya yang ramai. Bukannya ingin menyiram garam pada lukanya, dia hanya ingin melihat sendiri agar hatinya bisa lebih siap kehilangan Kaniya, putri impiannya dari dulu.


Pria itu menatap Nur dengan kaget. Kekagetannya bertambah saat melihat anak kecil yang dipegangnya. Mereka berdua sangat mirip. Siapapun akan tahu bahwa mereka berdua adalah ibu dan anak. Tapi, lama kelamaan, dia jadi ingat pernah melihat anak itu.


'bukankah, anak itu putri Abidzar? anak itu yang datang bersama Abidzar ke sekolah Putri. Bagaimana mungkin dia bisa bersama dengan Nur. Kenapa mereka bisa begitu mirip. apa mungkin....' Afdhal terus berbicara dalam hati. Dia mengingat wanita itu. Temannya di masa lalu. Bayangan kejadian yang menimpa mereka pun berputar seperti kaset rusak.


Yah, pria itu adalah Afdhal. Afdhal ingin menyaksikan momen bahagia Kaniya. Dia akan melepaskan Kaniya demi kebahagiaannya. Afdhal sadar, Kaniya tidak mencintainya, dulu ataupun sekarang. Dengan melihat ini semua, kesadarannya akan terus terjaga agar tidak terus mengharapkan Kaniya.


Tapi, saat dia datang untuk dapat merelakan Kaniya dari kehidupannya. Wanita itu,.teman nya di masa lalu, teman yang meninggalkannya tanpa kata setelah sebuah kejadian yang membuat Afdhal selalu merasa bersalah, kini hadir di depan matanya. Afdhal ingin menemui wanita itu, dia ingin bertanya pada Nur kenapa dia pergi begitu saja. Kemana dia selama ini, apa yang terjadi padanya setelah malam itu. Tapi, kakinya seakan sulit bergerak.


Saat dia dapat melawan rasa kaku pada dirinya untuk keluar dari mobil. Nur telah masuk ke mobil Abidzar yang telah keluar dari pagar rumah Kaniya dan berhenti tepat di dekat penjual balon.


Syifa telah mendapatkan balon yang diinginkannya. Mereka masuk ke mobil, dan Abidzar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Nur..."Afdhal memanggil Nur tapi terlambat, Nur tidak mendengar panggilannya. Mereka telah larut dalam percakapan keluarga di mobil.


Afdhal hanya bisa menatap kepergian Nur bersama Abidzar. Berbagai pertanyaan muncul dalam hatinya. Dia ingin tahu kenapa Nur bisa bersama Abidzar. Apa hubungan mereka. Mengapa gadis kecil itu sangat mirip dengannya.


Tapi, pertanyaan-pertanyaan itu harus Afdhal simpan untuk nanti. Dia yakin, Nur akan datang lagi ke tempat ini.


Beberapa tetangga Kaniya menatap heran pada Afdhal. Namun Afdhal tidak mempedulikannya. Dia kembali ke mobil dan melakukannya kembali ke rumah.


***


Sesuai dengan permintaan Kaniya, akad nikah akan dilaksanakan secara sederhana di rumah ini.


Nur akan mengurus masalah gaun pengantin Kaniya dan pakaian untuk keluarga mereka. Dia sendiri yang merancang gaun untuk Kaniya. Sementara pakaian untuk keluarganya dan keluarga Kaniya menggunakan desain yang telah ada. Nur akan mengupayakan semua bisa selesai dalam waktu yang ditentukan.


Tercatat satu bulan dari acara lamaran, akad nikah akan dilaksanakan. Hal ini menyebabkan Nur harus bekerja ekstra untuk menyiapkan segalanya. Nur terus bolak balik ke desa Kaniya, dia membawa pegawai butiknya untuk mengukur Kaniya dan keluarganya.


Kaniya sendiri tak lagi diizinkan untuk keluar dari rumah semenjak acara lamaran. Sebenarnya, adat di desa Kaniya tidak ada yang seperti itu. Tapi, Ranti mengingat dulu Kaniya yang pergi bersama Afdhal saat hampir menikah malah akhirnya gagal karena Kaniya bertemu dengan suaminya. Meskipun, itu tidak mungkin terulang lagi karena mereka telah bercerai, tapi Ranti tidak mau mengambil resiko ada kejadian lain yang menimpa Kaniya. Jadilah Kaniya tahanan rumah untuk dua pekan.


Waktu kaniya di rumah hanya digunakan untuk memanjakan diri. Luluran dengan beras ketan hitam yang telah diolah oleh Ranti, maskeran dengan bahan-bahan tradisional, dan menggunakan bedak tradisional berwarna kuning yang terbuat dari beras, kunyit dan bahan lainnya.


Semua kesibukan di rumah Kaniya berjalan lancar. Khusus untuk makanan, Ranti menginginkan untuk menyediakan sendiri bersama dengan tetangga-tetangganya seperti halnya pesta yang lain. Mereka akan membuat makanan khas dari kampung ini, dan tidak ingin mengambil tenaga profesional untuk melakukannya. Baginya, makanan pesta khas kampung akan terasa ke khas-annya jika dibuat oleh orang asli dari kampung ini.


Seperti saat ini, jelang satu pekan akad nikah Kaniya, Ranti dan para tetangga telah menyiapkan banyak kue untuk dibagikan pada tamu-tamu yang datang nanti. Sudah menjadi kebiasaan, tamu yang datang akan diberikan bingkisan berupa kue untuk dibawa pulang ke rumah.


Di depan rumah, tenda telah didirikan agar keluarga dan tetangga yang bertamu bisa duduk lebih nyaman di luar. Para suami yang menunggu istri dan anaknya bekerja di dapur akan berbincang di luar ditemani kue dan kopi atau teh. Sementara anak muda, biasanya akan menyanyi menggunakan speaker.


Tak akan ada yang merasa terganggu. Karena sudah menjadi kebiasaan menjelang satu pekan sebelum acara, rumah calon pengantin pasti telah ramai dengan berbagai acara. Meskipun Kaniya tidak mengadakan lomba seperti kebiasaan orang-orang berada di kampung ini, tapi rumah Kaniya tetap ramai. Hal ini dikarenakan, Ranti dan Sulaiman memang termasuk aktif pada saat ada pesta disekitar rumah mereka.


"Assalamu Alaikum" Sulaiman kaget saat melihat siapa yang menyapanya.


"waalaikum salam, Dhal. Alhamdulillah, kamu sudah sehat? saya dengar kamu kecelakaan. maaf belum sempat menjenguk"


"Alhamdulillah, sehat kak. Tidak apa-apa, hanya luka ringan" Jawab Afdhal.


Dia lalu melongok ke dalam rumah.


"mm..kak..apa aku bisa bertemu dengan Putri?".Tanya Afdhal takut-takut.